-->
 

All posts in Published Article

Agent of Change dalam BRANDING

Tahun ini adalah tahun kesepuluh saya mencanangkan diri sebagai Agent of Change di bidang Edukasi Branding. Dalam rangka mensyukuri perjalanan kesepuluh tahun ini lah perusahaan kami akan menyelenggarakan sebuah public workshop yang berjudul “Peranan Agent of Change dan Ethnography dalam Customer Centric Organization”.

Beberapa waktu lalu dengan berat hati sempat kami melepas kesempatan untuk menjadi ‘vendor’ sebuah perusahaan untuk mengatasi permasalahan brand nya, karena dalam beberapa kali pertemuan saya tidak bisa identifikasi siapa ‘agent of change’ di organisasi tersebut.

Sepuluh tahun bergerak di bisnis konsultan branding ini semakin membuka mata bahwa pekerjaan branding adalah sebuah proses yang berkesinambungan. Tanpa ada Agent of Change yang mengawal proses branding di Internal organisasi, maka riset apapun yang diberi judul pemahaman konsumen akan menjadi sia-sia.  Tanpa ada sosok key person yang mempunyai ‘drive’ dan open mind terhadap perubahan, riset konsumen sedalam dan se-luas apapun tidak akan bisa membantu menyelesaikan persoalan yang dihadapi oleh brand.

Seorang Agent of Change seperti saya dan team harus berdampingan dengan Agent of Change di Internal organisasi, karena pekerjaan ini bersifat timbal balik dan mutual.  Seperti pepatah mengatakan ‘IT TAKES TWO TO TANGO’.  Seorang Agent of Change eksternal seperti kami tidak bisa berdansa sendirian dan bermimpi bahwa persoalan brand akan teratasi dengan baik. Read More →

#RidwanKamil dan Ujian Brand

Ingat pengalaman menangis saat sopir saya pamit akan pulang kampung dan berjualan sayur di sana menemani ibunya. Saya katakan padanya “Please Dont Go”. Anak saya sudah sangat cocok dengan Bapak sopir ini sehingga terbentuk connection dengan keluarga kami.

Bagaimana dengan pengalaman Anda? Ingatkah saat-saat Anda mengumumkan diri bahwa bulan ini adalah bulan terakhir di kantor? Seperti apa ekspresi ‘teman-teman’ di kantor tadi? Apakah ada ekspresi “Please Dont Go….” sambil tersedu (ini analoginya).. atau yang ada hanyalah ekspresi “oke selamat jalan dan sukses di tempat yang baru” atau bahkan ekspresi datar tidak peduli.

Kehadirannya selalu ditunggu dan Kepergiannya disesali dan ditangisi. Minimal dalam komunitas yang sangat kecil, kedekatan emosional ini merupakan ciri-ciri Brand Cemerlang.

Brand Cemerlang itu bukan brand yang terkenal. Brand Cemerlang itu brand yang dibutuhkan. Brand ini memberikan makna dalam kehidupan di komunitasnya.

“You’ve Made the Right Decision Sir!”

Spanduk yang dibentangkan di jalan utama kota Bandung, sebagai ungkapan hati masyarakat Bandung kepada pemimpinnya, Ridwan Kamil. Tepatnya, spanduk itu adalah ekspresi rasa syukur mereka saat Kang Emil mengumumkan bahwa ia akan tetap di Bandung sampai masa kepemimpinannya selesai. Read More →

GOJEKisasi dan Pemahaman Konsumen

“Promo gojek ceban memberikan satu sisi negatif. Bikin males jalan kaki. Hahaha”

Ini adalah salah satu isi twit komentar tentang Brand Gojek yang ‘ngasal’ alias ‘jaka sembung/nggak nyambung’.

Nyambung atau tidak nyambung tidak penting lagi dalam brand communication di media sosial. Yang penting menarik untuk dibaca, apalagi membuat orang senyum-senyum sendiri, dan kemudian di-share/dibagikan ke teman lainnya.

Memang Gojek fenomenal. Banyak pelajaran berharga yang bisa dipetik dari fenomena Gojekisasi ini. Pembahasan tentang Gojek, baik positif maupun negatif beredar di mana-mana. Semakin banyak dibahas, tingkat word-of-mouth communication menjadi semakin tinggi.

Interaksi saya dengan Brand Gojek saat Brenda, mahasiswa yang sedang skrispsi meminta mengirim buku Personal Branding tulisan saya agar bisa sampai di hari yang sama karena akan digunakan sebagai referensi. Yang biasanya pembelian buku dikirim via kurir, hari itu dikirim via Gojek dan sukses sampai dalam satu jam saja.

Kata kuncinya adalah Cepat dan MUDAH. Read More →

ZMOT – Zero Moment of Truth

Sepuluh tahun lalu, suami saya punya kebiasaan menyempatkan diri seharian di Glodok, hanya untuk mempelajari barang elektronik yang akan dibelinya. Belum lagi ditambah kesibukannya telpon teman-temannya yang sudah memiliki model elektronik yang sama.

Era itu sudah berlalu. Suami saya sekarang hanya perlu membuka iPad nya untuk browsing semua barang elektronik idamannya. Tidak perlu secara fisik hadir di toko di Glodok, karena toko-toko Glodok sudah bisa diakses via Internet. Tidak perlu spend waktu menelpon teman-temannya, karena dengan googling saja, berbagai review sites akan menyediakan informasi apapun yang ia harapkan. Mengeksplorasi ‘Moment of Truth’ konsumen lainnya.

FMOT, SMOT lalu ZMOT

Istilah ‘Moment of Truth’ sudah lama digunakan untuk menjelaskan moment penting interaksi antara konsumen dengan brand, pada saat brand dicoba (atau dibeli). Bila ternyata janji-janji nya tidak terpenuhi, maka moment ini dianggap gagal. Moment of Truth akan membuka, membeberkan ‘siapa’ diri brand itu sebenarnya. Read More →

Tongsis Experience dan Implikasi Leadership

Sekarang memang sedang jamannya Narsis berjamaah.

Minggu lalu di lobby sebuah hotel terjadi sedikit kehebohan. Saya dan teman-teman arisan, secara tidak sadar sudah menarik perhatian dengan berfoto selfie (self-potrait) secara berkelompok dengan bantuan alat Monopod. Walaupun ada petugas hotel yang pasti bersedia memotretkan, tetapi kami tetap bersikukuh menggunakan Monopod tersebut.

Istilah selfie mulai berkembang luas dan dikenal saat disebarkannya foto Obama Selfie di pemakaman Nelson Mandela. Pemasar yang melihat adanya needs untuk selfie berkelompok ini ternyata cukup jeli mengembangkan ‘perangkat’ selfie berupa tongkat perpanjangan jangkauan pemotret. Karena tongkat dibuat untuk tujuan narsis, maka di Indonesia Monopod ini diberikan label unik yaitu Tongsis, tongkat narsis.

Foto bersama sudah lama menjadi momen penting di kultur kita. Tetapi, yang berkembang sekarang sudah bukan foto bersama lagi, tetapi self-potrait bersama.

Hasil observasi dan pengalaman berada di lingkungan yang sudah terkena wabah ini menggambarkan: ternyata bukan hasil fotonya yang penting. Proses foto group selfie nya yang lebih penting. Memastikan bahwa kita hadir,berada di dalam crowd, dan memastikan bahwa wajah‘ikut serta’ dalam frame. Group feeling adalah output dari ‘Tongsis Experience’.

Pelajaran Tongsis Experience memberikan pemahaman baru tentang betapa semakin pentingnya komunitas bagi kehidupan sosial seseorang. Ini sejalan dengan kerumunan yang makin membludak di media sosial, dimana esksistensi seseorang dibangun dalam komunitas virtual ini.

Kontras dengan situasi pasar yang hiperkompetisi – bersaing ketat, di masyarakat, dalam komunitas yang terjadi adalah situasi kolaborasi dan berbagi, jauh dari sifat menang sendiri dan individualistis.

Komunitas adalah sekelompok orang yang memiliki persamaan interest dan needs. Keberhasilan sebuah komunitas bisa dipelajari dari tinggi rendahnya Sense of Community (SoC). Definisi SoC yaitu perasaan saling memiliki dan saling berbagi serta komitmen yang diberikan antara satu anggota dengan anggota lainnya.

Contoh komunitas masak memasak yang sukses adalah Natural Cooking Club (NCC). Walaupun komunitas ini mempunyai icon Ibu Fatmah Bahalwan, sang leader, tetapi jelas bahwa dalam keseharian panggung komunitas ini diisi oleh beberapa leader lainnya berfungsi sebagai moderator.

Gaya kepemimpinan dalam komunitas seperti NCC ini lebih cair. Panggung tidak dikuasai sendiri (ala Diva/Divo). Sebaliknya, power dan otoritas dibagi dengan leader lainnya. Tokoh yang berhasil dalam komunitas adalah yang persisten dalam membina kelompoknya. Menciptakan engagement dan interaksi secara rutin. Mementingkan kepentingan kelompok dibandingkan dengan kepentingan individu.

Yang dominan dalam komunitas adalah Group feelings, Group thought, Group needs. Gaya Diva/Divo tidak laku dalam pembinaan komunitas jangka panjang.

Melibatkan Jamaah

Banyak program teve yang sudah secara cerdas melihat fenomena Narsis berjamaah dengan memberikan suguhan-suguhan hiburan yang melibatkan penontonnya. Bukan hanya melibatkan penonton di studio, tetapi juga melibatkan penonton di rumah. Bisa dilihat sendiri, bagaimana para penonton teve di rumah, ikut berjoget bersama mengikuti gaya tari di program yang digemarinya.

Digemarinya program teve seperti YKS, Dahsyat, Inbox, dll adalah sebuah bukti bahwa masyarakat tidak lagi hanya senang menjadi penonton. Mereka ingin adanya interaksi dan engagement yang kongkrit.

Bahwa sebagian orang tidak menyukai acara tersebut, itu masalah perbedaan needs dari kelompok yang berbeda dan mereka ada di segmen yang lain.  Segmen masyarakat yang saat ini semakin membesar dan substansial jumlahnya adalah sebuah kelompok yang ingin eksis dan narsis tetapi tetap secure/aman karena berada dalam naungan penjagaan group feeling tersebut.

Para produser acara ternyata juga jeli melihat peluang mengamankan bisnisnya dengan cara membangun komunitas fan programnya dan mempelajari secara seksama feedback dan inspirasi mereka.

Bahwa tidak lagi ada tuntutan untuk mempunyai Diva atau Divo (tokoh sentral bersinar sendirian) di dalam komunitas tercermin dari banyaknya pembawa acara.Di tiap acara bisa kita saksikan pembawa acara lebih dari satu, bahkan kadang terlalu banyak hingga terkesan berebut panggung.

Program-program teve yang saat ini mendapat sambutan tersebut juga merefleksikan kebutuhan group feeling. Artis dan pembawa acara berperan sebagai fasilitator keterlibatan antar member untuk menciptakan sebuah experience yang menyenangkan.

Joget ala Caesar (YKS) laku ditonton dan dicontoh dimana-mana karena tipe dancing semacam ini dancing kebersamaan. Sekali lagi kata kuncinya adalah berjamaah. Kalau tongsis itu narsis berjamaah, joget Caesar juga sama, menari berjamaah.

Fenomena boy band dan K-Pop adalah salah satu refleksi sharing panggung, sharing kekuasaan di dalamnya. Berbagi spotlight. Secara group mereka berhasil memberikan tontonan terbaik bagi komunitas penggemarnya.

Era membagi panggung ini dijadikan catatan bagi para pemimpin baru. Semangat nya adalah semangat fasilitator perubahan, untuk menjembatani group needs. Tidak bergaya Diva yang menjadi pusat perhatian tetapi justru membawa khalayaknya untuk ikut serta dalam kegiatan apapun yang sedang dikerjakannya.

Ini adalah key success factor untuk para Pemimpin generasi baru. Pemimpin yang bersedia mendengar, kesediaan menangkap insights kebutuhan member/komunitasnya dan kesediaan untuk menari bersama masyarakatnya di panggung. Pemimpin masa depan adalah yang mempunyai persamaan value, apresiasi member komunitas,, membina emotional attachment, terus mengadakan dukungan terhadap warganya.

Pemimpin tidak memonopoli sorot lampu dan kemudian menjadi ‘pemerintah’. Tetapi membagi otorisasi sambil melayani crowd nya. Sinergi ini menjadikan member dan pemimpinnya duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Tidak berjarak. Menciptakan the wisdom of crowd.

Segera berakhir masa pemimpin yang menjadi center of attention, center of the world. The next center adalah crowd – jamaah komunitas. Siapkah pemimpin baru beradaptasi?

(dimuat di Kolom Branding Solution, Koran SINDO, 7 Januari 2014)