-->
 

Kick Andy dan Rangkaian Tendangannya

Oleh Afful Basri, HR Manager, PT. Boart Longyear – Indonesia

What’s a brand? A brand is the identity of a specific product, service, or business. A brand can take many forms, including a name, sign, symbol, colour combination slogan. The word brand began simply as a way to tell one person’s cattle from another by means of a hot iron stamp. A legally protected brand name is called a trademark. The word brand has continued to evolve to encompass identity – in effect the personality of a product, company or service (Wikipedia, the free encyclopedia).

Dalam hidup ini banyak sekali yang ditawarkan, tetapi kita harus memilih sesuai dengan kebutuhan. Demikian pula acara-acara TV. Ada ratusan mata acara dari ratusan channels, baik TV lokal maupun asing, gratis maupun TV berlangganan. Mana acara yang akan kita tonton? “Kick Andy” jawaban saya spontan ketika ada seorang teman menanyakan program apakah yang selalu secara rutin anda tonton setiap minggunya.

Ya, Kick Andy merupakan program talkshow oleh Andy F. Noya di Metro TV. Kick Andy mengudara setiap hari Jumat pukul 21.30 WIB dan tayangan ulangnya pada hari Minggu pada pukul 15.30 WIB. Cara pembicaraan di program ini mirip dengan cara di acara Oprah oleh Oprah Winfrey di sebuah TV swasta di Amerika Serikat. Menonton acara Kick Andy kita seperti tersihir dengan rangkain alur cerita, penuturan dan kejadian tokoh/pelaku/narasumber cerita tersebut. Kisah-kisah yang ditampilkan di Kick Andy sarat dengan pesan moral, kemanusiaan, dan sisi lain dari kehidupan seorang manusia secara utuh.

Ceritanya sangat menyentuh dan menggugah serta mendorong pemirsa dn semua stakholdernya yang pada umumnya adalah kaum Urban, Professional, High educated, and middle up viewers untuk berbuat baik dan sebisa mungkin meniru perilaku para tokoh tersebut. Sungguh menyentuh perasaan.

“Co-branding antara Kick Andy dan Andy F. Noya”

Apa yang membuat acara Kick Andy meraup sukses besar sebagai salah satu mata acara TV yang paling diminati? Kalau tidak salah beberapa waktu lalu acara tersebut dinobatkan sebagai Program TV terbaik. Menurut saya, hal itu karena cara pembawaan si host tersebut yang juga sekaligus penggagas acara, yaitu Andy F Noya.

Dengan jam terbang yang tinggi sebagai wartawan berbagai media massa dan elektronik tidak mengherankan kalau Andy bisa membawakan acara yang barangkali bagi sebagian orang termasuk masalah dan topik yang cukup “kritis”, “nakal’ dan “sensitif” bahkan sedikit “sakral” dengan cara Andy yang demikian enak dilihat dan dinikmati.

Personality Andy F.Noya yang rendah hati dan sederhana, berwawasan dan kemampuannya menggiring pertanyaan tanpa membuat seorang tokoh yang bertindak sebagai narasumber tersinggung dengan pertanyaan “nakal”nya merupakan sebuah kekuatan seorang Kick Andysebagai pribadi. Ada hal lain yang membuat orang suka dan selalu menunggu acara tersebut adalah celetukan “nakal”ny Andy.

So menurut saya ada korelasi positif anatara Andy F Noya sebagai pribadi dan Kick Andy sebagai mata acara TV. Itu barangkali yang disebut dengan “Co-branding antara Andy F Noya dan Kick Andy”. Dari keduanya terdapat co-branding yang sinergis dan saling menguntungkan. Andy sebagai pribadi sudah mempunyai personal brand yang bagus ditopang oleh media MetroTV yang juga sangat pas untuk menayangkan acara tersebut.

Berbicara Andy F Noya sebagai personal brand, Gary C. Sain, seorang yang pertama kali memperkenalkan I-Brand (“I” = “Aku”’) pada tahun 2005, memberikan 5 cara bagaimana cara membangun I-Brand tersebut: (1) Do you have any uniqueness or different from other people on the eye of our target audience? (Unique); (2) Beside you, are there any other people whom can contribute the same thing like you? (Relevant); (3) Are you always ready to give the best? (Credible); (4) Are you a person whom people can count on you and trustworthy? (Esteem); (5) How much is your knowledge about subject of your work, including the problems and the solutions? (Knowledge).

Secara garis besar, kelima komponen tersebut tergambar dalam pertanyaan yang harus kita jawab antara lain: Apakah kita mempunyai keunikan atau differensiasi yang bernilai di mata target audience? Ada berapa orang lagi selain kita yang bisa memberikan kontribusi yang sama nilainya? Dalam melaksanakan tugas, apakah kita selalu siap untuk memberikan yang terbaik? Apakah kita adalah pribadi yang dapat diandalkan dan dipercaya? Seberapa tinggi pengetahuan yang kita miliki tentang apa yang sedang kita geluti, mengertikah terhadap apa yang terjadi di tingkat konsumen, di tingkat perusahaan dan industrinya?(“The I-Brand: Sebuah Dimensi Personal Brandingsalah satu artikel dalam Amalia E Maulana.Com)

Rincian kelima cara membangaun personal brand tersebut telah dengan sangat tepat dan sukses dilakukan oleh tersebut seorang Andy F Noya pada program acara Kick Andy.

Sebagai brand, Kick Andy juga mendapat dukungan yang bagus dari sebuah TV dengan tagline yang barunya “Knowledge to Elevate” yaitu Metro TV. Dengan tagline tersebut MetroTV seolah sedang membanguan brand dengan mengajak stakeholdernya untuk mempunyai pengetahuan yang tinggi dan siap untuk terbang tinggi bersama dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Nah Acara Kick Andy merupakan bagian dari program tersebut. Acara tersebut memang membangun dan membangunkan pemirsa akan suatu hal yang ada di sekitar kita dan “mengajak” pemirsa untuk berbuat apa yang seharusnya kita perbuat.

8 Comments on "Kick Andy dan Rangkaian Tendangannya"

  1. Amalia E. Maulana says:

    Pak Afful,

    Menarik brand story-nya. Konsep marketing yang digunakan juga pas.

    Co-branding ini kadang-kadang tidak dihayati oleh para profesional yang sudah senior. Setelah mencapai level posisi atas, sebaiknya sebagai seorang yang sudah ‘berkibar’, perlu menerapkan konsep co-branding dengan perusahaan tempatnya bekerja.

    Masih sinergis-kah? Apakah cita-cita brand nya masih sejalan? Perlu dilakukan kajian pada setiap periode.

    Dalam kasus Andy Noya, walaupun beliau sudah tidak bekerja di Metro TV lagi, tetapi dalam urusan co-branding dalam programnya, karena masih sinergis, maka tetap jalan terus.

  2. Afful Basri says:

    Menurut saya sampai saat ini co-banding masih tetap relevan dalam organisai, baik profit motive organization maupun non profit organization. Brand seperti “Majlis Zikir” dan “Arifin Ilham”, “Gerakan Sedekah” dan “Yusuf Mansyur” serta “French Open” dan “Rafael Nadal” adalah contoh co-branding yang bersinergi secara positif. Artinya kalau orang membicarakan brand-brand tersebut, mereka juga selalu mengaitkan dengan nama-nama yang sangat melekat dengan brandnya yang merupakan co-branding dari “product/services” yang bersangkutan.

  3. Lisha says:

    Menurut saya sampai saat ini co-banding masih tetap relevan dalam organisai, baik profit motive organization maupun non profit organization. Brand seperti “Majlis Zikir” dan “Arifin Ilham”, “Gerakan Sedekah” dan “Yusuf Mansyur” serta “French Open” dan “Rafael Nadal” adalah contoh co-branding yang bersinergi secara positif. Artinya kalau orang membicarakan brand-brand tersebut, mereka juga selalu mengaitkan dengan nama-nama yang sangat melekat dengan brandnya yang merupakan co-branding dari “product/services” yang bersangkutan.
    +1

  4. ratih christ says:

    Pak Afful, tulisannya keren. I wish I can write as good as you do…

  5. Fathi Balfas says:

    Luar biasa pemaparan dari Anda Pak Afful … sejujurnya pemaparan Anda adalah salah satu penjelasan komprehensif tentang “Brand Personality” yang pernah saya baca. Salut untuk Anda …..

    Saya setuju bahwa untuk mengimplementasi Konsep “I-Brand” dalam ranah bisnis jelas harus memiliki nilai komersial. Nilai komersial ini harus dibangun dengan adanya kongruensi antara figur yang ingin ditonjolkan dan relevansi produk yang ditawarkan dengan individu tersebut.

    Saya pikir, banyak stasiun televisi komersial lain yang “latah” melihat kesuksesan acara Kick Andy. Sayangnya hanya Kick Andy yang masih sustained sampai sekarang. Alasannya pun jelas, figur Andy F Noya sendiri yang dipersepsikan sebagai seorang figur yang mampu bergaul dengan orang2 dari berbagai kelas sosial, sehingga “nyambung” saat memandu acara “Kick Andy” (sinkronisasi Context dan Content)….

  6. Amalia E. Maulana says:

    Mas Fathi,

    Thanks for commenting.
    Untuk Konsep I-Brand, sebenarnya itu agak dibedakan dengan Personal Branding biasa. Hanya supaya tidak rancu.

    Personal branding lebih untuk tokoh, public figure dan selebriti sedangkan untuk I-Brand adalah untuk orang2 biasa, sehari-hari yang ingin lebih bermakna di mata stakeholders nya.

    Tanggal 13 Juli nanti, saya akan menyelenggarakan workshop tentang I-Brand bagi profesional, dalam rangka mengingkatkan brand value mereka.

    Kalau ada teman2 atau Anda sendiri tertarik hadir, silakan, baca:
    Dicari: Profesional dengan Strong I-Brand
    di link berikut: http://amaliamaulana.com/2010/06/17/dicari-profesional-dengan-strong-i-brand/

  7. Fathi Balfas says:

    Dear Ibu Amalia

    Terima kasih atas koreksinya atas pendapat saya sebelumnya. Sejujurnya saya sedang mendalami bidang merek ini.Karena, kajian branding ini sangat dinamis.

    Saya juga mengucapkan selamat atas peluncuran buku Ibu ttg etnografi. Saya sangat menikmati buku tersebut, karena menambah referensi saya.

    Saat ini saya bekerja sebagai Research Executive- for Quantitative Analysis di salah satu konsultan marketing research di Jakarta. Dan kehadiran buku Ibu telah memperkaya khazanah saya -dan mungkin teman2 yang seprofesi dengan saya- atas riset kualitatif. Kami sngat membutuhkan buku2 riset pasar secara kualitatif, khususnya etnografi, untuk memperoleh keseimbangan dari sisi perspektif riset.

    Karena sudah rahasia umum, baik secara aplikasi maupun akademik, riset kuantitatif “diposisikan” lebih superior dari riset kualitatif. Saya berharap kehadiran buku Ibu mampu mendudukan riset kuantitatif dan kualitatif secara proporsional, karena hakikatnya kedua aliran riset tersebut diposisikan untuk saling melengkapi, bukan untuk superioritas belaka.

    Sukses selalu Ibu Amalia ….

  8. Amalia E. Maulana says:

    Welcome to the Club.
    Memang dalam urusan studi kualitatif, dibutuhkan banyak agent of change – Agen perubahan yang mampu secara konkrit memberikan wawasan dan evidence tentang fungsi dan ke’ampuhan’ studi kualitatif. Seperti yang Anda bilang, kedua jenis pendekatan ini (kuali dan kuanti) saling melengkapi. Tetapi masih banyak yang meragukan peranan studi kualitatif. Oleh karena itu, ethnography study sebagai pendekatan multiple technique akan banyak membuka mata para pebisnis dan mematahkan keraguan dan believability dari insights2 yang dihasilkannya.

    Sukses juga untuk Anda…