<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Amalia E. Maulana</title>
	<atom:link href="http://amaliamaulana.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://amaliamaulana.com</link>
	<description>Branding, Marketing, Ethnography, Consultant, Internet, Research, Website, Communication, Strategy</description>
	<pubDate>Thu, 04 Mar 2010 23:52:21 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.5</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Bicara tentang Media Baru di MIST FEUI</title>
		<link>http://amaliamaulana.com/2010/03/05/bicara-tentang-media-baru-di-mist-feui/</link>
		<comments>http://amaliamaulana.com/2010/03/05/bicara-tentang-media-baru-di-mist-feui/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Mar 2010 22:59:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amalia E. Maulana</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[Seminar]]></category>

		<category><![CDATA[IMC]]></category>

		<category><![CDATA[new media]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://amaliamaulana.com/?p=324</guid>
		<description><![CDATA[Marketing Insights Seminar &#38; Training (MIST), FEUI, Depok.
Hari Pertama, 1 Maret 2010.
Sesi 1.Speaker : Amalia E. Maulana, Ph.D. - Brand Consultant &#38; Ethnographer. Director, ETNOMARK Consulting
Title : “New Media: Its Implications for IMC and Brand Building” 
Sesi pertama pada hari pertama ini lebih banyak mengupas berubahnya dunia dengan kemunculan berbagai macam media yang baru. Model dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="line-height: normal; -webkit-border-horizontal-spacing: 2px; -webkit-border-vertical-spacing: 2px; font-size: small;"><span style="-webkit-border-horizontal-spacing: 0px; -webkit-border-vertical-spacing: 0px; font-size: 13px; line-height: 19px;">Marketing Insights Seminar &amp; Training (MIST), FEUI, Depok.</span></span></p>
<p><span style="line-height: normal; -webkit-border-horizontal-spacing: 2px; -webkit-border-vertical-spacing: 2px; font-size: small;"><span style="-webkit-border-horizontal-spacing: 0px; -webkit-border-vertical-spacing: 0px; font-size: 13px; line-height: 19px;">Hari Pertama, 1 Maret 2010.</span></span></p>
<p><span style="line-height: normal; -webkit-border-horizontal-spacing: 2px; -webkit-border-vertical-spacing: 2px; font-size: small;"><span style="-webkit-border-horizontal-spacing: 0px; -webkit-border-vertical-spacing: 0px; font-size: 13px; line-height: 19px;">Sesi 1.Speaker : Amalia E. Maulana, Ph.D. - Brand Consultant &amp; Ethnographer. Director, ETNOMARK Consulting</span></span></p>
<p><span>Title : </span><span><strong>“New Media: Its Implications for IMC and Brand Building” </strong></span></p>
<p><span>Sesi pertama pada hari pertama ini lebih banyak mengupas berubahnya dunia dengan kemunculan berbagai macam media yang baru. Model dari komunikasi sendiri sebenarnya tidak mengalami perubahan, begitu pula dengan pengertian dari IMC itu sendiri. Yang berubah adalah teknologi yang bertambah dan mengakibatkan munculnya media-media komunikasi baru seperti internet misalnya. Perubahan-perubahan teknologi dan media komunikasi tersebut akhirnya menyebabkan adanya perubahan dalam perilaku konsumen saat ini. Mereka lebih demanding dan cenderung tidak bisa dikontrol. Untuk beradaptasi dengan perubahan konsumen tersebut yang oleh Ibu Amalia disebut “modern customer”, maka perusahaan juga harus mampu berubah menjadi “modern company”. Perusahaan harus memiliki kemampuan mendengan apa keinginan dan kebutuhan konsumen, mau menjadi bagian dari konsumen, bersifat responsif, juga tentunya akrab dengan teknologi seperti web 2.0 dan web 3.0. Perubahan yang terjadi tentunya juga akan membawa hal positif bagi perusahaan antara lain komunikasi menjadi lebih cepat, lebih segemented, lebih murah, dan feedback menjadi lebih cepat diperoleh.</span></p>
<p>Berita Selengkapnya:</p>
<p>http://www.fe.ui.ac.id/index.php/berita/232</p>
<p>http://www.astaga.com/content/fe-ui-gelar-seminar-marketing</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://amaliamaulana.com/2010/03/05/bicara-tentang-media-baru-di-mist-feui/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>UKM Perlu Internet dan Strategi Branding</title>
		<link>http://amaliamaulana.com/2010/03/02/ukm-perlu-internet-dan-strategi-branding/</link>
		<comments>http://amaliamaulana.com/2010/03/02/ukm-perlu-internet-dan-strategi-branding/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Mar 2010 23:05:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amalia E. Maulana</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[branding strategy]]></category>

		<category><![CDATA[internet strategy]]></category>

		<category><![CDATA[UKM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://amaliamaulana.com/?p=323</guid>
		<description><![CDATA[
INILAH.COM, Jakarta - Pakar pemasaran menilai pemerintah sudah saatnya mengarahkan pemanfaatan internet pada UKM dan membina mereka menyangkut strategi branding yang benar.
&#8220;Pemerintah memang sudah banyak melakukan pembinaan dan pementasan pengusaha. Tetapi hasilnya sampai saat ini masih belum tampak sebuah transformasi yang signifikan dari UKM,&#8221; kata Direktur Etnomark Consulting, Amalia E Maulana Ph.D di Jakarta, Senin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--StartFragment--></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="IN">INILAH.COM, Jakarta - Pakar pemasaran menilai pemerintah sudah saatnya mengarahkan pemanfaatan internet pada UKM dan membina mereka menyangkut strategi <em>branding</em> yang benar.</span></strong><span lang="IN"></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">&#8220;Pemerintah memang sudah banyak melakukan pembinaan dan pementasan pengusaha. Tetapi hasilnya sampai saat ini masih belum tampak sebuah transformasi yang signifikan dari UKM,&#8221; kata Direktur Etnomark Consulting, Amalia E Maulana Ph.D di Jakarta, Senin (3/1).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Menurut dia, bukan banyaknya tindakan yang dilakukan oleh pemerintah untuk mereka, tetapi sudah seberapa efektif dan efisien kegiatan itu dengan hasil yang memuaskan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Amalia merujuk data BPS yang menunjukkan jumlah unit usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) pada tahun 2008 mencapai 51,3 juta unit, dan ini berarti 99% dari total pelaku usaha nasional. Tetapi jika dilihat dari sisi sumbangan revenuenya secara kelompok, kontribusi UMKM ini sangat rendah dibanding potensinya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Padahal dengan adanya Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN-China (ACFTA), perusahaan Indonesia terutama yang skalanya kecil dan menengah yang paling terkena dampak karena mereka belum siap menghadapi pertempuran itu, ujarnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Lebih jauh ia mengatakan kegiatan yang dipilih oleh Pemerintah selaku pembina merupakan kegiatan yang tidak mempunyai dampak luas sehingga tidak secara strategis dipikirkan apakah itu tepat mentransformasikan sebuah UKM menjadi kompetitif dan berhasil.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Selain itu, tambahnya, telah terjadi pemborosan karena kegiatan yang dipilih seharusnya dengan biaya yang lebih murah.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">&#8220;Dua hal yang saya amati yaitu pemerintah tidak mengarahkan bagaimana pemanfaatan internet secara optimal, karena sebenarnya internet bisa dimanfaatkan secara baik bukan saja untuk transaksi, melainkan sebagai media komunikasi dan media riset netnographi. Selain itu pemerintah juga belum secara spesifik membina UKM pada pemahaman tentang strategi branding yang benar,&#8221; ujar Amalia, lulusan School of Marketing, the University of New South Wales, Australia.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Yang masuk dalam cakupan media Internet adalah media kontemporer di antaranya website, blog, e-forum, jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, YouTube, dan Komunitas.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Amalia juga berpendapat Pemerintah belum mendukung dan membina UKM untuk memanfaatkan media baru secara benar dan secara maksimal.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Dikatakannya, pemerintah salah mengerti jika berpandangan bahwa pemanfaatan internet berarti ujungnya adalah transaksi secara online.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">&#8220;Ini menjadi sangat tidak efektif dan efisien, karena tingkat kesulitan transaksi online bisa jadi paling tinggi dibanding kegiatan via internet lainnya,&#8221; katanya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Untuk sampai ke sana, menurut dia, beberapa tahap harus dilalui mulai dari yang mudah terlebih dahulu, yaitu manfaatkan internet untuk komunikasi (promosi), dan ini bukan hanya komunikasi satu arah, tetapi juga dua arah dan untuk riset atau studi tentang konsumen. Banyak pengusaha kecil dan menengah yang mulai melirik berbagai media baru ini, tetapi masih tergagap-gagap mengikuti perkembangan media komunikasi yang lebih canggih ini.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">&#8220;Pemerintah bisa berperan lebih jauh dalam meningkatkan kemampuan UKM dalam promosi dan riset,&#8221; katanya.[*/ito]</span></p>
<p class="MsoNormal">Berita dimuat juga di :<a href="http://www.antara-sumbar.com/id/index.php?sumbar=berita&amp;d=0&amp;id=83877">http://www.antara-sumbar.com/id/index.php?sumbar=berita&amp;d=0&amp;id=83877</a></p>
<p><!--EndFragment--></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://amaliamaulana.com/2010/03/02/ukm-perlu-internet-dan-strategi-branding/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pemerintah agar dorong UKM pakai Internet</title>
		<link>http://amaliamaulana.com/2010/03/01/ukm-internet-dan-branding/</link>
		<comments>http://amaliamaulana.com/2010/03/01/ukm-internet-dan-branding/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Feb 2010 23:07:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amalia E. Maulana</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<category><![CDATA[branding strategy]]></category>

		<category><![CDATA[internet strategy]]></category>

		<category><![CDATA[UKM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://amaliamaulana.com/?p=322</guid>
		<description><![CDATA[

http://web.bisnis.com/sektor-riil/ritel-ukm/1id164512.html
Minggu, 28/02/2010 21:27:39 WIB  Oleh Arif Pitoyo

JAKARTA (Bisnis.com): Pemerintah diminta mendorong usaha kecil menengah (UKM) memanfaatkan Internet guna meningkatkan daya saing menghadapi perdagangan bebas Asia-China dan menaikkan branding.
Director ETNOMARK, Ethnography Consulting Amalia E. Maulana mengatakan segmentasi UKM harus segera disusun untuk mengukur kemampuan UKM dalam menerima teknologi Internet dalam mempromosikan produknya.
&#8220;Penggunaan Internet dalam UKM [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--StartFragment--></p>
<p class="MsoNormal"><!--StartFragment--></p>
<p class="MsoNormal"><span><a href="http://web.bisnis.com/sektor-riil/ritel-ukm/1id164512.html">http://web.bisnis.com/sektor-riil/ritel-ukm/1id164512.html</a></span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Minggu, 28/02/2010 21:27:39 WIB <span> </span></span><span>Oleh Arif Pitoyo</span></p>
<p><!--EndFragment--></p>
<p class="MsoNormal"><span>JAKARTA (Bisnis.com): Pemerintah diminta mendorong usaha kecil menengah (UKM) memanfaatkan Internet guna meningkatkan daya saing menghadapi perdagangan bebas Asia-China dan menaikkan <em>branding</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Director ETNOMARK, Ethnography Consulting Amalia E. Maulana mengatakan segmentasi UKM harus segera disusun untuk mengukur kemampuan UKM dalam menerima teknologi Internet dalam mempromosikan produknya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>&#8220;Penggunaan Internet dalam UKM tidak harus berupa <em>online transaction</em>, tetapi juga bisa dalam hal pengenalan perusahaan, informasi, dan promosi. Setelah itu barulah memasuki tahap transaksi <em>online</em>,&#8221; katanya hari ini.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Menurut dia terdapat puluhan juta UKM yang susah mendistribusikan produknya secara konvensional. Mereka, lanjutnya, bisa menggunakan  Internet agar lebih murah dan lebih cepat.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Saat ini, UKM tengah bersiap menghadapi serbuan produk China. Bahkan bukan hanya produk asli asal China, melainkan juga melawan produk lokal yang menggunakan branding China, seperti Nexian, Tje fuk, dan lainnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Berdasarkan data Biro Pusat Statistik (BPS), di Indonesia terdapat sekitar 51,3 juta unit UKM, di mana hanya  1% saja yang lumayan besar. Meski omzetnya besar, lambaga Etnography menilai UKM tersebut tidak selalu memiliki pola pikir digital atau Internet sehingga perlu dibenahi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>&#8220;Punya lah <em>website</em>, gak harus transaksi<em> online</em>.&#8221; </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Menurut dia, pemakaian internet juga ditindaklanjuti strategi <em>branding</em>.(abr)</span></p>
<p><!--EndFragment--></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://amaliamaulana.com/2010/03/01/ukm-internet-dan-branding/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pembicara 2.0 &#038; Analogi Teman untuk Branding</title>
		<link>http://amaliamaulana.com/2010/02/14/pembicara-20-analogi-teman-untuk-branding/</link>
		<comments>http://amaliamaulana.com/2010/02/14/pembicara-20-analogi-teman-untuk-branding/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Feb 2010 21:50:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amalia E. Maulana</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[branding]]></category>

		<category><![CDATA[web 2.0]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://amaliamaulana.com/?p=321</guid>
		<description><![CDATA[
Ada berapa teman kita yang bisa digolongkan sebagai &#8216;just friends&#8217;?, berapa yang digolongkan sebagai &#8216;good acquaintances&#8217;? dan berapa pula yang sudah bisa kita hitung sebagai our &#8217;soul mates&#8217;?  Yakin seyakin-yakinnya, pasti yang soul mates jumlahnya terhitung yang paling minimalis. Dalam keseharian kita, mungkin tidak ada waktu untuk memikirkan berapa jumlah teman kita, apalagi yang berpikir [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--StartFragment--></p>
<p class="MsoNormal"><span>Ada berapa teman kita yang bisa digolongkan sebagai &#8216;just friends&#8217;?, berapa yang digolongkan sebagai &#8216;good acquaintances&#8217;? dan berapa pula yang sudah bisa kita hitung sebagai our &#8217;soul mates&#8217;?  Yakin seyakin-yakinnya, pasti yang soul mates jumlahnya terhitung yang paling minimalis. Dalam keseharian kita, mungkin tidak ada waktu untuk memikirkan berapa jumlah teman kita, apalagi yang berpikir berapa yang sudah bisa kita konversi dari teman biasa ke teman baik, lalu dari teman baik ke teman karib/sohib. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Rasanya semua pertemanan mengalir begitu saja. Hasilnya: jumlah teman biasa bertambah terus, tetapi teman baik segitu-segitu saja, apalagi sobat, mungkin bisa dihitung dengan jari. Belum lagi, kadang kala saking sibuknya, secara tidak sadar kita sudah men-downgrade teman-teman kita dari yang sudah tinggi tingkatan pertemanannya, turun jadi teman biasa. Sudah jarang telpon, jarang silaturahmi.. maintenance sobat kadang terasa terabaikan karena kesibukan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Padahal hidup kita baru berharga bila punya banyak sahabat, banyak teman baik, jauh di atas teman-teman biasa. Ini yang overlook&#8230; Semangat Valentine&#8217;s day ini sebaiknya tidak fokus pada perayaannya, tetapi pada semangatnya. Yaitu, semangat memperbanyak teman berkualitas.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Pelajaran branding - dari Analogi Pertemanan. Apakah cukup hanya melihat banyaknya konsumen brand? Ini tidak cukup untuk melihat cemerlang tidaknya sebuah brand. Itu kan refleksi kesuksesan transaksi, yaitu baru sampai merekrutnya menjadi teman biasa. Karena itu, pertanyaannya haruslah berapa banyak soul mates nya brand, nama lainnya brand loyalty? Sudah cukup banyakkah? Apakah kita sendiri punya informasi gambaran siapa-siapa sahabat baik brand ini? Jangan-jangan kita belum pernah cari tau. Oh, No! </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Tiap hari kita sibuk merekrut konsumen, menjadikannya teman, tetapi tanpa disadari usaha kita belum maksimal untuk mengupgrade konsumen agar kedekatannya dengan brand bukan hanya sekedar transaksional saja.. tetapi bisa sampai pada kedekatan emosional ala sohib berattss..</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Buat apa itu semua? Sahabat adalah orang pertama yang akan bilang kalau dia tidak puas. Dalam kaitannya dengan brand, jika dia tidak puas, maka our brand ambassador ini tentu akan lapor duluan ke kita langsung sebelum lapor ke milisnya, atau ke circle of friends nya. <span> </span>Dengan laporan sahabat, brand bisa berbenah secara cepat, alert terhadap hal-hal negatif yang mungkin tidak disadari oleh brand.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong>Pembicara 2.0 di Astra PR Forum</strong></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p><!--EndFragment--></p>
<p>Cuplikan bahasan tentang analogi Pertemanan vs Branding tadi adalah bagian dari sharing saya di PR Forum Astra Jumat yang lalu. Terimakasih Pak Yulian Warman, Kapten Corporate Communication nya Astra yang sudah mengundang untuk berbagi cerita dan pengalaman.</p>
<p>Senang bisa bertemu dengan begitu banyak praktisi PR dan komunikasi secara langsung - yang hadir adalah wakil dari anak-anak perusahaan Astra yang bervariasi dari automobile hingga asuransi.</p>
<p>yang lebih senang lagi, saya jadi banyak istilah baru hari ini.</p>
<p>Perusahaan 0.0 :</p>
<p>Saya jelaskan bahwa perusahaan jaman sekarang harus bisa mengikuti gaya irama tariannya konsumen. Jadi kalau konsumennya saja sudah &#8216;modern&#8217;, masa perusahaannya masih &#8216;juaduull pangkat seratus&#8217;. Ya, pertemanan yang dibangun pasti akan berantakan, atau bahkan nggak terjadi. Karena &#8220;nggak nyambungss&#8221;. Salah satu ciri perusahaan &#8216;modern&#8217; adalah sudah menerapkan web 2.0 yaitu memberikan ruangan bagi konsumen untuk ikut bicara, dalam berbagai bentuk, termasuk dalam website atau blog korporat. Bahkan, sekarang perusahaan juga sudah mulai meningkatkan lagi kelasnya masuk di era web 3.0 yang lebih otomasi dan kaya lagi features nya untuk mempererat &#8220;persahabatan&#8221; dengan konsumen.</p>
<p>Paling gampang contoh perusahaan &#8216;jadul&#8217; ya Omni Internasional. Konsumen &#8216;modern&#8217; kaya Prita kok dilawan dengan jurus &#8216;kuno kuadrat&#8217;. Kalau istilah Pak Yulian, ini perusahaan nya masih web 0.0, boro-boro web 1.0 aja belum kalee..</p>
<p>Berkaitan dengan isi bahasan, pada sesi tanya jawab yang seru ada salah satu peserta yang mengusulkan untuk mengganti istilah &#8220;modern customers&#8221; vs &#8216;modern company&#8217; dalam slide saya, karena rancu dengan definisi Alvin Tovler yang membagi-bagi periode dan salah satunya pakai istilah &#8216;post-modern&#8217;.</p>
<p>Wow. Disini saya ditantang untuk tidak stay pada gaya &#8220;Guru&#8221; tetapi harus sudah bergaya &#8220;Web 2.0&#8243; yaitu interaktif dan dengan semangat &#8220;wisdom of crowd&#8221;. Rasanya saya bisa terima masukan Mas&#8230;. siapa ya lupa lagi namanya (maap disc memori saya kepenuhan, gampang lupa).</p>
<p>Saya tanya jadi diganti apa istilahnya, ternyata beliaunya blocking, gak ngasih istilah. Teman2 yang lain pada geli juga sebab judulnya &#8220;yang protes tanggung jawab lho&#8230;&#8221;. Setelah saya tawarkan, gimana kalau saya ganti aja dengan istilah &#8220;cool customers&#8221; vs &#8220;cool company&#8221; - setuju nggak, sebab yang saya maksud modern itu ya pokoknya &#8216;keren, n masa kini&#8217; lah. Tidak bermaksud membakukan istilah &#8220;modern company&#8217; anyway, cuma pakai istilah itu untuk bilang bahwa &#8220;BERUBAH&#8221; atau &#8220;CHANGE&#8221; dong&#8230; company, jangan jadul terus gayanya.</p>
<p>Alhamdulillah, teman kita senang dengan istilah baru tadi &#8220;cool&#8221; - menggantikan &#8220;modern&#8221;. Kata dia, lebih gaul Bu! Hehe, boleh juga nih, jadi lain kali di acara lain, akan saya ganti slidenya dengan istilah baru ini. Thanks buat inspirasinya. Sudah dapat hadiah buku belum ya&#8230;? Kalau belum nanti saya titipkan Pak Yulian. Seingat saya, sudah saya acknowledge sebagai salah satu penerima buku &#8220;consumer insights via ethnography&#8217; karangan saya.</p>
<p>Senang sudah naik kelas jadi Pembicara 2.0, horizontal communication dengan pesertanya. Bukan hanya media yang horizontal, bukan hanya marketing yang horizontal, sekarang pun Pembicara harus transformasi diri. Dari &#8216;guru-murid&#8217; ke &#8216;teman sharing&#8217;.</p>
<p>Sekali lagi thanks Pak Yulian untuk kesempatan bertemu teman2 PR Astra. Juga untuk Mas Boy dan Mbak Ningsih yang sudah arrange. Untuk semua yang hadir sore itu, keep in touch ya. Semoga sukses di tahun 2010 ini.</p>
<p>Ikut berbela sungkawa atas kepergian sang Maestro Astra, Pak Michael Ruslim. Saya sudah dokumentasikan tentang beliau dalam <a title="Tulisan Michael Ruslim" href="http://amaliamaulana.com/2010/02/13/ceo-branding-pelajaran-dari-michael-d-ruslim/">tulisan saya di Bisnis Indonesia Minggu</a>, silakan kalau ada yang mau komentar di tulisan tersebut, mau menambahkan dan menguatkan sebagai pihak yang kenal lebih dekat lagi. Tentu akan menambahkan deretan memori indah tentang beliau.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://amaliamaulana.com/2010/02/14/pembicara-20-analogi-teman-untuk-branding/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>CEO Branding : Pelajaran dari Michael D. Ruslim</title>
		<link>http://amaliamaulana.com/2010/02/13/ceo-branding-pelajaran-dari-michael-d-ruslim/</link>
		<comments>http://amaliamaulana.com/2010/02/13/ceo-branding-pelajaran-dari-michael-d-ruslim/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Feb 2010 12:33:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amalia E. Maulana</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Published Article]]></category>

		<category><![CDATA[CEO Branding]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://amaliamaulana.com/?p=319</guid>
		<description><![CDATA[Amalia E. Maulana
Dimuat di Bisnis Indonesia Minggu, 12 Februari 2010.

SMS teman di suatu pagi yang cerah membuat saya terhenyak, Pak Michael Ruslim sudah tiada. Ini sebuah kehilangan besar. Bukan hanya di perusahaannya, tetapi juga untuk negeri ini. Saya sudah tidak berselera lagi mengerjakan hal-hal yang ingin saya kerjakan hari itu.
Saya tidak kenal Pak Michael secara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Amalia E. Maulana</p>
<p>Dimuat di Bisnis Indonesia Minggu, 12 Februari 2010.</p>
<p><!--StartFragment--></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">SMS teman di suatu pagi yang cerah membuat saya terhenyak, Pak Michael Ruslim sudah tiada.<span> </span>Ini sebuah kehilangan besar. Bukan hanya di perusahaannya, tetapi juga untuk negeri ini. Saya sudah tidak berselera lagi mengerjakan hal-hal yang ingin saya kerjakan hari itu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Saya tidak kenal Pak Michael secara pribadi. Walaupun saya punya pengalaman mengajar di AMDI, Astra Management Development Institute, dan buku saya sempat direview di forum Astra.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Seorang CEO yang punya branding kuat seperti beliau ini tentu punya circle of fans. Saya mungkin tepat digolongkan sebagai salah satu dari fan tersebut. Apa yang menarik perhatian saya adalah semangat membuat perubahan. The real Agent of Change. Agen Perubahan sejati. Dan, karena semangat ini, saya merasa kehilangan seorang idola.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="IN">Makna Sebuah Brand</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">“Ultimately, a brand is the things people <em><span style="text-decoration: underline;">say about you</span> </em>when you’re not there” Demikianlah ungkapan seorang Jeff Bezos, CEO dari Amazon.com. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Pendapat tentang Michael Ruslim:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>“<em>Low<span> profile</span> dan dekat dengan karyawan , selalu <span>sharing value</span> dan pengalamannya tentang kehidupan, pekerjaan untuk produktivitas kerja.” (inilah.com)</em></span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="IN">“Salah satu pemimpin terbaik Astra, </span></em><em><span>Saham naik terus”</span></em><span> - Mantan PresKom Astra Abdurrahman Ramly (vivanews.com)</span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span>“Lebih suka berada di belakang layar.</span></em><em><span> Dikenal sebagai spesialis restrukturisasi perusahaan dan membangun bisnis baru bagi Astra Group”(</span></em><span>kompas.com)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Apakah personal brand baru bisa terlihat gaungnya pada saat ‘dia tidak berada di sana”? artinya benar-benar meninggalkan dunia ini? </span><span lang="IN">Tentu itu tidak benar. Jika Jeff Bezos menyatakan ‘<em>when you are not there’</em>, itu hanyalah sebuah ungkapan bahwa kita perlu mengatur langkah dengan baik, mumpung kita masih diberikan kesempatan untuk berbuat positif sebanyak-banyaknya, selama masih hidup. Apabila terdapat gap yang cukup besar antara ‘what they say’<span> </span>dengan ‘what we want them to say’ tentang diri kita’ – berarti perjalanan pembangunan brand kita masing panjang. </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="IN">CEO Branding</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Secara sadar atau tidak sadar, sebenarnya Michael Ruslim sudah melakukan aktivitas CEO Branding, secara baik dan benar. Ini tergambar dari berbagai komentar positif baik dari kalangan bisnis maupun non bisnis. Dan juga pada pergerakan harga saham.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Seberapa guncangan pasar modal yang ditimbulkan oleh kepergian seorang CEO?<span> </span>Saham Astra yang cenderung turun dalam minggu-minggu kepergiannya, menggambarkan bahwa di dalam kebesaran Brand Astra saat ini, terkandung juga kebesaran sang “CEO Brand” nya, yaitu Michael Ruslim.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Michael Ruslim adalah sebuah contoh CEO Branding di Indonesia, yang bisa kita pelajari bersama. Tidak harus gembar-gembor dan menjadi selebriti dadakan untuk mencapai level CEO Brand yang cemerlang. Dalam banyak kasus, sering kita temukan, seorang CEO yang setengah memaksakan citranya dalam sebuah kampanye produk atau perusahaan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="IN">CEO Branding dan Corporate Branding : Komplemen</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Lebih dikenal mana dalam sebuah perusahaan: Corporate Brand atau CEO Brandnya? Sebenarnya, pertanyaan umum ini tidak penting untuk dibahas. Dalam hal ini keduanya tidak berkompetisi melainkan merupakan komplemen. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Yang harus diteliti adalah, apakah makna dari kedua brand yang berdampingan ini saling menguatkan, bersinergi, dan penggabungannya akan menjadikan 1+1 = 10? Jika tidak, maka sebaiknya dilakukan review ulang. Apakah CEO Brand tidak lagi menjadi sebuah elemen penting pendukung cita-cita Corporate Brand. Atau sebaliknya, citra Corporate Brand sudah bergeser ke arah yang tidak menguntungkan bagi CEO Brand untuk beraliansi di dalamnya. Manapun situasinya, harus diambil tindakan segera. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Kualitas leadership CEO adalah cermin kualitas Corporate Brand. Seperti Michael Ruslim,<span> </span>walaupun dikenal sebagai sosok yang lebih senang bermain di belakang layar, tetap saja hasil pekerjaannya diakui dan dipublikasikan. Memperoleh penghargaan sebagai Best CEO dari Majalah SWA adalah salah satu publikasi yang mungkin tidak bisa dihindarinya sendiri. Mau tidak mau, beliau juga harus menampilkan diri.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Dalam konteks CEO Branding, tidak mungkin lagi mempunyai cita-cita murni pribadi. Dalam banyak hal, perlu dipikirkan bagaimana dampak dari pencitraan dirinya sebagai pemimpin tertinggi sebuah organisasi, apakah akan menjadi faktor pendukung atau menjadi faktor penghambat?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Semua orang yang berinteraksi dengan seorang CEO baik itu adalah internal stakeholders maupun stakeholders eksternal, akan membentuk sebuah impresi – dan Brand Impression inilah yang dinilai. Konsistensinya, Konvergensi dari citranya dari berbagai sumber, formal dan non-formal – akan menjelaskan siapa beliau dan apa saja yang telah dirasakan oleh sekitarnya telah dilakukannya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Tiga pertanyaan penting untuk mereview sinergi antara CEO Brand dengan Corporate Brand. Cukup tanyakan pada stakeholders untuk masing-masing brand: (1) What do people value most about your brand? (2) What makes your brand distinctive from the competitors? (3) What is it that your brand do well and consistently deliver to their customers? </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Apabila esensi dari pertanyaan-pertanyaan tersebut yang merupakan komponen dalam DNA masing-masing brand, sama atau sejalan (tidak harus sama, tetapi senafas), berarti keduanya bisa tetap bergabung dan saling mencemerlangkan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="IN">Personal Social Responsibility (PSR)</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Jika Corporate Brand yang cemerlang adalah yang mementingkan Corporate Social Responsibility (CSR). Demikian pula pada CEO Brand, bagaimana secara individu secara tulus meluangkan waktu dalam kegiatan Personal Social Responsibility (PSR). </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Sharing knowledge yang sering dilakukan oleh Michael Ruslim baik di industri maupun di dunia akademik, merupakan kegiatan PSR beliau. Sebagai contoh, sharing di acara CEO Speaks Binus Business School (tahun 2009), merupakan salah satu bentuk interaksi langsung beliau dengan dunia pendidikan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Semangat yang akan tetap menyala adalah semangat perubahan. Hanya dengan perubahan yang substantial, organisasi bisa berkembang dan mencapai cita-citanya.</span></p>
<p><!--EndFragment--></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://amaliamaulana.com/2010/02/13/ceo-branding-pelajaran-dari-michael-d-ruslim/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>The I-Brand: Sebuah Dimensi Personal Branding</title>
		<link>http://amaliamaulana.com/2010/01/25/the-i-brand-sebuah-dimensi-personal-branding/</link>
		<comments>http://amaliamaulana.com/2010/01/25/the-i-brand-sebuah-dimensi-personal-branding/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Jan 2010 08:38:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amalia E. Maulana</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Popular Article]]></category>

		<category><![CDATA[Published Article]]></category>

		<category><![CDATA[personal branding]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://amaliamaulana.com/?p=318</guid>
		<description><![CDATA[
The I-Brand: Sebuah Dimensi Personal Branding
 
Amalia E. Maulana
 
Dimuat di Majalah Eksekutif, 2007.
 
 
 
Dalam ilmu pemasaran, pembicaraan tentang branding tampaknya tidak habis-habis dibicarakan orang. Sebagai buzzword, branding termasuk cukup bertahan, masih didengung-dengungkan, digunakan dalam berbagai konteks. Topik saya kali ini juga masih seputar branding, khususnya membahas bagaimana membangun sebuah I-Brand yang kuat. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--StartFragment--></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="IN">The I-Brand: Sebuah Dimensi Personal Branding</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Amalia E. Maulana</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Dimuat di Majalah Eksekutif, 2007.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Dalam ilmu pemasaran, pembicaraan tentang branding tampaknya tidak habis-habis dibicarakan orang. Sebagai buzzword, branding termasuk cukup bertahan, masih didengung-dengungkan, digunakan dalam berbagai konteks. Topik saya kali ini juga masih seputar branding, khususnya membahas bagaimana membangun sebuah I-Brand yang kuat. Istilah I-Brand memang belum begitu populer. Pertama dikenalkan oleh Gary C. Sain pada tahun 2005. Terminologi yang saya sendiri sempat agak rancu dengan i-brand, yang berarti internet-brand. I-Branding tidak ada hubungannya dengan internet branding, walaupun pada implementasinya, Internet bisa saja menjadi salah satu alat untuk membangun I-Brand.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">I-Brand hampir mirip dengan personal brand, dimana tokoh utama yang di-branding adalah diri seseorang. Perbedaannya, jika branding untuk personal pada umumnya dilakukan dalam rangka menjadikannya seorang <em>public figure</em> atau ahli/tokoh tertentu; dimensi I-Brand lebih terbebas dari tujuan tersebut. Branding ”I” atau ”Aku” mengajak seseorang memikirkan goal yang hendak diraih, apapun bentuknya. I-Branding lebih berorientasi pada diri sendiri, mewujudkan mimpi-mimpi pribadi yang berkaitan dengan pekerjaan. Tidak harus menjadi seorang CEO atau <em>public figure</em> untuk mempunyai sebuah I-Brand yang solid. Strategi I-Brand adalah strategi pembinaan diri untuk menjadi seseorang yang punya nilai tinggi di mata stakeholdersnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Saya teringat salah satu segmen wawancara kerja di masa lampau, dimana seorang CEO yang kebetulan ikut dalam proses rekrutmen menanyakan ’Ingin berada dimana Anda lima tahun mendatang?”<span> </span>Secara spontan saya katakan saya ingin duduk di kursi yang beliau duduki. Setengah berkelakar, beliau bangkit dari kursinya, dan menawarkan kursi tinggi yang penuh wibawa itu. ”Silakan, Anda bisa duduk di sini sekarang kalau mau”. Secara fisik bisa saja saya duduk disitu kapan saja saya mau, tetapi nyatanya, setelah lima tahun berlalu, bahkan sampai hari inipun, saya belum juga menduduki posisi beliau. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Seringkali kita bekerja tanpa tahu persis kemana muaranya, menuju kemana kita bergerak. Kehidupan mengalir begitu saja, menikmati apa yang ada di hadapan mata. Pernahkah terpikir untuk berhenti sejenak, dan merenung: dalam tiga tahun, posisi apa yang ingin kita raih, ilmu apa harus sudah dikuasai, dll. Untuk meraih tempat atau posisi yang kita inginkan, selain kerja keras, kita juga perlu merencanakan dan mengatur strategi, mengemas diri dan melakukan branding dengan baik. Ini yang disebut dengan I-Branding.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Tips untuk I-Branding menurut Gary ada lima, yaitu : unik, relevan, kredibel, esteem,dan knowledge. Secara garis besar, kelima komponen tersebut tergambar dalam pertanyaan yang harus kita jawab antara lain: Apakah kita mempunyai keunikan atau differensiasi yang bernilai di mata target audience? Ada berapa orang lagi selain kita yang bisa memberikan kontribusi yang sama nilainya? Dalam melaksanakan tugas, apakah kita selalu siap untuk memberikan yang terbaik? Apakah kita adalah pribadi yang dapat diandalkan dan dipercaya? Seberapa tinggi pengetahuan yang kita miliki tentang apa yang sedang kita geluti, mengertikah terhadap apa yang terjadi di tingkat konsumen, di tingkat perusahaan dan industrinya?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Jika kita amati, tips di atas tidak berbeda jauh dengan kunci sukses pembangunan sebuah brand produk atau perusahaan. Step-step yang harus dikerjakan dalam membangun dan membina I-Brand setara dengan brand lainnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span>-<span> </span></span></span><span lang="IN">Pertama, tentukan siapa saja target audience I-Brand dalam kelompok stakeholders. Buat ranking, dari target audience utama hingga yang sampingan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span>-<span> </span></span></span><span lang="IN">Kedua, memahami apa saja kebutuhan dan aspirasi mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span>-<span> </span></span></span><span lang="IN">Selanjutnya, posisikan I-Brand di tempat yang punya nilai unik dan differensiasi tertentu. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span>-<span> </span></span></span><span lang="IN">Kemudian, langkah implementasi. Dalam keseharian, yang penting adalah konsisten memberikan kontribusi terhadap target audience sesuai dengan nilai yang telah dijanjikan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span>-<span> </span></span></span><span lang="IN">Ciptakan brand experience yang menyenangkan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span>-<span> </span></span></span><span lang="IN">Evaluasi dan review keberadaan I-Brand setiap periode. Sesuaikan langkah dan arah apabila terjadi perubahan eksternal yang di luar kendali kita. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span>-<span> </span></span></span><span lang="IN">Jangan melupakan bahwa perusahaan dimana kita bekerja merupakan co-branding bagi I-Brand. Sulit untuk membina I-Brand bila citra co-brand tidak sesuai dengan citra yang hendak kita tanamkan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Perbedaan utama antara personal brand dengan I-Brand mungkin bisa dilihat dari tingkat intensitas dan cara berkomunikasi dengan target audience. Personal branding hampir tidak mungkin dapat dilakukan tanpa bantuan media masa. Tidak demikian halnya dengan I-Brand. Mengkomunikasikan siapa diri kita dan memproyeksikan kemampuan, keunikan dan differensiasi personal tidak harus melalui media formal. Disini yang lebih berperan adalah media informal, dimana kontak langsung dengan target audience mendominasi terciptanya citra I-Brand. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Dalam keseharian kita di kantor, penilaian berjalan terus melalui berlalunya waktu, menggambarkan I-Brand seperti apa yang ingin diraih. Bagaimana pemilihan bahasa verbal dan non-verbal (bahasa tubuh) yang digunakan sehari-hari, bagaimana menciptakan rasa nyaman untuk setiap interaksi dengan pihak lain. Bahkan, mau atau tidak mau,<span> </span>pemilihan ’kemasan’ dalam hal ini busana yang dikenakan, juga bisa ikut mendorong terciptanya I-Brand. Kegagalan dalam berkomunikasi dalam lingkungan terdekat bisa membawa dampak yang luas dalam proyeksi nilai-nilai I-Brand yang sudah dirancang sebelumnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Saran terakhir, dan ini menyangkut tanggung jawab sosial. Seperti yang diutarakan dalam buku Pengalaman Starbucks oleh Joseph A. Michelli, salah satu dari lima prinsip sukses Starbucks adalah ”leave your mark”. Jika dalam konteks Starbucks, itu berarti ’corporate social responsibility’, maka jika diterapkan dalam I-Branding, ini berarti ’personal social responsibility’. Sudah berapa banyakkah kontribusi kita terhadap pembinaan rekan atau bawahan di lingkungan tempat bekerja? Di lingkungan dimana kita tinggal? Di masyarakat luas? Ini penting dilakukan untuk menjaga keseimbangan. Seperti halnya prinsip corporate social responsibility, apa yang dikembalikan ke masyarakat pada akhirnya akan memberikan arti bagi pengembangan I-Brand yang solid. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Selamat membangun dan mengembangkan I-Brand.</span></p>
<p class="MsoNormal"><!--StartFragment--></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><a href="http://elzulaikha.multiply.com/journal/item/12">http://elzulaikha.multiply.com/journal/item/12</a></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><a href="http://soilman.wordpress.com/2008/10/17/the-brand/">http://soilman.wordpress.com/2008/10/17/the-brand/</a></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><a href="http://www.mediaindonesia.com/data/pdf/pagi/2008-05/2008-05-31_16.pdf">http://www.mediaindonesia.com/data/pdf/pagi/2008-05/2008-05-31_16.pdf</a></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p><!--EndFragment--></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p><!--EndFragment--></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://amaliamaulana.com/2010/01/25/the-i-brand-sebuah-dimensi-personal-branding/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Perguruan Tinggi Harus Miliki &#8220;Branding&#8221; Hadapi Persaingan</title>
		<link>http://amaliamaulana.com/2010/01/16/perguruan-tinggi-harus-miliki-branding-hadapi-persaingan/</link>
		<comments>http://amaliamaulana.com/2010/01/16/perguruan-tinggi-harus-miliki-branding-hadapi-persaingan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Jan 2010 23:06:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amalia E. Maulana</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[university branding]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://amaliamaulana.com/?p=317</guid>
		<description><![CDATA[
Dimuat di Antara News, 13 Januari 2010.
 
Jakarta (ANTARA News) - Perguruan tinggi harus memiliki &#8220;branding&#8221; yang baik dan berusaha mempertahankannya untuk tetap eksis menghadapi persaingan antar-perguruan tinggi yang semakin ketat.
 
&#8220;Apalagi perguruan tinggi asing juga makin gencar melakukan promosi untuk menarik minat calon mahasiswa baru di Indonesia,&#8221; kata konsultan brand dan etnografer Amalia E [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--StartFragment--></p>
<p class="MsoNormal">Dimuat di Antara News, 13 Januari 2010.</p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Jakarta (ANTARA News) - Perguruan tinggi harus memiliki &#8220;branding&#8221; yang baik dan berusaha mempertahankannya untuk tetap eksis menghadapi persaingan antar-perguruan tinggi yang semakin ketat.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">&#8220;Apalagi perguruan tinggi asing juga makin gencar melakukan promosi untuk menarik minat calon mahasiswa baru di Indonesia,&#8221; kata konsultan brand dan etnografer Amalia E Maulana, di Jakarta, Rabu malam.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Dikatakannya, &#8220;branding&#8221; adalah sebuah proses memperkenalkan &#8220;brand&#8221; sampai bagaimana lingkungan memberikan penilaian yang baik pada &#8220;brand&#8221; tersebut. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Dikatakannnya, perguruan tinggi yang tidak memiliki &#8220;branding&#8221; baik akan dilupakan oleh konsumennya yakni mahasiswa dan calon mahasiswa.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Ia mencontohkan ada beberapa perguruan tinggi swasta di Yogyakarta yang saat ini nyaris bangkrut lantaran kesulitan mendapatkan mahasiswa yang berminat kuliah di perguruan tinggi tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Menurut dia, untuk memiliki &#8220;branding&#8221; yang baik sebuah perguruan tinggi harus terus melakukan proses transformasi informasi dan lainnya kepada mahasiswa dan </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">&#8220;stake holder&#8221; dari sekadar diketahui menjadi selalu diingat dengan baik.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Doktor ilmu pemasaran lulusan Universitas New South Wales Australia ini mengusulkan untuk memiliki &#8220;branding&#8221; yang baik hendaknya perguruan tinggi merekrut tenaga &#8220;chief marketing officer&#8221; (CMO) profesional.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">&#8220;Apalagi perguruan tinggi adalah bisnis yang kompleks dan unik, yang dalam pembentukan `branding`nya ada beberapa isu yang kontradiktif seperti lembaga profit sekaligus sosial,&#8221; katanya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Keberadaan CMO di perguruan tinggi bertugas melakukan transformasi informasi kepada mahassiawa dan masyarakat dari sekadar tahu (&#8221;just friend&#8221;) menjadi sahabat karib (&#8221;soul mates&#8221;).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Perguruan tinggi yang yang mampu mentransormasikan informasinya dengan baik, katanya, akan memiliki &#8220;branding&#8221; yang baik di masyarakat.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Tugas CMO, katanya, terus melakukan proses sosialisasi &#8220;brand&#8221; hingga mahasiswa dan masyarakat memiliki penilaian yang baik dan selalu teringat pada pergutuan tinggi tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">&#8220;CMO yang baik akan bekerja dengan perencaan dan pencapaian tahapan secara baik serta menjangkau akses yang seluas-luasnya,&#8221; katanya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Diakuinya, untuk memperoleh &#8220;branding&#8221; baik tidak bisa hanya dalam waktu sekejap tapi dibutuhkan waktu lama, karena itu &#8220;branding&#8221; juga dinamis.(*)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p><!--EndFragment--></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://amaliamaulana.com/2010/01/16/perguruan-tinggi-harus-miliki-branding-hadapi-persaingan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Gus Dur, Sang Mega Brand</title>
		<link>http://amaliamaulana.com/2010/01/09/gus-dur-sang-mega-brand/</link>
		<comments>http://amaliamaulana.com/2010/01/09/gus-dur-sang-mega-brand/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Jan 2010 00:49:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amalia E. Maulana</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Published Article]]></category>

		<category><![CDATA[Mega Brand]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://amaliamaulana.com/?p=313</guid>
		<description><![CDATA[Amalia E. Maulana
dimuat di Bisnis Indonesia Minggu, 8 Januari 2010
&#8220;Ma, siapa sih Gus Dur? Heboh banget ya kayanya&#8221; tanya anak saya yang SMP kelas satu. &#8220;Wah, masa nggak tau sih, kan beliau adalah presiden Indonesia yang keempat. Gus Dur itu nama panggilan Abdurrahman Wahid. Pasti tau dong, di sekolah sudah pasti ada di pelajaran.&#8221; Harap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Amalia E. Maulana</p>
<p>dimuat di Bisnis Indonesia Minggu, 8 Januari 2010</p>
<p>&#8220;Ma, siapa sih Gus Dur? Heboh banget ya kayanya&#8221; tanya anak saya yang SMP kelas satu. &#8220;Wah, masa nggak tau sih, kan beliau adalah presiden Indonesia yang keempat. Gus Dur itu nama panggilan Abdurrahman Wahid. Pasti tau dong, di sekolah sudah pasti ada di pelajaran.&#8221; Harap maklum pada saat Gus Dur menjadi presiden, dia masih terlalu kecil untuk register &#8216;Gus Dur&#8217; sebagai sebuah brand.</p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Kyai Haji Abdurrahman Wahid atau lebih dikenal dengan sebutan &#8216;Gus Dur&#8217; sebagai salah satu pemimpin bangsa, diyakini banyak orang dan lembaga, pantas mendapatkan gelar pahlawan nasional.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Bahkan, belakangan muncul 2 grup di facebook yang menggalang simpatisan Gus Dur untuk ikut berpartisipasi dalam merealisasikan diberikannya gelar terhormat tersebut untuk bintang pujaannya. &#8220;Dukung Gus Dur ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional 10 November 2010&#8242;, saat ini mencapai hampir 1.000 orang. Grup kedua </span><span lang="IN">5.</span><span lang="IN">000.000 facebookers tetapkan Gus Dur pahlawan nasional&#8217; mencapai lebih dari 13.000 orang.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Layak atau tidaknya Gus Dur dikategorikan menjadi salah satu pahlawan nasional, tentu pemerintah dan yang ahli di bidang sejarah dan tata negara akan mengacu pada definisi dan kriteria-kriteria yang sudah disepakati bersama sejak lama.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Pada jaman yang sudah berubah seperti sekarang ini, sudah waktunya kriteria-kriteria pengkategorian seseorang menjadi pahlawan nasional di-review kembali. Wafatnya Gus Dur dan tuntutan untuk memberikan label pahlawan ini adalah sebuah momentum bagi para ahli sejarah dan tata negara untuk membedah kembali komponen pengukuran. Apakah masih relevan dengan kondisi masyarakat masa kini?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Sebagian dari kriteria yang bersifat sangat mendasar dan prinsip, jelas harus dipertahankan. Namun, ada beberapa komponen yang perlu diterjemahkan ulang, karena konteks yang berbeda saat ini, lebih tepatnya beberapa komponen ini perlu dimodifikasi. Komponen yang sudah jelas usang dan tidak lagi relevan, dibuang saja. Digantikan dengan hal-hal baru yang belum terpikirkan bakal muncul pada awal berdirinya negara, dan ternyata perlu dicakup.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Tulisan saya kali ini adalah ingin membantu mengkaji ulang kriteria dari kacamata saya sebagai seorang brand consultant, yang nantinya bisa dipertimbangkan oleh team &#8216;redefinisi ulang pahlawan nasional&#8221;. Tujuannya agar kriteria Pahlawan Nasional versi baru nanti, lebih punya dimensi, karena diukur dari berbagai perspektif, tidak murni hanya dari kacamata ilmu sejarah dan tata Negara.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Kriteria seorang calon pahlawan nasional menurut Prof. Nina Lubis adalah: (1) </span><span lang="IN">Semasa hidupnya berjuang (bersenjata maupun politik dan bidang lain): persatuan dan kesatuan bangsa, (2) Memiliki ide besar utk kemajuan bangsa</span><span lang="IN">, (3) </span><span lang="IN">Pengabdian tidak sesaat, (4)</span><span lang="IN"> </span><span lang="IN">Jangkauan luas dan berjarak nasional,</span><span lang="IN"> (5) </span><span lang="IN">Semangat kebangsaan/­nasionalisme tinggi,</span><span lang="IN"> (6) </span><span lang="IN">Akhlak moral yang tinggi,</span><span lang="IN"> (7) </span><span lang="IN">Tidak mudah menyerah,</span><span lang="IN"> (8) </span><span lang="IN">Sepanjang hidupnya tidak pernah melakukan perbuatan tercela yang merusak nilai perjuangannya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Mungkin kriteria terakhir ini yang menjadi bahan perdebatan. Perbuatan tercela atau negatif ini bisa jadi sangat subyektif dan terkontaminasi dengan berbagai sudut pandang yang politis.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Kriteria tambahan yang akan saya ajukan disini adalah yang berhubungan dengan apakah seorang tokoh tersebut adalah &#8220;Mega Brand&#8221; atau tidak. Masyarakat dan stakeholders penting lainnya harus sepakat dulu bahwa brand tokoh tersebut sudah sampai pada sebuah tingkatan yang disebut dengan mega brand.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="IN">Gus Dur adalah Mega Brand</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Apa persamaan Gus Dur dengan Michael Jackson (MJ) di mata seorang brand consultant? Keduanya adalah Mega Brand. Brand yang sangat besar. Keduanya juga dipenuhi oleh kontroversi pro dan kontra. Pemakaman Mega Brand dibanjiri massa yang ingin memberikan penghormatan terakhir.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">MJ dielu-elukan, dipuja sebagai raja pop yang belum ada tandingannya. Walaupun banyak sisi negatifnya dibeberkan di media dan bahkan menjadi bahan ejekan sebagian orang, karisma MJ tidak menjadi pudar.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Penampilan terakhir MJ dalam filmnya ‘This is It” memberikan pelajaran berharga dan membuat saya punya catatan tersendiri tentang seperti apa yang disebut dengan ‘Mega Star’ atau ‘Mega Brand’.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Mega Brand: </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">- Push Beyond The Boundaries.<span> </span>Unthinkable </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">- Make a &#8217;significant&#8217; change (for the community) </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>- Mega Brand is forever.<span> </span>Irreplaceable (so unique) </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>- It is about making connection with the audience.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Gus Dur memenuhi keempat kriteria di atas. Pemikiran beliau sangat mendahului jaman, push beyond the boundaries, unthinkable. Memberikan significant change, irreplacable (unik). </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Kriteria terakhir, ‘making connection’ dengan khalayak sangat tergambar pada hari pemakaman beliau. &#8216;Kedekatan&#8217; dengan masyarakat luas, intelektual dan nonintelektual, partai dan nonpartai, semuanya tergambar dengan jelas.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Gus Dur adalah pelopor demokrasi dan pluralisme dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal-hal yang negatif yang dialamatkan ke beliau masih perlu dikaji ulang. Jika banyak yang tidak setuju dengan perspektif beliau, ini barangkali menjadi sebuah bukti bahwa perbedaan pendapat menjadi salah satu yang mewarnai kehidupan demokrasi. Tuduhan bahwa Gus Dur diduga terlibat Buloggate sampai dia wafat, belum terbukti.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Gus Dur adalah seorang pemimpin bangsa, yang mempunyai karisma luar biasa di berbagai kalangan. Sinar karisma ini lebih cemerlang dibandingkan dengan keredupan perbedaan pendapat dan hal-hal negatif yang dialamatkan padanya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Gus Dur memenuhi syarat sebagai Mega Brand. Pembicaraan dan pembahasan yang tidak ada hentinya dan lebih dititikberatkan kepada hal positif, menjelaskan bahwa brand ini layak dapat award. Dan award itu bernama gelar pahlawan nasional.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Seorang Mega Brand tidak petentang-petenteng. Baik MJ maupun Gus Dur mempunyai sifat humble dan down-to-earth, tetapi tetap perfeksionis. Kombinasi sifat yang sangat jarang. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Selamat jalan MJ, the Great. Selamat jalan Gus Dur, The Great. Your brands are forever in our heart&#8230;..</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://amaliamaulana.com/2010/01/09/gus-dur-sang-mega-brand/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Email address &#038; personal brand image</title>
		<link>http://amaliamaulana.com/2010/01/04/email-address-brand-image/</link>
		<comments>http://amaliamaulana.com/2010/01/04/email-address-brand-image/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Jan 2010 20:21:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amalia E. Maulana</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[brand image]]></category>

		<category><![CDATA[email]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://amaliamaulana.com/?p=312</guid>
		<description><![CDATA[Sudah sering saya advice student atau relasi yang nama email address nya suka aneh-aneh. Do you realize that all of what you wrote there express who you are?
Your personal brand image - tergambar dari email address yang dipilih. Kalo aneh-aneh, nyeleneh, ruwet penuh angka, dst.. perlu direview ulang. Apakah expression dalam email itu menggambarkan diri [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sudah sering saya advice student atau relasi yang nama email address nya suka aneh-aneh. Do you realize that all of what you wrote there express who you are?</p>
<p>Your personal brand image - tergambar dari email address yang dipilih. Kalo aneh-aneh, nyeleneh, ruwet penuh angka, dst.. perlu direview ulang. Apakah expression dalam email itu menggambarkan diri kita atau tidak? Apakah email itu membuat kita mudah dihubungi atau tidak? dst. Ada cerita pengalaman seperti di bawah ini. simak ya.</p>
<p>Saat saya berkunjung ke dokter langganan karena sebuah keluhan yang agak urgent, saya dihadapkan dengan situasi. Dokter saya yang sudah senior dan canggih dimata saya tersebut sedang keluar negeri, dan yang sekarang bertugas adalah dokter pengganti. Kalau tidak urgent, mungkin saya pulang lagi.</p>
<p>Kemudian secara spontan saya tanyakan siapa dokter pengganti tersebut? Staff di bagian penerimaan pasien menyebutkan sebuah nama yang buat saya tidak &#8216;bunyi&#8217; apa-apa alias saya tidak pernah dengar apalagi kenal siapa beliau.</p>
<p>Karena itu, &#8216;customer rewel&#8217; spt saya ini bertanya terus&#8230; Dokter yang ini sudah berapa lama bertugas di klinik situ dan sehari-harinya bertugas di rumah sakit mana dll.. apa saja yang saya bisa tanyakan sekedar untuk memberikan keyakinan bahwa saya lanjutkan saja berobatnya.</p>
<p>Staff merangkap receptionist merasa tidak terlalu tau 100% dengan latar belakang dokter pengganti, tetapi dengan Pe-De nya mengatakan Insya Allah beliau adalah lulusan terbaik! Wow, great.. lulusan terbaik? canggih dong mustinya ya.. mulai meningkat nih minat untuk stay. Cuma saya tanyakan lagi, ehm&#8230; Mbak, lulusan terbaik ini yang dimaksud lulusan terbaik pada saat lulus jadi dokter tahun berapa ya? Setahun lalu, lima tahun lalu atau 10 tahun lalu&#8230;?</p>
<p>Bukan bermaksud rese&#8217; sih (padahal iya juga), tapi infonya general banget. Lulusan terbaik? Keponakan saya juga dokter lulusan terbaik, lho.. tapi lulusnya baru kurang lebih dua bulan yang lalu. Untuk bentuk services yang kompleks dan resiko tinggi ini, buat konsumen, semakin tinggi jam terbang, akan semakin oke lah expert tersebut.</p>
<p>Infonya jangan sepotong dong Mbak&#8230;.. apa barangkali ada sedikit penjelasan ttg CVnya Dokter atau apa punya materi promosi klinik yang saya bisa baca sambil iseng nunggu giliran? atau ada di websitenya? sy bisa akses Internet kok disini. Saya disini masih dalam proses pengumpulan info.</p>
<p>Maaf Bu, kami nggak ada info yang se-spesifik itu. Saya taunya beliau itu lulusan terbaik, jadi dokter senior yang sedang cuti sudah mempercayakan kepadanya. tapi ini ada kartu nama beliau, silakan ibu boleh ambil satu.</p>
<p>OK, lumayan&#8230; paling tidak saya tidak tangan hampa kembali ke antrian duduk di ruang tunggu. Kepada teman yang hari itu menemani, saya mulai curhat.. gimana neh, terusin nggak ya berobat di sini, gw rada males nih, maunya ketemu dr yang senior yang sudah pasti paten.. ini nggak jelas profilnya dokter pengganti.</p>
<p>&#8220;Halaaah, udah sakit gitu, terusin aja, siapa tau ok, kan tempat ini lumayan representatif (maksudnya mahal huhu..), jadi gak lah pilih dokter sembarangan.&#8217; begitu teman saya meyakinkan.</p>
<p>Sambil menunggu, mata saya tertumbuk pada email address beliau sang dokter ini yang menggunakan email yahoo (masih OK lah, tapi saya mulai menganalisa&#8230; pasti ini dokternya masih muda/yahoo generations). Di bawah email perama, ada satu email address lainnya. kedua email ini buat saya termasuk mengarahkan kepada gambaran senior atau junior seseorang. Email address yang kedua lebih mencengangkan. Menggunakan free mail sejenis yahoo juga, nama yang ditulis sangat informal dan menjelaskan karakter seseorang, yang kira-kira maknanya adalah &#8217;suka iseng&#8217; dll.</p>
<p>&#8220;Oh No! dari judul2 email addressnya langsung tergambar profil beliau yang lulusan terbaik ini, saya berani tarohan, kata saya ke teman tadi, pasti dia muda, dan bukan cuma muda tapi muda banget. Student saya juga banyak yang emailnya aneh-aneh spt ini, belum memikirkan bahwa one day, as a professional, ini akan sedikit banyak mempengaruhi citra.</p>
<p>Kalau dipakai untuk account facebook, sih, yah masih oke lah, tapi excuse me.. jangan ditulis di name card kantor kaya gini, pliz dong ah.</p>
<p>Ah, udahlah, keputusan saya waktu itu, terusin aja rencana berobat. Pertama - udah males pindah tempat lain. Kedua - memang juga udah sakit pengen dapat obatnya, dan yang terakhir - jadi pengen tau, bener gak sih, dokternya muda? jangan2 saya kebanyakan analisa aja..</p>
<p>&#8216;Emang loe nih dasar&#8217; kata teman saya, &#8217;segala macam dianalisa, repot deh kalau ada 10 konsumen kaya gini tiap harinya, pasti resign tuh staff receptionistnya.&#8217; Hehe.. nyengir aja saya. Jadi inget anak-anak yang suka ngumpet kalo Mamanya mulai tanya2 dan mulai menjadi &#8216;rewel customer&#8217; di tempat2 umum&#8230;malu &#8216;kali mereka.</p>
<p>Singkat cerita, sampai juga giliran saya. Begitu bertemu, oooopps&#8230;.Nah, ternyata benar kan, masih muda&#8230;Perasaan sakit yang biasanya kalau ketemu dokter langganan sudah hilang separo begitu masuk ruang kerjanya, ini masih tetap 100% sakit. Maklum, sakit kan 50% nya sugesti, kata orang.</p>
<p>Setelah diperiksa dan diberi obat, saya iseng aja sekalian confirm neh ceritanya. Dokter lulusan terbaik tahun berapa ya&#8230; gayanya sy kaya udah kenal n tahu CVnya aja. Ternyata belum sampai tiga tahun yang lalu&#8230;dan kemudian saya tunjukkan name cardnya, benarkah ini email address yang bisa saya hubungi? oh iya, jelasnya. Dari ekspresi bertanya saya yang mengandung minta penjelasan (ge-er..) beliau kemudian jelaskan bahwa belum sempat punya email address baru semenjak jaman mahasiswa yang mana beliau memang termasuk &#8216;orang gaul&#8217; yang punya &#8216;email gaul&#8217; juga.</p>
<p>Well, that&#8217;s enough to complete my puzzle. Saya nggak keberatan diperiksa oleh dokter lulusan terbaik tetapi di kasir saya agak merengut waktu harus bayar harga yang sama mahalnya spt dokter senior langganan. This is not right.. (dalam hati aja), bukannya gak mau berobat pada dokter muda, lho&#8230;. tapi kan harganya jangan disamain begitu. Too expensive for the value I got. Ini kesalahan pricing strategy. Untuk services atau jasa, People (dalam hal ini dokter senior) itu adalah bagian dari Value offering yang terpenting dari keseluruhan proses interaksi konsumen dengan brand (rumah sakit/klinik).</p>
<p>Sebenarnya simple saja solusinya, bikin dua rate dokter - senior lebih tinggi sekian persen dari yang junior dan itu diumumkan. Seperti di hairdresser, mereka cukup canggih menjelaskan di awal, kalo sama Jonnny itu favorit paling mahal, potong rambut 200rb, kalau sama Mike, harganya 125 rb, kalau sama Kirana dan yang lain sekelasnya, harganya 75 rb, dst..</p>
<p>Sambil build pengalaman jam terbang yang junior lama2 pasti akan jadi senior juga. Apalagi modalnya udah top, kan lulusan terbaik. Mungkin utk mencapai level skill yang dipunyai oleh senior nya bisa lebih cepat diperoleh.</p>
<p>Customer butuh reassurance bahwa menggantikan yang senior ke junior artinya sudah &#8216;under-deliver&#8217; (vs expectation). Tetapi under deliver itu sebenarnya masih bisa diterima selama ada adjustment dari &#8216;cost&#8217; yang harus dibayarkan oleh pasien.</p>
<p>Akhir cerita pendek ini, obatnya oke juga kok ternyata. Cukup manjur. Berarti sekolahnya pinter beneran deh dokternya. Cuma, untuk kapan2, kalo sakit lagi, saya mau telpon dulu, dokter langganan saya yang lebih senior apakah sedang cuti atau tidak, sebelum jauh-jauh kesana.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://amaliamaulana.com/2010/01/04/email-address-brand-image/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Surat Pembaca : sekali-sekali memuji dong</title>
		<link>http://amaliamaulana.com/2009/12/27/surat-pembaca-sekali-sekali-memuji-dong/</link>
		<comments>http://amaliamaulana.com/2009/12/27/surat-pembaca-sekali-sekali-memuji-dong/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Dec 2009 11:43:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amalia E. Maulana</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://amaliamaulana.com/?p=311</guid>
		<description><![CDATA[Malam itu, tanggal 15 Des, di hotel Mulia, Senayan Jakarta, saya duduk semeja dengan Pak Bambang Setiadi, sesama juri Anugerah Produk Asli Indonesia 2009, kepala Badan Standarisasi Nasional (BSN). Beliau mengungkapkan pengalaman menariknya - menemukan kembali laptopnya yang ketinggalan di Bandara, yang dimuat di surat pembaca Detik.
Setuju Pak, surat pembaca kan isinya nggak boleh complain [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Malam itu, tanggal 15 Des, di hotel Mulia, Senayan Jakarta, saya duduk semeja dengan Pak Bambang Setiadi, sesama juri Anugerah Produk Asli Indonesia 2009, kepala Badan Standarisasi Nasional (BSN). Beliau mengungkapkan pengalaman menariknya - menemukan kembali laptopnya yang ketinggalan di Bandara, yang dimuat di surat pembaca Detik.</p>
<p>Setuju Pak, surat pembaca kan isinya nggak boleh complain mulu, ngeluh terus. Pas bagus dan cemerlang, ya harus kita angkat juga, dong. Apalagi ini suatu kejadian yang &#8216;too good to be true&#8217;. Apresiasi dalam bentuk surat pembaca seperti ini yang akan memotivasi crew Bandara dan Garuda untuk terus meningkatkan servicenya. Bravo untuk Pak Bambang yang sudah memuat &#8216;cerita positifnya&#8217; dan juga nama2 yang disebut sebagai malaikat-malaikat penolong tersebut.</p>
<p>Coba deh, sekali-sekali hitung rasio surat yang berisi pujian dibandingkan keluhan, mungkin masih 20/80. Padahal, pentttiiiinggg sekali mencari konsumen2 seperti Pak Bambang ini, untuk menjadi brand ambassador pada saat brand memberikan pelayanan yang prima.</p>
<p>Suratnya saya tuliskan dibawa ini diambil langsung dari  <a title="surat pembaca Detik" href="http://suarapembaca.detik.com/read/2009/12/14/163652/1259907/283/apresiasi-kepada-pilot-co-pilot-pramugara-pramugari-garuda-ga-408">linknya</a>.</p>
<p><!--StartFragment--></p>
<p class="MsoNormal"><span>Apresiasi Kepada Pilot, Co Pilot, Pramugara, Pramugari Garuda GA 408 </span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span>Bambang Setiadi</span><span> - suaraPembaca</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><strong><span>Jakarta</span></strong><span> - Saya menggunakan fasilitas Garuda/Mandiri Lounge. Tanggal 10 Desember 2009 sekitar jam 12.30 - 13.30 dalam persiapan menunggu perjalanan Jakarta - Denpasar. Di dalam lounge saya mengerjakan beberapa tugas kantor menggunakan laptop Sonny type Vaio. Penerbangan saya menggunakan GA 408 jam 13.55.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Di atas pesawat baru saya sadar bahwa laptop saya ketinggalan di lounge. Mengingat data pekerjaan dan naskah-naskah ilmiah yang disimpan di lap top itu sangat penting bagi tugas dan profesionalisme saya situasi itu membuat saya lumayan panik.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Saya melapor Pramugari Anita Yustisia. Kemudian mendiskusikan dengan Pramugara Sigit Wijaya minta izin apakah saya bisa melapor ke pilot untuk mengontak Garuda Lounge di Jakarta.</span></p>
<p class="MsoNormal">Mereka berdua melapor ke Captain Pilot dan Captain Pilot melakukan  tindakan yang menurut saya melebihi tugasnya. Dengan membantu sepanjang perjalanan membuat kontak-kontak dari udara dengan airport Juanda Surabaya dan airport Denpasar agar mengirim telefax ke Jakarta tentang kehilangan laptop dan spesifikasi dari laptop saya itu.</p>
<p class="MsoNormal"><span>Atas rintisan usaha itu, ditunjang dengan dukungan teman-teman saya dan petugas keamanan di Bandara Cengkareng, alhamdulilah, saya bisa menulis surat pembaca ini menggunakan laptop saya yang tertinggal itu. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Saya ingin menyampaikan apresiasi yang sangat tinggi kepada pilot dan co pilot Garuda yang menerbangkan GA 408. Sekarang saya paham dan tidak terkejut, Dirut Garuda memperoleh beberapa penghargaan pada akhir tahun 2009, karena didukung oleh pekerja lapangan dengan sikap, dedikasi, dan pelayanan yang prima.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Saya ingin menyebut nama Pilot dan Co Pilot Garuda itu  dengan hormat dan penuh penghargaan  yaitu: Capt Pilot Laurentius dan Dedy Herman.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Bambang Setiadi </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kepala Badan Standardisasi Nasional (BSN)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Gedung Manggala Wanabakti,  Jakarta 10270</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Member Garuda FF no. 222 695 723</span></p>
<p><!--EndFragment--></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://amaliamaulana.com/2009/12/27/surat-pembaca-sekali-sekali-memuji-dong/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
