-->
 

All posts tagged CEO Branding

CEO Branding : Pelajaran dari Michael D. Ruslim

Amalia E. Maulana

Dimuat di Bisnis Indonesia Minggu, 12 Februari 2010.

SMS teman di suatu pagi yang cerah membuat saya terhenyak, Pak Michael Ruslim sudah tiada. Ini sebuah kehilangan besar. Bukan hanya di perusahaannya, tetapi juga untuk negeri ini. Saya sudah tidak berselera lagi mengerjakan hal-hal yang ingin saya kerjakan hari itu.

Saya tidak kenal Pak Michael secara pribadi. Walaupun saya punya pengalaman mengajar di AMDI, Astra Management Development Institute, dan buku saya sempat direview di forum Astra.

Seorang CEO yang punya branding kuat seperti beliau ini tentu punya circle of fans. Saya mungkin tepat digolongkan sebagai salah satu dari fan tersebut. Apa yang menarik perhatian saya adalah semangat membuat perubahan. The real Agent of Change. Agen Perubahan sejati. Dan, karena semangat ini, saya merasa kehilangan seorang idola.

Makna Sebuah Brand

“Ultimately, a brand is the things people say about you when you’re not there” Demikianlah ungkapan seorang Jeff Bezos, CEO dari Amazon.com.

Pendapat tentang Michael Ruslim:

Low profile dan dekat dengan karyawan , selalu sharing value dan pengalamannya tentang kehidupan, pekerjaan untuk produktivitas kerja.” (inilah.com)

“Salah satu pemimpin terbaik Astra, Saham naik terus” – Mantan PresKom Astra Abdurrahman Ramly (vivanews.com)

“Lebih suka berada di belakang layar. Dikenal sebagai spesialis restrukturisasi perusahaan dan membangun bisnis baru bagi Astra Group”(kompas.com)

Apakah personal brand baru bisa terlihat gaungnya pada saat ‘dia tidak berada di sana”? artinya benar-benar meninggalkan dunia ini? Tentu itu tidak benar. Jika Jeff Bezos menyatakan ‘when you are not there’, itu hanyalah sebuah ungkapan bahwa kita perlu mengatur langkah dengan baik, mumpung kita masih diberikan kesempatan untuk berbuat positif sebanyak-banyaknya, selama masih hidup. Apabila terdapat gap yang cukup besar antara ‘what they say’ dengan ‘what we want them to say’ tentang diri kita’ – berarti perjalanan pembangunan brand kita masing panjang.

CEO Branding

Secara sadar atau tidak sadar, sebenarnya Michael Ruslim sudah melakukan aktivitas CEO Branding, secara baik dan benar. Ini tergambar dari berbagai komentar positif baik dari kalangan bisnis maupun non bisnis. Dan juga pada pergerakan harga saham.

Seberapa guncangan pasar modal yang ditimbulkan oleh kepergian seorang CEO? Saham Astra yang cenderung turun dalam minggu-minggu kepergiannya, menggambarkan bahwa di dalam kebesaran Brand Astra saat ini, terkandung juga kebesaran sang “CEO Brand” nya, yaitu Michael Ruslim.

Michael Ruslim adalah sebuah contoh CEO Branding di Indonesia, yang bisa kita pelajari bersama. Tidak harus gembar-gembor dan menjadi selebriti dadakan untuk mencapai level CEO Brand yang cemerlang. Dalam banyak kasus, sering kita temukan, seorang CEO yang setengah memaksakan citranya dalam sebuah kampanye produk atau perusahaan.

CEO Branding dan Corporate Branding : Komplemen

Lebih dikenal mana dalam sebuah perusahaan: Corporate Brand atau CEO Brandnya? Sebenarnya, pertanyaan umum ini tidak penting untuk dibahas. Dalam hal ini keduanya tidak berkompetisi melainkan merupakan komplemen.

Yang harus diteliti adalah, apakah makna dari kedua brand yang berdampingan ini saling menguatkan, bersinergi, dan penggabungannya akan menjadikan 1+1 = 10? Jika tidak, maka sebaiknya dilakukan review ulang. Apakah CEO Brand tidak lagi menjadi sebuah elemen penting pendukung cita-cita Corporate Brand. Atau sebaliknya, citra Corporate Brand sudah bergeser ke arah yang tidak menguntungkan bagi CEO Brand untuk beraliansi di dalamnya. Manapun situasinya, harus diambil tindakan segera.

Kualitas leadership CEO adalah cermin kualitas Corporate Brand. Seperti Michael Ruslim, walaupun dikenal sebagai sosok yang lebih senang bermain di belakang layar, tetap saja hasil pekerjaannya diakui dan dipublikasikan. Memperoleh penghargaan sebagai Best CEO dari Majalah SWA adalah salah satu publikasi yang mungkin tidak bisa dihindarinya sendiri. Mau tidak mau, beliau juga harus menampilkan diri.

Dalam konteks CEO Branding, tidak mungkin lagi mempunyai cita-cita murni pribadi. Dalam banyak hal, perlu dipikirkan bagaimana dampak dari pencitraan dirinya sebagai pemimpin tertinggi sebuah organisasi, apakah akan menjadi faktor pendukung atau menjadi faktor penghambat?

Semua orang yang berinteraksi dengan seorang CEO baik itu adalah internal stakeholders maupun stakeholders eksternal, akan membentuk sebuah impresi – dan Brand Impression inilah yang dinilai. Konsistensinya, Konvergensi dari citranya dari berbagai sumber, formal dan non-formal – akan menjelaskan siapa beliau dan apa saja yang telah dirasakan oleh sekitarnya telah dilakukannya.

Tiga pertanyaan penting untuk mereview sinergi antara CEO Brand dengan Corporate Brand. Cukup tanyakan pada stakeholders untuk masing-masing brand: (1) What do people value most about your brand? (2) What makes your brand distinctive from the competitors? (3) What is it that your brand do well and consistently deliver to their customers?

Apabila esensi dari pertanyaan-pertanyaan tersebut yang merupakan komponen dalam DNA masing-masing brand, sama atau sejalan (tidak harus sama, tetapi senafas), berarti keduanya bisa tetap bergabung dan saling mencemerlangkan.

Personal Social Responsibility (PSR)

Jika Corporate Brand yang cemerlang adalah yang mementingkan Corporate Social Responsibility (CSR). Demikian pula pada CEO Brand, bagaimana secara individu secara tulus meluangkan waktu dalam kegiatan Personal Social Responsibility (PSR).

Sharing knowledge yang sering dilakukan oleh Michael Ruslim baik di industri maupun di dunia akademik, merupakan kegiatan PSR beliau. Sebagai contoh, sharing di acara CEO Speaks Binus Business School (tahun 2009), merupakan salah satu bentuk interaksi langsung beliau dengan dunia pendidikan.

Semangat yang akan tetap menyala adalah semangat perubahan. Hanya dengan perubahan yang substantial, organisasi bisa berkembang dan mencapai cita-citanya.