-->
 

All posts in Workshop

Pemenang Riset Cover Buku

Selamat untuk pemenang Riset Cover buku Ethnography tulisanku – Dari 3 disain yang ada, dipilih DESAIN no. 1 seperti yang bisa dilihat di gambar ini. Bukunya juga sudah terbit, lho… mudah2an sebentar lagi akan ada di toko-toko buku.

Bagi yang namanya disebutkan di sini, buku dapat diambil langsung dalam acara Launching dan Talk Show di London School of Public Relations (LSPR) tanggal 28 Juli 2009, mulai jam 1 siang. Anggap ini sebagai undangan ya. Untuk teman-teman lain, juga boleh datang, ini acara untuk public koq. Free of Charge. Tetapi mohon konfirmasi kehadirannya,  RSVP ke saya (amalia.maulana@gmail.com) – sebab tempatnya terbatas.

Aida F. Umaya, Dianti Arudi, Hani Syarief, Malla Latif, Uyan Laisa, Hanifa Azalia, Telisiah, Catur PW, Deden Sumadilaga, Syafiq Assegaf, Leila Djawas, Andrias Eko Yuwono, Bambang Sukmajaya, Andi Primaretha, Abah Effi Harfiana, Wayah S. Wiroto, Timoteus Lesmana, Deriz Syarief, Felix Ferdinand, Eddy Soestrisno.

Saya ingin sharing hasil riset tersebut. Boleh dikatakan riset ini berguna sekali, karena dengan masukan dari berbagai pihak, saya dan my creative partner, Gia Josie bisa mempelajari kelebihan dan kekurangan tiap-tiap disain.

Seru, dari posting yang diluncurkan di FB, dalam 2 hari saja, terkumpul 165 responses, semuanya adalah teman-teman FB yang masuk network. Belajar sesuatu disini, bahwa social media memang powerful. Disain no.3 hanya mendapat 5 suara, yah berarti itu dengan mudah saya dan Gia kesampingkan. Yang kemudian kita lakukan adalah secara seksama membaca satu persatu komen dari tiap-tiap respon. Sebab, kalau dilihat dari jumlahnya, disain no.1 dan disain no.2 berimbang, 50-50.

Inilah yang disebut dengan riset kualitatif, jadi kita tidak bisa hanya mengandalkan jumlah suara terbanyak saja, harus masuk ke dalam lagi pada issue2 yang diangkat dalam tiap komen. Dengan demikian diamati dan blended dari sisi perspektif yang berbeda, karena keahlian saya perspektifnya dari sisi marketingnya dan Gia dari segi disainnya sendiri.

Ini lho wajah asli yang namanya Gia Josie my creative partner – oke kan disainnya. Sudah duluan mejeng dengan buku.

Book Cover Designer

Walhasil, kembali soal proses pemilihan disain, setelah masuk lebih jauh dan berenang dalam komentar responden, kesimpulannya kita lebih nyaman dengan pilihan disain no.1 – tetapi tentu dengan touch up dan perbaikan disana-sini sesuai dengan saran-saran responden.

Misalnya: warna tidak pure black and white, tetapi ditambah maroon/merah; lalu nama penulis gak ada Ph.D nya, nggak penting, jadi didrop, lalu juga untuk subjudul yang awalnya “Jurus Jitu Pemasaran Mutakhir” sudah dirombak besar-besaran, karena banyak yang bilang klise – lah, nggak oke lah, dll – kemudian kita brainstorming lagi dengan beberapa responden dan terbitlah subjudul ” Mengungkap yang tidak pernah Terungkap” Khusus untuk ini, thanks juga untuk masukan dari Felix Ferdinand, moderator Branding zone, makanya ikutan menang buku ya Felix.

Kriteria respondent yang memenangkan hadiah buku dari riset tersebut adalah komen nya memberikan inspirasi tersendiri, membuat kami berpikir dari kacamata yang berbeda. Selebihnya tentu, tanpa terkecuali saya juga mengucapkan terimakasih kepada semua responden (165 teman saya di FB) yang sudah meluangkan waktunya untuk memberikan respons. Sangat berguna.

Rencananya mau memberikan buku untuk responden sebanyak 10 buah, tetapi dengan alasan bahwa bukunya ternyata lebih murah dari yang saya perkirakan, maka jumlahnya saya kalikan dua. Karena itu ada 20 orang pemenang. SELAMAT YA…

For your info, harga buku yang saya peroleh dari publisher katanya akan dijual di toko buku dengan harga Rp 55.000 – murah kan?

Ini adalah sebagian dari komentar- komentar responden yang menginsiprasi kami:

“Saya suka no.1. Lebih simple & bersih kesannya..cuman kalo bisa, sedikit di re-touch, misalnya tambah aksen 1 color aja.. Akan terlihat spt buku2 import dan menghilangkan kesan ‘fotocopy’..”

“Aku senang cover no 1. Clear n Clean, tapi Loopnya mubajir kalo ditaruh disitu..krn ga ada yg di “perbesar”..akan lbh sampai massage-nya kalo loop itu ada di atas kata “tno” dr etno…or di “mer” dari kata customer…. kalo background “jurus jitu…” di pake warna maroon mungkin lebih “Hidup” kali yach…..”

“No 1 bersih, clean line, lebih menjanjikan isi yg up to date”

“Desain saya pilih no 1, justru eksklusif dan lebih terlihat.
kalo boleh sy sarankan, di cover cukup ditulis Amalia Maulana saja (mudah utk brandingnya, apalagi namanya bagus). Sementara embel2 gelar Ph.D cukup di halaman dalam saja.”

“I go for no. 1, cuman gimana ya supaya nggak terkesan fotokopi. Jurus jitu pemasaran mutakhir? are you sure, sound a little bit cliche? Ethnography nya udah terkesan sangat elegan.”

“Paling bagus yang no 1. Clean, serius tapi berkesan enak dibaca..”

“Utk yang pertama, lebih cerah dan terbuka untuk siapa saja. “

Setelah dianalisis menggunakan Ethnomethodology juga Semiotik dan Tak Lupa Analisis Wacana…Pilihan jatuh No. 1, kenapa?? Karena Trend Cover Buku memang Simple seperti buku2nya Malcolm Gladwell Series.. Dari Font, Pemilihan Warna, Tata letak huruf jelas mencerminkan Si Penulisnya yg Memang Ahli di Bidangnya.. Yg terakhir, emg no.1 justru yg paling Eye-Catching dan bikin Penasaran pengen liat isinya seperti apa ;) ..”

“Saya vote no.1. tampak smart, simple, clean.. cuma biar tdk trkesan jadul, boleh salah satu tulisan (ethnography atw customer insights) atau block-nya diwarnai aja, tapi jgn jauh2 dr item, misalnya warna maroon atw coklat/biru tua.. ohya, gambar loop-nya juga agak mengganggu, kenapa ngga dikecilin aja? toh itu hanya pemanis.. kalo kegedean sperti buku kedokteran, atau bahkan terkesan cheap.. jadi melunturkan kesan smart dan elegan secara keseluruhan

“Saya rasa desain nomer 1 paling pas karena clean dan elegan serta tidak berkesan -maaf- buku murahan. Tapi nanti finishingnya minta material yang tebal, syukur2 tulisan di covernya bisa dicetak timbul.Kemudian bisa ndak gambar lup nya dihilangkan saja ? Karena lup menurut saya malah tidak mencerminkan isi bukunya dan mengurangi kesesuaian konsep clean designnya.”

“Nomor 1. Mungkin tambah 1 warna yg eye-catching seperti merah??? sebagai aksen, sedikit aja. Tapi black & white saja juga oke— I love it”


“numero uno Mba Amalia….but not using black, but another color….with vibrant and exciting one, just a color…. we look forward for the book”

“Saya kira nomor 1 tapi sebaiknya dipoles sedikit dengan aksen warna (mungkin merah atau jingga) — satu tarikan arsir saja — somewhere in between those letters.”

“Saya suka disain nomor 1. IMHO, secara keseluruhan disainnya terlihat clean & elegant…
Text “ethnography” nya lebih clear dibanding disain yg lain. Memang sengaja dibuat 2 baris ya, tanpa tanda hubung/dash?”

“Nomor 1, simple…tapi seharusnya kaca pembesarnya di kata “Ethnography.” terus mengenai tagline-nya “jurus pemasaran mutakhir” kayaknya klise banget…enggak banget deh…mendingan tentang metode ethnography itu, misalnya yang berkaitan dengan pengalaman dan pengamatan langsung ke target pasar…”

“Menurut saya, Mbak, untuk LAYOUT = nomor 1 yg paling keren, anggun, blocking-nya perfect, mungkin cuma ketebalan font utk kata ETHNOGRAPHY-nya lebih catchy kalo dipertebal 2-4 poin — utk mempertegas bahwa inti bahasannya adalah alat penelitiannya, dan bukan Customer Insights-nya.. utk WARNA, akan lebih menarik kalo warna maroon atau biru gelap (benhur/donker) yg dipakai sbg warna background.. ATAU background tetap putih, tapi tulisan ETNOGRAPHY-nya pake warna merah maron — supaya lebih “keliatan” ( warna huruf utk tulisan lainnya tetap hitam)..”


Sekali lagi thanks ya TEMANS (teman-teman). Sampai ketemu di acara launching buku “Consumer Insights via Ethnography” ini, di kampus London School of Public Relations” tanggal 28 Juli mendatang jam satu siang.

PLN dalam perubahan

Senang bisa bertemu langsung dengan para leaders PLN; menjadi fasilitator pada Executive Education Program mereka (penyelenggara TASS Consulting) – ini adalah kegiatan kecil dalam kerangka besar change management di PLN.

Benarkah PLN nggak perlu marketing? Kalau mau dilihat dari karakter captive market dan tidak ada pesaing nya, betul rasanya tidak perlu marketing.

Tetapi, karena marketing itu sangat luas.. maka selalu ada kesempatan untuk menambah wawasan dan mempertajam cara untuk memperbaiki organisasi. Saya pilih dua fokus relevan yaitu dari Customer Insights dalam Services Marketing dan B2B Marketing.

(1) Services marketing, karena bagi PLN yang dijual adalah kombinasi tangible dan intangible benefits. Maka, untuk konsep services, ada hal-hal spesifik yang perlu diketahui bagaimana untuk memasarkan jasa. Apa saja yang penting untuk diperhatikan. Feedback konsumen sebaiknya diserap secara kontinyu, tidak adhoc basis saja. ‘Suara konsumen’ sebenarnya bisa digali secara eksploratif dalam keseharian organisasi, customer insights ada dimana-mana.

(2) B2B marketing, karena selain punya pelanggan konsumen, PLN masih punya opportunity untuk membesarkan segmen B2B atau corporate/institusi.  Dengan decision making process yang lebih kompleks daripada pelanggan biasa, B2B marketer harus lebih mengenal ‘peta issues’ di tiap-tiap accountnya, dengan menjaring insights customer.

Dengan mengerti secara holistik customernya – perusahaan bisa mengatur prioritas membenahi issues dan punya strategi perencanaan pemasaran dan bisnis yg lebih sharp dan terarah.

Ibu Dewi Setiani, salah satu leader di bidang CSR, satu-satunya wanita dalam pelatihan batch yang sekarang ini (catatan: baik bgt dan ramah – asli nih!), banyak memberikan pencerahan selama jeda istirahat makan siang. Beliau menyatakan bahwa opportunity PLN untuk menjadi lebih baik lagi, terbuka luas.

Peserta training sangat bersemangat di kelas, group dynamic tinggi. Sehingga seharian penuh bersama mereka nggak terasa cape. Sukses untuk PLN era baru. Sebagai salah seorang konsumen PLN, saya menantikan PLN yang lebih baik lagi.

ETHNOGRAPHY in Multi-channel Pay-TV services

ETHNOGRAPHY in Multi-channel Pay-TV services
In-house Workshop, Agustus 2007.
Read More →

ETHNOGRAPHY for MARKETERS

ETHNOGRAPHY for MARKETERS
Workshop, Juli 2007.
Read More →

Consumer Insights: Peranannya Dalam Blue Ocean Strategy

Consumer Insights: Peranannya Dalam Blue Ocean Strategy
Workshop satu hari, September 2006.