Tetap Soulmate di Putaran Berikutnya?

Jika ada sebuah perusahaan besar yang merayakan kesuksesannya berdasarkan jumlah pelanggan ke sekian juta, saya justru prihatin. Ini adalah pemborosan dana perusahaan. Baru jadi pelanggan saja jangan dirayakan dulu. Tahan perayaannya, belum waktunya untuk sesumbar sudah sukses.

Kalau semua pelanggan yang jumlahnya sekian juta itu sudah menjadi pelanggan setia, baru boleh kita merasa bangga. Karena tugas merekrut pelanggan itu jauh lebih mudah daripada menjadikannya pelanggan loyal.

Branding adalah proses yang tidak pernah selesai.  Tugas pertama dalam branding adalah mencari just friends atau teman biasa, lalu dalam proses berikutnya adalah mengkonversinya menjadi good friends. Terberat memang menjadikan good friends menjadi soulmate, teman sejati.

Apakah setelah menjadi soulmate, tugas kita selesai? Pelanggan setia adalah tipe pelanggan yang paling sensitif. Perhatian kepadanya tidak boleh putus, tidak boleh terhenti. Pelanggan setia yang sakit hati akan menjadi negatif word-of-mouth yang sangat sulit untuk diyakinkan kembali setelah pindah ke lain hati. Read More →

Nobatkan CEO menjadi Brand Director

Pada hari Kamis, 12 Juli 2012, dalam Workshopnya yang berjudul “How Strong Is Your Corporate Brand?” Amalia E. Maulana, Direktur ETNOMARK Consulting menekankan bahwa masih banyak perusahaan yang tidak memikirkan Corporate Brand nya secara seksama. Kegiatan yang dilakukan sebagai usaha branding korporasi masih bersifat generik, belum kontekstual terhadap permasalahan yang mendasar yang dialami oleh perusahaan tersebut.

Workshop Corporate Branding ini diselenggarakan oleh ETNOMARK Consulting, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang Brand Consulting dengan pendekatan ethnography. Sebanyak lebih dari 40 orang eksekutif puncak dan jajaran Corporate Communication Manager dari berbagai perusahaan, nasional maupun multinasional hadir dalam acara yang disponsori oleh Astra Internasional dan Majalah Marketing.

Banyak Decision makers yang memandang branding sebagai kegiatan komunikasi (Marcom) saja, demikian jelas Amalia. Padahal, branding lebih luas dari sekedar mengganti logo perusahaan, memikirkan slogan atau melakukan kampanye iklan secara jor-joran. Sebagai contoh, perusahaan BUMN seringkali menghabiskan dana sangat besar untuk komunikasi pemasaran dan korporasinya, tetapi tanpa didahului dengan proses identifikasi segmentasi stakeholder dengan baik. Apabila dilakukan perencanaan strategik secara baik, Amalia menyatakan bahwa dengan biaya setengahnya saja sudah bisa dicapai apa yang diharapkan. Read More →

Pakar: Stop Pemborosan Biaya Branding BUMN

(ANTARA News) – Badan Usaha Milik Negara (BUMN) perlu berbenah dalam strategi “branding” korporasinya karena saat ini apa yang dilakukan dalam usaha branding korporasi di BUMN lebih banyak bersifat kegiatan generik tidak konteksual terhadap permasalahan yang dihadapi oleh BUMN sebagai brand, kata seorang pakar.

Direktur Etnomark Consulting Amalia E. Maulana Ph.D mengatakan di Jakarta, Jumat, bahwa masih banyak pembuat keputusan di BUMN yang memandang branding sebagai kegiatan komunikasi saja.”Padahal branding bukan hanya sekedar kegiatan ganti logo, ganti slogan dan pasang iklan dan spanduk sana-sini,” kata Amalia Maulana sehari setelah penyelenggaraan lokakarya yang berjudul “How Strong Is Your Corporate Brand”.

Menurut dia, justeru yang sering dikerjakan secara cepat dan tidak akurat oleh perusahaan aset negara ini adalah tahap branding yang paling kritikal yaitu tahap identifikasi. Tahap riset identifikasi pemahaman tentang segmentasi konsumen dan pemilihan segmen yang akan digarap, sering disepelekan.  Read More →

Pilgub: Debat Terbuka atau Sidang Thesis?

Salah satu teman yang bekerja sebagai statistician di sebuah universitas posting di dalam facebooknya mengatakan bahwa salah satu pekerjaannya selain secara teknis menganalisa data dan menyimpulkan – juga termasuk memanipulasi data kalau tidak sesuai harapan….

Wah, ini langsung mengundang komen saya terutama bagian yang paling akhir tersebut dan mempertanyakannya. Bisa ditebak, jawabannya adalah karena itu kemauan klien. Menyenangkan klien ternyata lebih penting daripada mengajak seseorang untuk mencari cara lain dalam menjelaskan hasil riset.

Ini persoalan besar. Di dunia pendidikan, dimana seorang sedang dilatih untuk menjadi peneliti, sudah menghalalkan segala cara. Penelitian itu tidak harus sesuai dengan harapan. Kalau datanya tidak seperti yang dibayangkan, harus dihadapi dan dicari jawabannya, mengapa demikian? Itu nasehat dosen saya di UNSW dulu. Laporannya ya sesuai dengan kenyataan yang ada. Walaupun itu berarti saya harus menambah dua chapter lagi untuk revisi model dan analisa. Pelajaran ini sangat membekas di hati saya. Read More →

Upcoming Workshop, July 12th, 2012