Back to Jadul ala BB Q10


Akhirnya……Blackberry kembali dengan keypad qwerty di model Q10.

Saya sebagai pengguna Blackberry yang tidak terbiasa dengan touch screen untuk mengetik, sempat tertekan sewaktu akan membeli model terbaru Z10, yang ternyata tidak qwerty!

Saat itu, suami saya menganjurkan untuk belajar membiasakan diri dengan touch screen, karena menurutnya, seluruh gadget di dunia ini akan menjadi touch screen dan saya akan ditinggalkan sendirian.

Syukurlah akhirnya BB Q10 diluncurkan, artinya saya bisa meng-upgrade BB yang saya miliki sekarang tetapi masih tetap qwerty. Walaupun suami saya bilang keypad itu jadul, so what? Saya tetap lebih suka keypad qwerty daripada yang touch screen.

Keypad yang digunakan seolah membawa kembali ke masa lalu karena dipilih keypad model bold yang merupakan keypad ternyaman yang pernah ditawarkan oleh Blackberry.

Sebenarnya banyak fitur ‘ekstra’ yang juga ditawarkan oleh BB Q10, tetapi bukan hal itu yang lebih penting bagi pengguna BB yang masih setia yang masih sangat ‘qwerty minded’. Bahwa kebutuhan basic nya yaitu mengetik dengan cepat dan ‘enak’ tidak bisa dipenuhi oleh smartphone merek lain bahkan dari BB model terbaru Z10, itu yang menjadikan Q10 ini menjadi sebuah produk yang ditunggu. Read More →

Demi Tuhan Tidak ada Brand Instan

Demi Tuhaaaaan!!!!

Ucapan Demi Tuhan ala Arya Wiguna tiba-tiba menjadi fenomena baru di dunia media sosial. Video Parodi Arya Wiguna yang diunggah oleh @ekagustiwana dan film 300 berdurasi 53 detik oleh Akun WatdefakMovie telah ditonton oleh lebih dari 1.4 juta lebih orang. Mungkin setelah tulisan ini beredar, akan mempercepat pertumbuhan jumlah penontonnya.

Karena keisengan Eka Gustiwana, Arya Wiguna mendapatkan berkah dari Youtube, diantaranya adalah: Main film komedi, Ring Back Tone (RBT) , Kontrak 1 Tahun dengan Trinity Optima Production dan Model Video Klip Kangen Band

Media sosial di Internet memang luar biasa. Percepatan penetrasi dan penyebaran informasi dan hiburan sepertinya sudah sulit dibendung. Dan ini membuat banyak orang yang menjadi bermimpi, ingin sukses instan.

Gara-gara melejitnya brand-brand via Youtube seperti Sinta-Jojo, Briptu Norman Kamaru, Ayu Ting-Ting, Psy Gangnam Style, saya menjadi sasaran pertanyaan banyak orang. Read More →

UJE vs Eyang Subur

Di acara Penganugerahan Award bagi Wanita Karir 2013 dari Majalah Femina belum lama ini, Iwel Sastra tampil memikat sebagai stand-up comedian.

Saya selalu kagum pada stand-up comedian, yang bisa membawakan banyak topik secara segar, lucu dan up-to-date. Kasus Eyang Subur, misalnya, dijadikan topik bahasan Iwel malam tersebut di panggung. Katanya “Saya tau bahwa cinta itu buta. Tetapi, yang satu ini, butanya berjamaah”.

Cinta itu buta berjamaah – maksudnya, jika dalam kacamata umum kita mungkin heran, mengapa sosok seorang Eyang Subur bisa menggaet 7 wanita cantik untuk menjadi istrinya secara bersamaan.

Kita memang seringkali menggunakan ukuran keberhasilan, kesuksesan dan kemakmuran dengan ukuran-ukuran umum.

Terlepas dari tuduhan bahwa Eyang Subur pasti ‘ada apa-apanya’ hingga bisa secara spektakular memikat wanita, ternyata ada kalanya ukuran menarik atau tidak menarik itu adalah kontekstual dan spesifik, tidak bisa digeneralisasi. Tentu ada banyak hal dalam diri Eyang Subur (yang saat ini kita tidak tau apa gerangan), yang menurut pendapat para istrinya adalah ‘sesuatu banget’. Butuh riset gabungan ahli psikologi, personal branding dan etnografi untuk membedah misteri Eyang Subur. Read More →

Insightful Insights dalam Proses Kreatif

Beberapa client mendesak saya untuk mengerjakan brand audit dalam waktu yang sangat pendek. Tentu saja saya keberatan mengingat proses riset ethnography yang menjadi bagian dalam brand audit bukanlah tipe riset yang bisa dilakukan secara instan. Proses pengerjaan yang seksama merupakan kekuatan ethnography untuk mengungkap issues yang sebelumnya tak terungkap.

Ketika ditanyakan, mengapa risetnya harus selesai segera, client menjabarkan bahwa ini ada hubungannya dengan time frame yang harus dialokasikan kepada creative partnernya, yang ternyata jauh lebih lama dari alokasi waktu brand audit/riset.

Itukah sebabnya? Proses penjabaran dari insights menjadi sebuah kreatifitas komunikasi pemasaran yang jitu menurut pendapat saya seharusnya tidak perlu waktu selama itu. Tetapi client tetap pada pendiriannya, menerangkan bahwa dalam kenyataannya, bekerja dengan creative partner itu selalu lama waktunya.

Berlatarbelakang brand manager yang sangat erat bekerja sama dengan creative team, saya bisa menjelaskan mengapa terjadi pemborosan waktu dalam proses kreatif. Read More →

Brand in Crisis: Lion Air

Hari dimana Lion Air mendarat di laut adalah hari saya mengajar kelas MM Executive di sekolah bisnis IPMI. Para eksekutif di kelas tidak bisa dibendung untuk tidak membicarakan kasus ini di kelas. Sesuai dengan semangat belajar ‘branding in practice’, tentu kasus ini sayang untuk tidak didiskusikan on the spot.

Pertanyaan apa yang akan dilakukan oleh Brand Manager Lion Air menghadapi kasus ini dijawab secara serempak yaitu menyelenggarakan Press Conference. Ini jawaban yang seragam dengan jawaban dari student di kelas saya yang lain yaitu di Binus Business School. Ternyata, top of mind dari para eksekutif langsung mengarah kepada berbicara dengan media (formal).

Sebenarnya tugas berbicara dengan media bisa diserahkan pada PR atau MarCom Manager. Seorang Brand Manager punya tugas lain yang lebih kritikal, yaitu memetakan ulang ‘value needs’ konsumen. Banyak yang berubah di peta value dan harus ada yang merekam secara serius pergeseran dan migrasi value konsumen.

Lion Air adalah salah satu dari brand Low Cost Carrier (LCC). Kejadian yang menimpa salah satu brand di dalam kategori LCC akan membawa dampak yang luas kepada brand-brand lain di kategori yang sama: Citilink, Air Asia, Sriwijaya, dll.  Tugas pemetaan ulang akibat migrasi value dari satu segmen ke segmen lainnya, bukan hanya menjadi suatu yang urgent bagi Lion Air saja, melainkan bagi brand LCC lainnya. Read More →