-->
 

All posts in Blog

PRJ Rakyat yang Mana Jokowi?

Dimuat di Kolom Branding Solution, Koran Sindo, 19 Juni 2013.

Puja-puji bermunculan dengan cepat di media sosial pada saat Jokowi menyuarakan bahwa Pekan Raya Jakarta (PRJ) Kemayoran seharusnya dipindahkan kembali ke Monas.

  • PRJ tak merakyat hanya menguntungkan pebisnis swasta, salut Jokowi.
  • Jakarta Fair u/ promosi produk dlm negeri, Jokowi kembalikan ke ruhnya.
  • PRJ yg ada sekarang harga tiket masuknya aja ga merakyat.

Saya pribadi mendukung ide Jokowi untuk mengembalikan fungsi PRJ ke tujuan semula, yaitu sebagai pestanya masyarakat Jakarta. Semenjak pindah ke Kemayoran, saya dan keluarga sudah tidak lagi meng-agendakan untuk pergi kesana. Yang terbayang lebih kepada barrier nya: jarak yang sangat jauh, transportasi yang repot – membawa mobil nanti parkirnya apakah aman?, berdesak-desakan dengan banyak orang, tidak ada hal yang spektakuler yang ada di PRJ yang hard to be missed!

PRJ ala Kemayoran memang sudah sangat berbau komersial, karena isinya lebih banyak menjual produk (yang ada di toko, supermarket, dealer dan outlet lainnya), dengan diskon khusus ditambah sampel-sampel sana sini. Ah, buat apa ke PRJ? Read More →

Back to Jadul ala BB Q10


Akhirnya……Blackberry kembali dengan keypad qwerty di model Q10.

Saya sebagai pengguna Blackberry yang tidak terbiasa dengan touch screen untuk mengetik, sempat tertekan sewaktu akan membeli model terbaru Z10, yang ternyata tidak qwerty!

Saat itu, suami saya menganjurkan untuk belajar membiasakan diri dengan touch screen, karena menurutnya, seluruh gadget di dunia ini akan menjadi touch screen dan saya akan ditinggalkan sendirian.

Syukurlah akhirnya BB Q10 diluncurkan, artinya saya bisa meng-upgrade BB yang saya miliki sekarang tetapi masih tetap qwerty. Walaupun suami saya bilang keypad itu jadul, so what? Saya tetap lebih suka keypad qwerty daripada yang touch screen.

Keypad yang digunakan seolah membawa kembali ke masa lalu karena dipilih keypad model bold yang merupakan keypad ternyaman yang pernah ditawarkan oleh Blackberry.

Sebenarnya banyak fitur ‘ekstra’ yang juga ditawarkan oleh BB Q10, tetapi bukan hal itu yang lebih penting bagi pengguna BB yang masih setia yang masih sangat ‘qwerty minded’. Bahwa kebutuhan basic nya yaitu mengetik dengan cepat dan ‘enak’ tidak bisa dipenuhi oleh smartphone merek lain bahkan dari BB model terbaru Z10, itu yang menjadikan Q10 ini menjadi sebuah produk yang ditunggu. Read More →

Demi Tuhan Tidak ada Brand Instan

Demi Tuhaaaaan!!!!

Ucapan Demi Tuhan ala Arya Wiguna tiba-tiba menjadi fenomena baru di dunia media sosial. Video Parodi Arya Wiguna yang diunggah oleh @ekagustiwana dan film 300 berdurasi 53 detik oleh Akun WatdefakMovie telah ditonton oleh lebih dari 1.4 juta lebih orang. Mungkin setelah tulisan ini beredar, akan mempercepat pertumbuhan jumlah penontonnya.

Karena keisengan Eka Gustiwana, Arya Wiguna mendapatkan berkah dari Youtube, diantaranya adalah: Main film komedi, Ring Back Tone (RBT) , Kontrak 1 Tahun dengan Trinity Optima Production dan Model Video Klip Kangen Band

Media sosial di Internet memang luar biasa. Percepatan penetrasi dan penyebaran informasi dan hiburan sepertinya sudah sulit dibendung. Dan ini membuat banyak orang yang menjadi bermimpi, ingin sukses instan.

Gara-gara melejitnya brand-brand via Youtube seperti Sinta-Jojo, Briptu Norman Kamaru, Ayu Ting-Ting, Psy Gangnam Style, saya menjadi sasaran pertanyaan banyak orang. Read More →

UJE vs Eyang Subur

Di acara Penganugerahan Award bagi Wanita Karir 2013 dari Majalah Femina belum lama ini, Iwel Sastra tampil memikat sebagai stand-up comedian.

Saya selalu kagum pada stand-up comedian, yang bisa membawakan banyak topik secara segar, lucu dan up-to-date. Kasus Eyang Subur, misalnya, dijadikan topik bahasan Iwel malam tersebut di panggung. Katanya “Saya tau bahwa cinta itu buta. Tetapi, yang satu ini, butanya berjamaah”.

Cinta itu buta berjamaah – maksudnya, jika dalam kacamata umum kita mungkin heran, mengapa sosok seorang Eyang Subur bisa menggaet 7 wanita cantik untuk menjadi istrinya secara bersamaan.

Kita memang seringkali menggunakan ukuran keberhasilan, kesuksesan dan kemakmuran dengan ukuran-ukuran umum.

Terlepas dari tuduhan bahwa Eyang Subur pasti ‘ada apa-apanya’ hingga bisa secara spektakular memikat wanita, ternyata ada kalanya ukuran menarik atau tidak menarik itu adalah kontekstual dan spesifik, tidak bisa digeneralisasi. Tentu ada banyak hal dalam diri Eyang Subur (yang saat ini kita tidak tau apa gerangan), yang menurut pendapat para istrinya adalah ‘sesuatu banget’. Butuh riset gabungan ahli psikologi, personal branding dan etnografi untuk membedah misteri Eyang Subur. Read More →

Insightful Insights dalam Proses Kreatif

Beberapa client mendesak saya untuk mengerjakan brand audit dalam waktu yang sangat pendek. Tentu saja saya keberatan mengingat proses riset ethnography yang menjadi bagian dalam brand audit bukanlah tipe riset yang bisa dilakukan secara instan. Proses pengerjaan yang seksama merupakan kekuatan ethnography untuk mengungkap issues yang sebelumnya tak terungkap.

Ketika ditanyakan, mengapa risetnya harus selesai segera, client menjabarkan bahwa ini ada hubungannya dengan time frame yang harus dialokasikan kepada creative partnernya, yang ternyata jauh lebih lama dari alokasi waktu brand audit/riset.

Itukah sebabnya? Proses penjabaran dari insights menjadi sebuah kreatifitas komunikasi pemasaran yang jitu menurut pendapat saya seharusnya tidak perlu waktu selama itu. Tetapi client tetap pada pendiriannya, menerangkan bahwa dalam kenyataannya, bekerja dengan creative partner itu selalu lama waktunya.

Berlatarbelakang brand manager yang sangat erat bekerja sama dengan creative team, saya bisa menjelaskan mengapa terjadi pemborosan waktu dalam proses kreatif. Read More →