-->
 

All posts tagged Blue Bird

Brand Promise vs Experience – Blue Bird

Saat yang tepat untuk menguji “reliability’ dari sebuah janji pada konsumen yang digaungkan dalam marcomnya, adalah pada saat konsumen mengalami problem, apakah brand akan menjadi SOLUSI atau tidak. Jika pengalaman menunjukkan bahwa brand experience selalu positive dan menyelesaikan masalah, ini menggambarkan Komitmen Brand terhadap janji-janjinya.

Blue Bird positioning yang juga merupakan image nya selama ini adalah drivernya yang reliable dan honest. Memang terbukti, buat saya, itu bukan sekedar janji. At least statement ini di-derive dari pengalaman saya hari ini.

Karena driver saya sudah pulang kampung, walhasil sudah dua hari ini, saya terpaksa kemana-mana naik taksi (nggak ada yang sanggup nggendong kemana-mana sih..). Hari ini pun demikian, ada rapat di Kantor Kementrian BUMN di jl Merdeka Slt jam 10 – 12.30. Peranan saya dalam meeting tersebut adalah sebagai salah satu juri website BUMN terbaik, yang akan digelar bulan Oktober nanti. Pak Nukman Luthfie dari Virtual Consulting adalah Ketua Dewan Jurinya.

Agak sulit saya menemukan taksi pada saat pulang, walaupun sudah mejeng di pinggir jalan selama 10 menitan, yang mampir kebanyakan taksi brand selain blue bird. Sebenarnya I dont mind dengan Taksi Express dan Putra, kalau ada pasti saya stop. Tetapi belum ada sampai akhirnya taksi blue bird lah yang menghampiri.

Judulnya ngejar deadline, jadilah sambil di taksi kerjaan diterusin, pakai laptop. Padahal itu jam-jam ngantuk luar biasa.. pas puasaan gini, akhirnya nggak efektif karena 75% dari perjalanan tersebut ternyata saya tidur sambil gayanya aja kerja.

Rupanya waktu saya membereskan perlengkapan laptop atau ambil uang di dalam tas, saya nggak ingat yang mana persisnya, flash disk ku yang berisi 4GB terjatuhlah, tanpa saya ketahui.

Setelah nyampe rumah — udah berkemas-kemas pindah ke desk top dan butuh USB baru tersadar bahwa USBku yang tercinta itu udah nggak ada. Coba-coba telpon tanya ke Pak Rudi Rusli di Kementrian BUMN, kalau-kalau ada terjatuh di ruang meeting. Ternyata gak ketemu (berarti nggak jatuh disana).

Wah… langsung sakit perut mengingat begitu banyak pekerjaan yang belum sempat di -save yang ada di si mungil USB itu. Huh, ini pelajaran bagi orang yg malas memback-up data…

Saya tau chancenya kecil banget bahwa si mungil bisa ditemukan di taksi, karena saya nggak ingat sedikitpun ciri2 taksi nopol nama driver maupun IDnya. Wong tadi tidur terus kok…

Tapi katanya kita kan harus terus berusaha, mencoba berbagai cara, dan kemudian saya telponlah Customer Servicenya Blue Bird, Sangat ramah, super menyenangkan, dengan Mita yang berjanji akan membroadcast laporan ini ke seluruh armada, mengingat saya nggak tau sedikitpun Idnya taksi tadi. Setiap 1 jam saya tanya, dan hasilnya nihil, sudah kami coba Ibu… dan belum ada tanda-tanda ada yang menemukannya. Tapi kami akan cek hingga besok pagi, karena nanti malam semua driver taksi akan pulang ke pool dan akan ada laporannya. Saya, masih sakit perut, berusaha pelan-pelan melupakan chance kecil bahwa si mungil bakal ketemu.

Subhanallah, kira-kira sepuluh menit sebelum buka puasa, someone from Blue Bird called me dan bilang bahwa USB saya sudah ditemukan. Supervisor dari driver Pak Asep yang membawa saya dari Monas ke Bintaro hari ini, mengatakan bhw Pak Asep telah melaporkan penemuannya.

Satu jam kemudian, Pak Asepnya sendiri yang menelpon, janjian untuk ketemu di sekitar CBD (besok saya akan ada rapat di Bisnis Indonesia sekalian buka puasa bersama) — Insya Allah saya akan bertemu lagi dengan 4GB file ku tersebut via Pak Asep yang baik.Seigatku, Pak Asep ini masih muda, mungkin sekitar early 30.

Tulisan ini aku buat sebagai testimoni dari seseorang yang mendapatkan services yang sangat baik dari sebuah brand. Mudah2an seterusnya Blue Bird bisa mempertahankan aspek “RELIABLE” tersebut. Tidak mudah memasarkan Jasa/services. Salah satu aspek dari Marketing Mix services yaitu 7P adalah People. Dan ini menjadi sustainable competitive advantage nya Blue Bird.

Nggak papa lah beda harganya, walaupun harus bayar lebih (karena bukan ‘tarip lama’). Tapi perasaan berada di tangan pengemudi yang reliable itu adalah customer value yang luar biasa.

Baru ingat, teman saya Yana Arsyadi minggu lalu juga sempat mereview pengalamannya naik taksi BB (bukan Blackberry ya, yg ini Blue Bird) , yang mana dia lagi cape dan suntuk, ternyata ditawarkan oleh driver taksi untuk mendengarkan lagu-lagu. Dan ini membekas di hati Yana, karena kemudian lagu2 tersebut mencairkan suasana hatinya. Hallo Yan, ingat nggak saya sempat komen di FBmu, customer relationship nya driver itu oke banget, dan jangan-jangan adalah lulusan MM Strategic Marketing tempat saya ngajar haha…

Thanks ya Blue Bird, I really appreciate your services.