Pilkada dan Soulmate Situasional

“Aku satu dosen pembimbing dengan dia nih…teman seperjuangan.” Itu yang saya baca di sebuah group WA teman-teman kuliah, sewaktu salah satu dari teman kami jadi narasumber di sebuah acara talkshow TV.

Pada saat seseorang cemerlang, memang mudah mencari yang mau mendekat bahkan mengatakan berasosiasi dengannya. “Itu tetangga saya lho….” atau “dulu kami pernah satu kost” atau seribu satu kaitan dalam kehidupan lainnya. Intinya dengan membanggakan itu, ada makna brand cemerlang yang ikut di-leverage. Kalau temannya hebat, ya seharusnya saya sedikitnya ikut lumayan hebat.

Bagaimana jika sebaliknya?

Coba pikirkan.  Ada seseorang yang ditangkap KPK dan menjadi tersangka korupsi. Tiba-tiba banyak orang yang menghilangkan jejak, tidak merasa kenal, tidak tau menahu dan mencoba ‘delete’ foto-foto di media sosial yang berhubungan dengan tokoh negatif tersebut.

Ini termasuk kegiatan Disosiasi terhadap Brand. Kebalikan dari Brand Association. Disosiasi ini bertujuan menjauhkan atau mengurangi dampak sinergi makna brand tertentu ke dalam brand sendiri. Read More →

SALES Leadership Program: Personal Brand for Sales Professional

Siapa bilang Personal Branding hanya untuk ARTIS atau pemimpin Partai dan pemimpin perusahaan. Tukang Sayur saja perlu Personal Brand Cemerlang, agar dipilih oleh para langganannya. Apalagi seorang Sales Professional. Tentu sangat perlu.

Cargill Feed and Nutrition dipimpin Pak Totok Setyarto mengundang Amalia E. Maulana untuk berbagi tentang pentingnya Personal Brand bagi Sales Professional ini di Acara kwartalan mereka: Sales Leadership Program.

Dihadiri hampir 30 orang Sales Professional acara diselenggarakan di Hotel Horison, Bogor tanggal 1 Oktober 2015, bersamaan dengan Acara gathering yang secara regular diselenggarakan secara Internal.

Acara berlangsung seru, karena mengena bagi konteks keseharian para peserta, untuk membina relationship dengan pihak Internal maupun Eksternal Perusahaan. Selamat Membina Personal Brand. Semoga Brand nya Semakin Cemerlang dan juga tidak lupa semoga Sukses bagi Co-branding dengan Cargill nya.

https://www.linkedin.com/pulse/sales-leadership-program-personal-brand-professional-maulana?trk=hp-feed-article-title-publish

FOMO dan Crowd Sourcing

Banyak penyakit psikologis yang berhubungan dengan masalah sosial yang timbul di alam modern atau digital ini, yang sebenarnya bukan penyakit baru. Narsisme, sebagai contoh sebuah ‘penyakit sosial’. Dulu, ‘narsis’ diartikan sebagai gejala psikologis yang dihindari. Tetapi sekarang dari sisi yang berbeda, bisa dikatakan bahwa tanpa modal narsis, tidak mungkin seseorang bisa eksis.

Narsisme Sehat atau bisa disebut narsisme dalam koridor yang bisa ditoleransi secara positif, tidak berlebihan, tetapi tetap hasilkan eksposur yang diharapkan. Selebriti baru di dunia social yang bina personal brandnya dengan baik dan kemudian didaulat jadi endorser-buzzer hasilkan income lumayan.

Gejala masalah sosial atau psikologis lain yang juga bermetamorfosa di dunia baru, dunia digital ini disebut FOMO – ‘Fear of Missing Out’. Ini sebuah bentuk social anxiety, kegelisahan seseorang yg kuatir akan ketinggalan kesempatan untuk berinteraksi social dan tahu hal baru. Andrew K. Przybylski Ph.D. dalam studinya menemukan bhw FOMO adalah kondisi psikologis yang dialami oleh orang-orang yang selalu ingin dihargai. Gejala ini terasa percepatannya pada saat interaksi antar individu semakin mudah dan instant dengan bantuan teknologi.

Jadi, bila seseorang berada ‘berjauhan’ dengan gadget membuat seseorang tersebut menjadi anxiety, gelisah. Orang dengan gejala FOMO kuatir akan tertinggal berita menarik atau tertinggal cerita seputar kehidupan di social networknya. Lazim terjadi di orang-orang yang seolah sudah tidak bisa dilepaskan dari gadgetnya. Lebih baik tertinggal dompet daripada tertinggal gadget. Ini gambarkan tingkat ketergantungan yang hebat terhadap ‘what is going on’ di alam seputar network mereka yang sudah lekat di genggaman. Read More →

ZMOT – Zero Moment of Truth

Sepuluh tahun lalu, suami saya punya kebiasaan menyempatkan diri seharian di Glodok, hanya untuk mempelajari barang elektronik yang akan dibelinya. Belum lagi ditambah kesibukannya telpon teman-temannya yang sudah memiliki model elektronik yang sama.

Era itu sudah berlalu. Suami saya sekarang hanya perlu membuka iPad nya untuk browsing semua barang elektronik idamannya. Tidak perlu secara fisik hadir di toko di Glodok, karena toko-toko Glodok sudah bisa diakses via Internet. Tidak perlu spend waktu menelpon teman-temannya, karena dengan googling saja, berbagai review sites akan menyediakan informasi apapun yang ia harapkan. Mengeksplorasi ‘Moment of Truth’ konsumen lainnya.

FMOT, SMOT lalu ZMOT

Istilah ‘Moment of Truth’ sudah lama digunakan untuk menjelaskan moment penting interaksi antara konsumen dengan brand, pada saat brand dicoba (atau dibeli). Bila ternyata janji-janji nya tidak terpenuhi, maka moment ini dianggap gagal. Moment of Truth akan membuka, membeberkan ‘siapa’ diri brand itu sebenarnya. Read More →

Ulah Opinion Former: Jokowi dan ARB

Ada dua topik yang ramai dibahas di media sosial belakangan ini:

- Jokowi akhirnya Nyapres juga – Opini masyarakat dibentuk ke arah pengkhianatan janji Jokowi terhadap rakyat Jakarta. PDIP mempertahankan pendapatnya bahwa pencalonan Jokowi merupakan dorongan aspirasi rakyat Indonesia.

- Beredar video di Youtube berisikan ARB plesiran dengan Marcella dan Olivia ke Pulau Maladewa -  Partai Golkar beranggapan ini merupakan bagian dari Black Campaign dari pihak yang ingin menjatuhkan ARB dan merusak imagenya. Opini publik digiring pada sebuah situasi dimana calon presiden harus punya komitmen terhadap keluarganya sendiri sebelum kepada rakyat Indonesia.

Controllable vs Uncontrollable

Di era lama, dimana sebuah Brand masih bisa mengendalikan pesan yang disampaikan melalui media cetak dan elektronik, maka yang dibutuhkannya adalah Nara Sumber terkemuka yang kemudian dijadikan Opinion Leader.

Di saat sebuah media cetak mengulas berita yang miring tentang sebuah Brand, pengendalian masih bisa dilakukan oleh sebagian orang (kasus pembelian koran Tempo dalam jumlah besar-besaran pada saat mengangkat rekening gendut polisi, misalnya).

Di era Internet seperti sekarang ini, kehadiran media-media sosial adalah bagian dari mimpi buruk Brand Owner dan konsultan PR nya pada saat sedang menjadi ‘sasaran’ pemberitaan negatif. Berita yang dipublikasikan di media ini bersifat uncontrollable.

Youtube yang berisikan video ARB-Maladewa sudah tidak bisa diakses lagi, karena  langsung di block saat itu juga. Tetapi, peredaman diskusi tentang keberadaan video itu sangat sulit untuk dikendalikan. Justru akun Youtube yang diblock itu memancing diskusi yang lebih panjang dan berbumbu. Read More →