-->
 

Reuni dan Lahirnya Komunitas Baru

Reuni dan Lahirnya Komunitas Baru

Amalia E. Maulana

Dimuat di Bisnis Indonesia Minggu, Oktober 2009.

Salah satu teman suami menyatakan kecurigaannya waktu saya tulis di status Facebook ‘apa sih benefit ikut reunian’? Disangkanya ini adalah bentuk kekesalan saya karena belakangan suami rajin ikut reuni di sini dan di sana. Saya sendiri juga rajin ikut reunian, kok….So, no worries…..

Memang sekarang sedang jaman reuni. Baca saja status dan foto-foto teman di FB. Lebaran kemarin, penuh dengan berita pertemuan reuni dimana-mana. Saya amati, teman dan saudara yang berkunjung ke kampung halaman, serba sibuk membagi waktu antara silaturahmi ke rumah keluarga dengan acara reuni yang tidak putus-putus.

Mulai dari reuni akbar sekolah, yang kemudian dilanjutkan reuni teman sekelas, lanjut lagi hanya teman se-gank…di rumah-rumah. Asalkan jangan dilanjutkan menjadi pertemuan yang lebih eksklusif lagi, yaitu pertemuan berdua saja.. nanti bisa menjadi CLBK alias cinta lama bersemi kembali. Kecuali bagi yang masih single, aspek ini dipandang menjadi efek samping negatif dari sebuah reuni sekolah.

Tentu fenomena reuni erat hubungannya dengan maraknya penggunaan situs media sosial Facebook yang semakin menjamur. Pencarian ‘teman-teman hilang’ menjadi lebih mudah. Menggalang pertemuan hanya butuh usaha yang minimal. Selebihnya, FB yang akan menjadi motor viral marketing nya.

Membangun Komunitas

Ukuran keberhasilan sebuah reuni bagi tiap penyelenggara memang berbeda-beda. Saya pribadi memandang, suksesnya reuni bukan hanya dilihat dari jumlah orang yang hadir, atau dari meriahnya acara pada saat hari H saja. Melainkan bagaimana penyelenggara bisa menciptakan sebuah suasana yang nyaman untuk semua orang, yang akan menjadi landasan bagi kelanjutan pertemuan-pertemuan berikutnya.

Terbentuknya komunitas baru yang terdiri dari wajah-wajah lama harus menjadi tujuan jangka panjang dari penyelenggaraan reuni akbar. Saat ini, dimana orang berlomba untuk membentuk komunitas dengan berbagai tema, banyak dari unsur dalam reuni sekolah yang sudah bisa digarap secara langsung untuk membuat komunitas yang solid.

Potensi yang begitu besar dari sebuah pertemuan teman lama menguap begitu saja apabila pihak penyelenggara tidak bisa memanfaatkan momentum dengan baik. Padahal dari sebuah paguyuban alumni bisa dimanfaatkan untuk banyak hal. Baik untuk kepentingan sekolahnya, untuk kepentingan individu, hingga untuk kepentingan masyarakat banyak.

Masih banyak penyelenggaraan acara reuni akbar sekolah yang belum maksimal. Sebagian masih berpendapat, yang penting ketemu dulu, nanti acara berikutnya bisa dipikirkan belakangan. Padahal, menurut hemat saya, pertemuan pertama setelah kurun waktu 10-20 tahun tersebut merupakan momentum kunci – untuk menentukan kelanjutan paguyuban. Pertemuan berikutnya, belum tentu punya greget yang sama dahsyatnya.

Membangun komunitas tentu lebih dari sekedar mengumpulkan kartu nama, meminta alumnus mengisi formulir registrasi. Pembentukan komunitas secara profesional bisa dimulai sejak awal mengirimkan undangan untuk reuni. Mencari tau needs and wants dari tiap anggotanya, untuk kemudian didisainkan sebuah acara reuni akbar yang sesuai dengan harapan. Memberikan insentif member-get-member bagi setiap alumni yang berhasil membawa teman hadir di acara.

Banyak komunitas baru yang muncul dan setelah itu tenggelam kembali. Menciptakan komunitas mungkin mudah, tetapi, ternyata, pemeliharaannya yang sulit. Salah satu parameter komunitas yang solid adalah yang anggotanya memiliki Sense of Community (SoC) yang tinggi.

Apa saja komponen Sense of Community? Dalam tabel berikut dijelaskan aspek-aspek yang tercakup dalam SoC menurut MacMillan and Chavis.

Factor

Item

Membership

Boundaries

Emotional Safety

A sense of belonging and identification

A common symbol system

Personal Investment

Influence

Individual members matter to the group

The group matters to the individual

Integration & Fulfilment of Needs

Individual shared values/ common interest

Some rewards to effective reinforcement

Reinforcement and fulfilment of needs

Shared Emotional Connection

Contact hypothesis

Quality of interaction

Closure to events

Effect of honour and humiliation on community member

Spiritual Bond

Banyak aspek tangible dan intangible yang bisa digali bersama untuk mempercepat proses terbentuknya komunitas alumni sekolah. Ini agak berbeda dengan reuni eks kantor, yang keterikatan dengan icon yaitu brand perusahaan (employer brand) sangat bervariasi dan terdispersi.

Dilihat dari tabel diatas, beberapa aspek SoC sebenarnya sudah dimiliki oleh calon komunitas sekolah. Faktor pertama yaitu Membership yang terdiri dari boundaries, emotional safety, sense of belonging, a common symbol system – merupakan aspek ‘given’ – adalah modal dasar SoC komunitas alumni sekolah.

Common symbol system diantaranya adalah brand sekolah, hymne yang dinyanyikan bersama, guru favorit, gedung atau bangungan tempat belajar dahulu – ini semua merupakan icon-icon penting yang bisa menyatukan sekumpulan orang.

Faktor lain yang belum langsung dimiliki adalah Influence, Integration & Fulfillment of Needs dan Shared emotional connection. Berarti faktor-faktor tersebut haruslah diciptakan. Sebagian besar member telah kehilangan kontak satu dengan lainnya. Interest mereka mungkin saja sudah jauh berbeda, mengingat kurun waktu gap yang tinggi. Harus dicari, hal baru apa yang bisa melekatkan hubungan dan interaksi antar member.

Meningkatkan Sense of Community adalah bagian yang tersulit bagi pengelola komunitas. Jika satu faktor sudah di tangan, berarti tinggal kerja keras bagaimana untuk mendorong aspek-aspek dalam faktor lain yang belum dimiliki.

Pertemuan akbar yang berkesan adalah mimpi semua stakeholders sekolah. Kesan yang mendalam akan hilang dengan cepat jika tidak dipelihara. Dari sekedar kepanitiaan sebuah reuni, seyogyanya segera dibentuk pengurus komunitas alumni. Karena tanpa pembentukan team yang formal, maka setelah reuni selesai, panitia dibubarkan, dan kemudian semua orang akan sibuk dengan urusan masing-masing.

Dengan bantuan teknologi informasi, internet pada umumnya, dan sosial media pada khususnya, maintenance dari pembangunan komunitas tidak harus memboroskan resources baik uang maupun tenaga.

Dengan satu orang full-time Manager saja, saya yakin komunitas yang solid akan segera terbentuk. Idealnya adalah salah seorang dari alumnus, tetapi ini tidak mutlak. Yang penting seorang profesional yang mampu mengelola komunitas. Anda mau melamar?

Malang, September 2009.

2 Comments on "Reuni dan Lahirnya Komunitas Baru"

  1. Tina says:

    Dear Ibu Amalia,
    Saya sungguh tertarik dengan artikel ibu mengenai reuni. Terima kasih telah menyadarkan saya bahwa reuni bukanlah sekadar reuni, namun di dalam reuni itu justru terkandung potensi dan sumber daya yang besar untuk diolah yang nantinya akan bermanfaat bagi berbagai pihak.
    Beberapa waktu lalu, saya mengadakan reuni dengan teman2 sekolah dulu, namun tidak ada satupun di antara kita yang terpikir untuk membentuk komunitas ini dan mempertahankannya.
    mudah2an pada reuni berikutnya,saya dapat mengajukan ide untuk membentuk komunitas.
    sekali lagi terima kasih Ibu Amalia.
    sukses selalu.
    Oya, Ibu mengeluarkan buku baru tentang ethnografy?

  2. Menarik sekali ulasannya. Saya kebetulan jadi Ketua Reuni Alumni, baik SMP maupun SMA (SMP 1 Bogor dan SMA 1 Bogor); memang dari dua kali penyelenggaraan itu, berbeda secara emosional. Karena siapa yang mengundang dan bagaimana mengundangnya juga berbeda. Movement butuh involvement; keterlibatan membuat acara reuni itu jadi mem-blending semua orang.
    Hingga sekarang, alumni reuni SMP lah yang masih rutin bikin agenda ketemuan, walaupun tak melibatkan semua orang…
    Nice.. oh ya, apakah sudah ada buku tentang Marketing Communication yang Ibu tulis?