-->
 

Insights via Ethnography

SWA, 19 September 2006

Insights via Ethnography

Oleh : Amalia E. Maulana

Actions speak louder than words. A picture is worth a thousand words.

Dua pepatah di atas tepat untuk menggambarkan kekuatan riset dengan metodologi etnografi. Berbeda dari focus group discussion (FGD), dalam riset etnografi responden tetap berada dalam lingkungan aslinya. Ibu rumah tangga diwawancarai dan diamati perilakunya saat berada di dalam rumah — sedang memasak, membersihkan rumah atau mencuci baju. Seorang eksekutif diamati perilakunya ketika berada di kantor tempat ia bekerja untuk merekam pola penggunaan telepon selulernya. Remaja diamati dan diwawancarai di lingkungan teman-temannya, apakah itu di kafe, lapangan basket atau mal. Tindakan (actions) yang dikerjakan responden merupakan insights tersendiri yang jarang bisa terekam pada saat dilakukan FGD dan/atau survei.

FGD tidak mempunyai dimensi, warna dan human touch yang dimiliki etnografi. Selain tidak adanya privasi, FGD juga dibatasi waktu dan latar lingkungannya yang superficial. Padahal, mengamati responden dalam kesehariannya, mengamati pemakaian produk dalam latar sesungguhnya, adalah sangat penting dalam menggali consumer insights. Berada dalam lingkungannya sendiri, tercipta rasa nyaman bagi responden. Ia dengan bebas bisa menceritakan pendapatnya secara spontan tanpa khawatir penilaian dari responden lainnya.

Pemahaman perilaku remaja, misalnya, sulit terungkap hanya dengan metode konservatif wawancara, survei ataupun FGD. Ekspresi remaja dan hubungannya dengan konsumsi produk hanya bisa dijelaskan dengan menggunakan pendekatan yang lebih natural dan lebih lepas dari batasan lingkup pertanyaan-jawaban. Dengan kejelian tersendiri, pernak-pernik yang ada di sekitar responden ada kalanya juga menjadi inspirasi sumber data bagi periset, menjadi penghubung satu temuan dengan temuan lainnya.

FGD memberikan kita peluang mendengarkan pernyataan responden tentang apa yang mereka kerjakan. Etnografi mencari insights sampai ke akarnya, mencari tahu why do people do what they do, tidak hanya bersumber dari perkataan responden, melainkan diperkaya pula dengan hasil pengamatan, baik itu dalam bentuk aktivitas maupun foto, gambar dan simbol yang berhubungan dengan responden serta produk yang digunakannya.

Teknik riset etnografi ini berkiblat pada riset yang biasa dilakukan sejak ratusan tahun lalu oleh ahli antropologi dalam konteks sosial budaya. Seorang ahli antropologi umumnya tinggal bersama pada periode waktu yang cukup lama dalam masyarakat tertentu. Dulu studi etnografi hanya terfokus pada masyarakat yang masih primitif, sedangkan sekarang dalam konteks etnografi yang modern, teknik riset yang sama dilakukan untuk menggali insights dalam kelompok konsumen pada segmen dan produk tertentu.

Teknik etnografi kini telah banyak digunakan oleh perusahaan besar terutama di negara maju, dan terbukti manfaatnya untuk penciptaan produk baru dan pengembangan merek. Bruce Nussbaum, dalam tulisannya yang dimuat di businessweek online, menyatakan bahwa etnografi ini adalah kompetensi baru yang harus dimiliki perusahaan. Menurutnya, jika P&G, Nike, Phillips dan Apple sudah mengerjakan riset dengan metode etnografi sejak lama, kita tidak perlu heran, mengingat keseharian perusahaan tersebut yang berhubungan dengan konsumen langsung. Yang menjadi kekaguman Nussbaum adalah bagaimana Intel, yang tidak berhubungan langsung dengan konsumen, sudah sangat advanced dalam penggalian insights melalui etnografi. Kegiatan consumer insight di Intel dipimpin Ken Anderson, ahli antropologi. Ken memperoleh pemahaman yang mendalam tentang bagaimana keseharian masyarakat yang hidup dan bekerja di era teknologi, yang kemudian menjadi dasar pijakan oleh Intel dalam menentukan strategi dan pengembangan teknologi.

Kritik yang muncul terhadap metode etnografi ini terutama dari lamanya menyelesaikan sebuah studi. Proses pengumpulan data yang memakan waktu berbulan-bulan sangat tidak praktis dengan agenda perusahaan yang ingin serba cepat dalam pengambilan keputusannya. Syukurlah, dengan bantuan teknologi modern, ada banyak cara untuk memangkas waktu studi etnografi. Dalam perkembangan terakhir metode etnografi, dikenal dua istilah baru: netnography dan digital ethnography.

Netnography adalah studi etnografi yang dikerjakan secara online. Observasi bisa dilakukan dalam diskusi-diskusi di mailing list, yang diikuti dengan eksplorasi secara lebih mendalam melalui online chatting dengan responden. Adapun digital ethnography adalah observasi dengan bantuan kamera digital, baik berupa video maupun foto, yang digunakan untuk melengkapi data yang dikumpulkan periset. Responden diminta mengirimkan cuplikan rekaman atau foto-foto yang diambil dalam kaitannya dengan perilakunya. Misalnya, foto bagian dalam lemari dapur akan menjelaskan banyak hal tentang produk-produk yang digunakan dalam rumah tangga dan menjelaskan karakter pemiliknya. Video tentang sebuah pesta remaja bisa menjadi inspirasi menarik untuk menganalisis perilaku remaja dan produk yang digunakannya.

Etnografi sebenarnya tidak terbatas pada satu jenis teknik saja, tapi merupakan penggabungan dari beberapa teknik riset yang dilakukan dalam rangka mendapatkan informasi dari beberapa sumber sekaligus. Ada kalanya beberapa jenis riset ini dilakukan secara simultan, sehingga ada unsur pembelajaran pada setiap tahapnya.

47 Comments on "Insights via Ethnography"

  1. adith says:

    wah.. makin laris aja sekarang etnografi…

    Saya masih berusaha menjadi etnografer, karena sulitnya meletakkan diri disana, tidak ada sertifikasi profesinya sampai sekarang yang saya tahu.

    Baru tahu saya teknik netnografi, barang dagang baru juga kali ya. dan serunya etnografi menurut saya adalah tidak ada rumus yang betul2 tepat… dan tiap pasar adalah “war zone” yang berbeda.

  2. Amalia E. Maulana says:

    Setuju banget, memang ethnography lebih banyak ARTsnya daripada SCIENCEnya dan disitulah letak ‘seru’ nya, at least untuk orang-orang yang suka dengan studi kualitatif eksploratif.
    Bagaimana membaca tanda-tanda, menterjemahkan makna dari cerita-cerita tentang brand, bukan pekerjaan yang sifatnya matematika, 1+1=2. Banyak dimensinya.

  3. Amalia E. Maulana says:

    Baca ya artikel saya di The Jakarta Post hari Rabu kemarin “Ethnography: Cutting Edge Research”.

  4. adith says:

    yup…

    nambahin sedikit bu, masalah waktu dan event karena informasi juga dipengaruhi itu, current situation..

    trims lah… nambah2in ladang buat kita para antropolog wanna be ini.

    terutama di dunia bisnis, maklum dari dulu kita kalah sama marketing riset yang konvensional, yang makek tenaga kita2 malah lembaga2 riset luar….

    salam

  5. eko suyanto says:

    Ass. Wr. Wb.

    Saya mengikuti presentasi Ibu di Inkindo tgl. 28 Juli 2008 tentang Blue ocean strategy, materi nya menarik, saya bekerja di PT Surindo Utama yang bergerak di bidang riset sosial ekonomi, suatu saat kami bermaksud kerja sama dengan Ibu, mohon jika ada artikelnya Blue ocean strategi dapat diemailnkan ke kami dengan alamat : surindo_utama@yahoo.com

    Sebelum dan sesudahnya saya ucapkan teruma kasih.

    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

  6. M Rangga Wiranatakusumah says:

    Hi Ibu Amalia

    Saya bekerja di perusahaan advertising,
    Waktu itu saya diberi kesempatan untuk menjadi team research pitching team salah satu perusahan asing yang bergerak di bidang pertambangan.

    Karena konsumennya terdiri dari berbagai macam jenis dari mulai pendidikan, status sosial, pekerjaan, etc, maka saya agak tertantang untuk mecari informasi dari segala aspek.

    selama hampir satu bulan kita mengamati kehidupan mereka, apa yang mereka lakukan, impikan, dan pertimbangan untuk membeli sebuah product khusunya yang berkaitan dengan product yang akan di pitch.

    selama satu bulan reserch dan mencari insight akhirnya kami menemukan suatu titik temu yang bisa menjadi bahan diskusi kami, dari situ lahirlah sebuah strategy yang akan kami presentasikan.

    Allhamdulilah kami memenangkan pitch tersebut.

    ketika membaca post yang Ibu tulis tentang etnography ini
    saya jadi teringat apa yang saya lakukan mirip dengan apa yang Ibu tulis walaupun mungkin tidak 100% sama dan saya tidak memakai metode tentunya=), Hasilnya luar biasa, terkadang kita menemukan realita yang kita tidak perkirakan sebelumnya.

    terimakasih

  7. Wah…baru tau nih ada tehnik riset seperti ini. Terimakasih untuk sharingnya…Salam Kenal Ibu Amalia

  8. Amalia E. Maulana says:

    Mas Eko dari Surindo, dulu saya sewaktu masih jadi client (mewakili perusahaan) juga beberapa kali assign project ke Surindo jadi saya kenal koq Mas perusahaan Anda. By all means, kalau ada yang bisa dikerjakan bersama, silakan aja.
    Saya pernah tulis artikel “How Blue is your Ocean” di Majalah MIX tahun 2006. Nanti saya cari lagi filenya dan diupload ke website. Mudah2an menambah pencerahan nantinya.

  9. Amalia E. Maulana says:

    Adit dari Belajar Reksadana.. (mudah2an bener yang kirim komen namanya Adit, soalnya saya sudah ngintip portalnya)
    Riset ethnography juga bisa digunakan untuk konteks mengenali perilaku konsumen yang berhubungan dengan reksadana, lho. Jadi silakan eksplore lebih jauh, banyak manfaat yang bisa dipetik dengan ethnography, dengan tujuan memperoleh competitive advantage di market.

  10. Amalia E. Maulana says:

    Dear Rangga,
    Senang sekali membaca uraian pengalaman Anda dengan ethnography. Memang seperti yang sering saya jelaskan dalam workshop2 riset ini sudah banyak dilakukan di Indonesia, terutama oleh biro iklan yang ingin memperoleh pengetahuan yang holistik tentang perilaku konsumennya, untuk bekal eksplorasi ide/konsep iklan. Sayangnya, knowledge tentang konsumen ini hanya terpaku pada project itu saja, bukan kemudian menjadi knowledge yang melengkapi pengetahuan para brand owners. Padahal bagi brand owners, seharusnya ethnography dilakukan secara kontinyu, bukan ad-hoc, project basis saja.
    Makanya paling bagus untuk company adalah membentuk aliansi strategis dengan para agensinya sehingga knowledge tentang konsumen bisa dibangun bersama brand owner. Dengan demikian, brand makin solid dan sulit ditembus oleh kompetitor.
    Yang terjadi, pitching iklan all the time, jadi ganti2 agensi, sebenarnya ini bukan praktek yang baik bagi knowledge building client/brand owner sendiri, karena dengan ganti agensi, berarti kontinyuitas dari consumer insights nya akan terhenti. belum tentu agensi yang menang pitch berikutnya punya kemampuan eksplorasi yang sama dan juga mengerti how to do it.
    Saya kira situasi ini yang perlu disikapi oleh brand owners untuk tidak secara sporadis memberlakukan satu campaign sebagai ‘project’, tetapi dalam mencari agensi harusnya dengan semangat partnership untuk membangun brand bersama-sama, secara long term. It takes two to tango! Baru belajar tango bersama udah ganti pasangan lagi, ya kapan tango dancenya bisa serasi. gitu kali ya analoginya brand owners yang gonta ganti agensi.

  11. M Rangga Wiranatakusumah says:

    Iyah betul sekali, untuk brand terakhir yang allhamdulilah kita menangi memang punya management yang baik, mereka
    mem-picth agency rencananya untuk kontrak dengan jangka waktu yang cukup lama=).

  12. melly says:

    Halo…numpang ngeramein. gak sengaja bs mampir ke sini.

    sy bkerja di lsm, tapi tertarik bgt dgn strategi marketingnya dunia bisnis. membaca pjelasan ibu amalia ttg etnografi, sy jadi inget ada sebuah lsm konservasi yg bekerjasama dgn sbuah lembaga fotografi yg kemudian membuat kegiatan ‘participatory photography’ di Lamalera, NTT. Di kawasan tersebut masyarakatnya punya budaya berburu paus & pari.

    Melalui program tsb, masyarakat diajarkan utk menjadi fotografer…mrk memotret kegiatan sehari2 mrk yg dianggap menarik. sambil juga ditambahkan info, knapa mrk memotret hal tsb.

    dari kegiatan tsb, gak cuma mendapatkan hasil foto2 yg bagus & natural….tapi jg dpt menggali info2 yg bernilai utk digunakan sebagai strategi kegiatan konservasi di sana.

    salam!

  13. Amalia E. Maulana says:

    Sudah lama nih gak denger kabar Melly! Senang bisa mampir disini.

    Benar koq Mel, contoh yang diberikan Melly itu relevan banget. Memang ethnography itu kan ilmu dasarnya antropologi sosial budaya. Bantuan fotografi sangat membantu ‘menjelaskan’ fenomena’ sosial dalam konteks yang lebih real. Insights yang diperoleh akan membantu dalam program2 atau aktivitas2 apapun yang bertujuan memajukan masyarakat disana (karena pihak luar menjadi lebih mengerti dari perspektif internal masyarakat).

    Thanks ya Mel, for sharing. Ditunggu postingannya lagi kapan-kapan.

  14. Arif Armansyah says:

    Dear Amalia,
    Senang sekali rasanya membaca berbagai comment di blog ini. Saya seorang kepala sekolah di sebuah sekolah nasional plus di Cibubur dan di tahun 2000 saya lulus MA Social Anthropology dari University Kent, UK.

    Saya ingin sekali memperkenalkan antropologi kepada para murid dan banyak sekali proyek yang ingin saya kerjakan yang berkenaan dengan ilmu. Misalnya, membuat software yang memudahkan para guru dalam mengajarkan antropologi di SMA, menulis mengenai antropologi pendidikan dan yang terakhir proyek wisata pendidikan ‘+’ di daerah Cibubur.

    Khusus antropologi pendidikan, dimana saya bisa mendapatkan referensi yang cukup? Sekali lagi saya sangat senang bergabung dengan blog ini.

    Wassalam!

  15. Amalia E. Maulana says:

    Mas Arif,

    Terimakasih atas tanggapannya di blog ini.

    Wow..Mas pasti canggih banget ya — Master di bidang social anthropology, dari UK pula. Saya harus belajar banyak dari Anda.

    Ayah saya adalah ahli lingustic atau ilmu bahasa, beliau banyak menggunakan ilmu antropology di bidang pendidikan. Kalau ada kesempatan saya akan tanyakan beliau buku-buku apa yang cocok. Karena saya sendiri lebih menekuni ethnography dalam bidang marketing, bukan di bidang pendidikan, walaupun pasti ada benang merahnya juga.

    Salam sukses!

  16. Arif Armansyah says:

    Ibu Amalia,
    Saya baru saja pulang berkunjung ke Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dalam rangka rapat kerjasama sekolah dengan institusi tersebut. Alhamdulillah, saya bertemu dengan Bp. Achmad Husen, Dekan Fakultas Ilmu Sosial UNJ. Kepada beliau saya utarakan keprihatinan saya terhadap Indonesia yang sangat tidak menghargai ilmu sosial. Salah satu contohnya, antropologi diajarkan dalam SMU jurusan bahasa. Berapa persen SMU yang membuka jurusan bahasa? Sedikit sekali dan beban guru yang mengajarkan sangat berat karena teori sangat tumpang tindih dengan sosiologi.

    Oh ya, mengenai etnografi untuk marketing, saya pernah mengutarakan hal ini ke dosen saya di Inggris, Prof. C. W. Watson. Beliau mengatakan “it’s time for antropologist like yourself teach the right way how to conduct research.” Etnografi dapat dikatakan sebagai mata pisau antropologi dan apa yang dilakukan oleh anda sebagai etnografer sama dengan apa yang telah dilakukan oleh Clifford Geertz, Franz Boas, Snouck Hurgronje, Pak Koentjaraningrat (alm) dan para antropolog lainnya. Dengan kata lain, antropologi tidak lagi berbicara masalah suku bangsa Nuer, T!kung, Dayak, namun sekarang sudah lebih canggih lagi sudah berbicara mengenai marketing. Best of luck for you…!

    Anyway, I am so thrill to join this blog and, perhaps, one day, if you don’t mind I would like to discuss a plethora of things in regards ethnography. Furthermore, as I have mentioned before, I would like to introduce to my students that social science is not a “second layer” science compared to natural science. Indonesia should appreciate their social scientists…

    Wassalam!

  17. Amalia E. Maulana says:

    You are most welcome Mas Arif, kapan-kapan kita perlu ngopi2 dan ngobrolin seputar ethnography dan apa yang bisa dikerjain bareng untuk mempopulerkannya. Cheers!

  18. Ahmad Mahbubi Mufti says:

    Dear Ibu Amalia E. Maulana, PhD

    Sungguh etnography marketing sangat dibutuhkan oleh kalangan praktisi pemasaran, khususnya bagian riset pemasaran. Khabarnya Ibu mau mengeluarkan buku tentang teknik etnography marketing. Kami dukung dan menanti buku tersebut. Semoga secepatnya terbit..!

  19. Amalia E. Maulana says:

    Waduh siapa nih yang bergossip.. hehe.. ya, kalau rencana itu ada, Insya Allah mudah2an bisa terlaksana. Maklum sekarang pekerjaannya masih dari A to Z. Kurang fokus.

    Mohon doanya.

  20. Ahmad Mahbubi Mufti says:

    Doa sekaligus harapan “Semoga penulisan buku etnography marketing menjadi prioritas dan fokus ibu dalam waktu dekat” kalau sebelumnya diantara A-Z, semoga penulisan buku ini sudah masuk kategori A. Market Demand mengenai buku etnography terbuka lebar, sementara referensi buku tentang topik ini, masih belum banyak (bahkan belum ada). Hanya diulas sekilas di media saja. jangan biarkan orang lain menerbitkan buku etnography marketing, apalagi pengarangnya kurang kompeten di bidang ini. MEMANG SEHARUSNYA PENULISAN BUKU INI HARUS SEORANG ETNOGRAPHER SIAPA LAGI KALAU BUKAN IBU AMALIA E MAULANA, PhD

  21. Amalia E. Maulana says:

    Amin, terimakasih banyak atas dukungannya.
    Ini sekaligus menjadi cambuk untuk saya lebih cepat lagi merealisasikannya.
    Tentang penulis buku saya kira lebih banyak yang menuliskan topik ini akan lebih seru lagi topik ini dibahas dan dipraktekkan. Mudah2an semangatnya sambung menyambung.
    Seperti halnya sebuah kategori baru, semua brand dalam kategori tersebut harus bersatu memberikan ‘pendidikan’ kepada konsumen mengapa kategori ini lebih baik daripada kategori produk lainnya. Bukan bersaing dalam kategori. Spt contohnya Indovision dulu sering beriklan dengan mengatakan dirinya lebih baik dari Astro (kalau hujan ada gangguan). Menurut saya itu tidak smart, karena seharusnya Indovision sebagai market leader, justru menjadi ujung tombak menjelaskan kepada masyarakat luas, mengapa sekarang kita butuh Pay-TV, dan tv biasa sudah nggak asik lagi.
    Semangat membesarkan kategori harus dimiliki oleh penulis dalam kategori yang sama, yuk kita besarkan bersama riset ethnography – jelaskan mengapa metode kontemporer ini lebih baik dari metode yang konvensional – dengan cara kita masing-masing tentunya.

    Makasih ya sekali lagi untuk suntikan semangatnya.

  22. ade says:

    bu amalia, saya mahasiswa pasca sarjana komunikasi…

    kebetulan saya ingin mengerjakan tesis mengenai iklan radio yang menggunakan bahasa daerah dalam menyampaikan pesannya. yang ingin saya teliti sebenarnya adalah, bagian mana dari etnisitas itu yang sebenarnya mempengaruhi perilaku/sikap konsumen terhadap iklan dan terhadap produk itu sendiri. kebetulan metode yang ingin digunakan adalah etnografi.

    apakah ibu amalia punya referensi kemana saya harus memperkaya bahan bacaan? atau malah ada insight lain yang lebih menarik seputar topik tersebut?

    terima kasih sebelumnya….

  23. Amalia E. Maulana says:

    Hallo Ade,
    Masih ada kesalahpahaman tentang bahasa daerah dalam iklan radio. Masih banyak perusahaan atau brand yang mengganti ‘bahasa’ nya saja, dari sebuah iklan radio dengan bahasa Indonesia menjadi ke bahasa/logat daerah. Padahal belum tentu mengena.

    Iklan radio lokal yang menggunakan bahasa setempat, sebenarnya akan bisa berhasil jika bukan hanya bahasanya saja yang ‘tepat’ tetapi juga setting dan kontesknya juga sekalian yang ‘tepat’ juga. Jadi secara keseluruhan, iklan tsb akan mengena di hati konsumen yang mendengarkan radio.

    Untuk mendapatkan setting dan cerita apa yang paling cocok untuk konteks produk yang sedang dipromosikan, itulah dibutuhkan studi ethnogaphy untuk mengerti seperti apa sih interaksi antara konsumen dengan produk, dsb.. Dari hasil eksplorasi dan observasi keseharian konsumennya, akan lebih tergambar needs/wants mereka, tetapi sekaligus juga bisa peroleh cara berkomunikasi yang lebih jitu.

  24. ade says:

    wah dibalas dengan sangat cepat… terima kasih ibu amalia!!

    kebetulan saya kerja sbg copywriter di agensi iklan khusus radio yang salah satu produknya menggunakan bahasa daerah.
    sekedar informasi iklan yang akan saya jadikan topik ini menggunakan konten yang sama, hanya saja kemudian dialihbahasakan ke dalam bahasa daerah (bukan logat atau dialeknya saja) dan dilafalkan oleh penutur asli, sehingga unsur “keasliannya dan kedekatannya” dapat diperoleh.

    pembuatan konten pun didasarkan pada pola kehidupan sehari-hari masyarakat daerah tersebut (waktu itu sempat dilakukan penelitian kecil2an dgn basis etnografi)dan dalam tempo yang sangat singkat, ditambah dengan insight dari pihak produsen/brand. hanya saja guna mengejar kesamaan konten, akhirnya beberapa poin yang dapat menjadi keunggulan secara konten terpaksa di tiadakan dan diciptakan generalisasi konten guna mengejar kesamaan konten antara iklan versi Bandung & Makasar atau kota lainnya di indonesia.

    dari penjelasan ibu, saya masih agak penasaran terhadap beberapa hal, yaitu:
    bagian mana dari etnisitas itu yang sebenarnya mempengaruhi perilaku/sikap konsumen terhadap iklan dan terhadap produk itu sendiri.

    apakah ibu amalia punya referensi kemana saya harus memperkaya bahan bacaan? atau malah ada insight lain yang lebih menarik seputar topik pertanyaan yang saya ajukan?

    terima kasih banyak atas kesediannya direpotkan….

  25. Haris says:

    Bu Amalia,

    saya mahasiswa anropologi yg akan menyusun skripsi,tentunya istilah ‘etnografi’ tak asing lagi bagi saya..namun etnografi dlm konteks marketing..wah, saya baru dengar..apalagi setelah membaca tulisan2 ibu, sy jd tertarik ingin buat judul skripsi mnggunakan metode ini..
    Kebetulan saat ini saya terlibat dalam dunia usaha warnet,brperan sbg operator nya… nah, sekaitan dg itu saya tertarik untuk mempelajari perilaku konsumen yg berkunjung ke warnet…namun saya belum menemukan permasalahan apa yg menarik untuk di angkat…
    sebagai gambaran sekilas, warnet tempat sy part-time ini, baru beroperasi 6 bulan, terletak di lingkungan kampus,sekolahan smp,instansi, kos2an..konsumennya lmyn beragam…namun pengunjung dominan adalah mahasiswa..
    meskipun baru beroperasi, dr segi income, warnet telah bs bersaing dg 4 warnet disekitarnya..
    knapa bisa, alasannya sederhana..cuman tarif yg lebih murah Rp500 dr warnet pesaing…
    Trus selama perkembangan itu, konsumen warnet ini, tersegmen secara otomatis utk mahasiswa angkatan2 baru..
    mmh, mungkin sgitu saja gambaran sekilas yg saya berikan..
    Tanggapan, masukan dr ibu sangat saya nantikan dan harapkan.
    dan juga referensi2 apa yg perlu sya baca agar bisa membuka pikiran saya..

    Terima kasih..

  26. Amalia E. Maulana says:

    Wah hebat ya Haris, masih kuliah sudah jadi entrepreneur.. untuk permasalahan, adakalanya kita harus lebih jeli menggalinya, dengan metode ethnography mata dan telinga dibuka lebih lebar, seharusnya akan tergali lagi hal2 yang sebelumnya tidak terpikirkan.
    Misalnya saja, kalo selama ini asumsinya adalah harga yang lebih murah 500 itulah yang membuat konsumen mau datang, itu kan belum diuji ulang. Siapa tau dengan berlalunya waktu, ada hal-hal lain yang membuat konsumen mau datang. Atau sebaliknya, walaupun ditawarkan harga murah, belum tentu orang mau datang. Untuk lebih mengenal secara keseharian mereka, lakukan observasi aktif dan pasif, interview mendalam, tidak hanya pada user group tetapi juga non user. Di warnet sendiri maupun warnet orang lain.

    Selamat berkarya, sukses ya!

  27. Haris says:

    mmhhh, gitu yaa..
    Barangkali ada saran utk referensi yg harus saya baca ga bu??
    saya pun dah googling ttg dunia warnet,trus cari buku2 yg relevan..

    oiya, kalau ga salah, ibu sedang mnyusun buku etnografi marketing, dah terbit belum ya??

    terima kasih,
    Sukses jg tuk ibu!!

  28. Pieter says:

    Dear Ibu Amalia,

    Bu, I want to say thank you very much untuk knowledge yang sering ibu sharing mengenai ethnography dan netnography.

    Saya masih ingat dimulai pertemuan kita antara ibu saya dan francis mengenai sharing ibu tentang ethnography dan netnography dan usul adanya consumer insight di department MI.

    Dan akhirnya kedua basic ilmu itu telah mulai di implement di Marketing Intelligence BINA NUSANTARA berada di post section – consumer insight.

    So surprising sambutan dari management sangat baik dan seiiring dengan itu setiap hasil riset dari ethnography dan netnography dari MI akan di sampaikan kepada Board of Management secara periodik

    Dan tentunya saya akan mention juga perkembangan dari riset kualitatif di Dept. marketing Intelligence terutama implementasi ethnography, netnography dan juga consumer insight tidak lepas dari “tangan dingin” ethnographer Amalia maulana

    Thank you very much bu !

  29. Amalia E. Maulana says:

    Wow.. Pieter… Sangat membanggakan apa yang sudah dilakukan oleh teman2 Marketing Intelligence / MI (termasuk Gerry, kan – dia juga ethnography believer) di bawah pimpinan Pieter.

    Tidak saya sangka ternyata pada akhirnya sesi-sesi saya mengompori soal perlunya Consumer Insight Manager di Binus Corporate dan kebutuhan untuk Insight Management sudah disambut dan dilaksanakan dengan baik.

    Membutuhkan banyak tangan dan pikiran untuk mensosialisasikan the way of thinking secara kualitatif ini, jadi keep going ya Piet. Keep focusing on the principal of that research method – dont get trapped into the nitty gritty ato urusan receh2.

    I wish you and Gerry and the whole team of Consumer Insight Management MI the very best in championing the idea. You can count on me, whenever you need advices — (dengan catatan: tapi yang besok2 bayar ya, masa pro bono terus, hehehe….)

  30. Nana sutisna says:

    Sebagai seorang yang pernah belajar antropologi dan akan terus belajar, bangga sekali melihat “pencerahan-pencerahan” dan mentrendkan etnography yang dilakukan oleh Ibu.

  31. Amalia E. Maulana says:

    Thanks Mas Nana.. senang sekali ada anthropolog sejati yang mau ikut nimbrung di blog ku.. boleh dong kapan2 ngobrol2, siapa tau bisa saling mengisi.
    Kita populerkan terus ethnography bersama-sama. Lanjutkan! Lebih Cepat Lebih Baik!

  32. Nana sutisna says:

    sebuah tawaran yang menarik Bu Amalia untuk bisa diskusi dan berbagi pengalaman. saya tidak tahu antropolog atau bukan, cuma pernah belajar antropologi. kalau Quick count..bisa geger, kenapa Etnografi tidak..?

  33. Umar says:

    waduh, bu amalia konsentrasi sama kewiraswastaan dan budaya bisnis ya. tapi saya mo share sedikit nih. saya anak antropologi yang mempunyai minat yg sama, yaitu terhadap budaya bisnis. fokus saya tentang Enterpreneuer dalam bidang perikanan di kepulauan Spermonde, Makassar. Adakah saran ibu berkenaan dengan fokus saya.
    Terima Kasih..

  34. Djunaidi B says:

    Selamat Siang Bu Amalia, baru beberapa hari ini saya buka website Ibu, meskipun belum terlalu banyak isinya, tetapi materi yang ada sangat menarik dan padat serta menambah wawasan keilmuan.

    Saya juga seoarang pekerja riset di kepuasan pelanggan. saya sangat sepakat dengan ulasan Ibu Amalia bahwa FGD saja tidak cukup untuk melihat perilaku pelanggan, lebih idealnya dilakukan pengamatan ditempat dimana pelanggan melakukan aktifitasnya atau di habitatnya, khususnya untuk melihat bagaimana perilaku pelanggan terhadap produk tersebut.

    Hanya saja saya ingin sedikit menambahkan kadang-kadang dalam riset kita tidak hanya membutuhkan informasi apa saja yang “dilakukan” yang bisa diamati melalui etnografi, tetapi kita juga perlu tahu apa saja yang tidak ingin dilakukan oleh pelanggan , yang kadang-kadang tidak terungkap pada aktifitas sehari-hari yang diamati. bahkan tidak jarang kita membutuhkan “clear statement” dari pealanggan agar kita tidak “missleading” dan melakukan kesalahan karena mengambil asumsi yang salah. Apa lagi kalau untuk survey kepuasan pelanggan, yang dibutuhkan adalah statement dari pelanggan mengenai apa yang membuat mereka puas dan tidak puas terhadap suatu produk, sulit untuk bisa dilihat dengan metodologi etnografi, atau mungkin Ibu sudah pernah menerapkannya?

    Salam

  35. Amalia E. Maulana says:

    Thanks Mas Djun atas apresiasinya.

    Observasi nemang bukan satu-satunya teknik dalam ethnography study. Bahkan, memang dianjurkan untuk melakukan triangulasi data melalui beberapa teknik sekaligus – observasi saja tidak cukup, karena bisa misleading. Kombinasi teknik yang akan memperkuat kesimpulan studi ethnography.

    Saya anjurkan untuk baca lebih lanjut di buku saya yang berjudul “Consumer Insights via Ethnography”, bisa diperoleh di toko-toko buku. Di dalam bab 3 saya mengulas lebih jauh tentang ciri-ciri studi ethnography, dan menjelaskan berbagai teknik yang bisa digunakan dalam studi ini.

  36. Amalia E. Maulana says:

    Thanks Mas Djun atas apresiasinya.

    Observasi bukan satu-satunya teknik dalam ethnography study. Bahkan, memang dianjurkan untuk melakukan triangulasi data melalui beberapa teknik sekaligus – observasi saja tidak cukup, karena bisa misleading. Kombinasi teknik yang akan memperkuat kesimpulan studi ethnography.

    Saya anjurkan untuk baca lebih lanjut di buku saya yang berjudul “Consumer Insights via Ethnography”, bisa diperoleh di toko-toko buku. Di dalam bab 3 saya mengulas lebih jauh tentang ciri-ciri studi ethnography, dan menjelaskan berbagai teknik yang bisa digunakan dalam studi ini.

  37. Amalia E. Maulana says:

    Thanks Mas Djun atas apresiasinya.

    Observasi bukan satu-satunya teknik dalam ethnography study. Bahkan, memang dianjurkan untuk melakukan triangulasi data melalui beberapa teknik sekaligus – observasi saja tidak cukup, karena bisa misleading. Kombinasi teknik yang akan memperkuat kesimpulan studi ethnography. Depth interview, misalnya, merupakan cara untuk mengeksplore lebih lanjut – disini kita bisa menanyakan secara spesifik dan menggali lebih dalam lagi.

    Saya anjurkan untuk baca lebih lanjut di buku saya yang berjudul “Consumer Insights via Ethnography”, bisa diperoleh di toko-toko buku. Di dalam bab 3 saya mengulas lebih jauh tentang ciri-ciri studi ethnography, dan menjelaskan berbagai teknik yang bisa digunakan dalam studi ini.

  38. jefri dinomo says:

    selamat malam bu.

    saya jefri mahasiswa, belakangan saya sangat tertarik dengan etnografi, local containt dan juga netnorafi. bahkan rencana skripsi saya juga akan membahas tentang etnografi dan netnografi (kombinasi). saya melihat buku ibu waktu main ke gramedia medan dan terus terang saya senang sekali karena apa yang selama ini saya cari ternyata ada bukunya juga. walaupun menurut saya buku itu sangat aplikatif sekali. tapi apa yang saya cari selama ini ada di buku yang ibu tulis. sukses selalu.

  39. Amalia E. Maulana says:

    Terimakasih ya Jefri atas apresiasinya.

    Senang kalau bukunya membantu, memang kalau dilihat dari objective utamanya, lebih kepada ethnography marketing yang diterapkan dalam industri, sebagai alat untuk memperoleh insights yang lebih handal. Insights yang baik ini penting untuk Marketing Director dalam kerangka strategi marketing brand di perusahaan.

    Sukses ya Jef n keep in touch.

  40. Amalia E. Maulana says:

    Terimakasih ya Jefri atas apresiasinya.Senang kalau bukunya membantu, memang kalau dilihat dari objective utamanya, lebih kepada ethnography marketing yang diterapkan dalam industri, sebagai alat untuk memperoleh insights yang lebih handal. Insights yang baik ini penting untuk Marketing Director dalam kerangka strategi marketing brand di perusahaan.

  41. wanti says:

    Saya sangat tertarik dengan etnografi tetapi agaknya belum semua perguruan tinggi memberikan pemahaman yang aplikatif,jelas bagaimana riset dengan etnografi ini dilakukan, buku – bukunya pun masih jarang diperoleh, salut saya untuk buku yang ibu tulis, saya akan selalu menunggu buku karya ibu selanjutnya……….

  42. intan says:

    Mungkin saya yang paling awam mengenai etnography, dengan mebaca artikel ibu membuat saya semakin penasaran dan curious utk tahu apa itu etnography.Apalagi saya sangat tertarik dengan dunia marketing. Mhn bimbingannya ya bu. Thx

  43. aris kurniawan says:

    halo ibu :)

    kebetulan saya sedang mengerjakan riset marketing communication untuk program MICM di the hague university, temanya tentang kemungkinan memasarkan chinese green tea di pasar belanda, kalo boleh minta saran buat pencarian insight konsumen yang ada , barangkali ibu ada saran terutama seputar ethnographi. honestly sangat menarik, kualitatif eksploratif wuihhh mantap…. emnyenangkan dan tak membosankan….makasih bu, ditunggu sarannya…

    salam

  44. Yanti Diyantini says:

    Halo, Ibu Amalia,
    saya sudah membaca tulisan2 ibu di website ini. Dari sekian tulisan Ibu, Saya sangat menyukai tulisan yang ini karena memberikan pencerahan pada saya bahwa etnografi (ilmu yang pernah saya pelajari di bangku kuliah) dapat juga digunakan dalam memetakan dunia bisnis. Terima kasih sekali :)

  45. wimung says:

    waw..! jadi diingatkan kembali ke salah satu mimpi saya menjadi antropolog, yang belum kesampaian scr total. krn saya cuma orang yang pernah belajar antropologi (seperti bung Nana Sutisna diatas) yang berada dalam proses membangun jembatan antara mimpi dan realita. terima kasih pencerahannya.
    salam kenal!

  46. Amalia E. Maulana says:

    Salam kenal kembali Wimung. Senang berkenalan dengan orang-orang yang mempunyai pandangan yang sama bahwa ilmu antropologi budaya dan bisnis jika disatukan jadi luar biasa hasilnya.

  47. Ashari.k.t/ari says:

    Halo Ibu, mudah-mudahan perusahaan dimana Saya bekerja bisa menggunakan Etnography, Mudah2an Ibu makin sukses dalam karir dan mengajar,Saya adalah orang yang kurang beruntung, selama saya di LSPR Saya belum pernah mendapatkan kesempatan daiajar oleh Ibu, tapi diluar Saya banyak mendapatkan Ilmu dari Ibu. Terimkasih Bu :) Viva La Etnography hehehehe ……