-->
 

Kekuatan Employer Branding

Kekuatan Employer Branding

Amalia E. Maulana

Bisnis Indonesia Minggu,  4 September 2009.

Ketika Bisnis Indonesia meminta saya me-review PT Frisian Flag Indonesia, saya sempat ragu, apakah saya terima atau tidak tawaran ini. Pasalnya, saya pernah bekerja cukup lama di perusahaan tersebut dan sebagian besar kenangan saya terhadap perusahaan ini cukup positif. Jangan-jangan tulisan saya kali ini akan lebih bersifat promosi daripada sebuah bedah korporasi yang objektif.

Dengan pertimbangan kedekatan saya dengan employer brand tersebut, akhirnya saya putuskan untuk membahas Frisian Flag dari sisi employer branding.

Sudah cukup lama saya meninggalkan ‘bangku kuliah’ di bidang brand management di Frisian Flag. Sudah lebih dari 15 tahun yang lalu. Namun, setiap kali saya bertemu dengan apa pun elemen yang mengingatkan pada brand, saya merasa masih menjadi bagian dari perusahaan.

Ini menggambarkan bahwa seorang eks karyawan yang mempunyai sejarah yang baik dengan perusahaan, akan menjadi seorang brand ambassador yang andal. Eksposur positif bisa selalu diharapkan darinya. Misalnya saja sebagai salah satu alumnus Frisian Flag, saya selalu siap untuk membantu mencarikan the best’ students di kelas sekolah bisnis saya atau, dalam setiap kesempatan menceritakan latar belakang riwayat pekerjaan, Frisian Flag akan saya masukkan dalam urutan atas.

Contoh lain bahwa keterlibatan secara emosional saya masih tinggi adalah sering mengatakan ‘kita’ kepada audiens karyawan perusahaan di mana saya memberikan pelatihan pemasaran. Seolah-olah, saya masih merupakan bagian dari perusahaan tersebut pada saat menjelaskan strategi pemasaran yang baik, seakan saya sedang ikut bertempur. Aneh tetapi nyata.

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan empolyer brand? Isitilah ini bisa dijabarkan sebagai berikut : “citra dari organisasi sebagai ‘great place to work’ dibenak para stakeholder, terutama karyawan yang sedang bekerja saat ini. Termasuk pula eks karyawan, prospek atau kandidat karyawan, konsumen brand, client, dan pemasok produk dan jasa yang bekerja sama dengan perusahaan dan sebagainya.”

Dengan demikian employer branding mencakup segala macam aktivitas perusahaan untuk menarik, melibatkan hingga menahan (attraction, engagement dan retention) yang ditujukan guna memperkuat brand perusahaan dimata stakeholders.

Dalam masa senang, mudah untuk membina employer brand. Segala macam benefit yang diberikan kepada karyawan, dari mulai fasilitas pelatihan atau pelatihan berkelas, fasilitas kendaraan, menginap di hotel berbintang, pesawat kelas utama atau bonus sekian kali gaji tentu dengan mudah menarik simpati.

Bagaimana dengan masa sulit? Saat persaingan sedang mengetat, dana perusahaan yang terbatas harus dialihkan dari fasilitas karyawan ke pos biaya yang ada hubungannya dengan penjualan. Apakah karyawan akan tetap merasa nyaman bekerja?

Pembinaan employer brand juga melalui sebuah proses tahapan yang mirip seperti pembinaan brand pada umumnya. Ini meliputi pemikiran strategis jangka panjang, penyusunan sasaran yang jelas dan diterjemahkan dalam bentuk aktivitas antardivisi yang saling berkaitan dan terintegrasi.

Pembinaan employer brand bukanmonopoli divisi SDM. Aktivitas employer branding bukan semata-mata berhubungan dengan rekrutmen dan pembinaan karyawan saja. Keterlibatan divisi pemasaran, khususnya marketing communication dan public relations sangat sentral.

Komitmen dan keterlibatan CEO dalam urusan employer branding juga sangat menentukan keberhasilan pembangunan sebuah employer brand.

Menguji kekuatan sebuah employer brand bisa dilakukan pada saat sulit. Apakah karyawan merelakan jatah kepemilikan mobilnya ditunda (biasanya 3 tahun sudah bisa ganti mobil, sekarang harus tunggu hingga 4 tahun). Apakah karyawan rela bila jatah tiket kelas eksekutif dipangkas menjadi kelas ekonomi dan bentuk pemangkasan benefit lainnya.

Apakah karyawan mau diajak untuk ‘susah senang bersama?’ Resahkah mereka bila haknya dikurangi dan kewajibannya ditambah, demi untuk bisa bertahan menghadapi tantangan eksternal?

Jika karyawan memilih mundur, pindah perusahaan atau menyatakan persetujuan, tetapi tidak mau ikut serta dalam kegiatan ‘singsingkan lengan baju’ bersama pimpinan perusahaan yang memintanya, di sini tanda-tanda bahwa perusahaan bermasalah dalam pembinaan employer brand.

Belum lama ini CEO PT Frisian Flag Indonesia Cees Ruygrok menerapkan program kencangkan ikat pinggang seperti di atas untuk menghadapi krisis global. Downgrade fasilitas eksekutifnya merupakan salah satu cara beliau untuk penghematan.

Bagaimana karyawan FFI menghadapi saat-saat seperti ini? Di sinilah moment of truth dari sebuah employer brand Frisian Flag atau yang lebih dikenal sebagai sebutan Susu Bendera tersebut.

Di tangan yang tepat

Cees Ruygrok berlatar belakang marketing yang kuat. Beliau adalah marketing director FFI pada tahun jadul dimana saya bekerja sebagai brand manager di sana. Lebih tepatnya, beliau merupakan guru besar marketing in practice buat saya. Beliau sempat menjabat posisi-posisi penting di Thailand, Nigeria dan Malaysia, sebelum akhirnya ditarik kembali ke Indonesia menjadi orang nomer satu.

Dalam kesempatan berdiskusi dengannya, tertangkap kesan kuat pembenahan di segala bidang, terutama dalam hal branding dan sales, dua area yang sangat dikuasainya. Dilakukannya rasionalisasi dari produk baru yang tidak sejalan dengan core value corporate brand, termasuk salah satu agenda yang telah dijalankannya.

Hal-hal yang telah dilakukan oleh Ruygrok yang berkaitan dengan SDM dan kesehatan keuangan perusahaan bukan hal yang baru. Rekrutmen lulusan baru terseleksi, mengirimkan karyawan ke berbagai pelatihan dan perbaikan fasilitas benefit sudah menjadi hal rutin yang saya alami dulu.

Proses transformasi menjadi karyawan andal dalam perusahaan dengan learning environment yang kuat akan memberikan kedekatan terhadap employer. Ini adalah keuntungan yang tidak tampak yang ditanamkan oleh perusahaan, yang bisa dituai dalam bentuk positive brand ambassador.

Frisian Flag Indonesia berada di tangan yang baik untuk pembinaan employer brand jangka panjang. CEO yang punya landasan strategi pemasaran yang kuat akan menjadi modal utama bagi brand ini dalam pembinaan citranya di mata stakeholder.

Lebih jauh lagi, gaya kepemimpinan Cees Ruygrok yang people-oriented, friendly tetapi tetap tegas dan punya arah strategi yang jelasakan membantu eksekusi strategi employer branding.

Keep up the good work. Untuk saya masih tetap: “Susu Saya Susu Bendera…..”

8 Comments on "Kekuatan Employer Branding"

  1. Endy says:

    Good Story.. tapi sulit juga kalau yang nulis mantan Brand Managernya sendiri.. Kita yang ‘salah’ kasih case study kali ya.. He..Hee.. Anyway it’s I’m impressed.. Mbak.

    endysubiantoro.com

  2. Amalia E. Maulana says:

    Itu lah Mas Endy Bisnis Indo, siapa suruh nggak ngecek CV ku dulu.. hehe…dari awal saya sendiri ragu-ragu, mau direview apa nggak, takutnya dibilang promosi..padahal nggak ada sponsorship apa-apa lho Mas. Asli nih tulisannya dari lubuk hati yang paling dalam.

    Tapi biar ada di CV – good impression about employer branding kan nggak berlaku untuk semua perusahaan dimana kita pernah kerja. Kebetulan aja yang ini memorinya lebih banyak yang bagus (yang nggak bagus sudah pasti ada lah, apalagi bulan-bulan pertama penyesuaian kerja, huuhu.. bercucuran airmataku.. tapi udah dilupain, karena selama 4 tahun lebih dominan yang bagusnya)…

  3. Gunadi says:

    :D saya jadi tertarik dengan employer branding bu, karena menurut saya ini berkaitan dengan coporate culture, policy, hubungan vertikal dan horizontal, atmosphere of work, dan ujungnya adalah loyalitas. perusahaan di tempat saya bekerja itu sebenarnya merupakan grup yg terdiri dari beberapa perusahaan termasuk pabrik. lebih tepatnya family corporation. dan seluruh grup itu dikenal dengan satu nama corporate brand. dan otomatis culture dan leadership style berbeda untuk tipa perusahaan. dan jelas kalo dr segi employer branding pasti berbeda antar company. saat ini kami sudah mempunyai holding company (tapi masih trial seiring dengan perkembangannya). apakah kami harus punya semacam standarisasi untuk keseluruhan atau bagaimana? karena dr segi fasilitas yg diberikan seluruh perusahaan kami bisa dibilang standar saja.
    terima kasih

  4. Amalia E. Maulana says:

    Pak Gunadi, thanks for comment.
    Setuju, memang tiap anak perushaan bisa berbeda tergantung dari banyak faktor.
    Jika sudah ada inisiatif untuk menyatukan image employer branding, mulai dari holding company sudah tepat. Jadi nantinya step by step anak perusahaan bisa merujuk dan mirroring walaupun tidak sama persis tetapi arah dan esensinya diusahakan untuk satu ruh, satu jiwa.
    Holding yang prima akan juga menjadi corong bagi keseluruhan image seluruh anak perusahaan juga kan Pak…
    Selamat memanage employer branding.

  5. Muslim says:

    Menarik sekali tulisannya Bu, kebetulan saat ini saya sedang menggeluti dunia SDM (kerja dibagian SDM). Terima Kasih atas artikelnya karena cita2 saya adalah memiliki usaha sendiri dan nantinya akan berhubungan dengan SDM jg.

    Saat ini sedang merintis usaha (herbal http://tokoliemonline.com) dan butuh banyak masukan2 terkait dengan SDM dan Promosi.

    Teruslah berkarya dengan tulisan2 Ibu, semoga makin banyak orang yg tercerahkan

  6. Djunaidi B says:

    Menarik sekali apa yang telah dituliskan Mbak Amalia. Menurut saya justru karena mbak berasal dari FFI 15 tahun yang lalu, dan tulisannya yang memberikan gambaran employer Branding FFI yang positif justru menunjukkan memang Employer Branding di FFI bagus dan tak lekang waktu. “Action speak louder than the word”. dan yang pasti tidak mudah untuk membuat ex employer menjadi “nabi” bagi perusahaan.

  7. Amalia E. Maulana says:

    Thanks Pak Djun atas comment nya dan precisely ingat bahwa saya sudah 15 tahun yang lalu meninggalkan Susu Bendera – time flies ya pak, rasanya masih baru kemarin saja. Well, mungkin benar seperti kata bapak, kenangan indah akan berkesan selamanya, ya kan ya kan…..baik itu terhadap teman (orang) ataupun perusahaan dimana kita bekerja.

Trackbacks for this post

  1. Brand Perusahaan yang dekat di hati : Amalia E. Maulana