Posting saya ‘Image vs Selling’ gak ada yang menanggapi di blog ini.. hmm pada kemana ya. Untung saya sadar memang belum populer koq blog ini, jadi nggak usah bunuh diri dulu (istilahnya Pak Nukman kalo habis posting gak ada yang komentar, langsung bunuh diri aja).
Kebetulan karena saya posting juga ke milis2 : marketing club, branding zone dan marketing leadership club (hallo koq belum di approve ya). Ini saya kopi kan komentar2 para marketers seputar issue image vs selling ini, biar tambah seru dong dunia kang ouw.
Komentar terhadap tulisan : “Image vs Selling”
Hani Susilo Handoyo : fatman@rad.net.id
Kadang kita suka salah salah pake kacamata
. Temen temen sales terbiasa pake kacamata dengan ukuran “Unit Sold?” Marketers dengan kacamata “Market Share” – Iklaners dengan kacamata “Response”. Jadi kalau kacamata sales dipake ngeliat market share, ya pastinya akan burem dan sebaliknya dan seterusnya hehehe …
Yang bikin bingung lagi adalah kacamata Brand sejak taon 90an sampe sekarang ini, namanya sama tapi ukurannya beda bAda yang ukurannya “Image”, “Personality” , ada yang “how many people knew yr product name”, penempelan brand name di venue event, pengalaman dengan suatu produk dll dll termasuk juga buzz word baru dengan yang sengaja diciptakan untuk kepentingan tertentu
——————————————————————————————————-
Amalia E. Maulana : amalia.maulana@gmail.com
Ya, setuju Pak Hani, issuenya memang seputar bagaimana mengukur ROI dari kegiatan promosi perusahaan? Kalau tujuannya lebih kepada action/selling, ya memang benar mulai dari jumlah response, jumlah leads hingga jumlah yang mencoba/yang membeli jadi penting. Data2 ini relatif lebih gampang diperoleh, karena kita yang mengikuti langsung prosesnya.
Jika tujuan image building yang dominan, maka ukurannya bisa diarahkan pada seberapa banyak yang sudah kenal dan mengerti (dengan benar) positioning produk, atau seberapa banyak yang sudah menyatakan minat karena melihat kelebihannya dibanding pesaing.
Kaitannya — bagaimana dapat data tsb? Kalau harus riset, ribet ah.. itu yang sering muncul. Padahal riset kan bisa disederhanakan, dan nggak perlu sering2..koq, kalau dananya terbatas. Bisa dicari bentuk pendekatan lain yang lebih kualitatif, tidak harus punya angka2 yang akurat kan.. at least dengan data kualitatif, tergambar feedback konsumen.
————————————————————————————————————————————
Handojo Soetanto : boenming@yahoo.com
Yang bikin bingung kacamata nya boss, pak hani ….. tiap tahun bottom line harus naik terus …. he he he. Untuk image vs selling, mungkin kasus yg menarik adalah Osim, saya melihat aktivitasnya hampir semuanya ‘selling’ semua, meskipun booth pamerannya bagus, tapi cara jualannya masih kaya kartu kredit yang sibuk menarik orang …. tapi yg menarik Osim menjadi salah satu brand Singapore terbaik tahun lalu … jualan terus tapi juga dapat image ?
—————————————————————————————————————————————–
Godo Tjahjono : godo_data@yahoo.com
Salut buat upaya Bu Amalia untuk mengingatkan kita, saya juga sependapat dengan terminologi yang digunakan lebih cocok Activation Revolution instead of Marketing Revolution. Marketing sendiri tahapannya mencakup identifikasi pasar paling potensial, upaya mengakuisi, mempertahankan dan mengusahakaoptimal business value dari pelanggan (termasuk customer lifetime value) dengan cara paling profitable, di mana memerlukan upaya brand building, sales buiding dan even social building.
Lonjakan sales yang luar biasa dengan effort yang revolusioner biasanya terjadi pada kasus di mana basis-nya dimulai dengan angka sales dan market share sebelumnya yang masih rendah. Pada saat misalnya perusahaan mencapai titik maturity dengan resources yang ada atau posisi market share dominan, maka aktivasi revolusioner biasanya tidak mempan lagi, perlu ada ekspansi, leveraging the brand, penambahan resource, edukasi untuk membesarkan pasar, re-engineering proses bisnis dsb. bukan sekedar mengganti kata-kata dan membuat short term offer yang sensasional di spanduk atau brosur.
Saat saya di Sun Life, basis sales value-nya masih rendah, jadi naik 130% dalam setahun sangat realistis. Saat saya di Nestle, menaikkan 2% market share katakanlah dari 40% ke 42% susahnya luar biasa.
Mungkin perlu dibuat seminar dan upaya bersama untuk meluruskannya Ibu?
—————————————————————————————————-
Hyacintha Widyarasika : hyacintha.widyarasika@gmail.com
The best input so far, thank u amalia, and thank u administrator.. (branding zone)
—————————————————————————————————-
Herman Lesso :
Kalau kita menilik sejenak ke belakang, konvergensi terminologi ini
sebenarnya berpangkal pada pemahaman yang ter-generalisir pada
dataran eksekutor terbawah. Ini terbukti pada rekan-rekan Salesman
saya yang begitu teramat kesulitan untuk membedakan proses sales vs
marketing, karena toh saat mereka apply lowongan di koran -yang
sekaliber nasional pun- sama sekali tidak terbedakan job vacation
untuk posisi sales/marketing. it’s so salah kaprah… Hingga dengan
sangat terpaksa harus saya jelaskan bahwa “sales/selling adalah
ibarat mencari pacar, sedangkan marketing ibarat mencari
istri/suami. .. it’s so different!” daaan rekan-rekan saya baru ter-
he’eh sambil mengangan.
Pada dataran yang lebih tinggi, rekan-rekan sales & marketing -
apapun levelnya- seringkali dibuat kerepotan dengan turbulensi
market, produk dan chanel distribusi. Banyak sekali produk yang dari
awal launching sengaja di-set guna membidik (:kalau tidak mau
disebut meng-ekor) market leader/kompetitor secara hit and run,
hanya semusim atau bahkan cuma sekali order material bahan baku
langsung selesai, tamat. Chanel distribusi sendiri, diyakini oleh
para Sales Manager menjadi rancu (:kalau tidak banci) karena harus
mesti dipilah-pilih antara distribusi murni dengan mix/semi-
distribusi. Yang disebut terakhir adalah pola penyaluran produk ke
calon konsumen dengan cara makelar-an, trading, barter-an, yang
notabene tanpa adanya komitmen rasa memiliki terhadap produk,
apalagi yang namanya brand. Jikalau ternyata produk menemui
kesuksesan, booming di pasaran, para pengambil keputusan tergopoh-
gopoh mengaku ini keberhasilan strategi marketing, padahal menurut
saya sama sekali bukan… ini hanyalah hoki proses selling yang
emosional.
Berkontemplasi dari penjabaran di atas, sudah waktunya para roh/jiwa
Marketer/ing untuk lebih mem-bumi-kan diri baik pada level
idea/konsep maupun level eksekusi di lapangan.