-->
 

All posts in Uncategorized

Pengamat: Dahlan Iskan perhitungkan pengunduran direksi BUMN

Jakarta (ANTARA News) – Berita heboh tentang beberapa direktur di sejumlah BUMN yang mengundurkan diri seolah-olah menyudutkan Menteri BUMN Dahlan Iskan sebagai “the new boss” , tetapi ia tentu telah memperhitungkannya, kata seorang pakar branding.

“Pada titik tertentu ini membuatnya semakin tidak populer di mata sebagian pemangku kepentingan BUMN,” kata Direktur Etnomark Consulting, Amalia E. Maulana Ph.D dalam perbincangan di Jakarta, Sabtu.

Amalia Maulana mengatakan tentu Dahlan Iskan telah memperhitungkan hal ini seperti tampak dari caranya yang dingin saja menanggapi berita pengunduran diri jajarannya tersebut.

Yang menjadi pusat perhatian atau key stakeholder Kementerian BUMN saat ini adalah publik dan investor. Dari kedua pemangku kepentingan penting ini, brand BUMN ingin dibangunnya.

Raport yang masih “merah” ingin ditransformasi menjadi “hijau”. Read More →

Nobatkan CEO menjadi Brand Director

Pada hari Kamis, 12 Juli 2012, dalam Workshopnya yang berjudul “How Strong Is Your Corporate Brand?” Amalia E. Maulana, Direktur ETNOMARK Consulting menekankan bahwa masih banyak perusahaan yang tidak memikirkan Corporate Brand nya secara seksama. Kegiatan yang dilakukan sebagai usaha branding korporasi masih bersifat generik, belum kontekstual terhadap permasalahan yang mendasar yang dialami oleh perusahaan tersebut.

Workshop Corporate Branding ini diselenggarakan oleh ETNOMARK Consulting, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang Brand Consulting dengan pendekatan ethnography. Sebanyak lebih dari 40 orang eksekutif puncak dan jajaran Corporate Communication Manager dari berbagai perusahaan, nasional maupun multinasional hadir dalam acara yang disponsori oleh Astra Internasional dan Majalah Marketing.

Banyak Decision makers yang memandang branding sebagai kegiatan komunikasi (Marcom) saja, demikian jelas Amalia. Padahal, branding lebih luas dari sekedar mengganti logo perusahaan, memikirkan slogan atau melakukan kampanye iklan secara jor-joran. Sebagai contoh, perusahaan BUMN seringkali menghabiskan dana sangat besar untuk komunikasi pemasaran dan korporasinya, tetapi tanpa didahului dengan proses identifikasi segmentasi stakeholder dengan baik. Apabila dilakukan perencanaan strategik secara baik, Amalia menyatakan bahwa dengan biaya setengahnya saja sudah bisa dicapai apa yang diharapkan. Read More →

Gaya Boros Telemarketing

Oleh Amalia E. Maulana, dimuat di Bisnis Indonesia Minggu, November 18, 2011

Jam 8 pagi hari Senin bagi kebanyakan dari kita adalah moment yang menegangkan, mengingat pembukaan minggu selalu dimulai dengan mereview kembali to do list dari pekerjaan yang masih tersisa dari minggu lalu.

Bisa dibayangkan bahwa justru pada jam dan hari seperti inilah saya sering menerima telepon dari orang-orang yang bekerja sebagai telemarketer, menjual produk jasa mulai dari kartu kredit, pinjaman bunga lunak, asuransi, investasi dan lain-lain.

Awalnya, saya masih menjelaskan dengan suara datar bahwa ini bukan the best time to call dan menyarankan untuk menelpon di waktu yang lain saja. Tetapi, setelah beberapa kali hari Senin pagi saya menerima telepon serupa, mulailah suara saya meninggi dan langsung protes: “Hari apa ini Mbak? Jam berapa sekarang? Apakah tidak ada supervisor disana yang bisa memberikan pengarahan bahwa ini adalah waktu yang sangat tidak tepat untuk menghubungi prospek?” Read More →

Pemerintah agar dorong UKM pakai Internet

Minggu, 28/02/2010 21:27:39 WIB Oleh Arif Pitoyo (http://web.bisnis.com/sektor-riil/ritel-ukm/1id164512.html)

JAKARTA (Bisnis.com): Pemerintah diminta mendorong usaha kecil menengah (UKM) memanfaatkan Internet guna meningkatkan daya saing menghadapi perdagangan bebas Asia-China dan menaikkan branding.

Director ETNOMARK, Ethnography Consulting Amalia E. Maulana mengatakan segmentasi UKM harus segera disusun untuk mengukur kemampuan UKM dalam menerima teknologi Internet dalam mempromosikan produknya.

Read More →

Networking sambil belajar Riset

Apa ya tujuan ikutan workshop selain menimba ilmunya? Tentu saja networking! Ini yang penting sekali karena our personal brand akan bisa berkembang kalau network kita makin luas.

Teman-teman Young Marketers yang ikut acara Workshop “Research Principles for Young Marketers” bekerja sama dengan Nielsen (18-19 Aug) – tampaknya juga mendapatkan kesempatan networking karena workshopnya 2 hari, lumayan buat ngobrol dan interaksi selama break dan group discussions. Saya perhatikan, networking nya berjalan, mungkin karena mayoritas ‘young’ and ‘young at heart’ kali ya….jadi bahasanya sama. I was really glad to see that.

Total 43 Young Marketers, dari perusahan-perusahaan yang reputable seperti Arnott’s Indonesia, Frisian Flag, Coca Cola Distribution Indonesia, Combiphar, BCA, Djarum, Gudang Garam, OTG, Cuzzon, Bentoel Prima, Johnson&Johnson, Garuda Food, Holcim, IFF, Greenfields, Circle K, Pacific Place, Pertamina, beberapa dari Nielsen staff sendiri juga ikutan.

Hari Pertama khusus belajar tentang Qualitative research — prinsip2nya: kapan perlu riset ini, apa bedanya dengan tipe riset quantitative, berbagai tipe quali study dan pros/cons nya. Setelah itu introducing new approach in qualitative study yaitu ethnography in marketing. Kebetulan baru launching buku, ya sekalian bagi-bagi buku “Consumer Insights via Ethnography” (dijatah nih tiap perusahaan satu).

Dari Nielsen sendiri hari ini Mbak Moira yang menjadi bintang tamunya yaitu menjelaskan produk riset qualitative Nielsen yang juga termasuk research contemporary bernama Delta Qual. Ditutup dengan group exercise- presentation. Karena dibagi 6 group dan presentasinya seru, sampai jam 6 sore hari pertama ini ditutup.

Hari Kedua baru membahas tentang Quantitative research, termasuk di dalamnya mengerti tipe-tipe riset quantitative. Kesempatan ini saya juga menjelaskan metode sampling yang banyak ragamnya itu, apa itu convenience sampling, probability-non probability sampling, simple random sampling, stratified random sampling, etc.

Setelah prinsip risetnya dijelaskan, kemudian masuk ke penjelasan tentang berbagai tipe applied business research, yang paling sering dikerjakan dan dibutuhkan oleh pemasar. Disini sudah masuk kombinasi quali-quanti, tergantung kebutuhan business researchnya. Waktunya nggak banyak, jadi lebih fokus pada yang kudu harus ngerti dulu spt New Product Development research, advertising research(pretest and posttest). Juga dijelaskan secara khusus research dengan menggunakan new media termasuk di dalamnya social media. Apa kelebihan dan kekurangannya. Tapi yang jelas tipe riset ini adalah tipe riset yang harus mulai dipikirkan, terutama bila ada keterbatasan waktu dan biaya.

Setelah sesi business research, wakil Nielsen, Mbak Lia, juga hadir untuk menjelaskan  Brand Health Check, dan disambung dengan penjelasan tentang riset media. Dilanjutkan riset media. Demo People Meter cukup menarik (lengkap dengan TV dan devicesnya), karena masih banyak yang mempertanyakan metode riset yang satu ini, persisnya spt apa dilaksanakan.

Dua hari memang singkat untuk menguasai semua metode riset, tetapi objective dari workshop ini tidak muluk-muluk, yaitu mengerti prinsip2 riset pemasaran yang dibutuhkan oleh Marketers agar kalau memberikan briefing research baik itu di tingkat internal dan tingkat external, lebih sharp dan fokus. Dan lebih nyambung aja dengan teman-teman di divisi research pemasaran.

Semoga menjadi pencerahan yang berarti. Sukses untuk semua peserta. Jangan berhenti belajar risetnya, kalau sudah mengerti prinsipnya, berarti LANJUTKAN belajar terus.. supaya makin advance.

Keep in touch, everyone….