Gebyar Klub Bola Eropa dan Daya Tarik Sponsorship

Beberapa waktu yang lalu saya diwawancara oleh sebuah televisi swasta yang bertanya apakah kegiatan sponsorship klub sepakbola Eropa yang dikerjakan oleh banyak brand lokal itu efektif atau tidak?

Pertanyaan ini sulit untuk bisa dijawab secara langsung.

Pertama, karena kegiatan ini tidak bisa disamakan dengan kegiatan sponsorship event biasa. Kegiatan ini lebih cocok dikategorikan sebagai sponsorship yang dibarengi dengan co-branding. Ada biaya besar yang dikeluarkan untuk berasosiasi dengan brand yang cemerlang, tetapi mempunyai implikasi jangka panjang bagi brand yang  berasosiasi dengannya.

Kedua, setiap brand mempunyai status brand performance yang berbeda-beda. Tanpa melihat laporan brand audit yang terakhir, bagaimana saya bisa memastikan bahwa uang yang dikeluarkan untuk sponsorship itu akan mencapai sasaran tujuan komunikasi yang berkaitan dengan penyelesaian permasalahan yang dihadapi brand? Brand Audit merupakan pedoman brand manager untuk memahami situasi urgensi kekuatan, kelebihan, peluang dan acaman brand. Read More →

Strategic Brand Audit, Binus Center

ETNOMARK Consulting menyelenggarakan Internal Workshop di Binus Center dalam kaitannya dengan project Strategic Brand Audit yang digarapnya. Workshop ini berdurasi dua pertemuan yaitu 13 dan 20 Mei 2013 di Kampus Binus Anggrek Kebon Jeruk. Amalia E. Maulana yang juga Director ETNOMARK Consulting menjadi fasilitator workshop tersebut.

Tujuan dari internal workshop kali ini adalah untuk memberikan pembekalan pemahaman strategi brand bagi key persons di Binus Center dan juga pencarian insights seputar permasalahan branding yang dihadapi oleh perusahaan.  Acara ini dibuka dan dihadiri Bapak Bintoro sebagai General Manager Binus Center. Kehadiran para key persons dari berbagai divisi seperti Divisi MarCom, Divisi Product Development, Head of Market Intelligence, Branch Manager hingga Course Consultant menggambarkan sinergi dari team Binus Center. Read More →

Role of Ethnography in Branding Strategy


On Thursday, May 23, 2013, in Building Inbisco Niagatama Daan Mogot, Mayora organized sharing knowledge for marketing and sales teams. Sharing knowledge was given by Mrs. Amalia E Maulana PhD. The theme for this activity was ”The Role of Ethnography in Branding Strategy”.

In this sharing knowledge, all participants were invited to understand the process of strategic brand audit that the company did not make any wrong decision in determining future direction for the brand through the research on consumer behavior directly base from their habitat (Source: Mayora website) Read More →

Brand CALEG: Utang Makna

Bayangkan sebuah percakapan imajiner berikut ini.

Tanya: Caleg yang mana? Jawab: Yang menyiram teh dari gelas minum ke lawan debatnya di TV.

Tanya: Caleg yang mana? Jawab: Yang disiram teh dari gelas minum oleh lawan debatnya di TV.

Insiden ‘aksi siram teh’ tersebut akan melekat dan membentuk impresi kuat dan jika impresi tersebut dianggap negatif, maka kesan itu lah yang akan menjadi warna dan makna dari personal brand kita.

Branding diri adalah total impresi yang dirasakan oleh stakeholders dari waktu ke waktu. Termasuk di dalamnya adalah pada saat blog seseorang dibaca, pada saat foto seseorang ditayangkan di Facebook. Termasuk apa yang dituliskannya dalam postingan di Twitter. Termasuk pada saat seseorang sedang berbicara di publik, menjadi narasumber tayangan TV yang disaksikan berjuta orang.

Personal Brand yang kuat tidak lagi tergantung pada apa yang diiklankan dalam spanduk-spanduk yang berjejer sepanjang jalan. Personal brand kita ditentukan oleh apa saja yang dibahas oleh para stakeholder di belakang punggung kita.

Personal Branding adalah ‘the art of shaping Stakeholders Perception over time’. Seni mengelola dan membentuk Impresi Stakeholders – dari waktu ke waktu. Masih banyak yang meremehkan bentuk interaksi dengan stakeholder. Selama foto di spanduk masih bagus, berwibawa, tulisan di blog masih mengalir dengan baik maka tidak perlu membuat impresi yang baik pada saat berinteraksi langsung. Read More →

PRJ Rakyat yang Mana Jokowi?

Dimuat di Kolom Branding Solution, Koran Sindo, 19 Juni 2013.

Puja-puji bermunculan dengan cepat di media sosial pada saat Jokowi menyuarakan bahwa Pekan Raya Jakarta (PRJ) Kemayoran seharusnya dipindahkan kembali ke Monas.

  • PRJ tak merakyat hanya menguntungkan pebisnis swasta, salut Jokowi.
  • Jakarta Fair u/ promosi produk dlm negeri, Jokowi kembalikan ke ruhnya.
  • PRJ yg ada sekarang harga tiket masuknya aja ga merakyat.

Saya pribadi mendukung ide Jokowi untuk mengembalikan fungsi PRJ ke tujuan semula, yaitu sebagai pestanya masyarakat Jakarta. Semenjak pindah ke Kemayoran, saya dan keluarga sudah tidak lagi meng-agendakan untuk pergi kesana. Yang terbayang lebih kepada barrier nya: jarak yang sangat jauh, transportasi yang repot – membawa mobil nanti parkirnya apakah aman?, berdesak-desakan dengan banyak orang, tidak ada hal yang spektakuler yang ada di PRJ yang hard to be missed!

PRJ ala Kemayoran memang sudah sangat berbau komersial, karena isinya lebih banyak menjual produk (yang ada di toko, supermarket, dealer dan outlet lainnya), dengan diskon khusus ditambah sampel-sampel sana sini. Ah, buat apa ke PRJ? Read More →