-->
 

All posts in Published Article

Freedom of Speech : Branding Media Sosial

‘Ngono yo Ngono ning ojo Ngono’

Saya jadi ingat ungkapan Jawa ini yang saya baca di status FB teman. Kalau diterjemahkan dalam bahasa pergaulan Jakarta kira-kira bunyinya seperti ini ‘begitu ya begitu, tapi jangan begitu-begitu amat’. Maknanya: Boleh saja seseorang bersikap seperti itu tetapi jangan keterlaluan atau melampaui batas yang bisa ditolerir.

Konteks pembahasan saya adalah perilaku dari beberapa brand media sosial yang sudah keluar dari jalur cita-citanya. Belum lama ini pengguna media sosial dihebohkan dengan ‘tangan-tangan’ sakti yang ikut mengatur lalu lintas jalannya komunikasi di media tersebut.

Di dunia media sosial dan Internet sudah lama kita mengenal istilah Freedom of Speech dan Wisdom of Crowd. Kebebasan berbicara mengungkapkan pendapat dari para anggota ‘masyarakat online dan forum’ ini merupakan daya tarik utama dari media tersebut. Dimana, di media ‘lama’ seperti tv, koran, majalah dll terdapat keterbatasan space dan sangat erat dengan ‘kontrol’ dari pemilik media (atau redaksinya), maka di media sosial dan blog, space hampir bisa dikatakan unlimited dan tidak ada kontrol mengontrol pendapat. Read More →

Sidak dan Employer Branding: Setahun Jokowi

Jika setahun yang lalu, saat Jokowi-Ahok terpilih menjadi pasangan Gubernur-Wakil Gubernur, saya masih tahan ucapan selamat karena The Jokowi Ahok Show baru akan dimulai – maka sekarang, setahun berlalu, sudah layak diberikan evaluasi.

Terlepas dari ternyata ada lebih dari 1000 rumah yang terbakar selama setahun Jokowi-Ahok memimpin, saya 1000 persen setuju bahwa The Jokowi Ahok Show layak untuk digelar dan ditonton terus.

Pertunjukan yang hebat dan sudah saatnya Show yang lain menjadikan lakon ini sebuah Role Model.Selamat Pak Jokowi dan Pak Ahok. ‘The Show’ telah berhasil merebut hati banyak penontonnya. Sebagai sebuah pertunjukan, ini adalah pencapaian yang harus dilanjutkan.

Sayangnya, masih terjadi ketidakseimbangan antara kekuatan aktor utama yaitu Jokowi dan Ahok dengan para aktor pendamping, baik di tingkat Show Utama (di Kantor Pusat) maupun di tingkat Show Extension (di Kantor Kelurahan, Kantor Kecamatan, Kantor Walikota, dst). Kerja cepat Jokowi-Ahok belum diimbangi dengan kerja cepat jajarannya.

Ini Pekerjaan Rumah yang tidak bisa diabaikan. Harus ada Grand Strategy untuk membuat jajaran Pemprov DKI dari cabang sampai pusat bisa bekerja dengan irama yang sama dengan aktor utama dan paham Lakon! Read More →

Goodwill dan Blusukan: Mobil Murah

Jam 12 malam, gara-gara posting simpati pada Pak Jokowi mendukung keberatan tentang peluncuran mobil murah maka saya harus jawab challenge dari teman di Twitter:

1. Tanpa ada mobil murah atau harga di bawah 200 juta. Mungkin jalan-jalan di  Jakarta makin kece ya Mbak? Bagaimana pendapat Mbak?

2. Jadi yang terbayang didalam imajinasi saya. #mobilmurah itu gak ada dan angkutan umum yang dipermantap. Selebihnya #mobilmewah.

Mobil Murah vs Mobil Mewah

Menurut hemat saya ini adalah dua permasalahan yang tidak bisa digabungkan dalam menyelesaikannya. Betul, bahwa ada ketidakadilan, kesenjangan sosial. Saat ini semakin banyak mobil super mewah yang berkeliaran di jalanan. Dealer-dealernya pun tanpa sungkan mendisplay mobilnya secara mentereng di show roomnya.

Pemerintah (siapapun itu) harus mulai melihat ini sebagai sebuah situasi yang mempertajam perbedaan sosial secara kasat mata. Sebelum adanya display mobil super mewah di jalan, jenjang sosial itu sudah ada. Tidak perlu dipertegas lagi dengan melihat langsung mobil seharga 8 milyar berseliweran di jalan raya, kan? Read More →

Blusukan Terus, Kapan Kerjanya Jokowi?

Kalimat ini terus menerus digencarkan oleh banyak pihak yang skeptis terhadap kepemimpinan Jokowi. Menganggap Jokowi bisanya hanya blusukan saja.

Mereka yang ragu akan Jokowi sekarang bisa melihat bukti nyata (bukan janji). Foto-foto yang bisa didownload dengan mudah, yaitu before vs after dari Waduk Pluit dan Pasar Tanah Abang, adalah display pertama bukti bahwa Jakarta layak disebut sebagai Jakarta Baru.

- Waduk Pluit : Sampah Berantakan vs Taman dan Lahan Hijau.

- Pasar Tanah Abang: Macet Kumuh vs Rapi Lancar.

Teori vs Action

“An ounce of action is worth tons of theories” – Friedrich Engels.

Kalimat bijak Friedrich Engels ini saya catat pada saat mendengarkan dengan seksama sesi bedah buku “Mendidik Manajer ala Harvard” oleh pengarangnya sendiri, Bapak Hadi Satyagraha, Ph.D.

Beliau adalah salah satu pendiri sekolah bisnis IPMI yang menggunakan metode kasus Harvard dalam pengajarannya. Dosen favorit saya hampir duapuluh tahun yang lalu, sewaktu mengambil program MM, MBA di sana. Inspirasi menjadi seorang Marketing Educator seperti karir saya sekarang, memang dimulai sejak berada di kelas beliau. Read More →

Ucapan Selamat Lebaran: Refleksi Derajat Pertemanan

Sepuluh jari tersusun rapi…
Bunga melati pengharum hati…
SMS dikirim pengganti diri…
Memohon maaf setulus hati…
Mohon maaf lahir dan batin, met idul fitri…

Puisi ucapan selamat lebaran semacam ini mulai bertebaran di jagad maya  beberapa hari sebelum, saat lebaran dan sesudah lebaran. Sayangnya, puisi yang merupakan kumpulan kata indah dan bermakna dalam konteks yang tidak tepat, menjadi tidak efektif lagi dalam menyampaikan pesan.

“Lebih suka ucapan yang simple, singkat jelas padat gak perlu kata2 mutiara udah basi, bukan zamannya”.

Teknologi memudahkan komunikasi antar manusia dan kemajuan teknologi ini telah menggeser perilaku konsumen dalam bersilaturahmi dengan sesamanya. Saat ini sudah mulai banyak yang merasa bahwa ucapan selamat idul fitri ini kehilangan makna. Pesan dan perhatian personalized sudah diganti dengan ‘pesan massal’.

Posisi Soulmate

Bagaimana posisi pertemanan dengan kerabat, relasi kantor dan juga teman sejawat? Saat lebaran ini bisa digunakan sebagai evaluasi diri, seberapa pentingkah ‘pertemanan’ kita di mata mereka? Dan, demikian pula sebaliknya. Seberapa pentingkah mereka untuk kita? Ini merupakan ujian derajat pertemanan. Read More →