Amalia E. Maulana - Dimuat di Majalah SWA, 5 Februari 2009
“I love everyone, especially myself”
“Mbak, Narsis banget sih!”. Saya ingat celaan dari salah seorang kenalan baru yang bertemu dalam sebuah seminar, mengacu pada foto di blog saya yang menurutnya berukuran terlalu besar.
Saya jadi berpikir, apa kriteria layak disebut narsis? Dia pasti belum kenal teman saya. Bukan cuma sekedar foto yang ukurannya kebesaran di blog. Di bawah adalah daftar dari sebagian kegiatannya:
- Update blog beberapa kali sehari
- Mengubah status di Facebook dan Yahoo Messenger setiap jam
- Sibuk mengirim laporan “what I am doing” lewat Twitter dan Plurk dari Blackberry
- Repot mengundang orang untuk jadi ‘friend’ dan menghitung jumlah ‘friend request’
- Ganti foto profile setiap minggu
- Album foto di Facebook, Flickr, dan MySpace aksesnya dibuka untuk umum
- Cek Technorati – seberapa disukainya blog berdasarkan links dan statistik
- Self googling minimal tiga kali seminggu
Sering kita dengar istilah narsis belakangan ini. Sebenarnya narsisme atau ‘Narcissism’ bukan hal baru. Narcissism berasal dari mitos Yunani tua tentang Narcissus, seorang pemuda yang kena kutuk jatuh cinta pada bayangannya sendiri di sebuah kolam. Istilah Narcissism kemudian digunakan untuk mendeskripsikan seseorang yang mempunyai sifat mencintai diri sendiri yang berlebihan, berdasarkan pada ego pribadi, merasa lebih baik dari orang lain. Seseorang yang narsis atau ‘narcissistic’ cenderung ingin selalu sempurna dan mengontrol orang lain. The American Psychiatric Association memperkirakan satu dari setiap 100 orang memenuhi kriteria narsisme yang parah, yang disebut dengan Narcissistic Personality Disorder (NPD).
Jika, sekarang seolah-olah lebih banyak orang yang berubah menjadi narsis, ini sebenarnya karena tersedianya saluran untuk mengekspresikan ke-narsis-an tersebut dengan bantuan teknologi. Dengan multimedia dan software networking, memudahkan seseorang mendadak jadi selebriti kecil-kecilan di lingkungannya.
Jadi apa bedanya narsisme dulu dan sekarang? Sifat dasar manusianya tidak berbeda, tetapi yang membedakan mungkin adalah dalam cara pengekspresiannya. Old Narcissism lebih dikonotasikan negatif karena lebih mengacu pada narsisme kronis atau NPD yaitu pada tahap yang membuat lingkungannya tidak nyaman.
Di era sekarang, narsisme tidak sepenuhnya mengandung arti negatif. Muncul berbagai istilah baru, yaitu Narcissism 2.0 atau Digital Narcissism yang diyakini merupakan bagian dari kegiatan Cyber PR (public relations via dunia maya).
Dengan berkembangnya teknologi informasi melalui Internet, mobile communication serta Web 2.0, tersedia fasilitas untuk menjelaskan siapa diri kita melalui ekspresi pemikiran, foto diri, dan rangkaian kegiatan sejak bangun pagi hingga malam menjelang tidur. Dikatakan, media ini menjadi sarana untuk konvergensi sifat-sifat human selfishness dan self-centeredness dalam diri kita. Ini merupakan kemewahan tersendiri bagi I-branding, yang sebelumnya lebih mengandalkan pencitraan melalui keseharian dalam interaksi langsung.
Sampai pada batas tertentu, sifat narsisme ini masih dikategorikan sebagai healthy narcissism, atau sifat narsisme yang sehat. Banyak psikolog yang menyatakan sifat ini baik untuk keseimbangan pribadi, meningkatkan kepercayaan diri dan kualitas interaksi dengan network. Narsisme yang sehat inilah komponen penting dalam I-Branding atau pencitraan diri seseorang.
Digital I-Branding
Gary C. Sain memperkenalkan istilah The I-Brand untuk membedakannya dengan personal branding yang titik beratnya lebih kearah pencitraan individu menjadi seorang public figure (tokoh masyarakat, artis, ekspert, konsultan, dll).
I-Branding ditujukan pada perorangan yang ingin membina keberadaannya dalam keseharian di dalam lingkungan sosialnya. I-Brand menggambarkan seberapa besar nilai yang dipersepsikan tentang diri seseorang oleh audience, relatif dibandingkan dengan orang lain di lingkungan yang sama.
Walaupun audiensnya lebih terbatas, I-Brand juga harus dibina dengan cara yang sama seriusnya dengan pencitraan produk/jasa. Strategi segmentasi, targeting dan positioning perlu ditetapkan sejak awal. Seringkali seseorang langsung masuk ke dalam komunitas dan forum (online) tanpa punya gambaran yang pasti citra seperti apa yang sedang dibangun.
Banyak yang berkata, tidak perlu strategi dalam Digital I-Branding – just do it. Mengalir sajalah, apalagi jika yang digunakan adalah media-media sosial seperti facebook, twitter, plurk, dan sejenisnya. Apa yang ada di benak, sampaikan saja, secara impulsif. Saya tidak sependapat. Walaupun media ini terkesan santai dan informal, koridor citra diri tetap perlu dibuat dan direncanakan.
Tidak seperti personal branding yang harus menghabiskan banyak uang untuk publikasi di paid-media (media massa berbayar), dalam Cyber PR, biaya untuk Digital I-Branding relatif murah. Kreatifitas dan kepiawaian menggunakan setiap celah dalam new media (blog, social media, online forum, dll) menjadi kunci sukses.
Dalam publikasi diri ini, seseorang harus punya sifat narsis yang sehat. Tanpa kemauan untuk tampil, I-brand tidak bisa dikembangkan. Narsisme disini bukan berarti komunikasi dengan menggunakan cara-cara promosi yang menitikberatkan pada ekspresi “Look at me, I am good!”. Tetapi, lebih mengarahkan orang-orang di dalam network untuk menceritakan dalam bahasa mereka masing-masing tentang keberadaan dan keunggulan kita dengan ekspresi yang bunyinya “Look at him/her. He/She is good”. Diibaratkan sebuah kampanye Public Relations untuk sebuah brand yang sarat menggunakan pihak ketiga, demikian pula strategi yang digunakan dalam Digital I-Branding ini.
Keseimbangan antara komunikasi I-Brand secara langsung dalam keseharian dengan komunikasi Digital I-Branding via web 2.0 harus dijaga. Apa yang secara digital dianggap sebagai narsisme yang sehat belum tentu bisa diterima dalam interaksi langsung dengan lingkungan. Jika tidak hati-hati, kebiasaan mengekspresikan diri dalam Digital I-Branding akan terbawa ke dalam dunia sehari-harinya. Kemudian akan timbul kesan seolah-olah dirinya adalah ‘center of the world’. Ini bisa merusak I-brand yang sudah dibina sejak lama.
(Amalia Maulana, ditulis di Jakarta – Januari 2009)