Publikasi riset ethnography by ETNOMARK, dimuat di Majalah MIX (2010)

Suatu sore, teman saya menceritakan kekagumannya terhadap salah satu ‘sales’ Lembaga Amil Zakat (LAZ) yang membuka counter di mall. Di saat dia baru bertanya-tanya tentang penyaluran zakat dan belum membawa uang tunai, sales person tersebut dengan sigap menawarkan untuk mengantarkannya ke anjungan tunai mandiri yang tidak jauh dari counter dimana dia bertugas.
Ini pasti hasil dari sebuah sales training yang baik, bahwa setiap ada prospek harus diusahakan untuk dikonversi menjadi donatur. ‘Close the deal’ saat itu juga, kalau memungkinkan. Wow, berarti badan amil zakat tersebut sudah mencapai tahap jemput bola dan mengerti menerapkan proses brand activation yang handal.
Kesadaran berzakat masih rendah?
Data yang tercatat oleh Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) di tahun 2010 berdasarkan kajian Asian Development Bank (ADB), menjelaskan bahwa penetrasi pengumpulan zakat secara nasional masih sangat kecil dibandingkan dengan total potensinya yang mencapai 100 trilyunan rupiah. Baznas sendiri baru mengumpulkan 1.2 trilyun rupiah tahun lalu.
Apakah ini berarti masih sangat banyak kaum muslim di Indonesia yang belum sadar pentingnya berzakat? Atau, mungkin ini lebih disebabkan karena lebih banyak zakat yang beredar langsung dari muzaki (pemberi zakat) ke mustahik (penerima zakat), tanpa melalui perantaraan lembaga-lembaga formal, sehingga tidak masuk radar?
Read More →