Branding ala Korporasi & Perang Kumis

Jokowi terusik dengan publikasi tentang Jakarta sebagai salah satu dari 10 kota yang paling dibenci oleh turis mancanegara.  Dan dalam pertemuannya dengan wartawan dikatakan Jokowi bahwa hal ini terjadi karena tidak ada manajemen brand yang baik di Jakarta.

“Dibangun dong brandnya, entah itu sebagai kota mode, kota karnival atau lainnya. Tidak mesti seperti Paris juga. Misalnya sebagai kota festival, dibangun. Jadi muncul brand itu.” Demikian uraian dari Jokowi.

Sebenarnya kurang tepat pendapat Jokowi bahwa Jakarta belum pernah membangun positioning brandnya.Hasil pencarian di google tentang kota Jakarta menjelaskan bahwa sudah beberapa kali pengelola kota ini mencoba mengangkat citra kota Jakarta melalui berbagai tagline nya.  Berikut adalah berbagai tagline yang terkumpul dari berbagai website dan kegiatan kota Jakarta: (1) Enjoy Jakarta, (2) Jakarta Surga Belanja, (3) Jakarta Hijau, (4) Jakarta the City of Music Festival, (5) Jakarta Sejuta Bunga. Read More →

Redefinisi Makna Brand Ariel dan Pancasila

Ariel boleh dipenjara seribu tahun lamanya, tetapi bagi penggemarnya, Ariel tetap ‘sesuatu’. Kemunculan Ariel kembali di kancah  musik dan disambut Arielmania, tentu menggambarkan kekuatan sebuah brand.

Apakah makna brand Ariel masih sama seperti sebelum terkena kasus? Sudah tentu tidak. Mau atau tidak mau, band Ariel saat ini sudah mengalami era definisi baru. Oleh karena itu, penting bagi Manajemen Ariel untuk segera berbenah, mengatur redefinisi brand Ariel secara lebih terstruktur.  Siapakah the New Ariel? Apa yang menjadi kekuatan musiknya? Bagaimana memastikan agar penggemar (lama dan baru) tidak ragu dalam berinteraksi dengannya. Berikan alasan kuat untuk tetap datang di setiap konsernya, mendengarkan dan membeli hasil karyanya.

Redefinisi sebuah brand ini mutlak dilakukan setelah terjadi guncangan terhadap makna original. Pada saat brand Ariel melejit, kesuksesan Ariel dengan bendera Peter Pan selalu dikaitkan dengan hal-hal positif.  Takdir berkata lain, pada satu titik, terjadi degradasi nilai brand, tercampur dengan aspek-aspek negatif. Ini jelas melemahkan ekuitas brand Ariel. Read More →

Marketing tanpa Marketing: Lady Gaga

Akhirnya Lady Gaga bisa manggung juga!

Demikian kata salah satu rekan kantor. Yang lain menimpali, “Benarkah? Apakah yakin penyelenggaranya sudah dapat ijin? Jadi, tiketnya sudah berlaku lagi?” Dan seterusnya dan seterusnya. Pembahasan tentang Konser Lady Gaga dimulai lagi hari ini di sela-sela kesibukan kantor.

Baru di lingkungan kantor kami saja, cerita tentang Lady Gaga sudah setumpuk. Informasi diperoleh dari sejuta posting di Twitter, beragam berita di media cetak, tontonan saling silang di berbagai talkshow di teve. Setiap orang yang punya cerita baru bersemangat memaparkan fakta tersebut, jika perlu ditambahkan opininya sendiri, biar makin seru. Cerita demi cerita tentang Sang Diva dirangkai tanpa sutradara.

Dampak dari awan Lady Gaga yang menyelimuti suasana kantor ini sangat terasa. Tiba-tiba ada sekian orang yang menjadi kenal brand ini, padahal mungkin sebelumnya terdengar saja tidak di alam mereka. Lalu, dari sekian banyak yang sekedar tahu tetapi belum terlalu paham, mereka berubah status. Meningkat dari orang awam menjadi ahli di bidang permusikan dan fashion serta dampaknya terhadap kultur budaya. Menelusuri lirik-lirik lagunya. Mengamati kostum yang dikenakannya. Read More →

PR Bukan Bisnis Kosmetika

Saya trenyuh kala membaca cuplikan kata sambutan Ibu Endang Rahayu Sedyaningsih dari bukunya Berdamai dengan Kanker yang dilansir di berbagai media termasuk media sosial.

Almarhumah Ibu Endang menganggap bahwa derita penyakit kanker dalam dirinya adalah salah satu anugerah dari Allah SWT. Beliau tidak bertanya,“Why Me?” justru menyatakan “Why not?” karena beliau sudah merasa memperoleh begitu banyak kebaikan dalam hidupnya (yang ternyata terasa singkat).Tegar sebagai orang yang terpilih. 

“Ibu atasan yang baik,”ujar salah satu staf Kementerian Kesehatan sambil menitikkan air mata di hari pemakamannya. Itu berita lain yang saya baca tentang beliau. Sayang sekali berita-berita baik ini terlambat sampai ke masyarakat luas. Jika berita baik ini dipublikasikan jauh sebelum beliau tiada, tentu akan lebih banyak pihak yang mendukung pekerjaan beliau untuk negara.

Kita juga belum lama ini ditinggalkan oleh tokoh Wakil Menteri ESDM Profesor Widjajono Partowidagdo.Bagaimana sosok beliau, belum banyak yang mengenalnya, selain menjadi salah satu menteri unik: berpenampilan sederhana dan berambut gondrong. Mungkin karena masa jabatan yang relatif singkat? Padahal, setelah beliau tiada,saya mulai banyak membaca,ternyata Pak Wamen ini banyak sisi positifnya. Read More →

Bukan Sekedar Baju

‘Baju aja repot banget sih Mama!’

Anak saya biasanya cemberut pada saat diminta ganti baju untuk pergi ke pesta keluarga, karena bajunya tidak ‘pas’.

Seperti anak saya, masih banyak yang berpendapat bahwa pakai baju itu selera jadi terserah mereka saja. Orang mau suka boleh, tidak ya tidak mengapa. Ini adalah gaya orang-orang yang masih berpikiran dari dalam ke luar. Artinya tidak memikirkan secara serius pendapat orang di sekitarnya tentang apa yang dikenakannya.

Citra seseorang, mau atau tidak mau, akan dibentuk dari atribut yang disandangnya. Baju merupakan salah satu elemen personal branding yang melekat dekat dengan asosiasi personality diri sendiri. Read More →