GOJEKisasi dan Pemahaman Konsumen

“Promo gojek ceban memberikan satu sisi negatif. Bikin males jalan kaki. Hahaha”

Ini adalah salah satu isi twit komentar tentang Brand Gojek yang ‘ngasal’ alias ‘jaka sembung/nggak nyambung’.

Nyambung atau tidak nyambung tidak penting lagi dalam brand communication di media sosial. Yang penting menarik untuk dibaca, apalagi membuat orang senyum-senyum sendiri, dan kemudian di-share/dibagikan ke teman lainnya.

Memang Gojek fenomenal. Banyak pelajaran berharga yang bisa dipetik dari fenomena Gojekisasi ini. Pembahasan tentang Gojek, baik positif maupun negatif beredar di mana-mana. Semakin banyak dibahas, tingkat word-of-mouth communication menjadi semakin tinggi.

Interaksi saya dengan Brand Gojek saat Brenda, mahasiswa yang sedang skrispsi meminta mengirim buku Personal Branding tulisan saya agar bisa sampai di hari yang sama karena akan digunakan sebagai referensi. Yang biasanya pembelian buku dikirim via kurir, hari itu dikirim via Gojek dan sukses sampai dalam satu jam saja.

Kata kuncinya adalah Cepat dan MUDAH. Read More →

Pilkada dan Soulmate Situasional

“Aku satu dosen pembimbing dengan dia nih…teman seperjuangan.” Itu yang saya baca di sebuah group WA teman-teman kuliah, sewaktu salah satu dari teman kami jadi narasumber di sebuah acara talkshow TV.

Pada saat seseorang cemerlang, memang mudah mencari yang mau mendekat bahkan mengatakan berasosiasi dengannya. “Itu tetangga saya lho….” atau “dulu kami pernah satu kost” atau seribu satu kaitan dalam kehidupan lainnya. Intinya dengan membanggakan itu, ada makna brand cemerlang yang ikut di-leverage. Kalau temannya hebat, ya seharusnya saya sedikitnya ikut lumayan hebat.

Bagaimana jika sebaliknya?

Coba pikirkan.  Ada seseorang yang ditangkap KPK dan menjadi tersangka korupsi. Tiba-tiba banyak orang yang menghilangkan jejak, tidak merasa kenal, tidak tau menahu dan mencoba ‘delete’ foto-foto di media sosial yang berhubungan dengan tokoh negatif tersebut.

Ini termasuk kegiatan Disosiasi terhadap Brand. Kebalikan dari Brand Association. Disosiasi ini bertujuan menjauhkan atau mengurangi dampak sinergi makna brand tertentu ke dalam brand sendiri. Read More →

SALES Leadership Program: Personal Brand for Sales Professional

Siapa bilang Personal Branding hanya untuk ARTIS atau pemimpin Partai dan pemimpin perusahaan. Tukang Sayur saja perlu Personal Brand Cemerlang, agar dipilih oleh para langganannya. Apalagi seorang Sales Professional. Tentu sangat perlu.

Cargill Feed and Nutrition dipimpin Pak Totok Setyarto mengundang Amalia E. Maulana untuk berbagi tentang pentingnya Personal Brand bagi Sales Professional ini di Acara kwartalan mereka: Sales Leadership Program.

Dihadiri hampir 30 orang Sales Professional acara diselenggarakan di Hotel Horison, Bogor tanggal 1 Oktober 2015, bersamaan dengan Acara gathering yang secara regular diselenggarakan secara Internal.

Acara berlangsung seru, karena mengena bagi konteks keseharian para peserta, untuk membina relationship dengan pihak Internal maupun Eksternal Perusahaan. Selamat Membina Personal Brand. Semoga Brand nya Semakin Cemerlang dan juga tidak lupa semoga Sukses bagi Co-branding dengan Cargill nya.

https://www.linkedin.com/pulse/sales-leadership-program-personal-brand-professional-maulana?trk=hp-feed-article-title-publish

FOMO dan Crowd Sourcing

Banyak penyakit psikologis yang berhubungan dengan masalah sosial yang timbul di alam modern atau digital ini, yang sebenarnya bukan penyakit baru. Narsisme, sebagai contoh sebuah ‘penyakit sosial’. Dulu, ‘narsis’ diartikan sebagai gejala psikologis yang dihindari. Tetapi sekarang dari sisi yang berbeda, bisa dikatakan bahwa tanpa modal narsis, tidak mungkin seseorang bisa eksis.

Narsisme Sehat atau bisa disebut narsisme dalam koridor yang bisa ditoleransi secara positif, tidak berlebihan, tetapi tetap hasilkan eksposur yang diharapkan. Selebriti baru di dunia social yang bina personal brandnya dengan baik dan kemudian didaulat jadi endorser-buzzer hasilkan income lumayan.

Gejala masalah sosial atau psikologis lain yang juga bermetamorfosa di dunia baru, dunia digital ini disebut FOMO – ‘Fear of Missing Out’. Ini sebuah bentuk social anxiety, kegelisahan seseorang yg kuatir akan ketinggalan kesempatan untuk berinteraksi social dan tahu hal baru. Andrew K. Przybylski Ph.D. dalam studinya menemukan bhw FOMO adalah kondisi psikologis yang dialami oleh orang-orang yang selalu ingin dihargai. Gejala ini terasa percepatannya pada saat interaksi antar individu semakin mudah dan instant dengan bantuan teknologi.

Jadi, bila seseorang berada ‘berjauhan’ dengan gadget membuat seseorang tersebut menjadi anxiety, gelisah. Orang dengan gejala FOMO kuatir akan tertinggal berita menarik atau tertinggal cerita seputar kehidupan di social networknya. Lazim terjadi di orang-orang yang seolah sudah tidak bisa dilepaskan dari gadgetnya. Lebih baik tertinggal dompet daripada tertinggal gadget. Ini gambarkan tingkat ketergantungan yang hebat terhadap ‘what is going on’ di alam seputar network mereka yang sudah lekat di genggaman. Read More →

ZMOT – Zero Moment of Truth

Sepuluh tahun lalu, suami saya punya kebiasaan menyempatkan diri seharian di Glodok, hanya untuk mempelajari barang elektronik yang akan dibelinya. Belum lagi ditambah kesibukannya telpon teman-temannya yang sudah memiliki model elektronik yang sama.

Era itu sudah berlalu. Suami saya sekarang hanya perlu membuka iPad nya untuk browsing semua barang elektronik idamannya. Tidak perlu secara fisik hadir di toko di Glodok, karena toko-toko Glodok sudah bisa diakses via Internet. Tidak perlu spend waktu menelpon teman-temannya, karena dengan googling saja, berbagai review sites akan menyediakan informasi apapun yang ia harapkan. Mengeksplorasi ‘Moment of Truth’ konsumen lainnya.

FMOT, SMOT lalu ZMOT

Istilah ‘Moment of Truth’ sudah lama digunakan untuk menjelaskan moment penting interaksi antara konsumen dengan brand, pada saat brand dicoba (atau dibeli). Bila ternyata janji-janji nya tidak terpenuhi, maka moment ini dianggap gagal. Moment of Truth akan membuka, membeberkan ‘siapa’ diri brand itu sebenarnya. Read More →