-->
 

Calon Presiden Alternatif: Distorsi Komunikasi Uncontrollable Media

Calon Presiden Alternatif: Distorsi Komunikasi Uncontrollable Media

Amalia E. Maulana

Dimuat di Majalah Warta Ekonomi, 20 Oktober 2008

Proses Pencitraan Personal Brand bisa mengalami hambatan jika tidak ada usaha yang serius dalam menangani distorsi via Media yang dikontrol oleh Publik.

Semua iklan kecap pasti mengatakanproduknya nomer satu. Kalau toh ternyata rasa kecapnya kurang enak dan tidak seindah janji-janjinya, konsumennya santai saja. Paling-paling ganti merek waktu beli lagi. Tidak terlalu pusing kalau cuma masalah kecap. Gitu aja kok repot.

Nah, baru repot apabila yang diiklankan adalah personal brand, calon presiden pula. Ini menyangkut harkat hidup orang banyak. Jelas tidak sesederhana kecap. Salah pilih secara individu mungkin tidak berpengaruh banyak, tetapi kalau yang salah pilih kolektif, gabungan dari banyak individu — efeknya bisa panjaaaang dan lamaaaa…..

Controllable vs Uncontrollable Media

Sutrisno Bachir (SB)? Rizal Mallarangeng (RM)? Siapakah mereka? Beberapa bulan yang lalu, mereka hanya dikenal dalam kalangan terbatas. Tetapi berkat bantuan media massa, awareness terhadap nama-nama ini menjadi mencuat, terutama di kota besar Indonesia. Munculnya nama-nama calon presiden (capres) muda yang sekaligus merupakan calon alternatif seperti SB dan RM turut mewarnai kampanye pemilihan presiden yang marak belakangan ini. Kampanye pun diramaikan oleh hadirnya kembali tokoh lama dengan citra baru yaitu Prabowo Subianto dan Yusril Ihza Mahendra.

Iklan personal brand capres umumnya berisikan pesan-pesan yang disusun rapi dan terstruktur. Komunikasi mencakup aspek-aspek hebat dan fantastis tentang pemilik brand disampaikan dalam bentuk iklan elektronik dan cetak, termasuk billboard yang dipasang di jalan-jalan. Bentuk komunikasi ini disebut dengan istilah controllable communication, artinya pesan tentang brand dibentuk dan dikendalikan oleh pemilik brand nya (brand owner) langsung.

Persoalannya, belum tentu publik setuju dengan pesan-pesan polesan pencitraan tersebut. Apalagi jika pesan yang diangkat tidak cocok, tidak relevan dan cenderung bombastis. Contohnya adalah tema tokoh patriotik, pembela petani, peduli rakyat miskin, ahli dalam menyelesaikan semua persoalan bangsa, dll. Pesan-pesan yang tidak membumi ini yang biasanya justru memicu gencarnya serangan balik suara masyarakat Intelektual yang semakin kritis mempertanyakan dan menantang kebenaran dan relevansi komunikasi model ini. Bagi saya, fenomena publik yang kritis ini sangat melegakan, untuk menjaga keseimbangan informasi. Komunikasi dari brand owner (saja) bisa menyesatkan karena kentalnya kepentingan.

Sebenarnya, sudah sejak lama media konvensional seperti TV, koran, dan majalah menyediakan ruangan untuk tanggapan publik. Di acara TV dan radio kita kenal program-program interaktif dimana melalui telpon, publik bisa ikut berdialog. Di koran dan majalah, ada rubrik surat pembaca. Masalahnya, selain sangat terbatas tempat dan waktunya – di mata publik, media konvensional dikenal sarat muatan kepentingan golongan tertentu (pemerintah atau partai tertentu). Diduga ada banyak proses sensor dan seleksi sebelum pesan publik dimuat.

Alternatifnya, dengan kemudahan teknologi informasi/komunikasi, tersedia bentuk media baru (new media) yang lebih cepat, lebih bebas dan lebih leluasa untuk menampung suara publik. Melalui Internet, publik bisa menulis apa saja dalam wadah websites, personal blogs, e-forum, mailing list dan social networking media lainnya seperti Facebook dan YouTube, dll. Disini tidak ada batasan halaman, seseorang bisa menuliskan berlembar-lembar komentar kalau mau dan sanggup. Dan yang lebih penting lagi, praktis tidak ada sensor! Di media ini, yang pegang kendali isi komunikasi bukan pemilik brand lagi. Kendali dipegang oleh publik langsung. Karenanya dalam komunikasi pemasaran, media ini disebut dengan uncontrollable media. Istilah lainnya adalah Consumer Generated Media (CGM), yaitu media yang dibentuk dan dikontrol sendiri oleh konsumen (untuk konteks politik, konsumen analogi dengan publik)

Pemilik brand boleh saja mengatakan bahwa tulisan yang ada di dalam new media cenderung ngawur, tidak berbobot atau asal-asalan. Beberapa akademisi bahkan tidak menyarankan sitasi referensi dari CGM untuk tulisan ilmiah karena dianggap tidak bisa dipertanggungjawabkan. Tetapi, dilihat dari perspektif lain, hasil akhir sebuah komunikasi adalah persepsi yang terbentuk tentang brand. Persepsi didorong dari sumber-sumber komunikasi yang menurut audiensnya lebih meyakinkan, lebih kredibel. CGM ini menduduki peringkat kepercayaan (believability) yang jauh lebih tinggi dibanding iklan komunikasi biasa. Suara publik dinilai lebih independen dan tanpa pretensi.

Kita bisa belajar dari pengalaman Obama di Amerika. Tidak bisa dipungkiri bahwa popularitasnya menggurita sejak politisi ini memainkan peranannya dengan baik di media milik publik atau CGM. Kita acungi jempol untuk keberadaannya di banyak social media dan kesanggupannya untuk ikut nimbrung hadir di tengah kancah diskusi bebas publik. Faktor penguasaan terhadap “hard facts” dan “sincerity / ketulusan” yang langsung dirasakan publik sangat berperan pada meningkatnya angka jajak pendapat bagi Obama.

Di sisi lain, kekuatan track record McCain sbg pilot AL yang mengantongi medali ’Purple Heart’ dalam perang Vietnam, tidak bisa mengatrol popularitasnya secara dramatis. Aspek ini diiklankan dengan secara bombastis di awal-awal kampanye Mc Cain; tetapi disambut dingin oleh publik yang memperoleh informasi dari CGM – bahwa ada 560 orang lainnya yang memperoleh medali serupa dalam kejadian itu!

Intinya, jika pemilik brand tidak menyikapi hadirnya consumer generated media (CGM) dan menanganinya dengan baik, bisa jadi tujuan komunikasi brand yang sudah disusun dengan rapi, berantakan akibat distorsi atau gangguan komunikasi yang tidak sinergi yang berasal dari new media. Bahkan, kampanye Public Relations (PR) gaya lama dengan press conference dilengkapi dengan press release pun tidak bisa membendung derasnya suara publik. Bayangkan, tulisan jurnalistik di media konvensional yang dulu dianggap paling kredibel, bisa dimentahkan secara mudah oleh komentar-komentar pedas publik yang terekam dengan baik di Internet.

Sebagian orang masih menyodorkan kenyataan bahwa pengguna Internet di Indonesia masih rendah. Toh masih lebih banyak lagi masyarakat yang sama sekali belum tersentuh media ini. Argumentasi saya bukan dari sisi jumlah orangnya, tetapi dari segi pembinaan personal brand yang solid. Seperti apa persepsi publik terhadap tokoh-tokoh capres ini? Ini bukan sekedar pembinaan brand ‘tabrak lari’, artinya hanya digenjot satu tahun sebelum pemilu dan setelah menang, tidak perlu dipertahankan lagi. Mencapai citra personal brand yang kuat perlu road map yang panjang dan berliku. Persepsi publik (terutama kaum intelektualnya), sangat penting untuk digarap, diperhatikan dan dibina secara serius.

Riset Capres: Kuantitatif vs Kualitatif

Lembaga riset yang menangani jajak pendapat masyarakat terhadap capres bermunculan. Ini karena makin banyak pihak yang membutuhkan feedback atau ukuran dari keberhasilan aktifitas partai dan aktifitas kampanye personal brand yang sudah menghabiskan puluhan miliar rupiah. Makin banyak lembaga riset, makin bagus. Hasil temuannya bisa saling validasi.

Hampir semua lembaga menititkberatkan penelitian dengan metode survey secara kuantitatif. Paling tidak itu yang dipublikasikan di media-media dan menjadi referensi banyak pihak yang terkait. Bagaimana dengan feedback tentang persepsi secara kualitatif terhadap capres? Belum banyak yang merangkum hasil studi ini. Padahal, dengan banyaknya CGM yang berkembang sendiri di media, hasil persepsi kualitatif publik ini juga penting untuk menjadi acuan para pemilik brand dan partai atau golongan yang ada di belakangnya.

Tidak banyak informasi tentang kekuatan capres alternatif yang dibahas dalam survei-survei itu. Bagaimana persepsi publik terhadap nama-nama baru atau setengah baru? Siapa Sutrisno Bachir dan Rizal Mallarangeng, tokoh muda yang telah berdeklarasi sebagai calon alternatif, di mata publik? Bagaimana peluang Yusril Ihza Mahendra dalam kancah pemilu nanti? Apakah orang sudah melupakan siapa Prabowo Subianto dan terbius oleh citra baru hasil polesan iklan? Sejauh mana distorsi komunikasi dalam uncontrollable media berpengaruh terhadap proses pencitraan terhadap tokoh-tokoh di atas? Seberapa besar kesenjangan antara pesan yang disampaikan oleh iklan dengan tanggapan CGM?

Sedemikian banyaknya informasi di Internet yang menyimpan berita dan cerita tentang capres alternatif ini, membuat saya tergerak untuk melakukan penelitian tersendiri untuk mencari tahu jawaban dari pertanyaan-pertanyaan diatas.

Riset kualitatif melalui metode netnografi.

Metode riset yang dipilih adalah metode kontemporer yang dikenal dengan nama netnografi (netnography). Metode ini merupakan salah satu teknik riset etnografi (ethnography) yang dilakukan melalui media Internet. Etnografi sendiri berarti studi perilaku konsumen langsung dari sumbernya dan keseharian mereka.

Metode etnografi banyak digunakan dalam konteks penelitian sosial budaya. Belakangan bahkan telah diterapkan secara komersial di bidang pemasaran, untuk lebih mendalami dan mengerti persepsi dan aspirasi konsumen terhadap produk dan/atau komunikasi iklannya. Produk-produk andalan Apple seperti i-Pod dan i-Phone merupakan contoh output hasil metode etnografi yang sukses di pasar.

Metode penelitian tentang persepsi publik terhadap capres kali ini terbatas pada data sekunder saja, yaitu pengumpulan informasi dari berbagai sumber di Internet, baik dari sumber yang merupakan controllable media maupun yang uncontrollable media. Tulisan-tulisan di media konvensional tentang capres dan kampanyenya yang dimuat dalam bentuk koran digital, merupakan sumber pertama yang digali. Dilanjutkan dengan informasi yang ditayangkan di website, blog, Facebook, YouTube (jika ada) yang dibuat oleh pemilik brand. Setelah itu, dikumpulkan berita-berita dalam mailing list, dalam e-forum, blogs dll yang memuat suara publik yang berisikan diskusi, komentar, review dan tanggapan akan berita maupun iklan capres.

Informasi yang dieksplorasi dari ketiga sumber di atas diekstraksi berdasarkan tingkat intensitas pembahasan yang ada, dan kemudian dicari benang merah untuk validasinya. Obyek penelitian dibatasi pada empat orang capres alternatif yaitu Yusril Ihza Mahendra, Rizal Mallarangeng, Sutrisno Bachir dan Prabowo Subianto dengan alasan keempat tokoh ini yang banyak diulas di CGM dan relatif lebih gencar dalam aktifitas/mengkampanyekan dirinya melalui media massa.

Rangkuman hasil temuan yang didasari dengan studi kualitatif yang akan dijabarkan berikut ini diharapkan bisa memberikan warna baru hasil riset tentang capres 2009. Dengan sudut pandang yang berbeda, studi ini bisa melengkapi hasil jajak pendapat melalui metode survei yang telah dilakukan secara regular oleh berbagai lembaga.

Terjadi distorsi terhadap komunikasi brand.

Hasil riset sangat menarik bahwa pesan yang dipilih oleh pemilik brand yang dimuat dalam iklan-iklan di controllable media disejajarkan dengan tanggapan CGM/ uncontrollable media. Sangat menarik karena terdapat perbedaan (discrepancies) yang nyata antara pesan di kedua tipe media ini.

 

Rizal Mallarangeng Siapa di belakangmu?

Controllable Media

Uncontrollable Media

- RM09

- Direktur Freedom Institute

- If there is a will, there is a way

- Save Our Nation, Peduli kepada rakyat

- Kritis kepada pemerintah

- Obama Indonesia

- Target pemilih muda

- Generasi Baru, Harapan Baru

- Facebook, YouTube : Modern

- Surat Untuk Semua

- Capres alternatif, kesegaran baru,

terobosan baru

- Jalur independen

- Target jangka panjang : tidak punya

beban

- Dana kampanye dari simpatisan ala

Obama

- Fokus Program: Gizi, Ilmu dan Pekerjaan

- Adik Andi Mallarangeng, jubir SBY

- Darah muda, lebih tangkas

- Pihak di balik kekalahan perundingan Exxon.

- Obama Indonesia? Hallo…? Track record?

- Pencitraan biaya tinggi : iklan TV, billboard super besar di jalan Gatot Soebroto

- Dari mana dana kampanye?

- Siapa ’teman-teman’ RM? Konglomerat?

- Mewakili kepentingan siapa RM? Kapitalis?

- Modern tetapi bermental inlander

- Dekat dengan Bakrie – Lapindo dan Surya

Paloh, Metro TV.

- Pemimpin Muda? Idola yang sebenarnya

adalah Tan Malaka, Sukarno, Hatta, Syahrir:

religius, nasionalis, berani, pintar, sayang

rakyat

- RM Mimpi? Jalan pintas

Sutrisno Bachir : Hidup adalah Perbuatan

Controllable Media

Uncontrollable Media

- Ketua Umum PAN

- Tagline: Hidup adalah Perbuatan

- Menyitir Chairil Anwar: Sekali Berarti, sesudah itu mati

- Iklan TV, Baliho, iklan bioskop, spanduk

- Pengusaha sukses, mendanai kampanye sendiri

- Target pemilih muda

- Branding digarap secara profesional oleh Fox Indonesia, lembaga strategic & political consulting pertama di Indonesia

- Didukung nama besar: sutradara Rizal Matovani, fotografer Darwis Triadi

- Makna Hidup adalah Perbuatan? Apa maksudnya? perbuatan yang mana? Perbuatan siapa?

- Belum tokoh yang merasa tokoh.

- Apa yang sudah SB perbuat? Track record?

- Dana kampanye setinggi itu dari mana?

- Pemborosan dana besar-besaran: Lebih baik dana kampanye digunakan untuk rakyat miskin atau beasiswa sekolah. Itu baru ’perbuatan’.

- Kasus iklan dengan Suster Apung

- Terlalu manis dalam kata-kata.

- Sandungan: dihubungkan dengan kasus artis ibukota istri pengacara

Prabowo Subianto: Riwayatmu dulu

Controllable Media

Uncontrollable Media

- Mantan Pangkostrad

- Konjen Kopassus

- 24 tahun mengabdi di militer

- Jendral bintang 3 di usia 46 tahun

- Pengusaha sukses, salah satunya di Timur Tengah

- Cerdas

- Berpengaruh

- Ketua HKTI

- Pembela petani, peduli rakyat kecil

- Melestarikan pasar tradisional

- Partai Gerindra

- Caleg dan simpatisan artis

- Partainya para Jendral

- Pensiun dini secara paksa dari dinas militer

- Sarat pujian sekaligus cercaan

- Sukses jalur khusus (KKN)

- Mantan menantu Soeharto

- Sangat berbau Orde Baru

- Menghapus masa lalu?

- Riwayat penderitaan aktivis di masa Soeharto?

- Usaha kudeta 1998?

- Cenderung memimpin dengan gaya militer

- Pertanyaan besar: Belum pernah jadi petani, mau membela petani? Bapak tau apa tentang petani?

Yusril Ihza Mahendra : Laksamana Cheng Ho

Controllable Media

Uncontrollable Media

- Beberapa kali capres

- Mantan Menteri Hukum, HAM dan Sekretaris Negara

- Ahli Tata negara

- Tokoh Nasional

- Popularitas tinggi/pamor

- Putra asli Babel (Bangka Belitung)

- Dukungan Gus Dur

- Ketua dewan Syuro PBB parpol Islam

- Nasionalis, demokratis

- Batasan Muda itu relatif

- Fokus: pemilih daerah, pemilih muda, pemilih rasional

- Berpengalaman mengatasi masalah bangsa

- Bintang sinetron, tokoh utama Laksamana Cheng Ho: personafikasi kehebatan dan kebijaksanaan sang pemimpin.

- Kasus korupsi di Setneg: Tanda tanya besar? Kasus di petieskan?

- Belum cukup kuat untuk RI-1

- Mantan suami Kessi Sukesih

- Pemilih lama: tidak simpati akibat Yusril menikah lagi dengan Rika Kato (philippino) : pertanyaan terhadap loyalitas

- Arogan, cenderung sinis

- PBB partai kecil, hanya bisa berhasil jika ada koalisi

- Kalah pamor dengan SBY, Megawati, Sri Sultan

- Melalui image Laksamana Cheng Ho, Yusril menarik simpati kaum blogger muda.

- Karismatik dalam diskusi dengan blogger, dipanggil dengan sebutan Om Yusril. Bahkan Yusril dibuatkan blog khusus.

- Diskusi di blog: Yusril mencoba klarifikasi atau pemutihan citra

Penutup

Fakta perbedaan yang besar antara pesan dalam controllable vs uncontrollable media di atas perlu dipelajari lebih lanjut oleh masing-masing pemilik brand, dan dicari solusinya untuk mengurangi tekanan suara publik. Iklan yang terlalu bombastis hanya akan merugikan, karena publik akan bereaksi. Publik butuh figur yang sincere (tulus). Tidak ada manusia yang sempurna. Publik pasti bisa mengerti itu. Tetapi terlalu melebih-lebihkan diri di atas proporsi, justru akan memunculkan kekurangan diri. Publik butuh keseimbangan.

Saran saya dari hasil riset ini bagi capres alternatif adalah, pelajari ulang pesan-pesan yang sudah digembar-gemborkan. Review lagi portfolio Integrated Marketing Communication (IMC) nya. Pasang iklan seperlunya saja. Perbanyak dialog, bertemu di dunia nyata dan di dunia maya dengan calon pemilih intelektual. Selamat melanjutkan perjuangan.

33 Comments on "Calon Presiden Alternatif: Distorsi Komunikasi Uncontrollable Media"

  1. djati says:

    Dear Lia,

    Wah salut deh…artikel yang impresif, segar, baru dan menarik. Pendeknya bisa jadi landasan untuk menggelindingkan upaya-upaya yang lebih besar dan berkelanjutan, dan menggulirkan berbagai turunan ide.

    Salam sukses,
    djati

  2. Amalia E. Maulana says:

    Matur nuwun Cak Djati untuk komennya!
    Lama gak kedengeran suaranya, kemana aja, kontak-kontak lagi, ditunggu.

  3. Halo Ibu Amalia,

    Sebuah studi netnografi yang luar biasa, semoga para capres tersebut menyimak analisis serta saran Ibu. Memang di era web 2.0 saat ini sudah tidak ada lagi yang namanya backstage seperti dalam teori dramaturgi, semua orang bisa langsung tampil di frontstage, tidak perlu melalui proses editing dan filtrasi seperti yang jamak di media-media konvensional.

    Thx Bu, karyanya sangat inspiratif. Jadi termotivasi nih untuk melakukan netnografi :-)

    Salam

  4. Silih Agung Wasesa says:

    Bu Lia, menarik sekali bacanya. Ini akan jadi bahan referensi para politikus nih.
    Kemarin, pas seminar Political Public Relations yang diadakan oleh TEMPO, saya juga melihat, sebetulnya banyak capres yang sadar kok kalo iklan mereka lebih banyak mubazzir….tapi mereka gak ngerti mesti gimana, apalagi tim sukses mereka tahunya hanya iklan doang.
    Sukses ya, kapan-kapan boleh dong ngisi di seminar saya….
    Salam,

    Silih

  5. Amalia E. Maulana says:

    Hari – senang kalau bisa memberikan semangat netnografi, kan Hari termasuk fans beratnya studi etnografi.

    Hari dan Mas Silih, setuju, mudah2an artikel tsb bisa membuka mata banyak pihak, terutama yang jadi tokohnya itu sendiri. Jangan cuek bebek…distorsi komunikasi bisa dihandle koq.

    Welcome bgt Mas Silih kalo diminta ikut isi acara seminar, soale itu memang profesi sy si..

  6. fEBRi says:

    sebuah studi yang menarik bu Amalia, tapi menurut saya untuk Indonesia media online tidak akan terlalu signifikan berpengaruh. Makannya iklan di media tradisional masih sangat signifikan membentuk personal branding seseorang. Berapa persen pengguna dunia maya dengan segala aplikasi web 2.0 nya? bisakah mempengaruhi pendapat rakyat banyak yang belum tersentuh media tersebut..
    Contoh kasus utk iklan Rizal Malaranggeng di TV dengan RM 09, cukup berpengaruh menaikkan personal brandingnya..bahkan teman saya yang termasuk golongan menengah (intelektual) sempat terpukau juga dengan iklan tersebut, yang jauh dari realitas RM sebenarnya..Pakai Hatta, syahrir apalagi bung Karno, padahal RM adalah pendukung sejati neo-lib utk kepentingan kapitalis (dibelakang RM , paloh dan bakrie)..
    begitupun dengan SBY, dengan iklan partai demokrat yang dipasang dimana2 dengan segala keberhasilan (semu), cukup berpengaruh juga untuk masyarakat banyak khususnya diluar jawa..
    jadi saya agak pesimis kalau mereka mau mengubah strategi marketingnya dengan mengurangi iklan di media tradisional, toh signifikan hasilnya

    Say no for RM and SBY..menang dari pencitraan doang..

  7. Hmmm riset yang sangat menarik, memang benar harusnya lebih banyak berdialog langsung. Timnya harus terjun menanggapi secara serius berbagai persepsi yang muncul di CGM, kalo gak ya akan sia-sia.
    Lagian bikin iklan mbok ya yang realistis…. Jual apa yang memang dipunyai, sekarang tidak bisa lagi kontrol persepsi…

  8. gia josie says:

    Kalau menurutku, mungkin para calon capres ini tidak tahu harus bagaimana untuk mengangkat i-Brand dari capres itu sendiri, dengan keluarnya media-media disana – sini hingga di dunia maya pun tidak luput dipublikasikan, atau kegiatan semacam ini hanya sebuah TREND sesaat, yang mengikuti gaya/habit orang bule seperti dengan adanya pemilihan presiden di America, Indonesia dengan mudahnya mengikuti begitu saja.

    Sangat setuju sekali apa yang telah diutarakan diatas oleh Ibu Amalia, menjadikan i-Brand tersebut seperti layaknya sebuah produk, membuat, mempublikasikan, image building dan menjadi loyalitas. Pertanyaannya apakah sesudah pemilihan tersebut i-Brand itu masih bisa dipertahankan?, karena i-Brand tersebut langsung diuji kebenarannya oleh masyarakat dari ‘message/promise’ hingga ‘approval’, pembuktian dari ‘promise’-nya.

    Kalau sebuah produk membangun image-nya dan konsumen menyukai dilihat dari berbagai aspek dari fungsi, kebutuhan, price-nya dan sebagainya? dan memerlukan waktu untuk education / pengenalan dari produk tersebut, intinya butuh waktu dan kalau konsumen tidak suka, just leave it dan pindah ke brand lain, tanpa merugikan orang lain. Sedangkan i-Brand calon presiden, biaya untuk komunikasinya besar-besaran dan waktu untuk membangunnya hanya hitungan ‘jagung’, dan bagaimana sistem ‘ROI’-nya? kalau tidak sampai target, solusinya seperti apa? dan dampaknya merugikan orang lain hingga negara. Selain citra i-brand tersebut langsung menukik tajam.

  9. Pieter says:

    Halo ibu,

    sangat menarik studi yang dilakukan Ibu, semakin membuktikan bahwa rating dari polling center yang sifatnya kuantitatif akan bisa misleading kalau tidak ada studi2 kualitatif untuk menjelaskan angka2 yang ada.

    untuk personal brand, mungkin dalam strategi marketing dari studi ibu ini memandang budgetting harus lebih diarahkan di brand activation (BTL was.. hehe..)

    baru kemarin malam saya lihat Sri Sultan HB ke 10 mendeklarasikan juga sebagai calon presiden, bagaimana menurut Ibu? karena kalau dari studi ibu ke beberapa calon diatas dari history mereka ada buruknya tetapi kalau sri sultan HB ke 10 dipandang orang yang bersih dengan track record baik, dengan slogan kampanyenya dia yang diberi takeline “SUDAH TIDAK TAHAN” apakah strategi beliau untuk branding dirinya sudah tepat?

  10. CONNY MULYANI says:

    Bravo Ibu Amalia,sy suka membaca tulisan ibu karena sangat terus terang dan mudah dimengerti oleh awam sekalipun,pendapat ibu mengenai riset kwalitatif untuk capres alternatif sangat mewakili dari segi karakter capres,sehingga dapat memberikan pembelajaran terhadap masyarakat akan pilihannya terhadap capres ,dimana seorang leader, karakter adalah segalanya.Saya selalu menunggu tulisan2 ibu berikutnya,sekali lagi selamat buat ibu Amalia.

  11. Amalia E. Maulana says:

    Febri – bener banget bhw di indonesia yang ngerti internet masih terbatas, tapi tetap saja komen2 di media internet ini bisa menjadi duri dalam daging pembentukan sebuah brand kalo tidak diatasi.

    Tuhu & Gia – setuju dengan opininya.
    Conny – mudah2an saya punya cukup waktu untuk nulis sering2. Thanks appresiasinya

  12. Handy Martinus says:

    Hai Ibu Amalia,

    Sebuah tulisan yang fresh, unik, update & knowledgeable. Waktunya juga sangat pas dengan kondisi sekarang ini, riset ini wah banget bu….

    Dari distorsi komunikasi brand yang terjadi, terlihat bahwa sebaik apapun komunikasi atau pencitraan yang dilakukan, tidak akan terlepas dari hal-hal yang dilakukan/yang terjadi di masa lalu. Jadi perilaku suatu brand hari ini pun akan menciptakan pencitraan tersendiri terhadap brand tersebut di masa depan.

    Trims ya bu….

    Cheers,
    Handy Martinus

  13. Yoktan Agusyam says:

    Hi Bu Amalia,

    Artikel yang ibu tulis sangat menarik, dari artikel ini aku bisa belajar apa itu yang namanya controllable media dan uncontrollable media. Kedua-duanya memiliki pengaruh dalam membentuk brand image dari product yang akan kita lempar ke market dan masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya. Sekarang jadi tambah ngerti gimana caranya memanfaatkan CGM untuk membangun sebuah brand image…
    Thank you untuk pencerahannya..

    Cheers,
    Yoktan

  14. Amalia E. Maulana says:

    Handy and Yoktan, thx for comments. Memang seperti pisau bermata dua CGM ini, kalau tidak hati2 bisa memotong kita, sedangkan sebenarnya banyak kesempatan untuk menjadikannya teman dalam mengkomunikasikan brand secara positif.

  15. Aziz Fahmi Hidayat says:

    amazing…. kita diajak untuk melihat secara nyata inilah yang sedang terjadi di bangsa ini, kekuatan tulisan ini adalah kedetailan dan kejujuran dari sebuah fakta.. apakah controllable dan uncontrollable media dapat berjalan beriringan? tampaknya kekuatan sebuah brand image akan menjelma sangat amat kuat jika ada istilah CON-UNCOTROLLABLE (hehehe)..
    Saat ini persepsi mudah dibeli, opini bisa dilabeli, CGM seharusnya adalah filter untuk hal itu. Harus dijaga juga tuh CGM, orang semakin pintar. Kalau sekarang anak kecil sudah dieksploitasi, mungkin suatu waktu nanti CGM pun bisa di-Akali?????
    beware-beware…

  16. Amalia E. Maulana says:

    Wah kalau sampai itu terjadi, mengerikan sekali ya. the Controllable uncontrollable Media.. hehe.. seru juga kalau dijadikan topik seminar.
    Tapi biar bagaimana berat lah, gak gampang mau mengkontrol publik yang begitu luas, menurut saya kalau indirectly mengontrol itu bisa (memang seharusnya demikian, mengontrol secara halus – subtle).

    Jadi viva CGM.

  17. Reny Virniati says:

    artikel yang luar biasa Bu..saya sangat terkesan. Selama ini banyak pihak yang hanya menggunakan dan mempercayai hasil penelitian kuantitatif, karena pada umumnya selain hasilnya jelas dengan bukti jumlah representatif angka2, juga dapat dikontrol oleh pemilik brandnya. Saya setuju dengan ide penggunaan studi kualitatif (etnografi) dalam hal ini Bu, karena kejujuran dan kebenaran lebih melekat didalamnya, dan pastinya tidak dikontrol untuk kepentingan2 tertentu. Dengan adanya keterbatasan aksesibilitas, studi etnografi juga bisa dilakukan dengan metode2 lain selain melalui internet (netnografi), misalnya pemilik brand menyediakan layanan sms gratis atau bahkan berhadiah untuk melakukan sesi tanya jawab. Dengan adanya hasil penelitian ini, tentunya diharapkan para pemilik personal brand akan lebih sadar diri bagaimana kualitas mereka dimata masyarakat (target audience), dan kemungkinan besar bisa mengurangi makin banyaknya golput, Bu..

    Salam,
    Reny

  18. Hery M Kemal says:

    Salam Bu Amalia
    Saya tidak terlalu banyak pengalaman di Marketing apalagi tentang netnography.. Tapi tulisan ibu membuka mata saya ternyata Marketing itu “can be Scientific” dan sangat menarik untuk dipelajari. Bahkan kampanye Capres pun bisa dilihat secara ilmiah dan menarik dari sudut pandang Marketing.
    Mungkin nanti setiap keputusan orang akan membeli atau tidak sebagian besar akan dipengaruhi oleh CGM.. Setujuuu bu..
    Ditunggu tulisan berikutnya
    Wassalam

  19. fEBRi says:

    Ibu Amalia,terima kasih bu komen saya di tayangkan..mengenai duri dalam daging dalam pembentukan brand, selanjutnya pertanyaan terbesar adalah, seberapa besar pengaruh komen2 di dunia internet ini akan menyebar ke masyarakat awam yang tidak mengakses internet? (kayanya perlu di riset juga bu),

    Tapi asumsi saya (belum hipotesis) bahwa komen2 di internet ini tidak akan terlalu berpengaruh ke masyarakat luas yang melihat calon2 presiden yang muncul dengan image baik di controlled media..Asumsi saya ini saya dasarkan atas beberapa kali ngobrol dengan masyarakat setelah kenaikan BBM ternyata mereka memahami bahwa itu pilihan sulit pemerintah..

    Selain itu juga pengalaman pilkada Bandung, ternyata personal branding di dunia online tidak berpengaruh besar, yang paling serius menggarap adalah tim sukses DR Taufikurrahman, tapi ternyata kalahnya sangat telak, karena personal branding secara tradisional yang dilakukan oleh Dada Rosada sangat efektif utk membentuk opini di masyarakat luas.. Sekali lagi ini hanya asumsi, perlu sebuah riset utk membuktikan kebenarannya

  20. Nia Kurnianingsih says:

    Halo Bu Amalia,

    Uda baca dari seminggu yang lalu deh. Sebenernya kurang suka politik sih, tapi kenapa yah artikelnya ternyata lengket banget di kepala. Jadi ngulang baca lagi supaya bisa nyambung diajak ngomong politik,hehehe. Ringan, tapi full of knowledge. Temuan ethnography yang unik dan menarik bu:)

  21. Hendri Farizal says:

    Dear Bu Amalia,
    Menurut saya ide Ibu untuk mengangkat tema distorsi komunikasi uncontrollable media terhadap Capres Alternatif sangat briliant, saya sangat tertarik dengan pernyataan Ibu mengenai ” proses pencitraan personal brand bisa mengalami hambatan jika tidak ada usaha yang serius dalam menangani distorsi via media yang dikontrol oleh publik”

    Menurut saya, pernyataan tersebut diatas bisa mengandung persentase kebenaran yang berbeda-beda tergantung dengan kondisi negaranya. Negara yang memiliki pengakses Uncontrollable Media yang banyak atau besar tentu akan mengalami hambatan pencitraan personal brand yang besar juga, demikian juga sebaliknya, bahkan di negara tertentu sama sekali bisa diabaikan.

    Saya mencoba berhitung secara sederhana untuk pembenaran yang tentu saja menurut versi saya hehehe :-) , tapi eeits… tunggu dulu… Saya tidak asal berlogika ria, apa yang saya hitung berdasarkan sumber data menurut saya valid. Mari kita lihat sama2.

    Menurut data statistik (www.datastatistik-indonesia.com) Jumlah penduduk indonesia tahun 2000 sebesar 205.1 juta dan proyeksi tahun 2025 sebesar 273.2 juta. Jika kita anggap pertumbuhan penduduk Indonesia linear, maka kita bisa meng-interpolasikan jumlah penduduk indonesia tahun 2008 yaitu sebesar 226.892 juta orang.

    Menurut sumber http://www.detikinet.com jumlah pemakai internet di Indonesia tahun 2008 diperkirakan sebesar 35 juta orang. Maka dengan asumsi bahwa 100% pengguna internet tersebut berpartisipasi aktif membahas pencitraan personal brand capres alternatif tersebut maka berarti 15% pencitraan tersebut akan mempengaruhi personal brand capres alternatif tersebut.

    Lalu pertanyaanya, apakah 15% pencitraan melalui CGM tersebut juga akan mempengaruhi 15% suara rakyat yang akan diberikan pada saat pemilu nanti??? Jawabannya : Belum Tentu. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut secara “kuantitatif” untuk memprediksi korelasi pengaruh pencitraan melalui Uncontrollable Media atau CGM.

    Bagaimana dengan Amerika???

    Menurut http://www.kapanlagi.com tanggal 22 April 2008, jumlah penduduk Amerika tahun 2008 berkisar 304 juta jiwa dan pengguna internet sebesar 216 juta orang. Jika kita berasumsi yang sama dengan perhitungan di indonesia, maka berarti di Amerika 71% pencitraan melalui CGM akan sangat berpengaruh terhadap hasil pencitraan personal brand calon presidennya. Entah kebetulan atau tidak, tadi siang sekitar jam 12.00 WIB saya menyaksikan siaran langsung penghitungan hasil pemilu di Amerika dengan perolehan suara Barrack Obama sebesar 338 dan Mc cain sebesar 127 (kalau tidak salah ingat ya), kalau dijumlahkan berarti total suara adalah 465 suara, berarti Barack Obama mengantongi sebesar 72.7% suara dan Mc Cain 27.3%. (Kebetulan saja kale..) :-)

    Oya opini saya diatas bisa digambarkan dengan sangat jelas melalui gambar (diagram) tapi sayang saya tidak bisa attach di sini.

    Menurut saya perlu dilakukan penelitian lebih lanjut korelasi antara Uncontrollable Media terhadap pencitraan Personal Brand.

    Bagaimana caranya???

    Saya setuju dengan Ibu Amalia mengenai Uncontrollable Media, saya hanya menambahkan sedikit teori bahwa pencitraan personal brand dipengaruhi oleh 2 hal yakni Controllable Media dan Uncontrollable Media. Pengaruh keduanya tergantung mana yang lebih besar diantaranya. Untuk Indonesia, jelas Controllable Media lebih berpengaruh. Hasil dari pencitraan tersebut bisa dihitung secara kuantitatif melalui survey. Hasil survey tersebut bisa dikoreksi lagi dengan cara merespons Uncontrollable Media secara ilmiah, lalu mengumpan balikkan hasil respons tersebut ke input Pencitraan Personal brand melalui Uncontrollable Media, kemudian dilakukan survey kuantitatif lagi untuk mengukur pengaruh Uncontrollable Media terhadap pencitraan personal brand tsb. Hal tersebut diatas dilakukan dengan asumsi Controllable Media dianggap tetap alias konstant dan Uncontrollable Media dianggap significant.

    Salam,
    Hendri F

  22. Amalia E. Maulana says:

    Mantap Pak Hendri tulisannya.. memang Bapak terbukti termasuk pencinta kuantitatif, komennya aja berdata statistik dan persentase2 hehe.. asikk jadi komplit plit deh. Seru Pak, memang yang paling top untuk riset adalah kombinasi kuali-kuanti, masing2 saling melengkapi, bukan satu jenis riset lebih baik dari yang lain.

  23. Harly Toindo says:

    Dear Bu Amalia,

    Semoga saya tidak ketinggalan menanggapi tulisan Ibu yg brilliant ini :)
    Membaca tulisan Ibu, jujur saya katakan bahwa hal ini membuka wawasan baru bagi saya. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi memang telah membuka dimensi baru, tak terkecuali bagi dunia marketing dan politik. Tak salah kalau abad 21 disebut abad informasi, dan siapa yang berkuaasa adalah siapa yang menguasai informasi.

    Para capres tsb terlihat brilliant pada awalnya krn terlihat memanfaatkan media TV sebagai personal branding activationnya. Namun, mereka sebenarnya “kecolongan” karena tidak mengantisipasi (kemungkinan besar tidak terpikir oleh mereka) bahwa opini publik yg terbentuk bisa sangat mungkin tidak seperti yang mereka harapkan, yaitu berupa yang Ibu sebut sebagai Uncontrollable Media.
    At the end of the day, pada akhirnya masyarakat akan selalu “menyandingkan” antara hal-hal yang sengaja dicitrakan melalui Controllable Media dengan kenyataan sehari-hari atau pun persepsi yang ada dari sumber2 informasi lainnya (fakta di lapangan).

    Dengan demikian, lesson learned yg kita dapat adalah: kita harus benar2 memperhitungkan segala aspek, termasuk historical cases, persepsi yg selama ini telah terbentuk dan apa yang akan menjadi tanggapan masyarakat bila kita ingin membangun brand.

    Namun dilain sisi, sifat dari Uncontrollable Media ini juga dapat dimainkan dengan cara menciptakan opini2 yang sengaja dibuat oleh pihak pencitra brand tsb. Saya mengacu pada iklan2 produk yang berupa testimony2 masyarakat yg telah menggunakan produk tsb. Apakah testimony2 tsb original? saya kok meragukannya. Semua itu memang sudah ada skenario besarnya.

    Jadi bisa saya hasil etnografi survey setelah Controllable of Counter Opini tsb dibuat menjadi bias juga. Bagaimana menurut Ibu? Maaf nih Bu… ini pikiran liar saya saja, krn saya juga bukan orang marketing :)

    Terima kasih.

  24. Amalia E. Maulana says:

    Menarik deh pemikiran Pak Harly. Menurut pendapat saya, pada awalny bisa saja ‘orang bayaran’ di CGM itu mengelabui publik. Tetapi lama kelamaan, pasti orang di dalam komunitas akan tau – siapa dia – dan ini mudah dideteksi karena unsur ‘sincere’ itu tidak bisa dipaksakan.
    Ada beberapa perusahaan yang mencoba menggaji ‘orang suruhan’ tetapi lama kelamaan orang jadi tau — karena ada unsur paksaannya tadi.

  25. Amin Safri says:

    Bu Amalia,

    Its amazing article….Membaca tulisan Ibu diatas mengingatkan saya kembali kepada comment saya di Blog Ibu “Image vs Selling” tempo hari. Akhirnya seperti dugaan saya sebelumnya bahwa jika Ibu menulis hal-hal yang sedikit kontroversial, sdg nge-trend dan intrigue mengundang responden yang banyak. Dan ini tentu bagus buat “Personal Brand” Ibu sendiri sebagai penulis yang punya kompetensi dan kapasitas mumpuni dibidang Marketing Academy. Harus diakui bahwa tulisan diatas sangat mudah dibaca dan dimengerti semua pihak walaupun tulisan tersebut kental dengan nilai akademiknya.

    Dengan tulisan Ibu diatas, BUKAN TIDAK MUNGKIN IBU AKAN DIDEKATI DAN DIBAJAK UNTUK DIJADIKAN CONSULTANT MARCOMM MEREKA DALAM WAKTU DEKAT INI ….atau sudah didekati Bu ??? Saya meyakini tim sukses capres-capres tersebut pasti memerlukan pemikiran up-to-date yang Ibu sampaikan di tulisan Ibu dan sangat relate dengan keadaan saat ini.

    Diluar tulisan Ibu diatas, saya ingin juga share tentang probabilitas dan Chances Capres-capres diatas untuk bisa jadi Presiden di Republik ini dengan atau tanpa media CM dan UCM/CGM(tentunya ini pendapat pribadi, dan sepertinya juga akan mengundang debatable):

    Walaupun contoh berikut ini tidak selama nya benar tapi perlu dipikirkan oleh Capres-capres tersebut. Jika kita lihat dari contoh 2 pemimpin bangsa ini (Megawati & SBY), mereka untuk bisa menjadi orang nomer satu di Republik ini sepertinya terlebih dahulu harus melewati masa-masa DIANIAYA/DIZALIMI oleh Penguasa. Baru setelah itu, mendapat simpati yang hebat dari rakyat. Walaupun ongkos untuk dapat tampil akhirnya tetap dibutuhkan CM dan CGM tetapi biaya menjual Personal Branding nya jadi lebih murah.

    Setuju atau enggak Bu ?

    Salam,

  26. Amalia E. Maulana says:

    Dear Pak Afi (ini nick namenya Pak Amin Safri kan..)

    Saya harus mengucapkan terimakasih atas ‘kompor’ nya untuk menulis personal brand yang dikaitkan dengan iklan2 capres. Memang Bapak yang memberikan inspirasi untuk mengupas masalah tersebut. Alhamdulillah kalo setelah ditulis, sesuai dengan harapan Pak Afi.

    Motivasi utama sebenarnya ya lebih ke arah ungkapan pemikiran aja, agar lebih banyak yang menyadari peranan uncontrollable media dan tau bahwa kita semua punya peran penting disana (sebagai publik). Banyak yang tanya apakah saya punya hidden agenda, misalnya seperti yang ditanyakan oleh Pak Afi, tentang jadi konsultan personal brand dari capres.. wah itu bukan agenda saya terus terang. Tapi kalau ada yang berminat, boleh2 aja sih hehe…jangan sampai berminat marahin saya karena nulis ttg mereka.. kata kakak saya kamu nih cari musuh aja. Well.. nggak lah ya, saya lebih mengangkat issue branding, yang mana adalah bagian dari ekspertise saya aja. Syukur2 kalau brand ownernya jadi lebih alert dan kemudian menyikapi saran2 yang saya tulis disana. Kalo sisi politiknya sendiri saya kurang ‘gaul’.

    Tentang masalah kaitan dizalimi/dianiaya dengan menang jadi presiden ini memang seru untuk dianalisa tersendiri. Nanti coba ya Pak, kalo ada waktu saya eksplore tentang faktor yang satu ini. Thanks Pak Afi atas ide-ide riset dan ‘kompor’ an nya.. perlu lho punya teman kaya Bapak ini, supaya ide menulis jadi tambah banyak dan seru.

  27. Amin Safri says:

    Bu Amalia,

    Sama-sama Bu, saya juga ucapkan banyak terima kasih atas response yang sangat saya hargai & memang sesuai harapan. Sebenarnya Ibu sangat pantas diberikan “applause” dan “appreciation” karena mengulas “academic article” atas topik yang sangat relevant dan memberikan warna lain dari ilmu pengetahuan dibidang Marketing bagi Republik ini…..Keep on writing Bu, you have a big talent and knowledge on it. Walaupun bukan agenda Ibu utk jadi Consultant Tim Sukses Capres atau yg dipersamakan dengan itu, tetapi jika pun Ibu mau join at the end, please consider and put me as your Consultant Team ya Bu…he..he.

    Kembali ke topik artikel khususnya tentang CGM, yang saya sangat khawatirkan dari CGM saat ini adalah seseorang bisa saja menjadi tersangka dan terjerat hukum oleh karena ada UU No. 11 thn 2008 (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronika) yang telah diberlakukan. Persepsi saya ttg UU tsb, salah satunya, seseorang bisa saja terjerat dengan UU tersebut serta melanggar hukum karena memberitakan berita bohong dan tidak berdasar atau yang dipersamakan dengan itu walaupun dengan alasan edukasi publik. Walaupun saya menyadari, suatu saat CGM juga akan mendapat tempat “Equlibrium” nya di tengah-tengah kita.

    Disamping CM, saya meyakini CGM juga banyak mengkontribusi “educated-process” dikalangan kita..dan jika kita tidak berhati-hati dalam meng-edukasi atau sharing views dalam bentuk CGM bisa saja kita terjerat hukum karena UU tersebut. Contohnya berita hari ini (17 Nov dibeberapa Media Massa ; Kompas, Kontan, dll) tersangka penyebar berita bohong via internet ttg 5 bank rush telah ditangkap….its real dan menurut saya ini termasuk yang pertama di Republik dalam kriteria kasus Cyber Crime …

    What do you think Bu ?

    Salam,
    AMin Safri (Afi)

  28. sangat menarik tema yang diulas tentang capres 2009, mba Amalia sudah go publik rupanya.

  29. ceria jogja says:

    Numpang Nimbrung, Bu..

    Menurut saya, iklan personal brand utk figur & partai baru dibuat & dipublikasikan dgn gencar utk sekaligus membentuk sistem ditribusi/counter distorsi image melalui simpatisan – simpatisannya. Secara analogi, sebuah produk yg diiklankan dgn gencar dgn hasil instant awareness tinggi mampu menarik lbh banyak distributor utk ikut memasarkan produk yg ditawarkan. Efek distorsi image secara hierarkis dieliminasi oleh distributor2nya sebelum menjadi hal yg cukup signifikan utk menggoyahkan brand produk tsb. Utk produk politik, makin bnyk distributor tentu makin bagus.

    Bukan hal baru jika keluhan via CGM menjadi nampak bodoh karena jawaban/solusinya sudah tersebarluas ke publik via simpatisan2 di lapangan. Justru CGM bisa jadi berkurang kredibilitasnya krn kemampuan orang lapangan yg lbh cepat tanggap situasi.

  30. jingga says:

    saya melihat slah satu iklan kampenya seorang capres di TV dan saya merasa jengah, karena hal itu kayanya terlalu muluk2 dan ga bange. tapi saya ga tahu mesti koment lewat media apa yang paling efektif… dan yang ibu bilang bener bgt, lewat internetlah kita bisa bebas berekspresi…ga ada yang sensor, jadi pure our opinion.. dan siapapun yang iklanin “Capresnya” kita bisa komentarin langsung dan dibaca ribuan orang, yang mungkin juga jadi masukan yang pastinya berarti…
    whatever.. i like ibu so… much…

  31. taufik says:

    Wah mantap sekali analisa nya mba
    jika boleh tolong dong dibuatkan analisa ut SBY, Mega, JK, Wiranto, HNW, Sultan HB, biar pemetaannya makin sempurna.
    tks much

  32. Amalia E. Maulana says:

    Itu dia Mas.. saking mblengernya saya kemarin sama data capres..makanya tahap 1 nya baru yang capres alternatif dulu.

    Ntar kalau udah nggak mblenger, saya teruskan ya risetnya. Apa Mas Taufik mau ikutan riset tahap 2 ini? Boleh aja, sih, ayo kita kerjain bareng-bareng

  33. Sekar says:

    tulisan yang bagus bu, saya bergabung juga di sebuah lembaga konsultan pemasaran politik.