Obama Selfie: Koridor Konteks

‘A picture worth thousand words’

Dalam studi etnografi sering diulas betapa sebuah gambar bercerita banyak tentang sebuah situasi, sebuah rekaman yang nyata terhadap ekspresi interaksi antar aktor.

Karenanya, dalam etnografi pemasaran, kekuatan gambar itu juga mendasari pengumpulan foto-foto tentang kegiatan konsumen dalam kesehariannya.

Sangat menarik mengikuti perkembangan kasus Foto ‘Selfie’ Presiden Obama. Dari satu dua foto saja, cerita yang berkembang di media massa dan media sosial sudah sedemikian luas dan melebarnya.

Eksposure pertama saya tentang foto ‘Selfie’  Presiden Obama bersama Perdana Menteri Inggris David Cameron dan Perdana Menteri Denmark Hellen Thorning Schmidt adalah dari Facebook salah satu teman. Kesan instan, seperti yang bisa diduga adalah keheranan dan langsung mempunyai prejudice tentang betapa tidak sensitif nya para kepala negara tersebut. Saat pemakaman tentu bukan saat yang tepat untuk ‘berfoto-ria’ apalagi secara ‘selfie’ tersebut. Read More →

Dokter 2.0: Pergeseran Kekuasaan

Perubahan yang sangat fenomenal terhadap relationship antara konsumen dengan produsen di dunia pemasaran rupanya sudah berimbas hingga ke dunia layanan kesehatan. Di dunia pemasaran, kita melihat adanya tekanan bagi pemasar untuk berubah dari pemasaran one-way, product oriented (Marketing 1.0) menjadi pemasaran two-way, customer-oriented (Marketing 2.0). Pergerakan peranan Dokter dalam layanan kesehatan – perlahan tetapi pasti – mendesak para Dokter untuk transformasi menjadi Dokter 2.0.

Topik demo Dokter sudah dibahas dari berbagai sisi, terutama dari sisi kedokteran, sisi hukum, sisi kemasyarakatan, kemanusiaan, keadilan, dll. Tulisan Branding Solution kali ini akan fokus pada sisi pemasaran jasa, khususnya tentang situasi shifting of power, pergeseran kekuasaan antara para aktor yang berperan. Read More →

Frame of Reference dan Citra MK

Dalam keseharian, tanpa sadar kita sering terjebak pada ‘frame of reference’ tertentu dan kurang bisa melihat informasi baru atau informasi lain dalam menganalisa sebuah situasi. Akhirnya action yang diambil menjadi tidak tepat karena analisa short cut setelah terjebak dalam frame tertentu.

“Can you speak bahasa?”

Saya sudah bosan mendengar kalimat ini diucapkan oleh orang-orang yang tidak mengenal saya, terutama di airport dan di hotel. Tetapi saya masih memakluminya karena ‘setting lokasi’ tersebut masih cocok. Wajah saya yang ‘tidak lokal’ ini digunakan sebagai salah satu frame of reference mereka.

Sebaliknya, pada saat berada di setting yang seharusnya menjadikan saya ‘orang lokal’ saja, seperti di supermarket di Pondok Aren dimana saya tinggal selama lebih dari 15 tahun, saya kurang respek pada seseorang yang menyapa dengan kalimat ‘Can you speak bahasa?’ Ini adalah cermin kecerobohan dan short cut audience analysis yang seharusnya bisa dihindari.

Read More →

Personal Branding Workshop 30Nov

Catatan Workshop ‘Strategi Membangun IBrand Cemerlang’ 30 Nov 2013. Peserta sangat bervariasi dari berbagai profesi dari student, fresh graduate, dosen, entrepreneurs, dokter, konsultan, ibu rumah tangga, banker, hingga musisi. Wah lengkap, bukti bahwa IBRANDING ini UNIVERSAL. siapa saja perlu membenahi brand diri mereka.

Strategi Membangun Personal Brand ini juga dibutuhkan oleh Perusahaan yang mempunyai ujung tombak atau Salesman yang juga harus secemerlang Brand Perusahaannya. Ini namanya Co-branding, 1+1 harus lebih dari 3 agar paduan brand Personal (Salesman) dengan brand Perusahaan menjadi Double Cemerlang!

Freedom of Speech : Branding Media Sosial

‘Ngono yo Ngono ning ojo Ngono’

Saya jadi ingat ungkapan Jawa ini yang saya baca di status FB teman. Kalau diterjemahkan dalam bahasa pergaulan Jakarta kira-kira bunyinya seperti ini ‘begitu ya begitu, tapi jangan begitu-begitu amat’. Maknanya: Boleh saja seseorang bersikap seperti itu tetapi jangan keterlaluan atau melampaui batas yang bisa ditolerir.

Konteks pembahasan saya adalah perilaku dari beberapa brand media sosial yang sudah keluar dari jalur cita-citanya. Belum lama ini pengguna media sosial dihebohkan dengan ‘tangan-tangan’ sakti yang ikut mengatur lalu lintas jalannya komunikasi di media tersebut.

Di dunia media sosial dan Internet sudah lama kita mengenal istilah Freedom of Speech dan Wisdom of Crowd. Kebebasan berbicara mengungkapkan pendapat dari para anggota ‘masyarakat online dan forum’ ini merupakan daya tarik utama dari media tersebut. Dimana, di media ‘lama’ seperti tv, koran, majalah dll terdapat keterbatasan space dan sangat erat dengan ‘kontrol’ dari pemilik media (atau redaksinya), maka di media sosial dan blog, space hampir bisa dikatakan unlimited dan tidak ada kontrol mengontrol pendapat. Read More →