Workshop BRANDMATE


BRANDMATE Workshop digelar kemarin, Rabu 11 April 2012 di Cafe Resto Capital Grille Jakarta.

Dihadiri oleh praktisi dari berbagai industri dari real estate, farmasi, hypermarket, rumah sakit, digital consulting, bank, cinema, dll, Amalia E. Maulana sebagai penulis buku mengupas konsep BRANDMATE dengan contoh-contoh yang nyata.  Digelar 4 sesi hari ini, termasuk 1 sesi exercise dimana peserta workshop diminta mendiskusikan case study dan presentasi hasilnya kepada hadirin. Dalam diskusi case study, aplikasi konsep branding yang sedang dipelajari menjadi lebih jelas dan kongkrit.

Branding is a process. Start it Now!

Selamat menjalankan branding dengan lebih tajam lagi untuk para peserta workshop. Good luck.  Keep in touch dan ditunggu sharing nya seputar implementasi workshop di konteks perusahan masing-masing.

Selamatkan Pencitraan yang Tercemar

Kolom Branding Solution.

Di sini pencitraan. Di sana pencitraan. Di mana-mana pencitraan.

Kata Pencitraan sedang ngetrend. Setelah selesai sidang paripurna, di media formal dan sosial, obral kata pencitraan. Contohnya:

- Sidang paripurna DPR menjadi media untuk ‘pencitraan’ partai politik. Jelas terlihat adanya ‘pencitraan’ dalam sidang tersebut (herrygaara5’s blog).

- Penolakan PDIP terhadap kenaikan BBM bersubsidi hanyalah sebuah ‘pencitraan’ saja agar mendapat simpati rakyat menjelang pemilu 2014 (berita media).

- Pecahnya koalisi PKS: jangan menjual nama rakyat dengan tujuan ‘pencitraan’ (berita media)

Dahlan Iskan juga sering dituding melakukan pencitraan. Ini dari media sosial:

- Thread di Kaskus.com: Trik ‘pencitraan’ Dahlan Iskan. Janji2 Dahlan Iskan yg sering dimuat di media, yang dapat simpati luas, tapi jarang diperhatikan realisasinya oleh publik Read More →

Brand Extension: Jakarta bukan Solo, Jokowi!

Kolom Branding Solution.

Kalau ada yang mengatakan Jakarta bukan Solo, Pak Jokowi, saya sarankan, jawab saja, “So what? Jakarta memang bukan Solo, tapi bisa saya ‘Solo’kan jika diberi kesempatan.

Saat ini, percayalah, Pak, banyak yang bermimpi Jakarta bisa seperti ‘Solo’.

Artinya, banyak masalah di Jakarta yang menumpuk yang bisa selesai karena pemimpinnya mau menyelesaikannya, bukan hanya mengatakan akan menyelesaikannya. Eksekusi lebih penting dari hanya strategi saja – Eksekutor.

Artinya, Jakarta bisa punya pemimpin yang tidak ragu langsung terjun di lapangan dan tidak hanya duduk di Ivory tower. Trouble shooter.

Artinya, Jakarta akan punya pemimpin yang punya integritas. Yang mengemban tugas kerakyatan karena panggilan hatinya, bukan karena iming-iming fasilitas. Yang bisa dipercaya. Amanah. Read More →

Atasi Korupsi via Strategi Cobranding

Headline dan berita bombastis di koran dan tabloid akhir-akhir ini membuat saya stress. Coba simak tiga berita ini: (1) Rudy Kurniawan, pria Warga Negara Indonesia (WNI) menggegerkan Amerika Serikat karena koleksi wine langkanya palsu. (2) Kisah sembilan wanita yang tersandung kasus korupsi.  Angie, Nunun, Miranda, Malinda, Rosa, Wa Ode, Dharnawati, Ayin dan Darmawati. Dikatakan, mereka adalah wanita berkarir cemerlang, uang melimpah dan dari keluarga yang harmonis. (3) Mafia Pajak dan Reformasi Birokrasi. Habis Gayus terbitlah Dhana.

Bagaimana tidak stress? Saya sangat punya kepentingan terhadap brand-brand yang disebutkan di dalam headline tersebut. Orang Indonesia penipu? Saya kan orang Indonesia. Wanita korupsi? Saya kan sama dengan mereka, wanita yang diberi kesempatan untuk punya karir diluar rumah.  Mafia pajak? Wah, ini keterlaluan. Saya adalah pembayar pajak yang setia.

Sebagai orang Indonesia, malu membaca bahwa Indonesia dikaitkan dengan berita buruk tentang salah satu warganya. Country brand image Indonesia sudah diusahakan untuk bergerak naik dari berbagai aspek, mulai dari Destination Idol Komodo hingga Sri Mulyani calon pemimpin Bank Dunia. Sekarang, harus rela melorot gara-gara pemberitaan miring tentang wine collector yang ternyata fraud (penipuan). Kepercayaan terhadap Indonesia dan barang-barang yang dihasilkan oleh negara Indonesia pasti terganggu. Read More →

Mengubah Just Friends Menjadi Soulmates

Oleh Mardiana Makmun, Investor Daily, 29 Februari 2012

Teman biasa mudah dicari, tetapi menemukan teman sejati memerlukan proses panjang yang tidak pernah berhenti. Amalia E Maulana, brand consultant & ethnographer, menganologikan hal itu dalam buku Brandmate: Mengubah Just Friend menjadi Soulmates

Branding seperti menjadi napas Amalia E Maulana. Sekian lama berkutat dengan branding, Amalia menemukan banyak permasalahan. Yang paling fatal menurutnya adalah kesalahan persepsi bahwa branding sama dengan marketing communication (marcom).

“Jadi, branding dipersepsikan sama dengan kegiatan marcom, seper ti pembuatan logo, slogan, iklan, event, spanduk, dan pameran saja,” ungkap Amalia dalam peluncuran buku Brandmate: Mengubah Just Friend menjadi Soulmates, di Jakarta, pertengahan Februari lalu.

Dalam sebuah bisnis, branding dibutuhkan agar bisnis berjalan terus dan menghasilkan penjualan yang terus meningkat. Tapi sekali lagi tegas dia, branding lebih dari sekadar kegiatan marcom. “Kegiatan branding mencakup bagaimana proses pencapaian cita-cita perusahaan melalui berbagai kegiatan, bukan marcom saja,” tegas dia lagi. Read More →