-->
 

The I-Brand: Sebuah Dimensi Personal Branding

The I-Brand: Sebuah Dimensi Personal Branding

Amalia E. Maulana

Dimuat di Majalah Eksekutif, 2007.

Dalam ilmu pemasaran, pembicaraan tentang branding tampaknya tidak habis-habis dibicarakan orang. Sebagai buzzword, branding termasuk cukup bertahan, masih didengung-dengungkan, digunakan dalam berbagai konteks. Topik saya kali ini juga masih seputar branding, khususnya membahas bagaimana membangun sebuah I-Brand yang kuat. Istilah I-Brand memang belum begitu populer. Pertama dikenalkan oleh Gary C. Sain pada tahun 2005. Terminologi yang saya sendiri sempat agak rancu dengan i-brand, yang berarti internet-brand. I-Branding tidak ada hubungannya dengan internet branding, walaupun pada implementasinya, Internet bisa saja menjadi salah satu alat untuk membangun I-Brand.

I-Brand hampir mirip dengan personal brand, dimana tokoh utama yang di-branding adalah diri seseorang. Perbedaannya, jika branding untuk personal pada umumnya dilakukan dalam rangka menjadikannya seorang public figure atau ahli/tokoh tertentu; dimensi I-Brand lebih terbebas dari tujuan tersebut. Branding ”I” atau ”Aku” mengajak seseorang memikirkan goal yang hendak diraih, apapun bentuknya. I-Branding lebih berorientasi pada diri sendiri, mewujudkan mimpi-mimpi pribadi yang berkaitan dengan pekerjaan. Tidak harus menjadi seorang CEO atau public figure untuk mempunyai sebuah I-Brand yang solid. Strategi I-Brand adalah strategi pembinaan diri untuk menjadi seseorang yang punya nilai tinggi di mata stakeholdersnya.

Saya teringat salah satu segmen wawancara kerja di masa lampau, dimana seorang CEO yang kebetulan ikut dalam proses rekrutmen menanyakan ’Ingin berada dimana Anda lima tahun mendatang?” Secara spontan saya katakan saya ingin duduk di kursi yang beliau duduki. Setengah berkelakar, beliau bangkit dari kursinya, dan menawarkan kursi tinggi yang penuh wibawa itu. ”Silakan, Anda bisa duduk di sini sekarang kalau mau”. Secara fisik bisa saja saya duduk disitu kapan saja saya mau, tetapi nyatanya, setelah lima tahun berlalu, bahkan sampai hari inipun, saya belum juga menduduki posisi beliau.

Seringkali kita bekerja tanpa tahu persis kemana muaranya, menuju kemana kita bergerak. Kehidupan mengalir begitu saja, menikmati apa yang ada di hadapan mata. Pernahkah terpikir untuk berhenti sejenak, dan merenung: dalam tiga tahun, posisi apa yang ingin kita raih, ilmu apa harus sudah dikuasai, dll. Untuk meraih tempat atau posisi yang kita inginkan, selain kerja keras, kita juga perlu merencanakan dan mengatur strategi, mengemas diri dan melakukan branding dengan baik. Ini yang disebut dengan I-Branding.

Tips untuk I-Branding menurut Gary ada lima, yaitu : unik, relevan, kredibel, esteem,dan knowledge. Secara garis besar, kelima komponen tersebut tergambar dalam pertanyaan yang harus kita jawab antara lain: Apakah kita mempunyai keunikan atau differensiasi yang bernilai di mata target audience? Ada berapa orang lagi selain kita yang bisa memberikan kontribusi yang sama nilainya? Dalam melaksanakan tugas, apakah kita selalu siap untuk memberikan yang terbaik? Apakah kita adalah pribadi yang dapat diandalkan dan dipercaya? Seberapa tinggi pengetahuan yang kita miliki tentang apa yang sedang kita geluti, mengertikah terhadap apa yang terjadi di tingkat konsumen, di tingkat perusahaan dan industrinya?

Jika kita amati, tips di atas tidak berbeda jauh dengan kunci sukses pembangunan sebuah brand produk atau perusahaan. Step-step yang harus dikerjakan dalam membangun dan membina I-Brand setara dengan brand lainnya.

- Pertama, tentukan siapa saja target audience I-Brand dalam kelompok stakeholders. Buat ranking, dari target audience utama hingga yang sampingan.

- Kedua, memahami apa saja kebutuhan dan aspirasi mereka.

- Selanjutnya, posisikan I-Brand di tempat yang punya nilai unik dan differensiasi tertentu.

- Kemudian, langkah implementasi. Dalam keseharian, yang penting adalah konsisten memberikan kontribusi terhadap target audience sesuai dengan nilai yang telah dijanjikan.

- Ciptakan brand experience yang menyenangkan

- Evaluasi dan review keberadaan I-Brand setiap periode. Sesuaikan langkah dan arah apabila terjadi perubahan eksternal yang di luar kendali kita.

- Jangan melupakan bahwa perusahaan dimana kita bekerja merupakan co-branding bagi I-Brand. Sulit untuk membina I-Brand bila citra co-brand tidak sesuai dengan citra yang hendak kita tanamkan.

Perbedaan utama antara personal brand dengan I-Brand mungkin bisa dilihat dari tingkat intensitas dan cara berkomunikasi dengan target audience. Personal branding hampir tidak mungkin dapat dilakukan tanpa bantuan media masa. Tidak demikian halnya dengan I-Brand. Mengkomunikasikan siapa diri kita dan memproyeksikan kemampuan, keunikan dan differensiasi personal tidak harus melalui media formal. Disini yang lebih berperan adalah media informal, dimana kontak langsung dengan target audience mendominasi terciptanya citra I-Brand.

Dalam keseharian kita di kantor, penilaian berjalan terus melalui berlalunya waktu, menggambarkan I-Brand seperti apa yang ingin diraih. Bagaimana pemilihan bahasa verbal dan non-verbal (bahasa tubuh) yang digunakan sehari-hari, bagaimana menciptakan rasa nyaman untuk setiap interaksi dengan pihak lain. Bahkan, mau atau tidak mau, pemilihan ’kemasan’ dalam hal ini busana yang dikenakan, juga bisa ikut mendorong terciptanya I-Brand. Kegagalan dalam berkomunikasi dalam lingkungan terdekat bisa membawa dampak yang luas dalam proyeksi nilai-nilai I-Brand yang sudah dirancang sebelumnya.

Saran terakhir, dan ini menyangkut tanggung jawab sosial. Seperti yang diutarakan dalam buku Pengalaman Starbucks oleh Joseph A. Michelli, salah satu dari lima prinsip sukses Starbucks adalah ”leave your mark”. Jika dalam konteks Starbucks, itu berarti ’corporate social responsibility’, maka jika diterapkan dalam I-Branding, ini berarti ’personal social responsibility’. Sudah berapa banyakkah kontribusi kita terhadap pembinaan rekan atau bawahan di lingkungan tempat bekerja? Di lingkungan dimana kita tinggal? Di masyarakat luas? Ini penting dilakukan untuk menjaga keseimbangan. Seperti halnya prinsip corporate social responsibility, apa yang dikembalikan ke masyarakat pada akhirnya akan memberikan arti bagi pengembangan I-Brand yang solid.

Selamat membangun dan mengembangkan I-Brand.

http://elzulaikha.multiply.com/journal/item/12

http://soilman.wordpress.com/2008/10/17/the-brand/

http://www.mediaindonesia.com/data/pdf/pagi/2008-05/2008-05-31_16.pdf

12 Comments on "The I-Brand: Sebuah Dimensi Personal Branding"

  1. vidnr says:

    Ah great article… Just wrote similar article in my blog:

    http://vidinur.com/currency/

  2. Amalia E. Maulana says:

    Thanks Vidi for your positive comment.

    Sudah saya baca simiar articelnya tentang Currency. Indeed, it is a good expression, telling us something about the importance to build the value of the currency.

  3. soilman says:

    wow….a great article…terima kasih bu, atas link ke blog saya. Sungguh suatu kehormatan bagi saya dapat berkenalan dengan Ibu…Wish u all the best

  4. sindhu says:

    wah..
    ini pertama kalinya saya membaca tentang i-brand. sangat memberi inspirasi buat saya pribadi yang baru saja mulai memasuki dunia kerja.
    terima kasih untuk postingannya bu..

    ditunggu selalu tulisan berikutnya!

  5. Amalia E. Maulana says:

    Pindahan dari komentar di Facebook

    Endy Subiantoro
    Good.. kata John Assraff (Penulis The Answer).. Vision, Focus, and Action.. untuk berhasil..

    Hanif Zak
    Good One Mbak… Paragraf terakhir paling sulit diimplementasikan… buat saya terutama… walaupun keinginannya besar…

    Andre Pratama
    Ya, tepat sekali. Strategi – strategi brand builder memang layak untuk dicoba oleh setiap individu untuk membangun “I-brand” nya masing-masing. Terlebih pula di era modern ini dimana situs-situs jejaring sosial telah marak di kalangan masyarakat luas, maka setiap kehidupan setiap individu telah menjadi “buku yang terbuka” yang siap untuk dibaca siapa saja.
    Dalam hal tersebut, jika kita salah memposisikan I-brand kita, maka hal tersebut dapat menghancurkan image kita sendiri.
    Namun ada 1 hal yang saya sedang pikirkan bu, bisakah kita memposisikan diri kita sebagai umbrella brand? dimana kita nantinya bisa men-segmentasi-kan I-brand kita pada beberapa segment? tentunya pertanyaan saya ini dalam hal social network seperti facebook ini.
    pada social network ini kan tentunya kawan-kawan kita dari berbagai macam latar belakang baik pendidikan, SES, dsb. nah apakah kita harus memiliki berbagai account untuk mensegmentasikan I-brand atau cukup pada satu account saja?

    Citra Yuliasari
    wah tulisan yg sangat menginspirasi…makasihh bu… :)

    Syafiq Basri
    Superb! Also inspiring – dan mengingatkan saya pada kalimat yg disampaikan seorang ustadz yg berkaitan dengan ‘I-brand’ ini, yakni pertanyaan: ‘di mana posisi saya di mata Tuhan?’

    Ricky Andhika Gumilang
    Modal I-brand buat anak bangsa adalah : ImTek (Iman dan Teknologi) yang berlandaskan pada norma dan aturan yang berlaku di Republik ini.

    Leila Djawas
    waah very inspiring!
    bagaimana kalau I-Branding untuk Indonesia, dengan stakeholders penduduk sendiri…kita semua belum sreg dengan kemasan sekarang nih. please~
    Abah Effi Harfiana
    Sangat mengsankan, dinanti sekuel berikutnya bu, dengan angle hal-hal yg membuat i-brand gagal dan menggerus personal brand dalam jangka panjang…ya..ya..
    thanks a lot bu

  6. evi kartikasari says:

    tq…ibu….tulisannya….membuat saya lebih bersemangat….untuk menjadi yg terbaik…

  7. prchecker says:

    Your article is very informative. I am bookmarking it for my future reference.

  8. Koes says:

    wow! tulisan ibu sebagaimana komentar lain seakan menajamakan kembali tentang perlunya membangun I-brand ataupun personal brand, saya setuju, ibu menajamankannya denga atribut2 yang lebih tajam dari sekedar personal brand-nya Montoya-, kedalam konteks managing brand.

    bahwa terkadang harus diakui to be known we need to be seen!, dan as we got insight marketing from you, the tough job is how do we able to demonstrate or implement ( with series of STP plus IMC ) in the targeted specified market…, karena unik, beda, khas dsb dsb sehingga stakeholder melihat dan merasakan sensasi pengalaman dengan nya.

    saya pernah, suatu saat membicarakan hal ini dengan kelas management trainee yang fresh graduate, namun didalamnya ada beberapa karyawan lama yang graduated, dan what’s hapening then..

    kelompok anak2 muda fresh graduate yang sangat bersemangat untuk build I-brand nya, namun kelompok orang lama, mengatakannya…ach nggak enak lah pak, takut dibilang sombong, ha?..mereka merasakannya sebagai niatan itu untuk “cari2 muka” saja agar dikenal oleh atasannya sehingga istilah pemahaman terbatas mereka adalah semacam “cari perhatian” dengan lingkungannya..

    ternyata masih ada pula yang menganggap bahwa developing I-brand,atau “be sexy brand” itu, diartikan itu, am totally with you mom, and therefore, we need to educate them .. as they do not aware that they do not understand..tapi apakah ini malah menjadi paradox dalam kaitan memenangkan persiangan brand ya? artinya memang begitulah market..as we all have a similar play ground, but indeed not all player would be a 1st winner!

    thanks mom, it’s very inspiring article. salam

  9. Amalia E. Maulana says:

    Thanks Pak Koes..for your appreciation.

    Memang di dunia Timur, masih dilematis. Ada yang beranggapan kita kalau terlalu menonjol, justru akan dijegal duluan (office politics).

    Nah, di dalam lingkungan yang seperti ini, harus bisa berperan tarik-ulur, jadi sewaktu2 tampil tapi tidak ada yang merasa ‘diinjak kakinya’.

    Dalam banyak kasus, dimana kita ingin membesarkan I-brand tetapi lingkungan tidak memungkinkan karena masih feodal atau atasan tidak mau disaingi, ya mungkin harus mencari ‘lingkungan baru’. Aman, kan… judulnya aja co-branding, jadi harus direview ulang, apakah akan membantu mencapai tujuan brand atau tidak. Tetapi, ini harus dilakukan dengan pertimbangan yang seksama. Karena kalau ganti rumah terus, kapan nyampe ke tujuannya? Karena setiap kali ganti — perlu penyesuaian lagi dan ini bisa menghambat perjalanan.

    Selamat bertugas dan Semoga sukses.

  10. Koes says:

    thanks, saya suka istilah ibu, ..ya mungkin harus cari “lingkungan baru” namun juga harus taktis untuk tidak selalu “ganti rumah” kapan nyampai tujuannya? analogi yang tepat.

    well, thanks and selamata bekarya.

  11. adhariano says:

    met malam ibu amalia:
    saya adhariano,tulisan2 ibu sangat membantu saya dalam mengerjakan Tugas Karya Akhir d3 advertising saya di ui depok. oia artikel ibu amalia tentang the end of the line juga saya pakai loh dalam tugas karya akhir saya, coz dalam tugas karya akhir ini kami berlima dan saya sebagai media directornya…hehehehe.
    Pak koes salam kenal ya..eumm kok kaya kenal ya?orang yang sama kah?hehee
    sukses selalu untuk ibu amalia

  12. Edi says:

    It’s wonderfull article,,,sungguh dengan ini saya jadi terarah dalam menjalani hari – hari. Semoga tidak akan saya temui lagi kata “Give Up” dengan selalu mengadopsi ilmu yang Ibu Amalia paparkan.
    Sukses selalu menyertai hari – hari Ibu Amalia!