<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Amalia E. Maulana</title>
	<atom:link href="http://amaliamaulana.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://amaliamaulana.com</link>
	<description>Branding, Marketing, Ethnography, Consultant, Internet, Research, Website, Communication, Strategy</description>
	<lastBuildDate>Tue, 15 May 2012 07:02:17 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1.2</generator>
		<item>
		<title>PR Bukan Bisnis Kosmetika</title>
		<link>http://amaliamaulana.com/blog/pr-bukan-bisnis-kosmetika/</link>
		<comments>http://amaliamaulana.com/blog/pr-bukan-bisnis-kosmetika/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 May 2012 03:24:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amalia E. Maulana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Published Article]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://amaliamaulana.com/?p=1142</guid>
		<description><![CDATA[Saya trenyuh kala membaca cuplikan kata sambutan Ibu Endang Rahayu Sedyaningsih dari bukunya Berdamai dengan Kanker yang dilansir di berbagai media termasuk media sosial. Almarhumah Ibu Endang menganggap bahwa derita penyakit kanker dalam dirinya adalah salah satu anugerah dari Allah SWT. Beliau tidak bertanya,“Why Me?” justru menyatakan “Why not?” karena beliau sudah merasa memperoleh begitu ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://amaliamaulana.com/wp-content/uploads/2012/05/kosmetika.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1143 colorbox-1142" title="kosmetika" src="http://amaliamaulana.com/wp-content/uploads/2012/05/kosmetika-250x250.jpg" alt="" width="200" height="200" /></a></p>
<p>Saya trenyuh kala membaca cuplikan kata sambutan Ibu Endang Rahayu Sedyaningsih dari bukunya Berdamai dengan Kanker yang dilansir di berbagai media termasuk media sosial.</p>
<div>Almarhumah Ibu Endang menganggap bahwa derita penyakit kanker dalam dirinya adalah salah satu anugerah dari Allah SWT. Beliau tidak bertanya,“Why Me?” justru menyatakan “Why not?” karena beliau sudah merasa memperoleh begitu banyak kebaikan dalam hidupnya (yang ternyata terasa singkat).Tegar sebagai orang yang terpilih.&nbsp;</p>
<p>“Ibu atasan yang baik,”ujar salah satu staf Kementerian Kesehatan sambil menitikkan air mata di hari pemakamannya. Itu berita lain yang saya baca tentang beliau. Sayang sekali berita-berita baik ini terlambat sampai ke masyarakat luas. Jika berita baik ini dipublikasikan jauh sebelum beliau tiada, tentu akan lebih banyak pihak yang mendukung pekerjaan beliau untuk negara.</p>
<p>Kita juga belum lama ini ditinggalkan oleh tokoh Wakil Menteri ESDM Profesor Widjajono Partowidagdo.Bagaimana sosok beliau, belum banyak yang mengenalnya, selain menjadi salah satu menteri unik: berpenampilan sederhana dan berambut gondrong. Mungkin karena masa jabatan yang relatif singkat? Padahal, setelah beliau tiada,saya mulai banyak membaca,ternyata Pak Wamen ini banyak sisi positifnya.<span id="more-1142"></span></p>
<p>Beliau adalah orang yang memiliki pemikiran inovatif,salah satunya inovasi pendekatan untuk mengatasi sekaligus menghasilkan nilai tambah untuk sektor energi dalam negeri. Saya baru menyadari bahwa Pak Wid adalah think tank tentang perlunya pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak. Beliau lebih suka berkata terus terang dan tidak berpurapura.“ Karena dengan berterus terang,negeri ini akan menjadi lebih baik,”kata beliau.</p>
<p>Sayang sekali kehebatan pemikiran Ibu Endang dan Pak Wid terlambat sampai ke masyarakat secara luas. Banyak perhatian kepada mereka justru setelah mereka tiada. Teman saya bilang, Ibu Endang dan Pak Wid tidak menyewa konsultan public relations (PR) sih. Menteri dan wakil menteri yang kurang publikasi, demikian teman saya bergurau.</p>
<p>Teman saya mengatakan lagi: itu bedanya Bu Endang, Pak Wid,dan Pak Dahlan. Samasama Menteri, tetapi yang dua tidak dikemas dengan public relations yang canggih. Sedangkan, Pak Dahlan, walaupun mungkin tidak membayar jasa konsultan branding atau PR, tetapi sudah sangat piawai untuk memainkan kartunya sendiri di media. Sebagai seorang mantan jurnalis tentu paham apa yang punya nilai newsyang tinggi dan hal apa yang tidak ada nilainya bagi konsumsi media. Siapa yang tidak kenal Pak Dahlan sekarang? Menteri yang tidak habis-habisnya dibahas di media.</p>
<p>Meramu Citra</p>
<p>Sebenarnya seberapa perlu pengemasan citra ini? Dan bagaimana seputar etika bisnis konsultan PR dalam mengomunikasikan kebaikan diri? Berbicara tentang pekerjaan konsultan PR, saya teringat sahabat saya Syafiq Basri, seorang pakar di bidang jurnalistik. Beliau meminta komentar saya tentang tulisannya seputar keetisan yang dilakukan oleh diktator Arab yang menyewa konsultan PR di Inggris untuk memoles citra mereka.</p>
<p>Tugas konsultan PR tersebut adalah memastikan agar berita yang tampil di media barat adalah berita baik yang disukainya saja. Berita negatif diminimalisasi jika bisa dihilangkan, dan berita positif walaupun sangat kecil, diangkat dan diperbesar. Hasil akhirnya, citra yang barangkali sudah sedemikian buruk di negara tokoh- tokoh diktator ini akan tertutup awan. Yang muncul adalah bunga-bunga dan polesan kosmetikanya saja. Persoalannya: etiskah yang dikerjakan Konsultan PR tersebut?</p>
</div>
<div>Sebelum memberikan komentar etis atau tidak etis,saya kembali bertanya: bagaimana yang di negara sendiri, Pak Syafiq? Apakah kurang contoh kasus etika yang dipertanyakan dalam pekerjaan PR di negara ini? Sebab, pengamatan saya menunjukkan banyak tokoh politik yang sangat bermasalah tetapi potretnya di media semakin indah dan bersinar.&nbsp;</p>
<p>Etika dalam PR</p>
<p>Ada banyak model PR ethics, salah satunya adalah attorney/ adversary model dari Barney and Black (1994). Model ini menganalogikan pekerjaan seorang konsultan PR dengan pekerjaan pengacara, karena kedua profesi ini adalah advokat dalam suasana yang penuh perdebatan benar/salah. Juga, keduanya mengasumsikan bahwa pesan-pesan yang disampaikannya akan selalu ada pihak lain yang mempunyai pendapat yang berbeda.</p>
<p>Dalam model ini,Barney and Black memang mengusulkan bahwa praktisi PR tidak punya obligasi untuk mempertimbangkan kepentingan publik atau point of view pihak lain. Karena, yang bertugas untuk counter balancing pesan yang dia sampaikan adalah tugas pihak lain, dan yang menjadi tugas utamanya adalah menyampaikan point of view dari kliennya saja.</p>
<p>Model ini tidak sepenuhnya diterima.Bagi yang menolaknya, mereka menganggap bahwa ada situasi yang berbeda dalam pekerjaan pengacara dan pekerjaan sebagai konsultan PR. Pengacara praktik dalam pengadilan hukum di mana ada jaminan bahwa setiap pihak mempunyai wakilnya. Sedangkan, praktisi PR bekerja dalam pengadilan opini publik.Tidak ada yang menjamin bahwa kepentingan publik ada yang mewakili bilamana ada pesanpesan yang harus di-counter.</p>
<p>Karena itu,seorang praktisi PR tidak bisa tidak memikirkan kepentingan publik pada saat proses memutuskan etika dalam pekerjaannya. Sebagai konsultan brand saya lebih cenderung pada pendapat yang menyatakan bahwa konsultan PR harus melihat secara seimbang dampak dari apa yang akan diwakilinya. Sebaiknya, konsultan PR berpikir ulang untuk menerima assignment pemolesan ala kosmetika itu.</p>
<p>Dalam jangka panjang, sejarah akan mencatat siapa konsultan PR tersebut. Branding korporasi sebagai konsultan PR perlu dijaga sebagai korporasi yang sensitif terhadap masalah publik. Saya sendiri termasuk yang percaya bahwa konsultan PR dibutuhkan untuk memperkenalkan prestasi seseorang, bukan sebagai ahli kosmetika saja. Saya masih merasa sayang saya tidak kenal Bu Endang dan Pak Wid sebelum mereka pergi.</p>
</div>
<div>(Dimuat di Kolom Branding Solution, Koran Sindo 9 Mei 2012)</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://amaliamaulana.com/blog/pr-bukan-bisnis-kosmetika/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bukan Sekedar Baju</title>
		<link>http://amaliamaulana.com/blog/bukan-sekedar-baju/</link>
		<comments>http://amaliamaulana.com/blog/bukan-sekedar-baju/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Apr 2012 06:53:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amalia E. Maulana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Published Article]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://amaliamaulana.com/?p=1131</guid>
		<description><![CDATA[‘Baju aja repot banget sih Mama!’ Anak saya biasanya cemberut pada saat diminta ganti baju untuk pergi ke pesta keluarga, karena bajunya tidak ‘pas’. Seperti anak saya, masih banyak yang berpendapat bahwa pakai baju itu selera jadi terserah mereka saja. Orang mau suka boleh, tidak ya tidak mengapa. Ini adalah gaya orang-orang yang masih berpikiran ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><a href="http://amaliamaulana.com/wp-content/uploads/2012/04/manset-baju.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1132 colorbox-1131" title="manset-baju" src="http://amaliamaulana.com/wp-content/uploads/2012/04/manset-baju-250x250.jpg" alt="" width="200" height="200" /></a>‘Baju aja repot banget sih Mama!’</em></p>
<p>Anak saya biasanya cemberut pada saat diminta ganti baju untuk pergi ke pesta keluarga, karena bajunya tidak ‘pas’.</p>
<p>Seperti anak saya, masih banyak yang berpendapat bahwa pakai baju itu selera jadi terserah mereka saja. Orang mau suka boleh, tidak ya tidak mengapa. Ini adalah gaya orang-orang yang masih berpikiran dari dalam ke luar. Artinya tidak memikirkan secara serius pendapat orang di sekitarnya tentang apa yang dikenakannya.</p>
<p>Citra seseorang, mau atau tidak mau, akan dibentuk dari atribut yang disandangnya. Baju merupakan salah satu elemen personal branding yang melekat dekat dengan asosiasi personality diri sendiri.<span id="more-1131"></span></p>
<p>Minggu lalu saya diminta untuk menjadi pembicara dalam acara Media Gathering peluncuran seragam baru kru kabin pesawat Citilink, penerbangan yang masuk kategori LCC (Low Cost Carrier).  Materi saya berjudul ‘Peranan Seragam Baru dalam Strategi Rebranding”.</p>
<p>Tampaknya sederhana, hanya ganti seragam saja.  Tetapi konsekuensi dari penggantian baju itu tidak sederhana. Dalam rebranding penggantian ‘baju’ punya implikasi yang luas, baik secara internal maupun eksternal.</p>
<p>Ganti baju bagi perusahaan itu sama dengan ganti janji. Baju baru merupakan pressure bagi individu agar berubah.  Jajaran pemakai seragam baru harus sudah siap menghayati makna “Fun, Fresh dan Young” yang diusung sebagai personality baru Citilink. Ganti baju harus diikuti oleh bergantinya sikap/attitude. Kru kabin harus memastikan bahwa pengalaman dalam perjalanan akan semakin menyenangkan. Moment of truth nya sukses. Promises delivered.</p>
<p>Dari apa yang disampaikan oleh Top Management Citilink, saya menilai mereka cukup serius dan punya komitmen yang tinggi untuk mewujudkan janji. Tentu hanya waktu yang bisa membuktikan bahwa JANJI bukan sekedar JANJI.  Brand ini harus mampu menciptakan kedekatan emosional pelanggannya menjadi loyal. Pencapaian branding masih dangkal pada saat konsumen hanya sampai batas  transaksional belaka, yaitu yang hanya mau ikut terbang kalau harganya paling murah.</p>
<p><strong>Baju dan Maknanya</strong></p>
<p>Saya membaca berita media tentang seputar ‘baju’ atau ‘penampilan’, ternyata cukup banyak issue positif dan negatif dalam berbagai permasalahan, dari sederhana hingga kompleks.</p>
<p>Kasus 1. <strong>Hotman Paris</strong></p>
<p>Pengacara Hotman Paris saat ini sedang terekspose seputar pertikaiannya dengan Meriem Bellina.</p>
<p>“Penampilan Hotman yang mentereng menjadi pusat perhatian khalayak yang melihatnya. Pakaian yang serba mahal selalu sekenakannya, tak ketinggalan aksesori kalung, gelang dan cincin berlian selalu melekat di tubuhnya.” (berita media).</p>
<p>Penampilan mewah adalah pilihan seseorang, dan bagi seorang Hotman mungkin ini ada hubungannya dengan pembinaan citranya dalam mempertahankan ‘kelas’ di dalam pekerjaan dan dalam kehidupan sosialnya. Sah-sah saja.</p>
<p>Kasus 2. <strong>Angelina Sondakh.</strong></p>
<p>Angie dinilai ganti ‘penampilan’ pada saat tersandung masalah korupsi wisma atlet. Baju putih polos dengan rambut diikat dan riasan sederhana adalah ‘gaya’ Angie yang dinilai sebagian orang adalah ingin mencitrakan sebuah kesederhanaan dan kepolosan. Padahal sebelumnya Angie dikenal sebagai sosok sosialita yang sangat trendy, fashionable dengan barang-barang bermerek. ‘Baju baru’ Angie tidak lepas dari pengamatan dan dibahas berhalaman-halaman di media formal dan sosial.</p>
<p>Kasus 3. <strong>Jokowi</strong></p>
<p>Kasus lain yang tidak kalah menarik adalah yang menimpa Jokowi.  Beliau tersandung kata-katanya sendiri. Salah kata bagi orang kebanyakan bisa dianggap biasa, tetapi tidak untuk seorang Jokowi.  Salah kata berbuntut panjang.</p>
<p>Bermula dari komentarnya yang dianggap tendensius. Pada saat ditanya mengapa tidak menggunakan baju koko, Jokowi secara spontan menjawab dengan bosan pakai baju koko dan kopiah serta tidak ingin persepsi berkembang seolah supaya disangka religius.</p>
<p>Jokowi mungkin tidak bermaksud terlalu jauh saat menyampaikan komentarnya. Tetapi, bagi lawan politiknya, iniseolah bola lambung, bereaksi sangat keras. Mereka berpendapat bahwa kalimat tersebut merendahkan kaum betawi dan budaya bangsa. Di media sosial, menuai pro dan kontra.</p>
<p>Kalau dianalisa lebih dalam, secara tidak langsung Jokowi sedang menjelaskan makna baju, bahwa ‘baju koko dan kopiah’ itu identik dengan ‘kebersihan, agamis, religius’. Bahwa ia tidak ingin menggunakan ‘baju’ tersebut sebagai kendaraan kampanyenya karena ‘bosan’ ini adalah sebuah makna tersamar. Bahwa selama ini sudah banyak yang menggunakan atribut ‘agamis’ tetapi ternyata perubahan yang dicita-citakan, <em>toh</em> belum terjadi. Karenanya Jokowi menggunakan ‘baju lain’ yang berbeda dari yang biasa. Kotak-kotak.</p>
<p>Makna baju kotak-kotak adalah menghargai pluralisme, beraneka ragam, baik dari suku, etnis, maupun agama, dan tetap hidup berdampingan dengan damai. Lengan baju yang digulung menjelaskan pemimpin harus siap bekerja, siap turun ke lapangan.</p>
<p>Kasus 4. <strong>Anggota DPR dan gaya hidup mewah</strong></p>
<p>Di media juga dibahas gaya hidup elegan dan mewah anggota DPR. Relevankah gaya mewah ini dipertontonkan? Menurut pendapat saya seharusnya di hari pertama dilantik menjadi wakil rakyat, jadi pejabat publik, penampilan sudah harus disesuaikan.</p>
<p>Mungkin sebelum menjadi anggota DPR memang mereka sudah kaya dan mempunyai penghasilan yang sangat tinggi sehingga mampu membeli jam tangan puluhan hingga ratusan juta rupiah. Bahkah mobil-mobil mewah yang juga dibawa kemana-mana, sebenarnya kurang ‘pas’ digunakan pada saat sedang melayani rakyat.</p>
<p>Jika lebih sensitif, sebenarnya para wakil kita di DPR harusnya tampil lebih sederhana. Tidak memberikan ‘angin’ untuk dipersepsikan terhadap hal-hal yang mengarah kepada kecurigaan publik akanasal usul uang untuk membeli semua ‘kemewahan’ tadi.</p>
<p>Baju dan penampilan ternyata tidak sederhana jika sudah dikaitkan dengan makna dan persepsi terhadap diri seseorang. Tidak bisa lagi mengatakan, <em>“Baju aja koq repot amat sih. Suka-suka saya dong…”</em></p>
<p>(Dimuat di Kolom Branding Solution, Koran Sindo, 25 April 2012)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://amaliamaulana.com/blog/bukan-sekedar-baju/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Workshop BRANDMATE</title>
		<link>http://amaliamaulana.com/seminar/1117/</link>
		<comments>http://amaliamaulana.com/seminar/1117/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Apr 2012 02:07:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amalia E. Maulana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seminar]]></category>
		<category><![CDATA[Talk Show]]></category>
		<category><![CDATA[Workshop]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://amaliamaulana.com/?p=1117</guid>
		<description><![CDATA[BRANDMATE Workshop digelar kemarin, Rabu 11 April 2012 di Cafe Resto Capital Grille Jakarta. Dihadiri oleh praktisi dari berbagai industri dari real estate, farmasi, hypermarket, rumah sakit, digital consulting, bank, cinema, dll, Amalia E. Maulana sebagai penulis buku mengupas konsep BRANDMATE dengan contoh-contoh yang nyata.  Digelar 4 sesi hari ini, termasuk 1 sesi exercise dimana peserta ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://amaliamaulana.com/wp-content/uploads/2012/04/BrandMate-Peserta1.jpg"><a href="http://amaliamaulana.com/wp-content/uploads/2012/04/BrandMate-Peserta1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1127 colorbox-1117" title="BrandMate Peserta1" src="http://amaliamaulana.com/wp-content/uploads/2012/04/BrandMate-Peserta1-250x250.jpg" alt="" width="200" height="200" /></a><br />
</a></p>
<p>BRANDMATE Workshop digelar kemarin, Rabu 11 April 2012 di Cafe Resto Capital Grille Jakarta.</p>
<p>Dihadiri oleh praktisi dari berbagai industri dari real estate, farmasi, hypermarket, rumah sakit, digital consulting, bank, cinema, dll, <strong>Amalia E. Maulana</strong> sebagai penulis buku mengupas konsep BRANDMATE dengan contoh-contoh yang nyata.  Digelar 4 sesi hari ini, termasuk 1 sesi exercise dimana peserta workshop diminta mendiskusikan case study dan presentasi hasilnya kepada hadirin. Dalam diskusi case study, aplikasi konsep branding yang sedang dipelajari menjadi lebih jelas dan kongkrit.</p>
<p>Branding is a process. Start it Now!</p>
<p>Selamat menjalankan branding dengan lebih tajam lagi untuk para peserta workshop. Good luck.  Keep in touch dan ditunggu sharing nya seputar implementasi workshop di konteks perusahan masing-masing.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://amaliamaulana.com/seminar/1117/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Selamatkan Pencitraan yang Tercemar</title>
		<link>http://amaliamaulana.com/blog/selamatkan-pencitraan-yang-tercemar/</link>
		<comments>http://amaliamaulana.com/blog/selamatkan-pencitraan-yang-tercemar/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Apr 2012 23:33:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amalia E. Maulana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Published Article]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://amaliamaulana.com/?p=1106</guid>
		<description><![CDATA[Kolom Branding Solution. Di sini pencitraan. Di sana pencitraan. Di mana-mana pencitraan. Kata Pencitraan sedang ngetrend. Setelah selesai sidang paripurna, di media formal dan sosial, obral kata pencitraan. Contohnya: - Sidang paripurna DPR menjadi media untuk ‘pencitraan’ partai politik. Jelas terlihat adanya ‘pencitraan’ dalam sidang tersebut (herrygaara5’s blog). - Penolakan PDIP terhadap kenaikan BBM bersubsidi ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kolom Branding Solution.</p>
<p><a href="http://amaliamaulana.com/wp-content/uploads/2012/04/Girl-in-Mirror1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1108 colorbox-1106" title="Girl-in-Mirror" src="http://amaliamaulana.com/wp-content/uploads/2012/04/Girl-in-Mirror1-250x250.jpg" alt="" width="200" height="200" /></a>Di sini pencitraan. Di sana pencitraan. Di mana-mana pencitraan.</p>
<p>Kata Pencitraan sedang ngetrend. Setelah selesai sidang paripurna, di media formal dan sosial, obral kata pencitraan. Contohnya:</p>
<p>- Sidang paripurna DPR menjadi media untuk ‘pencitraan’ partai politik. Jelas terlihat adanya ‘pencitraan’ dalam sidang tersebut (herrygaara5’s blog).</p>
<p>- Penolakan PDIP terhadap kenaikan BBM bersubsidi hanyalah sebuah ‘pencitraan’ saja agar mendapat simpati rakyat menjelang pemilu 2014 (berita media).</p>
<p>- Pecahnya koalisi PKS: jangan menjual nama rakyat dengan tujuan ‘pencitraan’ (berita media)</p>
<p>Dahlan Iskan juga sering dituding melakukan pencitraan. Ini dari media sosial:</p>
<p>- Thread di Kaskus.com: Trik ‘pencitraan’ Dahlan Iskan. Janji2 Dahlan Iskan yg sering dimuat di media, yang dapat simpati luas, tapi jarang diperhatikan realisasinya oleh publik<span id="more-1106"></span></p>
<p>-  Twit @Hilal_ahmad: Lama-lama kisah heroik pak DI naik KRL, banting kursi, tidur dirumah penduduk akan hilang jika tak ada perubahan. Ntar dibilang <a href="https://twitter.com/#!/search/%23pencitraan">#pencitraan</a></p>
<p>- Twit @adefsurya: Thn 2004 SBY nginep di gubug reot Pak Manyar. <a href="https://twitter.com/#!/search/%23pencitraan">#pencitraan</a> RT <a href="https://twitter.com/#!/detikcom">@detikcom</a>: Usai Nginep di Rusun Cakung, Dahlan Iskan Rapat di RNI Naik KRL..</p>
<p>Kata pencitraan sudah digunakan secara luas. Terlalu luas bahkan. Di twitter, kata ini sangat marak. Twit dengan hastag #pencitraan bisa mencapai ratusan dalam sehari, dalam konteks yang berbeda. Misalnya:</p>
<p>- Twit @ilmazaim: Susah bgt ya punya twitter <a href="https://twitter.com/#!/search/%23pencitraan">#pencitraan</a>. Gw gak bisa jaim sih orangnya. Apalagi disuruh <a href="https://twitter.com/#!/search/%23kultwit">#kultwit</a>.</p>
<p>- Twit @syukroamin: Koruptor yang jumatan itu hanyalah #pencitraan belaka.</p>
<p>- Twit @hansdavidian: Ini di BBM ada yg profile pic-nya <a href="https://twitter.com/#!/search/%23pencitraan">#pencitraan</a> banget nih&#8230;.</p>
<p><strong>Branding vs Pencitraan</strong></p>
<p>Sudah lama saya ingin mengangkat topik pencitraan dan seputar tercemarnya istilah tersebut. Diskusi dengan salah satu teman pembaca buku terbaru saya, BRANDMATE, membuat saya merasa perlu untuk membahas topik pencitraan ini sekarang.</p>
<p>Buku ‘BRANDMATE: Mengubah Just Friends Menjadi Soulmates’ mengangkat topik branding dalam banyak konteks, dari perusahaan, produk hingga personal.</p>
<p>Setelah membaca habis buku BRANDMATE, teman saya menyatakan sepakat dengan seluruh isi buku kecuali satu bab terakhir yaitu tentang I-Brand (nama lain personal branding). Dalam bahasa teman saya, dengan konsep I-Brand maka kita akan dipaksa menjadi orang lain. Menjadi tidak honest, menjadi tidak genuine, seperti orang yang mematut-matutkan topeng yang akan dikenakan. Itu dalam agama disebut Riya’, yaitu suka menyombongkan kebaikan diri sendiri. Teman saya menyebut ini sebagai ‘pencitraan’ dan sesuatu yang diyakininya salah.</p>
<p>Tentu saja bukan seperti itu konsep I-Brand yang saya bahas di buku. Brand diri atau Citra diri yang ditampilkan oleh seseorang haruslah sesuai dengan kompetensinya, tidak boleh berlebihan. Apa yang dikomunikasikan seputar citra diri haruslah sesuatu yang MAMPU dikerjakan. Bukan sekedar pemanis dan agar orang tertarik saja.</p>
<p>Pemahaman yang keliru terhadap istilah ‘pencitraan’ dampaknya telah menjurus kearah penolakan terhadap aspek yang lebih fundamental yaitu pentingnya pembangunan citra diri. Miskonsepsi seputar pencitraan ini harus diklarifikasi.</p>
<p><strong>Definisi Pencitraan</strong></p>
<p>Terus terang, saya sering kurang <em>sreg</em> dengan terjemahan kata brand consultant yang ada di belakang nama saya, diganti dengan istilah konsultan merek. Itu keluar dari koridor maknanya.</p>
<p>Brand sebaiknya tidak disamakan dengan kata ‘merek’ yang berarti nama dagang atau trademark.  Brand lebih mengarah kepada janji yang dikomunikasikan, dirangkum di benak konsumen dalam bentuk Citra. Brand consultant adalah konsultan yang membantu mengatasi permasalahan seputar perjalanan mencapai cita-cita sebuah brand.</p>
<p>Branding dengan akhiran <em>–ing</em> yang mengisyaratkan kata kerja, adalah kegiatan yang berhubungan dengan citra. Tentu saja dalam konteks membentuk dan membangun, kegiatan dalam branding haruslah positif.</p>
<p>Pencitraan – sebagai terjemahan kata ‘branding’, jika diselami sekali lagi maknanya, adalah sebuah kata yang netral. Pencitraan seharusnya berarti: “kegiatan mengkomunikasikan pesan atau janji brand sebuah produk, perusahaan atau pribadi, dilakukan secara terus menerus, sehingga pesan tersebut sampai di benak target audience”.</p>
<p>Pada awalnya penggunaan kata pencitraan baik-baik saja. Pencemaran istilah ini baru terjadi setelah apa yang dikomunikasikan sebagai ‘janji’ para tokoh yang diusung dalam komunikasi iklannya, tidak terbukti. Bukan hanya tokoh politik, bahkan tokoh ulama yang disegani juga ikut mengecewakan karena janji tinggal janji. Apa yang dikomunikasikan ternyata berbeda dengan keadaan sebenarnya.</p>
<p>Akibatnya, kata ‘pencitraan’ ini kena getah, tercemar, dikonotasikan sebagai sebuah kegiatan komunikasi yang semu, palsu, tidak membumi.  Pelaku pencitraan dianggap ‘jaim’ dan hiperbola, berlebihan.</p>
<p>Padahal, dalam konsep personal branding tegas dikatakan bahwa salah satu komponennya adalah CLARITY. Artinya, harus jelas dan transparan dalam memproyeksikan siapakah diri kita. Tidak boleh ada hidden agenda.</p>
<p>Jadi, yang salah bukan pada kata ‘pencitraan’, tetapi pelaku-pelaku kegiatannya.</p>
<p>Yang menganggap kegiatan branding sebagai kegiatan sesaat saja, tidak berdasarkan pemahaman target audience, tidak peduli dampak jangka panjang. Asal langsung dapat pengikut, asal langsung dapat suara sebanyak-banyaknya. Karenanya, jangan heran jika brand tokoh politik sulit menepati janjinya, karena sejak awal memang tidak realistis. Ini seperti menunggu bom waktu.</p>
<p>Usul saya: selamatkan kata Pencitraan agar tetap bisa digunakan pada makna yang sebenarnya. Sebaiknya tambahkan kata ‘SEMU’ bagi brand yang dicitrakan secara berlebihan.</p>
<p><a href="http://amaliamaulana.com/wp-content/uploads/2012/04/Girl-in-Mirror1.jpg"><br />
</a>Contoh penggunaan kata Pencitraan Semu.</p>
<p>1. Koruptor yang nyumbang tempat ibadah itu #pencitraansemu belaka</p>
<p>2. Foto di profile FB nya #pencitraansemu banget nih&#8230;..</p>
<p>3. Pemerintah, kerja dong, jangan #pencitraansemu terus!</p>
<p>(dimuat di Koran Sindo, Rabu 11 April 2012)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://amaliamaulana.com/blog/selamatkan-pencitraan-yang-tercemar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Brand Extension: Jakarta bukan Solo, Jokowi!</title>
		<link>http://amaliamaulana.com/blog/brand-extension-jakarta-bukan-solo-jokowi/</link>
		<comments>http://amaliamaulana.com/blog/brand-extension-jakarta-bukan-solo-jokowi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Mar 2012 23:54:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amalia E. Maulana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Published Article]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://amaliamaulana.com/?p=1101</guid>
		<description><![CDATA[Kolom Branding Solution. Kalau ada yang mengatakan Jakarta bukan Solo, Pak Jokowi, saya sarankan, jawab saja, “So what? Jakarta memang bukan Solo, tapi bisa saya ‘Solo’kan jika diberi kesempatan. Saat ini, percayalah, Pak, banyak yang bermimpi Jakarta bisa seperti ‘Solo&#8217;. Artinya, banyak masalah di Jakarta yang menumpuk yang bisa selesai karena pemimpinnya mau menyelesaikannya, bukan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kolom Branding Solution.</p>
<p><a href="http://amaliamaulana.com/wp-content/uploads/2012/03/JOKOWI-1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1102 colorbox-1101" title="JOKOWI 1" src="http://amaliamaulana.com/wp-content/uploads/2012/03/JOKOWI-1-250x250.jpg" alt="" width="200" height="200" /></a></p>
<p>Kalau ada yang mengatakan Jakarta bukan Solo, Pak Jokowi, saya sarankan, jawab saja, “So what?  Jakarta memang bukan Solo, tapi bisa saya ‘Solo’kan jika diberi kesempatan.</p>
<p>Saat ini, percayalah, Pak, banyak yang bermimpi Jakarta bisa seperti ‘Solo&#8217;.</p>
<p>Artinya, banyak masalah di Jakarta yang menumpuk yang bisa selesai karena pemimpinnya mau menyelesaikannya, bukan hanya mengatakan akan menyelesaikannya. Eksekusi lebih penting dari hanya strategi saja &#8211; Eksekutor.</p>
<p>Artinya, Jakarta bisa punya pemimpin yang tidak ragu langsung terjun di lapangan dan tidak hanya duduk di Ivory tower. Trouble shooter.</p>
<p>Artinya, Jakarta akan punya pemimpin yang punya integritas. Yang mengemban tugas kerakyatan karena panggilan hatinya, bukan karena iming-iming fasilitas. Yang bisa dipercaya. Amanah.<span id="more-1101"></span></p>
<p>Artinya, Jakarta bisa lega karena pemimpinnya kreatif, inovatif dan penuh terobosan. Kompleksitas masalah kota ini memang tidak bisa diselesaikan dengan program yang sama dari masa ke masa, kadaluwarsa dan tidak tajam. Inovatif.</p>
<p>Suku bangsa kan tidak bisa dijadikan ukuran apakah seorang pemimpin itu punya karakter: Eksekutor, Trouble Shooter, Amanah dan Inovatif. Empat dari banyak sifat penting pemimpin yang dibutuhkan Jakarta dimiliki oleh Jokowi.</p>
<p><strong>Brand Extension</strong></p>
<p>Saya ingin bercerita dahulu tentang seorang brand owner yang punya mimpi go global. Katanya, karena sudah sekian lama kuat di pasar Indonesia ini, sudah waktunya brand untuk melesat ke luar.</p>
<p>Pertanyaan saya sederhana saja, di basis market yang sekarang, apakah Anda sudah mempunyai peta teruji yang menggambarkan secara baik kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman, yang bukan atas dasar asumsi belaka?</p>
<p>Tanpa peta yang teruji, berarti perluasan brand ke tempat lain akan berangkat dari posisi ‘kira-kira’ saja.  Brand extension bukan pekerjaan sederhana. Butuh pemahaman yang sangat mendalam akan brand performance saat ini sebagai bahan mengatur strategi leverage kesuksesan di tempat yang baru.</p>
<p>Dari diskusi dengan pemilik brand yang mimpi go global ini saya teringat Jokowi dan mimpinya memimpin Jakarta.</p>
<p>Ada beberapa hal yang perlu Jokowi sadari. Banyak yang punya kepentingan terhadap kepemimpinan Jokowi di Solo, dan karenanya dalam mengukur tingkat keberhasilan tidak bisa secara sporadis diasumsikan saja bahwa masyarakat Solo sudah puas. Masyarakat yang mana? Lapisan bawah itu masyarakat, tetapi Investor juga masyarakat. Jajaran pemda juga masyarakat. Para pendidik dan pemuka agama juga masyarakat. Harus jelas mendudukkan issues dan needs yang dihadapi oleh setiap stakeholder brand.</p>
<p>Itu baru sebatas pertanyaan apakah Jokowi sudah punya peta lengkap dan teruji tentang brand performancenya di basis awal. Kita belum bicara seberapa dalam pemahamannya terhadap issues pemilih di Jakarta.</p>
<p>Kesalahan dalam brand extension yang sering dilakukan oleh perusahaan adalah brand belum solid sempurna sudah ditarik keluar dari basisnya. Jangan sampai extension brand Jokowi ke Jakarta masih prematur. Perlu digali banyak issues yang mungkin tidak muncul di permukaan, dan itu menggambarkan BRAND EQUITY Jokowi.</p>
<p>Apakah kekuatan ekuitas di Solo akan bisa stretching sampai Jakarta? Harus diuji dulu, apakah dengan situasi, needs dan aspirasi pemilih Jakarta tawaran Jokowi diterima? Belum tentu sesuatu yang works best di sana akan tok cer di sini.</p>
<p>Kuncinya adalah riset. Studi etnografi bisa membantu memetakan issues yang dihadapi oleh stakeholders pilgub, dan dari sinilah baru program-program di susun. Jangan dibalik prosesnya! Program sudah disusun sebelum peta needs tiap stakeholder lengkap dimiliki. Bisa salah sasaran. Jika tidak hati-hati, justru akan menurunkan ekuitas brand.</p>
<p>Kenyataannya, semua kandidat termasuk Jokowi langsung mendisain program, tanpa pemahaman issues mendalam. Tidak bisa pukul rata bahwa semua pemilih akan terkesan dengan iming-iming program kesehatan dan biaya pendidikan gratis. Bagi sebagian orang, program adalah program, masih dalam ranah janji saja. Mereka sudah kebal terhadap janji. Yang mereka impikan dalam waktu dekat bukan apa yang dijanjikan dikerjakan, tetapi JAMINAN EKSEKUSI janji.</p>
<p>Saya ambilkan sepotong dialog dengan beberapa tukang (ada Jawa ada Betawi) yang kerja di rumah belum lama ini.</p>
<p>Tanya: “Bapak-bapak ini suka yang mana calon Gubernur Jakarta?”</p>
<p>Jawab: “Halah buat apa dipikirin Bu”</p>
<p>Tanya: “Ini penting lho, sebentar lagi pemilihan”</p>
<p>Jawab: “Sama saja Bu. Lurah di tempat saya waktu belum jadi, wah baiknya luar biasa. Tiap ada kumpulan warga pasti datang. Begitu udah jadi, kemana dia? Janjinya saja yang banyak. Sudah lupa sama warganya”</p>
<p>Di kesempatan lain, perbincangan dengan beberapa professional  juga mengarah ke insights yang sama: “Ah, gue sih terserah gubernurnya siapa aja. Yang penting bisa kerja jangan ‘ngomdo’ (ngomong doang)”</p>
<p>Insight menjelaskan adanya segmen penduduk Jakarta yang “EGP – emangnye gue pikirin”.  Dan ini ciri segmen ini tidak ada hubungannya dengan suku bangsa, tingkat pendidikan maupun tingkat ekonomi sosial.</p>
<p>Mereka sudah membangun tembok tersendiri terhadap acara keseluruhan pilgub karena ketidakpercayaan terhadap pemimpin secara umum. Di mata mereka, apapun program yang akan diusung, tidak penting karena tidak ada jaminan program akan dieksekusi.</p>
<p>Jokowi dengan partnernya Ahok punya peluang untuk menembus batas penghalang ini dengan menjelaskan PROSES dan HASIL KERJA selama ini di daerahnya masing-masing. Yang harus diusung dalam kampanye bukanlah program-program (basi), tetapi meyakinkan pemilih bahwa para pemimpin akan mengawal langsung jalannya implementasi program sampai terealisasi.</p>
<p>Jadi sekali lagi, so what kalau wong Solo memimpin Jakarta?</p>
<p>(dimuat di Koran Sindo, 28 Maret 2012)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://amaliamaulana.com/blog/brand-extension-jakarta-bukan-solo-jokowi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Atasi Korupsi via Strategi Cobranding</title>
		<link>http://amaliamaulana.com/branding/atasi-korupsi-via-strategi-cobranding/</link>
		<comments>http://amaliamaulana.com/branding/atasi-korupsi-via-strategi-cobranding/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Mar 2012 06:05:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amalia E. Maulana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agenda]]></category>
		<category><![CDATA[Branding]]></category>
		<category><![CDATA[Published Article]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://amaliamaulana.com/?p=1087</guid>
		<description><![CDATA[Headline dan berita bombastis di koran dan tabloid akhir-akhir ini membuat saya stress. Coba simak tiga berita ini: (1) Rudy Kurniawan, pria Warga Negara Indonesia (WNI) menggegerkan Amerika Serikat karena koleksi wine langkanya palsu. (2) Kisah sembilan wanita yang tersandung kasus korupsi.  Angie, Nunun, Miranda, Malinda, Rosa, Wa Ode, Dharnawati, Ayin dan Darmawati. Dikatakan, mereka ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://amaliamaulana.com/wp-content/uploads/2012/03/diborgol-akibat-korupsi.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1088 colorbox-1087" title="diborgol-akibat-korupsi" src="http://amaliamaulana.com/wp-content/uploads/2012/03/diborgol-akibat-korupsi-250x250.jpg" alt="" width="200" height="200" /></a>Headline dan berita bombastis di koran dan tabloid akhir-akhir ini membuat saya stress. Coba simak tiga berita ini: (1) Rudy Kurniawan, pria Warga Negara Indonesia (WNI) menggegerkan Amerika Serikat karena koleksi wine langkanya palsu. (2) Kisah sembilan wanita yang tersandung kasus korupsi.  Angie, Nunun, Miranda, Malinda, Rosa, Wa Ode, Dharnawati, Ayin dan Darmawati. Dikatakan, mereka adalah wanita berkarir cemerlang, uang melimpah dan dari keluarga yang harmonis. (3) Mafia Pajak dan Reformasi Birokrasi. Habis Gayus terbitlah Dhana.</p>
<p>Bagaimana tidak stress? Saya sangat punya kepentingan terhadap brand-brand yang disebutkan di dalam headline tersebut. Orang Indonesia penipu? Saya kan orang Indonesia. Wanita korupsi? Saya kan sama dengan mereka, wanita yang diberi kesempatan untuk punya karir diluar rumah.  Mafia pajak? Wah, ini keterlaluan. Saya adalah pembayar pajak yang setia.</p>
<p>Sebagai orang Indonesia, malu membaca bahwa Indonesia dikaitkan dengan berita buruk tentang salah satu warganya. Country brand image Indonesia sudah diusahakan untuk bergerak naik dari berbagai aspek, mulai dari Destination Idol Komodo hingga Sri Mulyani calon pemimpin Bank Dunia. Sekarang, harus rela melorot gara-gara pemberitaan miring tentang wine collector yang ternyata fraud (penipuan). Kepercayaan terhadap Indonesia dan barang-barang yang dihasilkan oleh negara Indonesia pasti terganggu.<span id="more-1087"></span></p>
<p>Sebagai seorang wanita yang punya kesempatan berkarir, sedih saya membaca publikasi miring terus-menerus tentang wanita karir yang bermasalah. Ini menurunkan citra dan kepercayaan terhadap wanita. Kartini mungkin menangis membaca kisah para wanita tersebut. Kartini memperjuangkan hak wanita, dan mereka telah memperoleh hak persamaan derajat dengan laki-laki. Pemberitaan sumbang ini tentu menyenangkan bagi pihak yang masih berpendapat bahwa wanita itu memang sebaiknya diberikan tiga urusan saja yaitu dapur, sumur dan kasur.</p>
<p>Bagaimana dengan berita setiap hari tentang mafia pajak? Yang benar saja! Jadi selama ini pajak kami dipakai main-main. Pantas saja &#8211; pajak masyarakat yang seharusnya dikembalikan dalam bentuk kenyamanan fasilitas umum, mengalir ke rekening oknum. Pantas saja macet dimana-mana. Juga, semua taman kota yang merupakan tempat wisata warga diubah menjadi Mall. Citra dari lembaga yang menjadi pengelola pajak yang saya bayar tiap bulan bukan hanya turun, tetapi nyaris hancur.</p>
<p><strong>Strategi Cobranding atasi korupsi</strong></p>
<p>Dalam branding dikenal istilah Cobranding, yaitu perpaduan dua brand yang citranya bergabung menjadi satu. Ini bukan saja dalam institusi formal tempat bekerja, tetapi juga institusi informal yaitu keluarga dan lingkungan komunitas.</p>
<p>Sebagai contoh, saya Cobranding dengan Binus University tempat saya mengajar. Berarti citra personal brand saya akan juga mencitrakan Universitas tersebut. Demikian pula sebaliknya. Citra Binus sebagai Institusi pendidikan mempengaruhi pandangan orang terhadap diri saya. Di sisi lain, saya adalah salah satu anggota keluarga dimana disana ada suami, ada anak-anak, ada ayah ibu saya, juga keluarga besar lainnya. Apapun yang saya citrakan, akan mempengaruhi citra mereka. Demikian pula sebaliknya.</p>
<p>Prinsip Cobranding adalah saling menambahkan dan mengurangkan. Secara matematika sederhana, satu positif lainnya positif, maka akan terjadi double positif. Jika satu positif dan lainnya negatif, maka citra gabungannya akan menjadi negatif. Citra negara Indonesia yang positif bisa ditarik turun oleh sikap WNI yang negatif di luar negeri. Citra partai bisa rusak akibat petinggi partainya berurusan dengan hukum. Citra DPR sebagai lembaga dikacaukan akibat ulah oknum anggotanya sibuk memperkaya diri.</p>
<p>Karena merupakan perpaduan dari dua brand, maka masing-masing brand bukan saja harus memastikan bahwa brandnya sendiri positif dan terjaga baik, tetapi juga ikut mengawasi bahwa brand partnernya selalu cemerlang. Ini sebagai salah satu pengawasan Internal untuk branding.</p>
<p>Strategi Cobranding merupakan tawaran saya untuk solusi pencegahan dan pemberantasan korupsi di Indonesia. Perlu diadakan pendidikan secara serius pentingnya citra individu dalam kaitannya dalam menjaga citra keluarga, yang pada gilirannya adalah menjaga citra institusi dimana seseorang bekerja. Korupsi akan berujung kepada kesengsaraan keluarga dan disinilah ‘Fear Factor’  ini harus disosialisasikan (meningkatkan ketakutan terhadap dampak).</p>
<p>Peneliti Bidang Korupsi Politik Indonesia Corruption Watch, Abdullah Dahlan, mendesak agar pengawasan internal di Ditjen Pajak Kementerian Keuangan diperketat. Dirjen Pajak Kementerian Keuangan Fuad Rahmany sendiri sangat yakin sistem pengawasan internal pajak saat ini sudah bagus, sehingga jika ada pegawai pajak &#8216;nakal&#8217; akan ketahuan.</p>
<p>Bukan tidak percaya, tetapi ternyata pengawasan Internal yang telah dilaksanakan oleh lembaga terbukti tidak efektif.  Persoalannya, tetap saja kasus korupsi setelah Gayus ini bukannya menjadi berhenti, tetapi semakin mencuat. Harus ada solusi dari sisi lain. Menurut pendapat saya, mempertahankan citra keluarga bisa menjadi motor penghambat kegiatan korupsi. Berawal dari RUMAH sendiri. KELUARGA sendiri.</p>
<p>Pada saat salah satu anggota keluarga merasa ada perubahan gaya hidup ke arah yang tidak lazim, disini peranan kontrol keluarga dimulai. Yang banyak terjadi, malah anggota keluarga ikut menikmati kemewahan baru tersebut. Membanggakan dirinya yang bepergian ke luar negeri berwisata tanpa batas anggaran dan memakai fashion branded yang luar biasa mahal. Foto-foto di media sosial menjadi ajang jor-joran.</p>
<p>Pendidikan pentingnya Cobranding harus mulai ditanamkan di tiap institusi yang rawan korupsi. Dan disini, seluruh anggota keluarganya harus ikut dalam pelatihan tersebut.  Pelatihan ini harus merata ke stakeholder brand. Keluarga diajak untuk ikut memikirkan dampak yang terjadi pada saat anggota keluarganya menjadi tersangka korupsi. Bagaimana pengadilan sosial yang akan mereka rasakan itu akan mempengaruhi ritme kehidupan mereka sehari-hari. Teman-teman menjauh dan mulai sinis. Ini adalah hukuman sosial pahit dalam masyarakat.</p>
<p>Dengan mengingatkan pentingnya nama baik keluarga, maka setiap anak, istri dan suami dari siapapun yang bekerja di Institusi rawan korupsi (sebut saja Pajak, anggota DPR, Partai, dst), akan ikut bersama-sama menjadi faktor penghambat laju korupsi.</p>
<p>Strategi Cobranding menjaga bersama brand nama baik keluarga dan menjaga bersama brand nama baik Institusi tempat bekerja adalah solusi pemberantasan korupsi yang lebih fundamental dan akan terasa hasilnya dalam jangka panjang.</p>
<p>(Dimuat di kolom Branding Solution, Koran Sindo, 14 Februari 2012).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://amaliamaulana.com/branding/atasi-korupsi-via-strategi-cobranding/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengubah Just Friends Menjadi Soulmates</title>
		<link>http://amaliamaulana.com/blog/mengubah-just-friends-menjadi-soulmates/</link>
		<comments>http://amaliamaulana.com/blog/mengubah-just-friends-menjadi-soulmates/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Mar 2012 04:15:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amalia E. Maulana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://amaliamaulana.com/?p=1077</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Mardiana Makmun, Investor Daily, 29 Februari 2012 Teman biasa mudah dicari, tetapi menemukan teman sejati memerlukan proses panjang yang tidak pernah berhenti. Amalia E Maulana, brand consultant &#38; ethnographer, menganologikan hal itu dalam buku Brandmate: Mengubah Just Friend menjadi Soulmates Branding seperti menjadi napas Amalia E Maulana. Sekian lama berkutat dengan branding, Amalia menemukan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh Mardiana Makmun, Investor Daily, 29 Februari 2012</p>
<p><a href="http://amaliamaulana.com/wp-content/uploads/2012/03/Amalia-Inv-5.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1079 colorbox-1077" title="Amalia Inv 5" src="http://amaliamaulana.com/wp-content/uploads/2012/03/Amalia-Inv-5-250x250.jpg" alt="" width="200" height="200" /></a></p>
<p>Teman biasa mudah dicari, tetapi menemukan teman sejati memerlukan proses panjang yang tidak pernah berhenti. Amalia E Maulana, brand consultant &amp; ethnographer, menganologikan hal itu dalam buku Brandmate: Mengubah Just Friend menjadi Soulmates</p>
<p>Branding seperti menjadi napas Amalia E Maulana. Sekian lama berkutat dengan branding, Amalia menemukan banyak permasalahan. Yang paling fatal menurutnya adalah kesalahan persepsi bahwa branding sama dengan marketing communication (marcom).</p>
<p>“Jadi, branding dipersepsikan sama dengan kegiatan marcom, seper ti pembuatan logo, slogan, iklan, event, spanduk, dan pameran saja,” ungkap Amalia dalam peluncuran buku Brandmate: Mengubah Just Friend menjadi Soulmates, di Jakarta, pertengahan Februari lalu.</p>
<p>Dalam sebuah bisnis, branding dibutuhkan agar bisnis berjalan terus dan menghasilkan penjualan yang terus meningkat. Tapi sekali lagi tegas dia, branding lebih dari sekadar kegiatan marcom. “Kegiatan branding mencakup bagaimana proses pencapaian cita-cita perusahaan melalui berbagai kegiatan, bukan marcom saja,” tegas dia lagi.<span id="more-1077"></span></p>
<p>Dia melanjutkan, dalam branding, kegiatan sentral justru dimulai dengan riset mendalam menggunakan pendekatan etnografi atau budaya konsumen. “Di sinilah akar permasalahannya, perusahaan melakukan branding tanpa lebih dulu melakukan riset mendalam sehingga branding menjadi sebuah pemborosan investasi karena tidak mengenai target,” jelas dia.</p>
<p>Amalia menjelaskan, secara sederhana, tujuan branding adalah agar brand sebuah produk dikenal luas dan mendalam oleh konsumennya. “Namun branding yang berhasil, bukan cuma sekadar bisa menjual produk sebanyak-banyaknya kepada konsumen, tetapi lebih dari itu, juga bisa memenangkan hati konsumen dan mengikatnya secara emosional,” jelas dia.</p>
<p>Bukan perkara mudah, tetapi bukan pula perkara susah memenangkan hati konsumen. Dalam bukunya tersebut, Amalia menggunakan analogi pertemanan mengubah teman biasa menjadi teman sejati. “Dalam hal branding, sebuah brand harus mengonversi konsumen biasa (just friend) menjadi konsumen loyal (soulmates),” jelas dia.</p>
<p>Dan lagi-lagi seperti pertemanan, kuncinya adalah sebuah brand harus mengenali dan memahami kebutuhan dan perilaku konsumennya. Untuk bisa mengenali secara mendalam, apalagi yang harus bisa dilakukan kalau bukan riset. “Seperti memahami teman, kita harus riset, paling tidak kecil-kecilan untuk memahaminya,” jelas dia.</p>
<p>Nah, hasil riset kemudian diformulasikan menjadi sebuah strategi dan dikomunikasikan. Komunikasi ini bentuknya bisa bermacam-macam yang dikenal dengan kegiatan marcom, seperti pembuatan logo, slogan, iklan, event, spanduk, pameran, dan lain-lain.</p>
<p>Namun satu hal, tegas Amalia, sebelum mengomunikasikan ke pihak luar (eksternal branding), perusahaan seharusnya lebih dulu melakukan internal branding agar karyawan dari jajaran atas hingga bawah, memiliki tujuan dan komitmen yang sama terhadap produk mereka.</p>
<p>“Saya mencontohkan brand Samsung, seluruh karyawannya memiliki tujuan dan komitmen sama, bahwa mereka menjual produk yang berkualitas dan persepsi ini yang terus mereka jual dan bina kepada konsumennya. Mereka juga sangat percaya diri dengan produknya dan menggunakannya sehari-hari. Kini produk Samsung bisa bertransformasi dari brand yang biasa-biasa saja menjadi yang premium,” ujar dia.</p>
<p>Sering Tertipu<br />
Kedekatan Amalia E Maulana dengan branding dimulai ketika ia bekerja di beberapa perusahaan multinasional, seperti Unilever, PT Reckitt &amp; Colman Indonesia, dan lain-lain, sebagai brand manager.</p>
<p>”Pada saat melanjutkan studi, topic riset saya adalah seputar branding dan marcom, itu semakin membuat mata saya terbuka terhadap dinamika dan permasalahan di bidang ini,” ujar Amalia yang berpengalaman mengajar branding di sejumlah universitas, seperti Institut Pengembangan Manajemen Indonesia (IPMI), Binus Business School, dan lain-lain.</p>
<p>Analogi pertemanan ‘mengubah just firend menjadi soulmates’ dalam proses branding didapatnya dari pengalaman melakukan riset pada 2005, tentang connectedness antara website dengan pengunjungnya, sebagai bagian akhir dari tesis S-3. Dalam riset tersebut, dia menemukan bahwa kesuksesan sebuah website tidak ditentukan oleh seberapa banyak pengunjung yang datang, tetapi seberapa intens pengunjung masuk dan berinteraksi di dalam halaman website setiap kali berkunjung.</p>
<p>”Ternyata website yang connected adalah website yang mempunyai ikatan emosional yang lebih dengan pengunjungnya. Mereka mau berjam-jam duduk dan berinteraksi di sebuah website, dan ini hanya bisa terjadi apabila ada ‘benefit emosional’ yang dirasakannya,” ungkap dia.</p>
<p>Hasil riset tersebut sudah dipublikasikan di sebuah jurnal Internasional yang berjudul Just Friends, Good Acquaintances or Soulmates? An Exploration of Web Connectedness pada 2007 di jurnal Qualitative Market Research.</p>
<p>Sehari-hari mengurusi branding, Amalia mengaku tidak menjadi seorang yang brand minded. Memang, lanjut dia, ada beberapa produk dengan brand yang lebih ia percaya. “Asli, saya adalah konsumen biasa yang juga terpengaruh iklan, terpengaruh opinion leader dan hal-hal yang sangat konsumen banget. Suami saya sampai heran, dan bergurau bahwa saya adalah marketing people yang sering ketipu iklan,” ujarnya tertawa. (*)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://amaliamaulana.com/blog/mengubah-just-friends-menjadi-soulmates/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Partners in Crime dan Branding Angie</title>
		<link>http://amaliamaulana.com/blog/partners-in-crime-dan-branding-angie/</link>
		<comments>http://amaliamaulana.com/blog/partners-in-crime-dan-branding-angie/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Feb 2012 01:44:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amalia E. Maulana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Personal Branding]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://amaliamaulana.com/?p=1054</guid>
		<description><![CDATA[Branding Solution, Koran Sindo, Feb 2012 ‘If all my friends were to jump off a bridge, I wouldn’t jump with them, I’d be at the bottom to catch them.’ Siapapun yang mendengar quote di atas, pasti kagum. Betapa besar pengorbanan seorang sahabat sejati.  Tali temali pertemanan yang begitu kuatnya sehingga seseorang mau melakukan apa saja ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://amaliamaulana.com/wp-content/uploads/2012/02/Angelina-Demokrat.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1055 colorbox-1054" title="Angelina Demokrat" src="http://amaliamaulana.com/wp-content/uploads/2012/02/Angelina-Demokrat-250x250.jpg" alt="" width="200" height="200" /></a>Branding Solution, Koran Sindo, Feb 2012</p>
<p><em>‘If all my friends were to jump off a bridge, I wouldn’t jump with them, I’d be at the bottom to catch them.’</em></p>
<p>Siapapun yang mendengar quote di atas, pasti kagum. Betapa besar pengorbanan seorang sahabat sejati.  Tali temali pertemanan yang begitu kuatnya sehingga seseorang mau melakukan apa saja demi untuk menyelamatkan temannya.</p>
<p>Pertemanan tersebut sudah masuk pada tingkat yang disebut dengan soulmates. Jelas bukan hanya pertemanan biasa.</p>
<p>Dalam buku saya yang terbaru yaitu ‘BRANDMATE: Mengubah Just Friends menjadi Soulmates’, dijelaskan sedikitnya tiga tingkatan pertemanan. Dari tingkat awal yang hanya sekedar just friends, lalu menjadi good friends hingga mencapai tingkat soulmates.</p>
<p>BRANDMATE menjelaskan proses branding dengan analogi pertemanan. Keterikatan seorang konsumen terhadap brand tertentu juga melalui proses yang sama. Tingkat loyalitas atau keterikatan emosional brand tercapai bila secara serius dibangun dan dikembangkan.<span id="more-1054"></span></p>
<p>Dalam branding organisasi atau partai, setiap anggota organisasi juga mempunyai proses konversi ‘pertemanan’. Dari anggota biasa, lalu anggota yang semakin dekat secara emosional dengan organisasi, hingga yang loyal dan mencintai organisasinya secara utuh.</p>
<p>Tentu proses konversi tingkat kedekatan emosional ini sifatnya mutual. Tidak mungkin seorang anggota partai menjadi loyal bila dalam kesehariannya, organisasi tidak memperhatikan kebutuhan dan memahami para anggotanya. Loyalitas tercipta sebagai bentuk rasa saling memiliki.</p>
<p>Pertemanan ini yang saya lihat sudah luntur dalam kasus Angelina Sondakh. Tidak ada satupun dari temannya dari partai yang ada di dasar jembatan untuk menangkapnya. Dia dibiarkan terjun dari jembatan sendirian.</p>
<p>Dalam peribahasa lama dikatakan ‘A friend in need is a friend indeed’. Teman sejati adalah teman di saat kita susah dan membutuhkannya, bukan hanya saat senang saja.</p>
<p>Ini terlepas dari masalah bohong atau tidaknya Angie, dan terlepas dari apakah benar Angie terlibat dalam mafia korupsi di organisasinya.</p>
<p>Saya ingin membahas dari sisi pertemanannya dulu. Kasihan juga Angie. Dia sendirian. Ditinggalkan ‘teman-teman’nya.</p>
<p>Angie, mana teman-temanmu yang hadir dalam pesta ulang tahun Keanu di hotel Sultan yang mewah itu? Tentu banyak yang menikmati pesta, dan jika mereka memang benar temanmu, kemana mereka sekarang?</p>
<p>Media memberitakan, tidak ada satupun temanmu dari Partai yang hadir di acara satu tahun meninggalnya suamimu, Ajie. Ini sangat kontras dengan saat penguburannya, para ‘teman partai’ hadir dan membantu meringankan kesedihan.</p>
<p><strong>Partners in Crime</strong></p>
<p>Kasus Angie mengingatkan saya pada pertanyaan salah satu peserta talkshow buku BRANDMATE minggu lalu. <em>“Apakah Menurut Ibu, ‘Partners in Crime’ itu juga Soulmate? Sebab, setau saya, ikatan yang terjalin dalam ‘mafioso’ justru lebih kuat dibandingkan pertemanan biasa.”</em></p>
<p>Ini tentu bukan pertanyaan yang sederhana. Saya perlu berpikir keras agar bisa menjawabnya. Benarkah Loyalitas dalam ‘Partners in Crime’ ini sama seperti kekuatan soulmate yang saya jelaskan dalam BRANDMATE?</p>
<p>“Partners in Crime’ sendiri sebenarnya mempunyai makna ganda. Dalam bahasa anak-anak gaul, arti ‘Partners in Crime’ lebih diarahkan pada teman saat susah &#8211; saat benar-benar susah. Misalnya pada saat bersama mengerjakan tugas di kelas yang sangat menguras tenaga dan pikiran. Atau partner saat susah payah cari dana dalam rangka penyelenggaraan kegiatan sekolah.</p>
<p>‘Partners in Crime’ dalam arti aslinya adalah pertemanan dalam mengerjakan kejahatan atau hal-hal negatif yang membahayakan atau merugikan orang lain.</p>
<p>Tampaknya soulmates dalam konteks kejahatan ini tidak bisa disamakan dengan soulmates analogi branding. Dalam branding, definisi brand yang kuat adalah yang diasosiasikan dengan hal-hal yang positif.</p>
<p>Pertemanan yang dibangun dalam branding selalu mengarah kepada hal-hal yang punya nilai tambah. Loyalitas yang dibangun pun, walaupun mengarah pada tingkat emosional yang mendalam, tetap dalam koridor bahwa manfaat pertemanan ini masih sehat dan positif.</p>
<p>Dalam kehidupan kaum Yakuza yaitu para mafia Jepang, dikenal loyalitas total dan ini tanpa batas. Siapapun yang masuk dalam komunitas ini akan larut dalam kulturnya dan tidak bisa ditembus dari luar untuk memecahbelah ikatan satu member dengan lainnya. Soulmates dalam konotasi Yakuza sudah mengesampingkan nilai-nilai individu, karena nilai golongan yang lebih diutamakan.</p>
<p>Dalam konteks Angie dan partners in crime – yang bisa saya garisbawahi adalah kenyataan bahwa Angie tidak punya teman lagi.</p>
<p>Terserah mau didefinisikan dari sisi partners in crime yang bermakna negatif (kejahatan korupsi), atau mau didefinisikan dari sisi partners in crime yang berarti teman jaman susah (dari Partai Demokrat masih merangkak, Angie merupakan salah satu dari kelompok kecil orang penting partai). Tetap saja, partners in crime Angie hilang sudah.</p>
<p>Bersalahkah Angie? Tentu itu bukan tugas saya untuk mengadili. Pengadilan hukum yang akan menentukan. Setidaknya, dalam pengadilan media dan publik, Angie sudah dinyatakan bersalah. Brand imagenya turun drastis, brand valuenya merosot.</p>
<p>Yang terjadi saat ini adalah proses konversi yang sangat cepat dari para soulmates turun menjadi just friends, bahkan sebagian bahkan pindah berseberangan. Pekerjaan Rumah yang sangat kompleks untuk pembangunan kembali brand image seorang Angelina Sondakh.</p>
<p>Berapa jumlah soulmates yang masih tersisa, Angie?</p>
<p><em>‘A friend is someone who will catch you when you fall, dry your tears and tell you it will be all right, never leave you by yourself……..’</em></p>
<p><em><a href="http://amaliamaulana.com/wp-content/uploads/2012/02/BUKU-BRANDMATE1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1064 colorbox-1054" title="BUKU BRANDMATE" src="http://amaliamaulana.com/wp-content/uploads/2012/02/BUKU-BRANDMATE1-221x250.jpg" alt="" width="176" height="200" /></a><br />
</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://amaliamaulana.com/blog/partners-in-crime-dan-branding-angie/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seni Mengubah Just Friends menjadi Soulmates</title>
		<link>http://amaliamaulana.com/books/seni-mengubah-just-friends-menjadi-soulmates/</link>
		<comments>http://amaliamaulana.com/books/seni-mengubah-just-friends-menjadi-soulmates/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Feb 2012 09:29:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amalia E. Maulana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Books]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://amaliamaulana.com/?p=1046</guid>
		<description><![CDATA[Dimuat di Hidup Gaya &#8211; www.hidupgaya.com, February 2011. Amalia E. Maulana, seorang konsultan merek dan etnografer, merilis sebuah buku unik, Brandmate. Dari judulnya saja sudah menggelitik, membuat kita penasaran untuk mencari tahu lebih jauh isinya. Brandmate menggunakan analogi pertemanan untuk mengupas secara tuntas konsep branding. Proses terciptanya seorang sahabat bisa disejajarkan dengan proses terciptanya seorang ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dimuat di Hidup Gaya &#8211; www.hidupgaya.com, February 2011.</p>
<p><a href="http://amaliamaulana.com/wp-content/uploads/2012/02/BRANDMATE-Amalia-7-small.jpg"><a href="http://amaliamaulana.com/wp-content/uploads/2012/02/BRANDMATE-Amalia-1-small.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1052 colorbox-1046" title="BRANDMATE Amalia 1 small" src="http://amaliamaulana.com/wp-content/uploads/2012/02/BRANDMATE-Amalia-1-small-250x250.jpg" alt="" width="200" height="200" /></a></a></p>
<p>Amalia E. Maulana, seorang konsultan merek dan etnografer, merilis sebuah buku unik, <em>Brandmate</em>. Dari judulnya saja sudah menggelitik, membuat kita penasaran untuk mencari tahu lebih jauh isinya.</p>
<p><em>Brandmate </em>menggunakan analogi pertemanan untuk mengupas secara tuntas konsep<em> branding.</em> Proses terciptanya seorang sahabat bisa disejajarkan dengan proses terciptanya seorang konsumen yang loyal.  &#8221;Mengonversi seorang teman biasa menjadi teman sejati butuh waktu dan usaha yang tidak sedikit. Demikian pula dengan menciptakan konsumen yang dekat dengan <em>brand,</em> tidaklah mudah. Semua itu harus direncanakan dan diusahakan oleh pemilik brand,&#8221; kata Amalia saat peluncuran bukunya di Kafe Pisa Mahakam Jakarta. Acara ini dipandu oleh Andy Noya, <em>host</em> acara televisi yang digemari, Kick Andy, karena menampilkan bintang tamu yang unik dan inspiratif.</p>
<p>Dalam kesempatan tersebut Amalia mengupas tentang isi bukunya secara garis besar. &#8220;Buku ini menjelaskan proses <em>branding</em>, yaitu bagaimana tahapan proses konversi dari teman biasa (konsumen pemula) menjadi sahabat (konsumen loyal),&#8221; ujar penulis buku <em>Consumer Insights via Ethnography</em> (2009).<span id="more-1046"></span></p>
<p>Ide menulis buku tentang solusi <em>branding</em> ini lahir dari keprihatinan Amalia yang dalam kesehariannya kerap menemui pengambil keputusan di perusahaan yang belum memahami prinsip<em> branding.</em> &#8220;Saya sering temui <em>branding</em> dipersepsikan sama dengan <em>marketing communication</em>. Jadi disangka <em>branding </em>adalah kegiatan MarCom, yaitu seputar pembuatan logo, slogan, iklan, event, spanduk dan pameran saja,&#8221; jelasnya.   Padahal, pengertian <em>branding</em> lebih luas dari itu semua. &#8220;Bahkan, MarCom hanyalah salah satu dari kegiatan dalam<em> branding </em>lho,&#8221; tegas pendiri dan direktur dari ETNOMARK Consulting, perusahaan konsultan<em> branding</em> yang menangani <em>brand audit</em> dan <em>knowledge building</em> di berbagai perusahaan.</p>
<p>Amalia melanjutkan, kegiatan<em> branding </em>mencakup bagaimana proses pencapaian cita-cita perusahaan melalui berbagai kegiatan, bukan MarCom saja. &#8220;Dalam <em>branding</em>, kegiatan sentral bahkan dimulai dengan riset mendalam, pemahaman dan pengumpulan <em>insight </em>yang tajam tentang konsumennya,&#8221; tandasnya.</p>
<p>Berdasarkan pengalaman di lapangan sebagai konsultan merek, Amalia menemui masih banyak perusahaan yang hanya mengandalkan asumsi atau meraba saja situasi hubungannya dengan konsumen. &#8220;Tanpa riset yang holistik, salah satunya dengan studi etnografi, maka perusahaan akan terus menerus berada pada situasi <em>gambling</em> dalam menghabiskan uang perusahaan melalui anggaran MarCom,&#8221; jelas Amalia.</p>
<p>Di sinilah akar permasalahan pemborosan investasi pemasaran perusahaan. Hal itu bisa disebabkan berbagai faktor, antara lain pengambil keputusan tidak memahami filosofi dasar <em>branding</em>, atau strategi <em>branding</em> tidak tepat. &#8220;Pemborosan yang tak terlihat di mata karena MarCom tidak efisien dan tidak efektif. Jadi kegiatan MarCom menjadi arena <em>gambling</em> semata,&#8221; ujar peraih gelar Ph.D. dari School of Marketing, University of New South Wales, Sydney, Australia.</p>
<p>Terkait dengan pentingnya riset, ada kasus menarik yang dipaparkan Amalia di halaman 152, Steve Jobs: Apple Tidak Butuh Riset? Dalam sebuah wawancara dengan majalah Fortune, Steve Jobs secara kontroversial menyatakan &#8216;<em>We do no market research. With great Products, business will follow</em>.&#8221;</p>
<p>Amalia mengajak kita untuk tidak menerjemahkan perkataan pemipin visioner tersebut secara hitam putih, yang berarti malah mengeluarkan esensi makna perkataan dari konteksnya. &#8220;Ada gambaran besar yang harus diselami lebih dulu sebelum mencerna potongan kalimat Jobs. <em>We do no research </em>harus dibaca dengan cara yang berbeda,&#8221; ajak Amalia.</p>
<p>Apakah Steve Jobs seorang <em>research believer</em>? &#8220;Tentu saja. Tetapi risetnya bukanlah riset terstruktur yang penuh angka-angka dan analisis statistik. Pemahaman tentang perilaku konsumen tidak selalu harus dilakukan dengan survei atau<em> focus group discussion</em> yang kering dengan <em>insight</em>,&#8221; tandasnya. Amalia memaparkan,  pemahaman konsumen dapat dilakukan dengan pendekatan antropologi budaya, melihat segala sesuatunya dari kacamata konsumen, perspektif pengguna. Analisis perilaku berakar dari pemahaman kultur konsumen target<em> audience</em>-nya.</p>
<p>&#8220;Apple adalah perusahaan yang telah melakukan pendekatan studi etnografi, terutama untuk desain produk dan komunikasi mereknya, dan terbukti berhasil,&#8221; ujar Amalia. Salah satu riset kreatif yang dikerjakan Apple adalah dengan melihat langsung interaksi antara konsumen dan produk. Dengan teknik <em>usability interview,</em> periset bisa mendeteksi &#8216;titik-titik<em> painful</em>&#8216; dari produk tersebut.</p>
<p>Amalia menggarisbawahi, <em>great products</em> yang digembar-gemborkan oleh Jobs adalah produk yang &#8216;terhubung&#8217; dengan konsumennya. Produk semacam ini merupakan solusi dari permasalahan yang dihadapi konsumen selama ini. Bahwa Apple percaya riset, lanjut Amalia, itu bisa dikonfirmasi dari pidato Jobs lainnya yang menyatakan, &#8220;<em>We&#8217;ve spoken to a lot of our customers and we think we&#8217;ve come up with something you&#8217;ll like</em>.&#8221;</p>
<p>&#8220;Berbicara dengan konsumen secara intensif merupakan salah satu bentuk riset, salah satu teknik riset kreatif, bukan dalam<em> setting focus group discussion</em> yang mengikat, namun dalam sebuah lingkungan milik konsumen sendiri, sehingga ia merasa nyaman dan mampu mengekspresikan pendapatkan dengan lebih baik,&#8221; tegas Amalia.</p>
<p>Keprihatinan Amalia lainnya tentang <em>branding</em> adalah bagaimana perusahaan hanya fokus pada<em> external branding,</em> yaitu komunikasi kepada pihak luar. Dia menyoroti pengambil keputusan perusahaan jarang yang memikirkan internal <em>branding. </em>&#8220;Pemahaman perspektif di dalam organisasi tentang cita-cita <em>brand</em> sering kali diabaikan. Konfik internal dibiarkan saja. Padahal tanpa kekompakan dalam perusahaan, mustahil perusahaan bisa menciptakan<em> enjoyable customer experience</em>,&#8221; ujar Amalia panjang lebar.</p>
<p>Namun Amalia mengakui memiliki <em>brand</em> yang kuat bukan perkara mudah. Butuh waktu dan strategi pemasaran yang tepat. <em>Brand</em> yang kuat, menurut Amalia, adalah <em>brand</em> yang dikenal luas, dimengerti maknanya, disukai, selalu dipilih pada tiap kesempatan, dan direkomendasikan kepada konsumen lain. Tak hanya itu. <em>Brand</em> yang kuat juga mendapatkan posisi di mana cita-cita yang dicanangkannya sudah sama seperti apa yang dipikirkan konsumen terhadapnya.</p>
<p>Ada kisah menarik dari Andy Noya soal ini. &#8220;Saat bekerja sebagai pemimpin redaksi MetroTV beberapa tahun lalu, saya sering melihat mobil Garuda Indonesia melintas dengan kecepatan tinggi menuju bandara. Ternyata setelah saya telisik, sopir memacu kecepatan karena mengantarkan kru pesawat agar tidak terlambat sampai di bandara. Terlambat lima menit saja akan mengganggu jadwal penerbangan secara keseluruhan,&#8221; ujarnya. Itu semua dilakukan untuk menjaga agar citra Garuda Indonesia yang ketika itu sering terlambat terbang, terkikis.</p>
<p>&#8220;Mempertahankan citra memang penting. Namun jika ada mobil MetroTV yang melanggar lalu lintas demi presenter agar tidak terlambat siaran, saya tidak akan menoleransinya. Saya akan kenakan sanksi pada sopir yang bersangkutan. Saya tak ingin <em>brand</em> MetroTV identik dengan hobi melanggar lampu merah meskipun tujuannya baik agar presenter tak terlambat siaran,&#8221; ujar Andy Noya.</p>
<p>Amalia menandaskan, tugas<em> branding</em> sebuah perusahaan, adalah tugas yang harus dilaksanakan semua jajaran, mulai dari<em> office boy</em> hingga jajaran direksi.</p>
<p>Acara peluncuran buku menjadi makin menarik karena adanya contoh kasus nyata, yaitu Samsung Electronics Indonesia, yang berbagi tentang pengalaman dan perjalanan <em>brand</em> Samsung. Sebagai brand yang telah terbukti mampu mengkonversi kedudukannya di hati konsumen dari sekadar teman biasa menjadi teman sejati, Samsung sudah menjadi brand yang kuat dan dicari konsumen di pasar.</p>
<p><em>Branding is a process not an event. Branding</em> bukanlah lari 100 meter melainkan lari marathon. <em>Strong brand is not built overnight.</em> Merek yang kuat tidak diciptakan dalam semalam, begitulah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://amaliamaulana.com/books/seni-mengubah-just-friends-menjadi-soulmates/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BUKU ‘BRANDMATE”: Mengubah Klien menjadi Soulmate</title>
		<link>http://amaliamaulana.com/books/buku-%e2%80%98brandmate%e2%80%9d-mengubah-klien-menjadi-soulmate/</link>
		<comments>http://amaliamaulana.com/books/buku-%e2%80%98brandmate%e2%80%9d-mengubah-klien-menjadi-soulmate/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Feb 2012 17:19:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amalia E. Maulana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Books]]></category>
		<category><![CDATA[Branding]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://amaliamaulana.com/?p=1040</guid>
		<description><![CDATA[Liputan Antara News Dari konsumen hingga menjadi soulmate itu butuh proses pembinaannya. Dari &#8216;branding&#8217; menjadi teman, lalu sahabat, dan mencapai posisi soulmate,” Jakarta (ANTARA News, 16 Februari) &#8211; Anda mungkin bertanya-tanya, bagaimana caranya menciptakan konsumen loyal, yang bisa disejajarkan dengan sahabat atau malah &#8216;soulmate’? Amalia Maulana, seorang brand Consultant and Ethnography, mengulas seluruh proses terjadinya ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Liputan Antara News<a href="http://amaliamaulana.com/wp-content/uploads/2012/02/FOTO-BUKU-untuk-Jurnalis1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1041 colorbox-1040" title="FOTO BUKU untuk Jurnalis1" src="http://amaliamaulana.com/wp-content/uploads/2012/02/FOTO-BUKU-untuk-Jurnalis1-250x250.jpg" alt="" width="200" height="200" /></a></p>
<p><strong><em>Dari konsumen hingga menjadi soulmate itu butuh proses pembinaannya. Dari &#8216;branding&#8217; menjadi teman, lalu sahabat, dan mencapai posisi soulmate,”</em></strong></p>
<p>Jakarta (ANTARA News, 16 Februari) &#8211; Anda mungkin bertanya-tanya, bagaimana caranya menciptakan konsumen loyal, yang bisa disejajarkan dengan sahabat atau malah <em>&#8216;soulmate</em>’?</p>
<p>Amalia Maulana<em>, </em>seorang<em> brand Consultant and Ethnography</em>, mengulas seluruh proses terjadinya hal yang dianggap sangat sulit oleh para &#8216;pejuang pemasaran’.</p>
<p>Dia mengulasnya dengan cukup &#8216;cantik&#8217; dalam buku barunya yang berjudul &#8216;<em>Brandmate, mengubah just friends menjadi soulmates’</em>.</p>
<p>&#8220;Dari konsumen hingga menjadi<em> soulmate</em> itu butuh proses pembinaannya. Dari &#8216;<em>branding</em>&#8216; menjadi teman, lalu sahabat, dan mencapai posisi s<em>oulmate,</em>&#8221; ujar Amalia dalam peluncuran buku barunya itu di Jakarta, Kamis.<span id="more-1040"></span></p>
<p>Menurut Amalia, posisi<em> brand</em> itu sangat penting di mata konsumen.  <em>Brand</em> dan proses penciptaan <em>soulmate</em> itu  dikupas tuntas dalam buku setebal 231 halaman tersebut.</p>
<p><a href="http://amaliamaulana.com/"><strong>Amalia</strong></a> menemukan banyak pengambil keputusan di perusahaan yanng belum memahami konsep &#8216;<em>branding</em>&#8216; yang memicu idenya menulis buku tersebut.</p>
<p>Penulis yang meraih gelar Ph.D. dari School of Marketing, University of New South Wales, Australia ini, adalah pendiri dan direktur dari Etnomark Consulting, sebuah perusahaan konsultan <em>&#8216;branding&#8217; </em>yang menangani <em>brand </em>audit dan <em>knowledge building</em> di berbagai perusahaan.</p>
<p><em>Editor: Aditia Maruli</em></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://amaliamaulana.com/books/buku-%e2%80%98brandmate%e2%80%9d-mengubah-klien-menjadi-soulmate/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

