-->
 

All posts in Published Article

MarCom Gaya Lembaga Amil Zakat (LAZ)

Publikasi riset ethnography by ETNOMARK, dimuat di Majalah MIX (2010)

Suatu sore, teman saya menceritakan kekagumannya terhadap salah satu ‘sales’ Lembaga Amil Zakat (LAZ) yang membuka counter di mall. Di saat dia baru bertanya-tanya tentang penyaluran zakat dan belum membawa uang tunai, sales person tersebut dengan sigap menawarkan untuk mengantarkannya ke anjungan tunai mandiri yang tidak jauh dari counter dimana dia bertugas.

Ini pasti hasil dari sebuah sales training yang baik, bahwa setiap ada prospek harus diusahakan untuk dikonversi menjadi donatur. ‘Close the deal’ saat itu juga, kalau memungkinkan. Wow, berarti badan amil zakat tersebut sudah mencapai tahap jemput bola dan mengerti menerapkan proses brand activation yang handal.

Kesadaran berzakat masih rendah?

Data yang tercatat oleh Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) di tahun 2010 berdasarkan kajian Asian Development Bank (ADB), menjelaskan bahwa penetrasi pengumpulan zakat secara nasional masih sangat kecil dibandingkan dengan total potensinya yang mencapai 100 trilyunan rupiah. Baznas sendiri baru mengumpulkan 1.2 trilyun rupiah tahun lalu.

Apakah ini berarti masih sangat banyak kaum muslim di Indonesia yang belum sadar pentingnya berzakat? Atau, mungkin ini lebih disebabkan karena lebih banyak zakat yang beredar langsung dari muzaki (pemberi zakat) ke mustahik (penerima zakat), tanpa melalui perantaraan lembaga-lembaga formal, sehingga tidak masuk radar?

Read More →

Pilot Garuda Belum Paham Persoalan Branding

Dimuat di Harian Seputar Indonesia 3 Agustus 2011

Terbayang sebuah skenario. Hari itu sopir taksi mogok. Tetapi setelah ‘dipaksa’ untuk tetap jalan oleh perusahaannya, maka sopir tetap berangkat dan mengendarai taksinya. Penumpang taksi yang tidak tahu menahu latar belakang kejadian hari itu, mungkin bisa merasakan bagaimana tidak nyamannya hari itu di taksi.

Sopir ngebut, bermuka masam dan ngomel sepanjang jalan tentang manajemen yang dianggap tidak adil. Jalan terbaik tentu berhenti sebelum sampai di tempat tujuan, pindah taksi saja. Biar aman, dan tidak ikut terlibat dalam prahara perseteruan antara sopir taksi dengan manajeman perusahaannya. Read More →

Brand: Janji Seribu Janji

Dimuat di Harian Seputar Indonesia, Juli 2011

Pagi ini saya duduk di koridor tempat duduk pasien di sebuah rumah sakit premium. Saya datang sepuluh menit sebelum pukul sembilan, karena dikatakan saya mendapat nomer urut 1 dan dokter mulai praktek pukul tersebut.

Saya coba klarifikasi lagi, langsung bertanya status pada counter pendaftaran, menurutnya dokter datangnya antara pukul 9 setengah 10, karena visit ke pasien inap dulu. Jadi bukan pukul 9? Saya mengeluh, mengapa tidak katakan sejak awal? Saya tidak perlu terburu-buru datang jika kenyataannya Dokter tidak datang tepat pukul 9. Read More →

IBrand: The CEO of ME Inc.

Dimuat di Harian Seputar Indonesia, 6 Juni 2011

“Life is short. Build a strong I-Brand”.

Kalau perusahaan bisa sukses dalam urusan brand dan branding, mengapa secara pribadi orang sering melupakan bahwa dirinya adalah sebuah brand yang juga penting untuk dibangun, dibina dan dikembangkan?

Dalam urusan membesarkan brand pribadi ini, kitalah yang menjadi tampuk pimpinan perusahaan dimana brand berada. Tom Peters, ahli personal branding menyebutkan istilah ‘The CEO of Me Inc’ (Me Incorporated). Perusahaan yang menjual ‘Saya’ atau ‘Diriku’. Read More →

Djakarta Fair atau Diskon Fair?

Dimuat di harian Seputar Indonesia, Juni 2011

Pekan Raya Jakarta sudah dibuka dan sudah dihadiri pengunjung. Saya amati dari beberapa sajian testimonial pengunjung di beberapa stasiun TV, tiga hal yang sering dibicarakan mengarah kepada ‘diskonnya banyak’, ‘harga barang lebih murah daripada biasa’, dan ‘banyak makanan kuliner khas jakarta’.

Apakah diskon dan kuliner tersebut adalah hal terpenting dalam PRJ? Siapa sebenarnya target audience utama event ini? Apakah orang-orang yang diskon oriented? Kalau ya, berarti kita perlu kembali ke nama PRJ yang lama yaitu Djakarta Fair – disingkat DF, tetapi kita ganti sekarang kepanjangannya dengan “Diskon Fair”. Read More →