Gita Wirjawan: Sempurna vs Pain Points

Ganteng, Kaya raya, Professional, Enak dipandang, Santun, Cerdas, Rendah hati, visi global. Ditambah lagi: Pintar bernyanyi, bermain piano, saxophone..

Seperti kata lagu “Kau begitu Sempurna……”

Sempurna? Sempurna menurut siapa? Itu saja concern saya membaca banyak berita dan ulasan bahwa seorang Gita Wirjawan (GW) ini dinilai sempurna sebagai calon presiden Republik Indonesia.

Sempurna itu sangat kontekstual terhadap nilai-nilai yang diyakini oleh sebuah kelompok yang sedang didekati. Sempurna sebagai sebuah ‘konklusi’ tidaklah absolut, tetapi sangat kontekstual.

Kesempurnaan itu harus dikalibrasi ulang dengan ‘needs’ dari audiencenya, sehingga kita tidak terjebak dengan gaya ‘produsen oriented’. Pemasaran yang berhasil haruslah customer oriented, audience oriented.

Apakah benar bahwa ‘needs’ masyarakat saat ini membutuhkan seorang Presiden yang ganteng? Yang kayaraya? Yang bahasa Inggrisnya bagus, lulusan luar negeri? Yang enak dipandang? Yang pintar bernyanyi? Pintar bermain musik?

Read More →

SBY: Mengelola Great Last Impressions

Banyak ungkapan merujuk ke pentingnya “First Impressions”, tetapi masih jarang yang membahas “Last Impressions”. Padahal, apa yang diproyeksikan dalam First Impressions, menjadi sia-sia pada saat Last Impressions nya berantakan.

First Impressions adalah sebuah keyakinan atau pemahaman terhadap sesuatu di saat awal pertemuan atau eksposure. Pada saat seseorang sedang melamar pekerjaan, ia sibuk membuat riwayat hidup sebaik-baiknya dan berdandan sebaik mungkin di hari interview nya.

Masih banyak yang berpendapat bahwa First Impressions sajalah yang perlu dikelola dengan baik, karena ini menyangkut akan diterima atau tidaknya seseorang pada jabatan yang dilamar. Pada saat akan exit dari pekerjaan, tidak ada langkah-langkah khusus membuat “Great Last Impressions”.

Pada umumnya berpikir bahwa “sudah tidak ada gunanya lagi effort khusus untuk membangun impresi yang baik, karena sudah mau pindah”.  Masih sedikit yang bekerja lebih keras dari biasa, menjalin ramah tamah persahabatan dengan usaha lebih tinggi, serta menjaga agar tidak ada celah dalam proses transisi pergantian personal nantinya.

Situasi ini mengingatkan saya kepada Presiden SBY karena bulan-bulan ini bisa dikatakan merupakan saat-saat terakhir beliau sebagai kepala negara. Impresi terakhir seperti apa yang akan melekat di hati masyarakat?

Karena ‘Great Last Impressions’ ini sangat penting, maka sebaiknya SBY dan teamnya membuat perencanaan JOB DEPARTURE ini secara terperinci dan seksama, terutama yang menyangkut aspek personal brand nya. Semua gap yang mungkin terjadi dalam pengelolaan ‘Great Last Impressions’ di panggung terakhirnya, harus diantisipasi dan dihadapi. Read More →

Obama Selfie: Koridor Konteks

‘A picture worth thousand words’

Dalam studi etnografi sering diulas betapa sebuah gambar bercerita banyak tentang sebuah situasi, sebuah rekaman yang nyata terhadap ekspresi interaksi antar aktor.

Karenanya, dalam etnografi pemasaran, kekuatan gambar itu juga mendasari pengumpulan foto-foto tentang kegiatan konsumen dalam kesehariannya.

Sangat menarik mengikuti perkembangan kasus Foto ‘Selfie’ Presiden Obama. Dari satu dua foto saja, cerita yang berkembang di media massa dan media sosial sudah sedemikian luas dan melebarnya.

Eksposure pertama saya tentang foto ‘Selfie’  Presiden Obama bersama Perdana Menteri Inggris David Cameron dan Perdana Menteri Denmark Hellen Thorning Schmidt adalah dari Facebook salah satu teman. Kesan instan, seperti yang bisa diduga adalah keheranan dan langsung mempunyai prejudice tentang betapa tidak sensitif nya para kepala negara tersebut. Saat pemakaman tentu bukan saat yang tepat untuk ‘berfoto-ria’ apalagi secara ‘selfie’ tersebut. Read More →

Dokter 2.0: Pergeseran Kekuasaan

Perubahan yang sangat fenomenal terhadap relationship antara konsumen dengan produsen di dunia pemasaran rupanya sudah berimbas hingga ke dunia layanan kesehatan. Di dunia pemasaran, kita melihat adanya tekanan bagi pemasar untuk berubah dari pemasaran one-way, product oriented (Marketing 1.0) menjadi pemasaran two-way, customer-oriented (Marketing 2.0). Pergerakan peranan Dokter dalam layanan kesehatan – perlahan tetapi pasti – mendesak para Dokter untuk transformasi menjadi Dokter 2.0.

Topik demo Dokter sudah dibahas dari berbagai sisi, terutama dari sisi kedokteran, sisi hukum, sisi kemasyarakatan, kemanusiaan, keadilan, dll. Tulisan Branding Solution kali ini akan fokus pada sisi pemasaran jasa, khususnya tentang situasi shifting of power, pergeseran kekuasaan antara para aktor yang berperan. Read More →

Frame of Reference dan Citra MK

Dalam keseharian, tanpa sadar kita sering terjebak pada ‘frame of reference’ tertentu dan kurang bisa melihat informasi baru atau informasi lain dalam menganalisa sebuah situasi. Akhirnya action yang diambil menjadi tidak tepat karena analisa short cut setelah terjebak dalam frame tertentu.

“Can you speak bahasa?”

Saya sudah bosan mendengar kalimat ini diucapkan oleh orang-orang yang tidak mengenal saya, terutama di airport dan di hotel. Tetapi saya masih memakluminya karena ‘setting lokasi’ tersebut masih cocok. Wajah saya yang ‘tidak lokal’ ini digunakan sebagai salah satu frame of reference mereka.

Sebaliknya, pada saat berada di setting yang seharusnya menjadikan saya ‘orang lokal’ saja, seperti di supermarket di Pondok Aren dimana saya tinggal selama lebih dari 15 tahun, saya kurang respek pada seseorang yang menyapa dengan kalimat ‘Can you speak bahasa?’ Ini adalah cermin kecerobohan dan short cut audience analysis yang seharusnya bisa dihindari.

Read More →