-->
 

All posts tagged consumer insights

Akhirnya jadi juga bukunya

Memang apa-apa kalo pertama itu gak gampang, ya. Anak-anak belajar jalan pasti berat awalnya. Dulu inget waktu pertama kali belajar nyetir mobil juga gitu, sampai pakai acara nabrak mobil orang lain segala, dan harus bayar bengkelnya..padahal gaji (masih) kecil hehe..

Pengalaman, bikin buku kalau pertama kali seperti ini ya memang panjang prosesnya. Tapi, karena publishernya (terutama editor2nya) baik, sabar dan kooperatif, ya alhamdulillah, terlaksana juga niat ingsun.

Ucapan terimakasih untuk Daniel W. Purba dan Audina Furi, para editor buku di Penerbit Esis, Erlangga ini, dan juga Gia Josie untuk disain cover buku. Input-input nya sangat berharga.

Tidak lupa para ethnographers pendukung case studies: Indira, Deary, Alvin, Deva, Lolik, Ina dan Mitha – yang semuanya adalah lulusan MM-Strategic Marketing, Binus Business School. Now you can see your work in the book. Mudah2an bisa buat contoh untuk teman2 lainnya. I am proud of you guys.

Acara peluncuran tgl 28 Juli, bentar lagi. Mudah-mudahan setelah acara tersebut, bukunya langsung tersedia di toko-toko buku – jadi buat yang ingin belajar tentang ethnography, at least sekarang ada tambahan buku lagi disamping buku lain yang sudah lebih dulu terbit (masih nggak banyak sih yang ngangkat riset ini, yang bahasa Indo ya).

Harga buku Rp 55,000 (saja).

Arsitektur Kreatif: Needs Beyond the Needs (extended version)

Amalia E. Maulana

Bisnis Indonesia Minggu, 20 Maret 2009.

Menjual ide kreatif di bidang arsitektur tentu tidak semudah menjual produk. Jika produk lebih bersifat tangible yang berarti dapat dilihat dan disentuh; ide kreatif arsitektur lebih bersifat intangible. Walaupun dalam bentuk gambar atau visualisasi disain mungkin masih bisa dibayangkan sebuah ide kreatif, tetapi tetap saja dalam secara keseluruhan lebih dominan unsur abstraknya.

Dikatakan, tidak semua produk atau jasa bersifat eksklusif tangible atau intangible. Banyak yang bisa dikategorikan sebagai produk dan jasa sekaligus. Yang membedakan satu dengan lainnya adalah kadar tangibility atau kadar intangibilitynya. Bisnis restoran papan atas, misalnya, lebih dominan pada aspek intangible dibanding yang tangible. Artinya, makanan, minuman atau produk-produk yang ditawarkan dalam restoran itu kalah penting dibandingkan dengan layanannya, suasana restoran, kenyamanan, prestise, ambience musiknya, dll.

Arsitektur kreatif juga merupakan sebuah bentuk kombinasi antara tangible dan intangible. Uniknya, dominasi tangible dan intangible ini berubah dari sejak awal proses penanganan klien, hingga proses perampungan produk berbentuk fisik/nyata dari yang ditawarkannya. Jika di awal lebih abstrak dan penuh imaginasi, maka di tahap akhir, bentuk kongkrit dari disain yang ditawarkan sangat bersifat tangible.

Mengapa penting untuk mengetahui kadar intangibility dari apa yang ditawarkan oleh perusahaan? Jawabannya adalah, karena memasarkan jasa lebih kompleks dibandingkan dengan memasarkan produk. Jika dalam pemasaran produk dikenal Marketing Mix 4P –Product, Price, Place dan Promotion; maka dalam pemasaran jasa Marketing Mix ini dikembangkan dengan 3P lagi yaitu People, Process dan Physical Environment.

Melibatkan Konsumen

Dalam proses berlangsungnya service performance, sebenarnya konsumen punya peranan yang penting di dalam menentukan kesuksesan. Ketelibatan konsumen akan membuahkan hasil yang lebih baik karena service provider tidak hanya menggunakan asumsi-asumsinya sendiri. Justifikasi puas dan tidaknya sebuah service performance bisa diukur selama proses dan koreksi bisa dikerjakan pada setiap kali terjadi kesalahan dalam interpretasi.

Seperti yang disampaikan oleh salah seorang disainer dari PTI Architect, Prasetyo Budi Santoso dalam blognya: http://interiorpras.blogspot.com/, keterlibatannya sebagai disainer dimulai pada tahapan yang sangat awal dari proses pembuatan disain proyek. Interaksi dengan konsumen langsung menjadi kunci utama keberhasilan Peedle Thorpe Architect Indonesia (PTI Architect) memberikan sesuatu yang ‘meaningful’ tetapi tetap pada estetika yang dikendalikan oleh kreatif disainnya.

As an Interior Designer for PTI Architect – Jakarta Indonesia, in 1998 I was deeply involved in the design development of Balicamp Software development Camp in Bali. There were close relationship in-between Interior Designer, Building Architect and Client to formulate and generate the idea from early conceptual stage.

Ada tiga kata kunci disini: (1) deep involvement, (2) close relationship, dan (3) early stage. Jadi memang dibutuhkan keterlibatan personal dan komitmen yang kuat untuk menghasilkan sebuah maha karya seni. Dan perusahaan kreatif tidak bisa menuangkan ide secara pihak. Butuh close relationship atau hubungan yang erat yang terjalin selama proses berlangsungnya pembuatan maha karya, agar needs konsumen tergali dan bisa diterjemahkan dengan baik. Dan teamwork yang baik antara pemberi kerja dan konseptor ide kreatif dan yang menuangkannya dalam bentuk kongkrit harus dimulai seawal mungkin, agar tidak ada yang merasa kepentingannya tidak tersalurkan.

Beyond the Needs

Kita belajar bahwa proses pemasaran dimulai dengan identifikasi customer value. Seringkali ini diartikan sebagai proses penggalian secara sepihak, yaitu pihak perusahaan mencari tahu apa needs dari konsumen dan semata-mata kemudian memberikannya dalam bentuk produk atau service yang diinginkannya.

Sebenarnya pemasaran lebih menitikberatkan pada kepandaian mengelola customer value needs. Ini bisa diartikan bahwa dalam pemasaran services, kita bisa lebih jauh dibandingkan dengan mengartikan needs apa adanya. Dengan bantuan ide kreatif, needs yang digali perlu didorong lebih jauh lagi, ke arah yang belum terbayangkan oleh konsumen sekalipun, didorong beyond their needs.

Konsumen adalah makhluk sederhana (‘konsumen juga manusia….’), tidak selalu tau apa yang dia mau. Hal-hal yang menyangkut sebuah karya disain kreatif, ini sudah barang tentu di luar kepekaan dan pengetahuannya.

Tugas seorang disainer adalah menggali lebih dalam needs dan issues yang paling mendasar yang dibutuhkan oleh konsumen dan komunitas di sekelilingnya. Eksplorasi insights yang jitu inilah yang kemudian dikupas secara bertahap dan dituangkan ke dalam disain yang memenuhi aspirasi – atau future needs dari konsumennya. Sudah banyak produk arsitektur di luar negeri yang menggunakan studi ethnography untuk melengkapi pemahamannya tentang konsumen dan aspirasinya tersebut.

Peranan seorang disainer/arsitek adalah memberikan sentuhan dan perspektif yang berbeda tentang trend, warna, style dan hal-hal yang beyond the needs dari konsumennya. Dan dalam level ini pulalah yang membedakan satu disain dengan disain lainnya, menjadi competitive advantage yang ditawarkan oleh perusahaan disain.

Salah satu kunci keberhasilan perusahaan disain interior dan arsitektur bangunan terkemuka, seperti halnya PTI Architect adalah mampu menterjemahkan customer needs – beyond their needs.

Keseimbangan Kepentingan Stakeholders

Keberhasilan membuat sebuah maha karya dibidang arsitektur tidak hanya dilihat dari sisi berguna secara fungsi bagi penggunanya, atau mendatangkan untung bagi investornya saja. Maha karya tersebut haruslah relevan dari segi trend disain dan relevan eksistensinya bagi komunitas di sekelilingnya. Ini membutuhkan kejelian. Bagaimana mencari titik keseimbangan antara kebutuhan setiap stakeholders dari sebuah maha karya.

PTI Architect sudah membuktikan kepiawaiannya dengan banyaknya mega projects yang dikerjakannya dan setumpuk Award yang telah diraihnya. Ini membuktikan bahwa perusahaan ini secara umum telah menjalankan praktek arsiktektur yang mengintegrasikan nilai-nilai kreatifitas disain yang tinggi dengan tetap mempertimbangkan kebutuhan para stakeholdersnya.

Tetapi apakah perusahaan sekelas PTI Architect telah menyelami kebutuhan multiple stakeholders dengan baik dan menjaga keseimbangan diantara kepentingan-kepentingan untuk setiap proyeknya, terutama pada Mega Projects nya? Saya masih mempertanyakan sisi ‘berguna bagi komunitas umum’, terutama dalam konteks komunitas terdekat yang berada dalam lingkaran super blok atau mega projectsnya. Belum cukup informasi akan kegiatan Corporate Social Responsiblity yang telah dilakukan oleh perusahaan yang sukses ini. Hitung-hitung, ini Pe Er untuk perusahaan. Ada pertanyaan untuk dijawab dan dijelaskan ke komunitas.