All posts in Corporate Branding

Android Inside! Belajar dari Pertemanan Samsung

Dimuat di Kolom Branding Solution, Koran Sindo, 4 January 2012

Jika tahun baru selalu dikaitkan dengan resolusi janji pada diri sendiri yang berdampak pada personal branding, berapa banyak dari Anda yang menyempatkan diri memikirkan resolusi janji brand perusahaan?

Jangan mengatakan bahwa itu tidak perlu lagi, karena business plan sudah selesai disusun. Marketing plan sudah siap diperbanyak untuk dilaksanakan. Ada yang masih perlu direnungkan lagi yang mungkin belum masuk dalam dokumen resmi perusahaan. Resolusi brand terhadap para partnernya.

Renungkan kembali, bukankah pencapaian brand di mata konsumen merupakan sebagian sumbangan dari kerja para partner perusahaan? Seperti apa persepsi mereka terhadap partnership yang sedang terjalin?

Para pemilik brand masih berpikir satu dimensi melihat persaingan. Bahwa brand motor bersaing melawan motor lain. Bahwa brand tissue berjuang melawan tissue merek lain. Bahwa brand oli bersaing dengan oli merek lain.

Dunia bisnis yang semakin kompleks menuntut perusahaan untuk berpikir menembus batas lingkup interaksi perusahaan dengan konsumen. Customer bukan lagi satu-satu nya stakeholder penting. Dalam pertandingan lari marathon, partner bisnis yang ikut bersama membesarkan brand, termasuk kunci sukses keberhasilan.

Sudah terbukti, bahwa mobile phone tidak lagi bersaing dengan mobile phone lainnya. Dalam persaingan bisnis ini, termasuk di dalamnya adalah persaingan Operating System (OS) nya. Pertanyaannya tidak lagi sebatas bagaimana posisi Samsung vs iPhone? Tetapi juga bagaimana situasi penerimaan konsumen terhadap OS Android vs iOS? Read More →

It Takes Two to TANGO!

Dimuat di Kolom Marketing, Bisnis Indonesia Minggu, 1 Januari 2012

Tahun lalu, anak saya maagnya terganggu dan harus di rawat di rumah sakit karena stress akibat ujian sekolah dan makan tidak teratur.

Dokter meminta persetujuan untuk pemeriksaan endoskopi yang cukup mahal. Seingat saya, pada saat itu saya tidak pernah bertanya kepada dokter, apakah ada jaminan bahwa kalau sudah diperiksa dan ketemu masalah maagnya, anak saya pasti sembuh 100%.

Saya mengerti, bahwa setelah ketemu penyakitnya pun, masih banyak faktor lain yang harus dipikirkan dan dikerjakan. Misalnya dengan mempelajari jenis-jenis makanan yang boleh dan tidak boleh dimakannya. Lalu, menjaga makanannya sehari-hari dan mengingatkan anak untuk lebih rileks dalam belajar.

Jadi, secara realistis, saya tidak minta dokter itu memastikan bahwa setelah treatment endoskopi, anak saya dijamin sembuh.

Karena itu, buat saya aneh sekali mendengar seorang Decision Maker yang bertanya apakah ada jaminan bahwa brand saya akan sukses apabila mengikuti rekomendasi Anda untuk rebranding?

Sukses tidaknya aktivitas rebranding bukan ditentukan oleh dokter atau konsultan seperti saya ini, tetapi pemahaman dan pelaksanaan prosesnya nanti. Ternyata ada persoalan yang lebih berat yang dihadapi oleh perusahaan tersebut, yaitu, sang decision maker, belum memahami big picture proses branding! Read More →

Antara Dress Code dan Internal Branding

Dimuat di Kolom Branding Solution Koran Sindo, 21 Desember 2011

Apa maksudnya dress code: merah-hijau? Salah satu teman arisan bertanya di Blackberry group. Melihat pesan tersebut, saya jadi ikut bingung: Hmmm….koq merah-hijau sih? Bukankah kemarin di pengumuman BBM group dikatakan dress code merah? Ternyata perubahan merah menjadi merah-hijau ada di undangan tertulis, dan saya tidak membacanya.

Jawaban pengurus arisan: “warna bajunya tetap merah, aksesorisnya yang hijau, say…” Untung sempat membaca pesan BBM ini. Alhasil, datang arisan tetap pede, tidak saltum (salah kostum).

Yang lucu, di arisan, masih saja ada yang datang dengan baju warna ungu. Wah? Ternyata teman ini masih mengandalkan memori diskusi ‘rencana dress code’ yang dibahas pada saat arisan bulan lalu, dan tidak terlalu perhatikan pesan perubahan di BBM  dan di undangan.

Seru ya – komunikasi soal dress code yang sederhana ini ternyata menjadi tidak begitu sederhana. Dinamika perubahan pesan ini bisa dijadikan contoh betapa tidak mudahnya menyatukan pemahaman semua orang dalam satu kelompok.

Di perusahaan, Pimpinan perusahaan sibuk memikirkan External Branding, mengisi makna brand bagi stakeholder di luar perusahaan – konsumen, partner bisnis. Bahkan jika perlu milyaran uang dibayar untuk creative agency, agar iklan dan komunikasinya sempurna, pesannya sampai kepada yang dituju. Read More →

INTERNAL BRANDING: Persoalan di Bawah Karpet BUMN

Kolom Branding Solution Amalia E. Maulana, Koran Sindo 23 Nov 2011(Extended version)

Hari Sabtu kemarin saya ke Gresik, Jawa Timur untuk mengisi training di national gathering salah satu anak perusahaan group yang cukup besar. Kesempatan ini saya gunakan untuk sekalian pulang kampung ke Malang, menengok orang tua.

Sepanjang perjalanan dari Gresik ke Malang, Mas Norman, pengemudi mobil yang mengantarkan saya, sangat bersemangat membahas kekagumannya kepada 3 orang tokoh: Pemilik perusahaan dimana dia bekerja, Pak Dahlan Iskan, Menteri BUMN dan Ibu Tri Rismaharini, walikota Surabaya.

Ternyata Mas Norman ini adalah lulusan akuntansi salah satu universitas di Malang. Tidak mengherankan, bahasanya sangat baik dan cerdas dalam mengulas.

Saya hanya berdoa dalam hati bahwa kepala saya berubah menjadi spons, agar semua pembicaraan malam itu bisa diserap dan disimpan dengan baik. Tidak ada alat perekam, tidak ada catatan. Ini hanyalah sebuah cerita-cerita yang mengalir dengan deras, tetapi sangat insightful, sangat sayang jika poin-poin nya hilang begitu saja. Read More →

Krisis Brand: Citibank vs Omni

Para pakar branding menyatakan, lebih mahal biaya untuk memperbaiki citra brand yang telah diasosiasikan dengan hal-hal yang kurang menyenangkan dibandingkan dengan meluncurkan brand yang sama sekali baru.

Read More →