Pers dan Audiens: Tumbu Ketemu Tutup?

Mata saya tertumbuk pada foto seorang gadis yang tersenyum manis bak selebriti sebesar setengah halaman di sebuah media cetak. Siapa dia? Artis baru, atlit pemenang olimpiade, pemenang Miss Universe atau siapa?

Gadis itu ternyata adalah Maharani yang ikut terseret dalam kasus penangkapan Luthfi Hasan Ishaq (LHI), Presiden PKS saat itu. Kenyataan bahwa foto dan berita ini dimuat dengan porsi yang berlebihan adalah sebuah indikasi bahwa Pers belum bisa membuat medianya menjadi wadah edukasi publik.

Keputusan untuk mengangkat topik ‘juicy’ Maharani lebih terkesan untuk mencari sensasi dan menaikkan omset penjualan. Padahal, ada berita-berita lain seputar kasus LHI yang lebih substansial, seperti kasus korupsi dan dampaknya terhadap citra PKS, seluk beluk perdagangan daging impor, peranan Ahmad Fathonah dan hubungannya dengan LHI, pembahasan masa depan PKS, dll.

Jika ada sekelompok masyarakat yang cenderung senang dengan berita sensasi, tidak berarti bahwa media harus melayaninya. Salah satu fungsi media adalah edukasi publik, bukan memberikan berita-berita yang tidak bermutu yang jauh dari semangat mendidik.

Situasi ini saya beri label ‘Tumbu Ketemu Tutup’. Read More →

Raffi-Wanda: Masalah Siapa?

Bad news is good news.

Media butuh berita-berita buruk untuk meningkatkan ratingnya. Karena itu tidak heran, begitu muncul berita penggerebekan sekian banyak artis karena pesta narkoba, media seperti memperoleh jackpot.

Musibah yang sedang diderita oleh Raffi Ahmad dan kawan-kawan artisnya seputar penangkapan oleh BNN, sebenarnya bukan hanya musibah untuk Raffi cs. Ini musibah dan masalah bagi semua artis.

Setelah merebak berita tentang Raffi, tiba-tiba muncul berbagai anjuran ke partai agar memikirkan ulang untuk merekrut artis menjadi calon legislatifnya. Bahwa resikonya tinggi untuk “menggunakan” mereka sebagai Icon partainya. Bahkan ada partai yang sigap, secara langsung merevisi daftarnya. Ini kan musibah namanya. Musibah bagi nama baik artis. Read More →

Cobranding Sensasional ala SBY-Roy Suryo

Habibie & Ainun. The Best Cobranding of the Year.

Personal brand Habibie yang cemerlang dipadukan dengan personal brand Ainun yang tidak kalah cemerlang menjadi sebuah kekuatan baru yang saling menambahkan. Mungkin sudah banyak yang mengenal sosok BJ Habibie tetapi belum banyak yang mengerti siapakah Ainun. Dalam film mereka, yang ditampilkan adalah penjabaran dua personal brand yang kokoh, yang saling melengkapi dan menguatkan.

Jika dalam matematika murni 1 + 1 adalah 2, maka dalam ilmu Cobranding, 1+1 belum tentu sama dengan 2, bisa lebih atau justru bisa kurang dari 2. Nilai penjumlahannya tergantung apakah brand pertama dan brand kedua sama-sama cemerlang atau tidak. Tetapi, pada prinsipnya, dalam rumus penggabungan dua brand cobranding, 1+1 jangan kurang dari 3 untuk bisa disebut efektif. Read More →

Bakso, Bandara Soeta dan Shock Therapy

Berita tentang pencampuran bakso dengan daging babi/celeng membuat kita shock.

Berita tentang rusaknya UPS di Bandara Soeta yang menyebabkan kekacauan penerbangan juga membuat kita shock.

Mungkin masih akan ada shock-shock lainnya, sedang mengantri, tidak tau kapan beritanya akan meledak.

Dalam banyak hal, memang konsumen sederhana seperti kita ini cenderung ‘take it for granted’ bahwa orang-orang yang kita percaya sudah mengerjakan tugasnya dengan baik.

Shock demi shock yang kita alami belakangan ini menyadarkan kita bahwa ternyata tidak semua orang ‘PEDULI’ akan hajat hidup orang banyak.

Orang-orang yang berkomplot memainkan peranan di pencampuran daging bakso hanya memikirkan keuntungan ekonomi dirinya sendiri. Kalaupun ternyata karena ulah mereka, ada yang terpaksa makan makanan tidak halal, ‘emangnya gue pikirin’? Mungkin ini ekspresi di benak mereka. Read More →

Dicari: Capres yang Go Green

Banyak diskusi membahas kriteria Calon Presiden yang ideal. Saya ingin menambahkan sebuah parameter lagi yaitu Capres yang ideal adalah yang sudah “Go Green”.

Aktifitas Go Green awalnya lebih ditiitikberatkan kepada aspek lingkungan, terdiri dari kegiatan 4R – Reduce, Reuse, Recycle dan Replace material yang digunakan sehari-hari.

Arti kata Go Green atau Green Movement saat ini sudah meluas kepada definisi – “a supporter of socially conscious, political and personal actions that support the environment, non-violence, elimination of poverty, equality, diversity and conservation.” Dari definisi tersebut Capres yang Go Green berarti yang mendukung aktifitas sosial, politik dan personal berkaitan dengan lingkungan hidup dan kesejahteraan komunitas. Juga anti kekerasan, memberantas korupsi, mengetengahkan persamaan hak dan menghargai perbedaan. Read More →