-->
 

Gus Dur, Sang Mega Brand

Amalia E. Maulana

dimuat di Bisnis Indonesia Minggu, 8 Januari 2010

“Ma, siapa sih Gus Dur? Heboh banget ya kayanya” tanya anak saya yang SMP kelas satu. “Wah, masa nggak tau sih, kan beliau adalah presiden Indonesia yang keempat. Gus Dur itu nama panggilan Abdurrahman Wahid. Pasti tau dong, di sekolah sudah pasti ada di pelajaran.” Harap maklum pada saat Gus Dur menjadi presiden, dia masih terlalu kecil untuk register ‘Gus Dur’ sebagai sebuah brand.

Kyai Haji Abdurrahman Wahid atau lebih dikenal dengan sebutan ‘Gus Dur’ sebagai salah satu pemimpin bangsa, diyakini banyak orang dan lembaga, pantas mendapatkan gelar pahlawan nasional.

Bahkan, belakangan muncul 2 grup di facebook yang menggalang simpatisan Gus Dur untuk ikut berpartisipasi dalam merealisasikan diberikannya gelar terhormat tersebut untuk bintang pujaannya. “Dukung Gus Dur ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional 10 November 2010′, saat ini mencapai hampir 1.000 orang. Grup kedua 5.000.000 facebookers tetapkan Gus Dur pahlawan nasional’ mencapai lebih dari 13.000 orang.

Layak atau tidaknya Gus Dur dikategorikan menjadi salah satu pahlawan nasional, tentu pemerintah dan yang ahli di bidang sejarah dan tata negara akan mengacu pada definisi dan kriteria-kriteria yang sudah disepakati bersama sejak lama.

Pada jaman yang sudah berubah seperti sekarang ini, sudah waktunya kriteria-kriteria pengkategorian seseorang menjadi pahlawan nasional di-review kembali. Wafatnya Gus Dur dan tuntutan untuk memberikan label pahlawan ini adalah sebuah momentum bagi para ahli sejarah dan tata negara untuk membedah kembali komponen pengukuran. Apakah masih relevan dengan kondisi masyarakat masa kini?

Sebagian dari kriteria yang bersifat sangat mendasar dan prinsip, jelas harus dipertahankan. Namun, ada beberapa komponen yang perlu diterjemahkan ulang, karena konteks yang berbeda saat ini, lebih tepatnya beberapa komponen ini perlu dimodifikasi. Komponen yang sudah jelas usang dan tidak lagi relevan, dibuang saja. Digantikan dengan hal-hal baru yang belum terpikirkan bakal muncul pada awal berdirinya negara, dan ternyata perlu dicakup.

Tulisan saya kali ini adalah ingin membantu mengkaji ulang kriteria dari kacamata saya sebagai seorang brand consultant, yang nantinya bisa dipertimbangkan oleh team ‘redefinisi ulang pahlawan nasional”. Tujuannya agar kriteria Pahlawan Nasional versi baru nanti, lebih punya dimensi, karena diukur dari berbagai perspektif, tidak murni hanya dari kacamata ilmu sejarah dan tata Negara.

Kriteria seorang calon pahlawan nasional menurut Prof. Nina Lubis adalah: (1) Semasa hidupnya berjuang (bersenjata maupun politik dan bidang lain): persatuan dan kesatuan bangsa, (2) Memiliki ide besar utk kemajuan bangsa, (3) Pengabdian tidak sesaat, (4) Jangkauan luas dan berjarak nasional, (5) Semangat kebangsaan/­nasionalisme tinggi, (6) Akhlak moral yang tinggi, (7) Tidak mudah menyerah, (8) Sepanjang hidupnya tidak pernah melakukan perbuatan tercela yang merusak nilai perjuangannya.

Mungkin kriteria terakhir ini yang menjadi bahan perdebatan. Perbuatan tercela atau negatif ini bisa jadi sangat subyektif dan terkontaminasi dengan berbagai sudut pandang yang politis.

Kriteria tambahan yang akan saya ajukan disini adalah yang berhubungan dengan apakah seorang tokoh tersebut adalah “Mega Brand” atau tidak. Masyarakat dan stakeholders penting lainnya harus sepakat dulu bahwa brand tokoh tersebut sudah sampai pada sebuah tingkatan yang disebut dengan mega brand.

Gus Dur adalah Mega Brand

Apa persamaan Gus Dur dengan Michael Jackson (MJ) di mata seorang brand consultant? Keduanya adalah Mega Brand. Brand yang sangat besar. Keduanya juga dipenuhi oleh kontroversi pro dan kontra. Pemakaman Mega Brand dibanjiri massa yang ingin memberikan penghormatan terakhir.

MJ dielu-elukan, dipuja sebagai raja pop yang belum ada tandingannya. Walaupun banyak sisi negatifnya dibeberkan di media dan bahkan menjadi bahan ejekan sebagian orang, karisma MJ tidak menjadi pudar.

Penampilan terakhir MJ dalam filmnya ‘This is It” memberikan pelajaran berharga dan membuat saya punya catatan tersendiri tentang seperti apa yang disebut dengan ‘Mega Star’ atau ‘Mega Brand’.

Mega Brand:

- Push Beyond The Boundaries. Unthinkable

- Make a ‘significant’ change (for the community)

- Mega Brand is forever. Irreplaceable (so unique)

- It is about making connection with the audience.

Gus Dur memenuhi keempat kriteria di atas. Pemikiran beliau sangat mendahului jaman, push beyond the boundaries, unthinkable. Memberikan significant change, irreplacable (unik).

Kriteria terakhir, ‘making connection’ dengan khalayak sangat tergambar pada hari pemakaman beliau. ‘Kedekatan’ dengan masyarakat luas, intelektual dan nonintelektual, partai dan nonpartai, semuanya tergambar dengan jelas.

Gus Dur adalah pelopor demokrasi dan pluralisme dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal-hal yang negatif yang dialamatkan ke beliau masih perlu dikaji ulang. Jika banyak yang tidak setuju dengan perspektif beliau, ini barangkali menjadi sebuah bukti bahwa perbedaan pendapat menjadi salah satu yang mewarnai kehidupan demokrasi. Tuduhan bahwa Gus Dur diduga terlibat Buloggate sampai dia wafat, belum terbukti.

Gus Dur adalah seorang pemimpin bangsa, yang mempunyai karisma luar biasa di berbagai kalangan. Sinar karisma ini lebih cemerlang dibandingkan dengan keredupan perbedaan pendapat dan hal-hal negatif yang dialamatkan padanya.

Gus Dur memenuhi syarat sebagai Mega Brand. Pembicaraan dan pembahasan yang tidak ada hentinya dan lebih dititikberatkan kepada hal positif, menjelaskan bahwa brand ini layak dapat award. Dan award itu bernama gelar pahlawan nasional.

Seorang Mega Brand tidak petentang-petenteng. Baik MJ maupun Gus Dur mempunyai sifat humble dan down-to-earth, tetapi tetap perfeksionis. Kombinasi sifat yang sangat jarang.

Selamat jalan MJ, the Great. Selamat jalan Gus Dur, The Great. Your brands are forever in our heart…..

2 Comments on "Gus Dur, Sang Mega Brand"

  1. Aziz Fahmi Hidayat says:

    Gusdur adalah sebuah merek ceplas ceplos ternama di Raya Indonesia ini… tak banyak perusahaan yang bermerek original macam gusdur.. Semuanya, umumnya hanya memproduksi simpati struktural.. sedangkan gusdur sama sekali tidak membutuhkan itu. bagi gusdur keterusteranganlah yang membuatnya membukakan mata dan pikiran penghuni bangsa ini tentang nilai kejujuran…

    Gelombang protes dan kecaman mengalir begitu deras ketika gusdur memutuskan membuka serta menjalin hubungan dengan Israel. Utamanya adalah Indonesia yang dicap sebagai Negara dengan penduduk muslimnya terbesar di dunia harus “berbagi” dengan Negara penghacur dan rakus macam Israel. Kasus lain ketika gusdur lebih memilih menjungjung HAM dibandingkan mengagungkan perasaan saat ia dengan tegas menolak adanya Tap MPR yang tidak memperbolehkan ajaran komunisme di Indonesia. Atau saat ia membela inul yang sedang dikepung oleh lascar dangdut pimpinan panglima Rhoma Irama (Baguuss, semua pake kartu AS). Simple, simak ucapannya “lha wong lagi cari makan, mbok biarin.. itu haknya dia koq”.. gusdur gusdur…

    Itulah gusdur, dengan sejuta gayanya yang bisa dibilang penuh dengan controversial, padahal sebenarnya ada satu sisi pemahaman yang orang macam kita tidak mampu menjangkaunya hanya bisa menghujat dan mencerca..

    gusdur kini sudah pergi, tidak lagi keliling dunia tapi kini benar-benar pergi meninggalkan dunia ini.

    Turunkan lengan baju kita, rendahkan suara kita, berjalanlah dengan santun, seragamkan permohonan kita untuk simpai keramat bangsa ini.. sampaikan pada Tuhan: Tuhan, engkau lebih mencintai dia, maka berikanlah dia tempat yang pantas untuknya agar tetap menjadi inspirasi bagi kami yang sangat mencintainya karena kesederhanaan sikapnya namun kaya akan karyanya..

    Selamat jalan Gus..

    Terima kasih atas “curhat” yang menggugah ini bu Lia…
    salam,
    fahmi

  2. e-je says:

    ceplas ceplos yang jenius gus…
    selamat jalan..