All posts in Blog

Destination Idol Komodo: Beyond Voting

Kolom Branding Solution Amalia E. Maulana dimuat di Koran Sindo, 9 November 2011

Surat terbuka untuk Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Ibu Mari Elka Pangestu

Dear Ibu Mari,

Pertama-tama, selamat ya Bu atas amanah baru di pundak Ibu. Semoga Ibu Marie berhasil menjadi agent of change di lembaga kepariwisataan kita nanti.

Sudah lama saya ingin melihat perubahan di dunia pariwisata kita, terutama dari sisi brandingnya. Jika kita melihat di Negara-negara tetangga, pariwisata bahkan sudah bisa menghidupi masyarakatnya. Mengapa dengan modal warisan budaya dan alam yang demikian luar biasa, kita masih tertinggal?

Surat ini saya layangkan ke Ibu seputar issue Komodo dan dinamika voting untuk menjadikannya tujuh keajaiban dunia. Tampaknya masalah yang berkembang sudah terlalu jauh dari esensinya.

Kalaupun vote sudah kita dapatkan dan kemudian Komodo masuk menjadi salah satu ‘idol’ keajaiban dunia, so what? what’s next? Daftar pertanyaan saya masih panjang. Read More →

Daya Pikat Bisnis Start Up

Oleh Amalia E. Maulana, dimuat di Kolom Marketing, Bisnis Indonesia Minggu, Oktober 2011

Minggu ini saya bertugas lagi menjadi juri di acara kompetisi tahunan Sparx Up  Award yang merupakan kerjasama antara SemutApi dengan dua media online. Acara ini bertujuan memberikan tempat bersaing bagi bisnis start up berbasis digital, agar pemainnya lebih kreatif lagi.

Pemenang Sparx Up tahun lalu, yaitu gantibaju.com, lewatmana.com dan nulisbuku.com adalah beberapa contoh bisnis start up digital yang sudah sukses.

Selain kagum akan kreatifitas anak muda yang ikut dalam ajang award ini, saya juga sekaligus envious terhadap kesempatan yang dimiliki mereka (saya sebut envious untuk lebih memperhalus kata irihati yang sebenarnya arahnya kesana!) Read More →

People 2.0 vs Government 1.0: Berbicara dengan Tembok

oleh Amalia E. Maulana, dimuat di Kolom Branding Solution, Koran Sindo 26 Oktober 2011

Kapan saat terakhir Anda berbicara dengan brand? Menanyakan sesuatu atau bahkan mengutarakan kekesalan atau kekecewaan pada layanannya? Menggunakan media apa saat Anda berkomunikasi? Melalui hotline services, melalui twitter nya atau ‘contact us’ di website?

Ceritakan pengalamannya – apakah di sisi Brand ada yang merespon? Ada yang mendengarkan dan kemudian secara atentif menjawab dengan baik pertanyaan dan keluh kesah seputar brand tersebut?

Ataukah, Anda merasa seperti berbicara dengan tembok saja? Sudah menulis panjang lebar dan berbicara sampai berbusa-busa – pengelola brand nya pura-pura tidak dengar dan tidak mengerti, malah sibuk berbicara sendiri.

Jika itu yang terjadi, berarti Anda saya nobatkan sebagai KONSUMEN 2.0, sedangkan brand tersebut cocok diberi label BRAND 1.0.  Yang satu sudah 2.0 yang lainnya masih 1.0. Makanya jadi : ‘Jaka Sembung Naik Ojeg. Gak Nyambung, Jack!’ Read More →

Gotcha Moments: Brand Instant Ayu TingTing

oleh Amalia E. Maulana, dimuat di Kolom Branding Solution, Koran Sindo, 12 Oktober 2011.

Ayu bukan Artis Instan. Demikian Ibunda Ayu TingTing menjelaskan posisi  anaknya dan  mengatakan bahwa kesuksesan Ayu bukanlah didapat dari langit. Ayu sudah merintis karirnya sejak SMP.

Artis instan atau bukan, yang menjadi topik bahasan kali ini adalah aspek instant brandingnya. Cakupan aspek ini menyangkut brand yang dalam waktu relatif sangat singkat, menuai kesuksesan.

Mendadak tenar tentu adalah sebuah euphoria tersendiri bagi pemilik brand dan orang-orang yang berada di sekitarnya. Dalam hal ini yang sering luput dari perhatian adalah bagaimana kemudian membawa kesuksesan instant ini menjadi kesuksesan yang lebih langgeng, bahkan lebih sukses dari pengalaman awalnya.

Dengan kesuksesan instant yang diperoleh oleh beberapa brand di media sosial ala Sinta Jojo, Briptu Norman dan sekarang Ayu TingTing, saya sedikit kuatir akan dampaknya terhadap pemahaman branding.

Read More →

Cantik itu Hitam, Hitam itu Cantik. Peluang Blue Ocean Miss Universe

oleh Amalia E. Maulana, dimuat di Kolom Branding Solution, Koran Sindo, 28 September 2011.

“Hitam manis hitam manis, si hitam manis. Pandang tak jemu, pandang tak jemu……”

Bukankah definisi hitam tetapi cantik itu sudah ada sejak puluhan tahun lalu? Lagu tahun enampuluhan Hitam Manis di atas adalah salah satu bukti bahwa puja puji tentang kecantikan wanita tidak hanya didominasi oleh definisi cantik berkulit putih.

Miss Angola Leila Lopez yang menjadi pemenang Miss Universe 2011 yang baru lalu memang mengejutkan banyak pihak. Di satu pihak, ada yang merasa tidak nyaman karena secantik apapun dan sepintar apapun, jika berkulit hitam, dia dianggap tidak berhak mendapat gelar wanita tercantik sejagad. Di pihak lain, ada yang merasa lega dan mendapat angin segar. Siapa bilang cantik harus berkulit putih. Read More →