-->
 

All posts tagged branding

Brand, Branding dan Peranannya Bagi Perusahaan

Dimuat di Koran Sindo, Selasa 27 April 2010

Masih banyak yang rancu pada pengertian brand vs branding. Brand adalah merek yang dimiliki oleh perusahaan, sedangkan branding adalah kumpulan kegiatan komunikasi yang dilakukan oleh perusahaan dalam rangka proses membangun dan membesarkan brand. Tanpa dilakukannya kegiatan komunikasi kepada konsumen yang disusun dan direncanakan dengan baik, maka sebuah merek tidak akan dikenal dan tidak mempunyai arti apa-apa bagi konsumen atau target konsumennya.

Read More →

Tepati Paket Janji: ‘Make or Break” Sebuah Brand

 

 

Dimuat di Bisnis Indonesia Minggu, April 2010.

Apa yang membuat sebuah brand berhasil atau tidak berhasil? Dengan kata lain, ‘make or break’? Pertanyaan ini diajukan oleh Pak Ari Widodo, Direktur Research Centre LSPR kepada para presenter sesi siang di the 1st Communication Research Conference, LSPR belum lama ini.

Sebenarnya pemicu dari pertanyaan ini adalah presentasi salah satu presenter, Pak Silih Agung Wisesa, membawakan sebuah hasil risetnya dengan topik faktor yang menyebabkan ‘break’ nya brand Aa Gym setelah pernikahan keduanya.

Read More →

Pembicara 2.0 & Analogi Teman untuk Branding

Ada berapa teman kita yang bisa digolongkan sebagai ‘just friends’?, berapa yang digolongkan sebagai ‘good acquaintances’? dan berapa pula yang sudah bisa kita hitung sebagai our ‘soul mates’?  Yakin seyakin-yakinnya, pasti yang soul mates jumlahnya terhitung yang paling minimalis. Dalam keseharian kita, mungkin tidak ada waktu untuk memikirkan berapa jumlah teman kita, apalagi yang berpikir berapa yang sudah bisa kita konversi dari teman biasa ke teman baik, lalu dari teman baik ke teman karib/sohib.

Rasanya semua pertemanan mengalir begitu saja. Hasilnya: jumlah teman biasa bertambah terus, tetapi teman baik segitu-segitu saja, apalagi sobat, mungkin bisa dihitung dengan jari. Belum lagi, kadang kala saking sibuknya, secara tidak sadar kita sudah men-downgrade teman-teman kita dari yang sudah tinggi tingkatan pertemanannya, turun jadi teman biasa. Sudah jarang telpon, jarang silaturahmi.. maintenance sobat kadang terasa terabaikan karena kesibukan.

Padahal hidup kita baru berharga bila punya banyak sahabat, banyak teman baik, jauh di atas teman-teman biasa. Ini yang overlook… Semangat Valentine’s day ini sebaiknya tidak fokus pada perayaannya, tetapi pada semangatnya. Yaitu, semangat memperbanyak teman berkualitas.

Pelajaran branding – dari Analogi Pertemanan. Apakah cukup hanya melihat banyaknya konsumen brand? Ini tidak cukup untuk melihat cemerlang tidaknya sebuah brand. Itu kan refleksi kesuksesan transaksi, yaitu baru sampai merekrutnya menjadi teman biasa. Karena itu, pertanyaannya haruslah berapa banyak soul mates nya brand, nama lainnya brand loyalty? Sudah cukup banyakkah? Apakah kita sendiri punya informasi gambaran siapa-siapa sahabat baik brand ini? Jangan-jangan kita belum pernah cari tau. Oh, No!

Tiap hari kita sibuk merekrut konsumen, menjadikannya teman, tetapi tanpa disadari usaha kita belum maksimal untuk mengupgrade konsumen agar kedekatannya dengan brand bukan hanya sekedar transaksional saja.. tetapi bisa sampai pada kedekatan emosional ala sohib berattss..

Buat apa itu semua? Sahabat adalah orang pertama yang akan bilang kalau dia tidak puas. Dalam kaitannya dengan brand, jika dia tidak puas, maka our brand ambassador ini tentu akan lapor duluan ke kita langsung sebelum lapor ke milisnya, atau ke circle of friends nya. Dengan laporan sahabat, brand bisa berbenah secara cepat, alert terhadap hal-hal negatif yang mungkin tidak disadari oleh brand.

Pembicara 2.0 di Astra PR Forum

Cuplikan bahasan tentang analogi Pertemanan vs Branding tadi adalah bagian dari sharing saya di PR Forum Astra Jumat yang lalu. Terimakasih Pak Yulian Warman, Kapten Corporate Communication nya Astra yang sudah mengundang untuk berbagi cerita dan pengalaman.

Senang bisa bertemu dengan begitu banyak praktisi PR dan komunikasi secara langsung – yang hadir adalah wakil dari anak-anak perusahaan Astra yang bervariasi dari automobile hingga asuransi.

yang lebih senang lagi, saya jadi banyak istilah baru hari ini.

Perusahaan 0.0 :

Saya jelaskan bahwa perusahaan jaman sekarang harus bisa mengikuti gaya irama tariannya konsumen. Jadi kalau konsumennya saja sudah ‘modern’, masa perusahaannya masih ‘juaduull pangkat seratus’. Ya, pertemanan yang dibangun pasti akan berantakan, atau bahkan nggak terjadi. Karena “nggak nyambungss”. Salah satu ciri perusahaan ‘modern’ adalah sudah menerapkan web 2.0 yaitu memberikan ruangan bagi konsumen untuk ikut bicara, dalam berbagai bentuk, termasuk dalam website atau blog korporat. Bahkan, sekarang perusahaan juga sudah mulai meningkatkan lagi kelasnya masuk di era web 3.0 yang lebih otomasi dan kaya lagi features nya untuk mempererat “persahabatan” dengan konsumen.

Paling gampang contoh perusahaan ‘jadul’ ya Omni Internasional. Konsumen ‘modern’ kaya Prita kok dilawan dengan jurus ‘kuno kuadrat’. Kalau istilah Pak Yulian, ini perusahaan nya masih web 0.0, boro-boro web 1.0 aja belum kalee..

Berkaitan dengan isi bahasan, pada sesi tanya jawab yang seru ada salah satu peserta yang mengusulkan untuk mengganti istilah “modern customers” vs ‘modern company’ dalam slide saya, karena rancu dengan definisi Alvin Tovler yang membagi-bagi periode dan salah satunya pakai istilah ‘post-modern’.

Wow. Disini saya ditantang untuk tidak stay pada gaya “Guru” tetapi harus sudah bergaya “Web 2.0″ yaitu interaktif dan dengan semangat “wisdom of crowd”. Rasanya saya bisa terima masukan Mas…. siapa ya lupa lagi namanya (maap disc memori saya kepenuhan, gampang lupa).

Saya tanya jadi diganti apa istilahnya, ternyata beliaunya blocking, gak ngasih istilah. Teman2 yang lain pada geli juga sebab judulnya “yang protes tanggung jawab lho…”. Setelah saya tawarkan, gimana kalau saya ganti aja dengan istilah “cool customers” vs “cool company” – setuju nggak, sebab yang saya maksud modern itu ya pokoknya ‘keren, n masa kini’ lah. Tidak bermaksud membakukan istilah “modern company’ anyway, cuma pakai istilah itu untuk bilang bahwa “BERUBAH” atau “CHANGE” dong… company, jangan jadul terus gayanya.

Alhamdulillah, teman kita senang dengan istilah baru tadi “cool” – menggantikan “modern”. Kata dia, lebih gaul Bu! Hehe, boleh juga nih, jadi lain kali di acara lain, akan saya ganti slidenya dengan istilah baru ini. Thanks buat inspirasinya. Sudah dapat hadiah buku belum ya…? Kalau belum nanti saya titipkan Pak Yulian. Seingat saya, sudah saya acknowledge sebagai salah satu penerima buku “consumer insights via ethnography’ karangan saya.

Senang sudah naik kelas jadi Pembicara 2.0, horizontal communication dengan pesertanya. Bukan hanya media yang horizontal, bukan hanya marketing yang horizontal, sekarang pun Pembicara harus transformasi diri. Dari ‘guru-murid’ ke ‘teman sharing’.

Sekali lagi thanks Pak Yulian untuk kesempatan bertemu teman2 PR Astra. Juga untuk Mas Boy dan Mbak Ningsih yang sudah arrange. Untuk semua yang hadir sore itu, keep in touch ya. Semoga sukses di tahun 2010 ini.

Ikut berbela sungkawa atas kepergian sang Maestro Astra, Pak Michael Ruslim. Saya sudah dokumentasikan tentang beliau dalam tulisan saya di Bisnis Indonesia Minggu, silakan kalau ada yang mau komentar di tulisan tersebut, mau menambahkan dan menguatkan sebagai pihak yang kenal lebih dekat lagi. Tentu akan menambahkan deretan memori indah tentang beliau.