-->
 

Advertising Agency vs Creative Partner

Selamat Tinggal Advertising Agency. Selamat Datang Creative Partner.

Perasaan kagum muncul saat mengamati anak saya yang berusia 6 tahun sibuk menggambar berderet-deret es krim Paddle Pop dan mewarnainya sambil menonton sangat asyik film kartun petualangan film Paddle Pop.

Wow, ini jelas menggambarkan kesuksesan menciptakan brand engagement. Bukan sekedar mengingat nama mereknya saja, tetapi anak saya jadi hafal berbagai pilihan rasa produk es krim ini. Di kesempatan ke minimarket, ia menjadi tertarik untuk mencoba rasa-rasa baru.

Komunikasi yang kreatif ini tentu bukan murni hasil kekuatan strategi brand management nya saja. Ini adalah output dari sebuah partnership yang berhasil antara tim brand management dengan tim kreatif. Tim brand management mengerti situasi brand dan mendapatkan consumer insights yang tajam. Tim kreatif menggodok insights itu menjadi sebuah cerita brand yang mengesankan, termasuk meningkatkan keterlibatan audiencenya dengan brand.

Pertanyaan spontan yang muncul di benak Anda mungkin adalah: “Siapa ya Advertising Agency nya?”. Sedangkan pertanyaan yang muncul di benak saya adalah “Siapa ya Creative Partner nya?”

Agency vs Partner

Sudah lama saya berhenti menggunakan istilah Advertising Agency dalam menyebutkan teman-teman kreatif yang membantu untuk menyiapkan strategi dan eksekusi kegiatan marketing communication brand.

Kata strategic partner bukan istilah baru di dunia manufacturing, sudah digunakan untuk berbagai aspek jasa perusahaan lain, misalnya untuk jasa product development, juga untuk kegiatan distribusi. Distributor sebuah produk FMCG selalu disebut sebagai partner oleh perusahaan. Sayangnya kita belum membiasakan diri untuk menggunakan kata ‘partner’ untuk perusahaan yang membantu di bidang marcom. Sampai hari ini masih umum sebuah perusahaan kreatif disebut sebagai advertising agency.

Label yang lebih tepat untuk perusahaan jasa kreatif adalah Creative Partner. Dalam proses branding, kreatifitas dalam marcom merupakan aspek penting dalam perjalanan mengantarkan sebuah brand ke tempat tujuannya. Karena itu, proses seleksi partner tidak mungkin hanya mengandalkan pertimbangan harga kreatif yang termurah atau karena bisa selesai dalam sehari semalam saja. Kreatifitas adalah aspek intangible yang adakalanya harus dibayar mahal dan butuh waktu yang cukup untuk menciptakannya.

Sebuah advertising agency dideskripsikan sebagai “bisnis di bidang jasa yang berdedikasi untuk merencanakan, membuat dan mengeksekusi iklan (dan promosi) bagi brand kliennya”. Definisi ini mengisyaratkan bahwa pekerjaan bersifat sejenak, sesuai pesanan. Juga menggambarkan bahwa ada pihak yang memberikan pekerjaan dan ada pihak yang mengerjakannya.

Dengan semakin banyaknya perusahaan yang menawarkan jasa kreatif, posisi tawar klien seolah menjadi lebih tinggi. Sedikit banyak ini mempengaruhi gaya klien, menjadi lebih pushy dan bossy karena menganggap jasa kreatif ini ‘replaceable’ (mudah tergantikan).

Definisi Partner berbeda dengan Agency. Deskripsi partnership mengandung makna: mutual interest, long term relationship dan peranan satu pihak dengan lainnya dikatakan sama pentingnya.

Penggunaan istilah Creative Partner di perusahaan akan menghindarkan tim brand management menyamakan Advertising Agency dengan Vendor. Relationship dengan Vendor pada umumnya lebih bersifat transaksional, jangka pendek dan lebih kepada ‘do-er’ bukan ‘strategic thinker’.

Di sisi lain, jika sudah disebut dengan Creative Partner, maka para pelaku kreatif harus bersikap dan bekerja seperti layaknya partner. Menjadi soulmates tim brand management dalam mengembangkan dan membesarkan brand, bekerja secara serius mencarikan solusi kreatif untuk brand.

Jika tim brand management sudah menanamkan respek – para Creative Partnernya harus lebih siaga lagi – tunjukkan kompetensi terbaik untuk menghasilkan kampanye marcom yang luar biasa.

It takes two to TANGO!

Comments are closed.