-->
 

All posts in Branding

Narkoba di Udara: The Leader Factor

Kolom Branding Solution, dimuat di Koran Sindo, 15 Februari 2012.

Biasanya saya selalu merasa sangat nyaman mendengar suara Kapten Penerbangan yang berat dan berwibawa mengawali perjalanan di pesawat. Saya merasa ‘in good hands’.  Tetapi belakangan, saya selalu mempertanyakan, bagaimana kualitas Kapten Penerbangan kali ini?

Saya terkenang masa kecil naik pesawat pertama kali dengan ayah saya – rasa bangga dan excited, bercampur menjadi satu. Benar-benar perjalanan yang menyenangkan dan berkesan. Sampai beberapa tahun terakhir, perjalanan via udara masih merupakan sebuah pilihan yang enjoyable.

Ada yang berbeda pada perasaan hati, pada saat naik pesawat pulang pergi ke Jambi minggu lalu. Saya hadir acara Hari Pers Nasional 2012, sebagai salah satu juri Award Jurnalistik Adinegoro.

Sepanjang perjalanan saya berdoa semoga pilot pesawatnya sehat lahir dan batin. Tidak dalam pengaruh obat terlarang. Perjalanan menjadi detik-detik mendebarkan. Yang terbayang adalah wajah anak-anak saya. Lama-lama saya jadi paranoid sendiri. Read More →

Xenia: Melepas Belenggu Tugu Tani

Kolom Branding Solution, dimuat di Koran Sindo, 1 Februari 2012.

Suatu sore, seorang wartawan yang minta saya menandatangi buku yang dihadiahkan seusai wawancara, protes –  mengapa saya menggunakan pulpen sendiri, sedangkan ia sudah menyodorkan pulpennya di atas meja?

Saya kaget kena protes dan bertanya kembali, “lho, pulpen Anda kan berwarna merah? Saya pakai pulpen sendiri karena warnanya hitam”.  Dia tegaskan bahwa pulpennya juga berwarna hitam.

Ini menarik!  Sejak kapan pulpen dengan warna tutup dan ujung yang merah, bertinta hitam? Kami kemudian tertawa karena sudah terjadi misinterpretasi dari sebuah hal yang sangat sederhana.

Ini yang disebut dengan ‘framing’. Proses judging yang terlalu cepat, dengan menggunakan ‘frame’ tertentu di benak, tentang ‘model umum sebuah bolpen’. Padahal, akan lain hasilnya, bila saya mengambil bolpen yang disodorkan, lalu mengecek sejenak warnanya di kertas lain, dan setelah itu baru memutuskan, akan menggunakannya atau tidak. Read More →

Social Networking dalam Reuni

Ini salah satu foto teman K-One di reuni Armada 17, IPB dua hari lalu. Sekalian publish tulisan wartawan The Jakarta Post Sita Dewi yang mewawancarai saya minggu lalu seputar social networking reuni. Selamat membaca 3 tulisannya.

Article 1: Same people, new community

The Jakarta Post, Jakarta | Sunday, 12/04/2011

At reunion events some people are eager to show off their new faces, personalities or cars while others may appear to have not changed at all. “People coming to reunion events are divided into three categories,” said Amalia E. Maulana, ethnographer and brand consultant.

First are those who come “to explain their new identities, to seek acknowledgement and to acquire a place for their new selves,” she said. Read More →

Destination Idol Komodo: Beyond Voting

Kolom Branding Solution Amalia E. Maulana dimuat di Koran Sindo, 9 November 2011

Surat terbuka untuk Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Ibu Mari Elka Pangestu

Dear Ibu Mari,

Pertama-tama, selamat ya Bu atas amanah baru di pundak Ibu. Semoga Ibu Marie berhasil menjadi agent of change di lembaga kepariwisataan kita nanti.

Sudah lama saya ingin melihat perubahan di dunia pariwisata kita, terutama dari sisi brandingnya. Jika kita melihat di Negara-negara tetangga, pariwisata bahkan sudah bisa menghidupi masyarakatnya. Mengapa dengan modal warisan budaya dan alam yang demikian luar biasa, kita masih tertinggal?

Surat ini saya layangkan ke Ibu seputar issue Komodo dan dinamika voting untuk menjadikannya tujuh keajaiban dunia. Tampaknya masalah yang berkembang sudah terlalu jauh dari esensinya.

Kalaupun vote sudah kita dapatkan dan kemudian Komodo masuk menjadi salah satu ‘idol’ keajaiban dunia, so what? what’s next? Daftar pertanyaan saya masih panjang. Read More →

People 2.0 vs Government 1.0: Berbicara dengan Tembok

oleh Amalia E. Maulana, dimuat di Kolom Branding Solution, Koran Sindo 26 Oktober 2011

Kapan saat terakhir Anda berbicara dengan brand? Menanyakan sesuatu atau bahkan mengutarakan kekesalan atau kekecewaan pada layanannya? Menggunakan media apa saat Anda berkomunikasi? Melalui hotline services, melalui twitter nya atau ‘contact us’ di website?

Ceritakan pengalamannya – apakah di sisi Brand ada yang merespon? Ada yang mendengarkan dan kemudian secara atentif menjawab dengan baik pertanyaan dan keluh kesah seputar brand tersebut?

Ataukah, Anda merasa seperti berbicara dengan tembok saja? Sudah menulis panjang lebar dan berbicara sampai berbusa-busa – pengelola brand nya pura-pura tidak dengar dan tidak mengerti, malah sibuk berbicara sendiri.

Jika itu yang terjadi, berarti Anda saya nobatkan sebagai KONSUMEN 2.0, sedangkan brand tersebut cocok diberi label BRAND 1.0.  Yang satu sudah 2.0 yang lainnya masih 1.0. Makanya jadi : ‘Jaka Sembung Naik Ojeg. Gak Nyambung, Jack!’ Read More →