-->
 

All posts in Corporate Branding

Pakar: Stop Pemborosan Biaya Branding BUMN

(ANTARA News) – Badan Usaha Milik Negara (BUMN) perlu berbenah dalam strategi “branding” korporasinya karena saat ini apa yang dilakukan dalam usaha branding korporasi di BUMN lebih banyak bersifat kegiatan generik tidak konteksual terhadap permasalahan yang dihadapi oleh BUMN sebagai brand, kata seorang pakar.

Direktur Etnomark Consulting Amalia E. Maulana Ph.D mengatakan di Jakarta, Jumat, bahwa masih banyak pembuat keputusan di BUMN yang memandang branding sebagai kegiatan komunikasi saja.”Padahal branding bukan hanya sekedar kegiatan ganti logo, ganti slogan dan pasang iklan dan spanduk sana-sini,” kata Amalia Maulana sehari setelah penyelenggaraan lokakarya yang berjudul “How Strong Is Your Corporate Brand”.

Menurut dia, justeru yang sering dikerjakan secara cepat dan tidak akurat oleh perusahaan aset negara ini adalah tahap branding yang paling kritikal yaitu tahap identifikasi. Tahap riset identifikasi pemahaman tentang segmentasi konsumen dan pemilihan segmen yang akan digarap, sering disepelekan.  Read More →

Upcoming Workshop, July 12th, 2012

Android Inside! Belajar dari Pertemanan Samsung

Dimuat di Kolom Branding Solution, Koran Sindo, 4 January 2012

Jika tahun baru selalu dikaitkan dengan resolusi janji pada diri sendiri yang berdampak pada personal branding, berapa banyak dari Anda yang menyempatkan diri memikirkan resolusi janji brand perusahaan?

Jangan mengatakan bahwa itu tidak perlu lagi, karena business plan sudah selesai disusun. Marketing plan sudah siap diperbanyak untuk dilaksanakan. Ada yang masih perlu direnungkan lagi yang mungkin belum masuk dalam dokumen resmi perusahaan. Resolusi brand terhadap para partnernya.

Renungkan kembali, bukankah pencapaian brand di mata konsumen merupakan sebagian sumbangan dari kerja para partner perusahaan? Seperti apa persepsi mereka terhadap partnership yang sedang terjalin?

Para pemilik brand masih berpikir satu dimensi melihat persaingan. Bahwa brand motor bersaing melawan motor lain. Bahwa brand tissue berjuang melawan tissue merek lain. Bahwa brand oli bersaing dengan oli merek lain.

Dunia bisnis yang semakin kompleks menuntut perusahaan untuk berpikir menembus batas lingkup interaksi perusahaan dengan konsumen. Customer bukan lagi satu-satu nya stakeholder penting. Dalam pertandingan lari marathon, partner bisnis yang ikut bersama membesarkan brand, termasuk kunci sukses keberhasilan.

Sudah terbukti, bahwa mobile phone tidak lagi bersaing dengan mobile phone lainnya. Dalam persaingan bisnis ini, termasuk di dalamnya adalah persaingan Operating System (OS) nya. Pertanyaannya tidak lagi sebatas bagaimana posisi Samsung vs iPhone? Tetapi juga bagaimana situasi penerimaan konsumen terhadap OS Android vs iOS? Read More →

It Takes Two to TANGO!

Dimuat di Kolom Marketing, Bisnis Indonesia Minggu, 1 Januari 2012

Tahun lalu, anak saya maagnya terganggu dan harus di rawat di rumah sakit karena stress akibat ujian sekolah dan makan tidak teratur.

Dokter meminta persetujuan untuk pemeriksaan endoskopi yang cukup mahal. Seingat saya, pada saat itu saya tidak pernah bertanya kepada dokter, apakah ada jaminan bahwa kalau sudah diperiksa dan ketemu masalah maagnya, anak saya pasti sembuh 100%.

Saya mengerti, bahwa setelah ketemu penyakitnya pun, masih banyak faktor lain yang harus dipikirkan dan dikerjakan. Misalnya dengan mempelajari jenis-jenis makanan yang boleh dan tidak boleh dimakannya. Lalu, menjaga makanannya sehari-hari dan mengingatkan anak untuk lebih rileks dalam belajar.

Jadi, secara realistis, saya tidak minta dokter itu memastikan bahwa setelah treatment endoskopi, anak saya dijamin sembuh.

Karena itu, buat saya aneh sekali mendengar seorang Decision Maker yang bertanya apakah ada jaminan bahwa brand saya akan sukses apabila mengikuti rekomendasi Anda untuk rebranding?

Sukses tidaknya aktivitas rebranding bukan ditentukan oleh dokter atau konsultan seperti saya ini, tetapi pemahaman dan pelaksanaan prosesnya nanti. Ternyata ada persoalan yang lebih berat yang dihadapi oleh perusahaan tersebut, yaitu, sang decision maker, belum memahami big picture proses branding! Read More →

Antara Dress Code dan Internal Branding

Dimuat di Kolom Branding Solution Koran Sindo, 21 Desember 2011

Apa maksudnya dress code: merah-hijau? Salah satu teman arisan bertanya di Blackberry group. Melihat pesan tersebut, saya jadi ikut bingung: Hmmm….koq merah-hijau sih? Bukankah kemarin di pengumuman BBM group dikatakan dress code merah? Ternyata perubahan merah menjadi merah-hijau ada di undangan tertulis, dan saya tidak membacanya.

Jawaban pengurus arisan: “warna bajunya tetap merah, aksesorisnya yang hijau, say…” Untung sempat membaca pesan BBM ini. Alhasil, datang arisan tetap pede, tidak saltum (salah kostum).

Yang lucu, di arisan, masih saja ada yang datang dengan baju warna ungu. Wah? Ternyata teman ini masih mengandalkan memori diskusi ‘rencana dress code’ yang dibahas pada saat arisan bulan lalu, dan tidak terlalu perhatikan pesan perubahan di BBM  dan di undangan.

Seru ya – komunikasi soal dress code yang sederhana ini ternyata menjadi tidak begitu sederhana. Dinamika perubahan pesan ini bisa dijadikan contoh betapa tidak mudahnya menyatukan pemahaman semua orang dalam satu kelompok.

Di perusahaan, Pimpinan perusahaan sibuk memikirkan External Branding, mengisi makna brand bagi stakeholder di luar perusahaan – konsumen, partner bisnis. Bahkan jika perlu milyaran uang dibayar untuk creative agency, agar iklan dan komunikasinya sempurna, pesannya sampai kepada yang dituju. Read More →