-->
 

All posts tagged branding strategy

Branding for User Generated Content

To develop the user generated content (UGC) for loved many people, branding strategy is one important thing to learn. Amalia E. Maulana, PhD, Brand Consultant & ethnographer of Etnomark Consulting, share tips branding strategy in a seminar on Building SparxUp IDS, Epicentrum Walk, Jakarta, Monday (4/11/2011) ago.

Read More →

UKM Perlu Internet dan Strategi Branding

INILAH.COM, Jakarta – Pakar pemasaran menilai pemerintah sudah saatnya mengarahkan pemanfaatan internet pada UKM dan membina mereka menyangkut strategi branding yang benar.

“Pemerintah memang sudah banyak melakukan pembinaan dan pementasan pengusaha. Tetapi hasilnya sampai saat ini masih belum tampak sebuah transformasi yang signifikan dari UKM,” kata Direktur Etnomark Consulting, Amalia E Maulana Ph.D di Jakarta, Senin (3/1).

Read More →

Pemerintah agar dorong UKM pakai Internet

Minggu, 28/02/2010 21:27:39 WIB Oleh Arif Pitoyo (http://web.bisnis.com/sektor-riil/ritel-ukm/1id164512.html)

JAKARTA (Bisnis.com): Pemerintah diminta mendorong usaha kecil menengah (UKM) memanfaatkan Internet guna meningkatkan daya saing menghadapi perdagangan bebas Asia-China dan menaikkan branding.

Director ETNOMARK, Ethnography Consulting Amalia E. Maulana mengatakan segmentasi UKM harus segera disusun untuk mengukur kemampuan UKM dalam menerima teknologi Internet dalam mempromosikan produknya.

Read More →

Prabowo: Brand Sukses Pemilu 2009

Amalia E. Maulana

Dimuat di Bisnis Indonesia Minggu, July 2009

“SBY boleh saja menang pemilu, tetapi di mata saya, dalam pencapaian branding, Prabowolah yang berkibar”.

Leo, student MM Executive di sekolah bisnis tempat saya mengajar, awalnya tidak sependapat dengan pernyataan saya di atas. Bukankah memenangkan pemilu adalah tujuan dari semua kampanye? Demikian argumetasi Leo.

Ini sama saja dengan mengatakan bahwa dari dua brand yang bertempur, yang cemerlang harus selalu yang mendapatkan penjualan lebih tinggi. Padahal tidak selalu demikian.

Dalam konteks pemilu – jika kita hanya fokus pada titik ini saja – mungkin benar yang dianggap sebagai  the ‘ultimate goal’ adalah perolehan suara terbanyak.  Tetapi dari sisi proses branding, sasaran brand belum tentu sama.

Pencapaian prestasi sebuah brand bisa saja di level peningkatan awareness, peningkatan positive attitude atau positive image, dan di level preference.  Pencapaian penjualan yang merupakan tahap akhir dalam proses hierarchy-of-effect sebuah komunikasi, tidak selalu menjadi prioritas utama.

Brand building bukanlah pertandingan lari jangka pendek 100 atau 200 meter. Untuk sebuah brand agar jadi pemenang jangka panjang, butuh ketangguhan lari marathon. Napas panjang, dan strategi brand membentuk equity yang kuat yang terarah dengan road map yang jelas.

Return on Investment dari sebuah kampanye brand harus dihubungkan dengan target atau sasaran periode tersebut.  Jika baru sampai tahap awal atau pertengahan, pengukuran keberhasilannya digambarkan dengan seberapa tinggi pencapaian brand equitynya, dan ini bukan jumlah penjualan (atau jumlah voters) semata.

- Brand Prabowo : Sukses

Saya kira Prabowo dan brand team nya cukup realistis dan apik dalam menyusun strategi brand jangka panjang. Siapapun dibalik pencitraan brand Prabowo, mengerti bahwa Branding is a process, dan ini diaplikasikan dengan baik.

Target Prabowo, seperti yang sudah ditebak banyak orang, bukanlah memenangkan pemilu tahun ini. Pemilu barusan hanyalah sebuah persinggahan yang sangat kritikal di dalam road map – grand strategy yang sudah disusun untuk pencapaian hasil maksimum di pemilu mendatang.

Prabowo tidak ngotot memicu untuk memperoleh voting terbesar (brand action). Fokus utamanya adalah kesadaran orang bahwa brand ini exist atau ada (awareness), disamping terus mengisi brand understanding melalui positioning ekonomi kerakyatan.

Sebuah brand yang kuat adalah yang memiliki atribut dan asosiasi positif. Ini sebenarnya Pekerjaan Rumah terbesar dari brand Prabowo. Brand team nya harus bekerja keras untuk menghapus atau minimal menutup asosiasi-asosiasi negatif yang masih muncul berkaitan dengan sejarah brand ini.

Ekonomi kerakyatan, memihak kepada buruh dan petani, adalah sebuah positioning yang memikat banyak kalangan masyarakat. Keberpihakan kepada rakyat kecil tentu menimbulkan apresiasi tersendiri, baik pada masyarakat yang terwakili kepentingannya, maupun untuk pemilih pemula yang tidak kenal Prabowo sebelum masa pemilu.

Ini bukan pekerjaan sederhana. Menurut banyak ahli komunikasi, lebih mudah membina citra brand dari nol, dibandingkan harus mengganti citra sebuah brand yang sudah punya endapan asosiasi tertentu.

Keputusan menjadi cawapres adalah keputusan strategis. Dengan strategi co-branding dengan Mega, Prabowo meluncur sebagai brand independen dengan pencitraan tersendiri. Lihatlah iklan pasangan Mega-Pro yang selalu menampilkan citra Prabowo sebagai brand partner, bukan sekedar bagian dari Mega.

Ini tidak sama dengan strategi brand SBY, dimana SBY tidak butuh lagi brand partner untuk memenangkan pemilu. Brand SBY secara independen sudah dalam posisi yang sangat kuat. Dalam proposisi yang ditawarkan oleh SBY-Boediono, brand SBY berada sebagai core brand – Boediono hanyalah sebuah elemen pendukung saja.

Menariknya, walaupun kalah suara, kekalahan Mega-Pro lebih disorot sebagai kekalahan Megawati, bukan Prabowo. Perolehan hampir 30% voters jelas sudah sebuah prestasi bagi Brand Prabowo. Awareness melesat ke atap, knowledge dan preferensi meningkat drastis.

Kedepannya, Prabowo harus terus mengisi kegiatannya secara konsisten dengan positioning yang diusungnya. Jika saat ini masih berupa pencitraan, masyarakat luas tentu butuh kerja nyata. Masyarakat menunggu bukti, sebelum benar-benar bisa mengkonversi simpatinya terhadap brand menjadi real action atau voting di kemudian hari.

- Musuh JK adalah waktu

Sekali lagi, branding is a process.  Bandung Bondowoso saja tidak mampu membangun 1000 candi dalam satu malam, untuk menuruti permintaan Putri Loro Jonggrang. Demikian pula dengan membangun JK sebagai sebuah brand. Butuh waktu.

Banyak yang mengatakan apa yang ditawarkan JK sebenarnya merupakan sesuatu yang baik, bahkan lebih baik bahkan daripada calon-calon lainnya. Sayangnya, brand adalah persepsi. Dengan branding dibentuklah persepsi.

Adakalanya persepsi di benak konsumen tidak berhubungan langsung dengan kualitas teknis produk tersebut.  Itu adalah penjelasan mengapa banyak produk yang kualitasnya biasa-biasa saja menang penjualannya dibandingkan produk yang secara teknis lebih unggul.

Dari segi tahapan branding, JK sudah masuk dalam tahapan tersulit dan kritikal yaitu tahap preferensi. Sebagian masyarakat memang sudah mulai aware dan cukup mengerti dan membeli proposisi JK. Tetapi, untuk mengubah preferensi dari SBY ke JK? Nanti dulu. Disini issuenya adalah : bermasalahkah existing brand yaitu SBY? Jawabannya tidak.

Brand SBY ada pada tahapan maintenance (oleh karena itu tagline “Lanjutkan” cocok dan mengena). Brand SBY sudah sampai pada tahapan awareness yang maksimum, knowledge yang maksimum. Jika sebagian dari yang aware dan mengerti itu berpindah ke lain hati, jumlahnya tidak akan cukup substantial karena mangkok awareness SBY sangat jauh melebihi mangkok awareness JK.

Sekarang kita sudah sampai pada era SBY tahap 2. Tugas SBY makin berat. Karena simpatisan JK dan Prabowo tidak akan tinggal diam. Mereka telah berhasil diyakinkan bahwa SBY tahap 1 bukan the best option.

Team SBY tahap 2 harus bekerja ekstra keras. Dengan perolehan 60% suara bagi SBY, bisa diartikan bahwa tagline “Lanjutkan!” tidak mempan bagi 40% suara yang masuk. Khusus untuk segmen yang satu ini SBY harus mengganti tagline dengan ”Saya Akan Buktikan!” Selamat bekerja, Pak.