All posts in Blog

Akhirnya jadi juga bukunya

Memang apa-apa kalo pertama itu gak gampang, ya. Anak-anak belajar jalan pasti berat awalnya. Dulu inget waktu pertama kali belajar nyetir mobil juga gitu, sampai pakai acara nabrak mobil orang lain segala, dan harus bayar bengkelnya..padahal gaji (masih) kecil hehe..

Pengalaman, bikin buku kalau pertama kali seperti ini ya memang panjang prosesnya. Tapi, karena publishernya (terutama editor2nya) baik, sabar dan kooperatif, ya alhamdulillah, terlaksana juga niat ingsun.

Ucapan terimakasih untuk Daniel W. Purba dan Audina Furi, para editor buku di Penerbit Esis, Erlangga ini, dan juga Gia Josie untuk disain cover buku. Input-input nya sangat berharga.

Tidak lupa para ethnographers pendukung case studies: Indira, Deary, Alvin, Deva, Lolik, Ina dan Mitha – yang semuanya adalah lulusan MM-Strategic Marketing, Binus Business School. Now you can see your work in the book. Mudah2an bisa buat contoh untuk teman2 lainnya. I am proud of you guys.

Acara peluncuran tgl 28 Juli, bentar lagi. Mudah-mudahan setelah acara tersebut, bukunya langsung tersedia di toko-toko buku – jadi buat yang ingin belajar tentang ethnography, at least sekarang ada tambahan buku lagi disamping buku lain yang sudah lebih dulu terbit (masih nggak banyak sih yang ngangkat riset ini, yang bahasa Indo ya).

Harga buku Rp 55,000 (saja).

Pemenang Riset Cover Buku

Selamat untuk pemenang Riset Cover buku Ethnography tulisanku – Dari 3 disain yang ada, dipilih DESAIN no. 1 seperti yang bisa dilihat di gambar ini. Bukunya juga sudah terbit, lho… mudah2an sebentar lagi akan ada di toko-toko buku.

Bagi yang namanya disebutkan di sini, buku dapat diambil langsung dalam acara Launching dan Talk Show di London School of Public Relations (LSPR) tanggal 28 Juli 2009, mulai jam 1 siang. Anggap ini sebagai undangan ya. Untuk teman-teman lain, juga boleh datang, ini acara untuk public koq. Free of Charge. Tetapi mohon konfirmasi kehadirannya,  RSVP ke saya (amalia.maulana@gmail.com) – sebab tempatnya terbatas.

Aida F. Umaya, Dianti Arudi, Hani Syarief, Malla Latif, Uyan Laisa, Hanifa Azalia, Telisiah, Catur PW, Deden Sumadilaga, Syafiq Assegaf, Leila Djawas, Andrias Eko Yuwono, Bambang Sukmajaya, Andi Primaretha, Abah Effi Harfiana, Wayah S. Wiroto, Timoteus Lesmana, Deriz Syarief, Felix Ferdinand, Eddy Soestrisno.

Saya ingin sharing hasil riset tersebut. Boleh dikatakan riset ini berguna sekali, karena dengan masukan dari berbagai pihak, saya dan my creative partner, Gia Josie bisa mempelajari kelebihan dan kekurangan tiap-tiap disain.

Seru, dari posting yang diluncurkan di FB, dalam 2 hari saja, terkumpul 165 responses, semuanya adalah teman-teman FB yang masuk network. Belajar sesuatu disini, bahwa social media memang powerful. Disain no.3 hanya mendapat 5 suara, yah berarti itu dengan mudah saya dan Gia kesampingkan. Yang kemudian kita lakukan adalah secara seksama membaca satu persatu komen dari tiap-tiap respon. Sebab, kalau dilihat dari jumlahnya, disain no.1 dan disain no.2 berimbang, 50-50.

Inilah yang disebut dengan riset kualitatif, jadi kita tidak bisa hanya mengandalkan jumlah suara terbanyak saja, harus masuk ke dalam lagi pada issue2 yang diangkat dalam tiap komen. Dengan demikian diamati dan blended dari sisi perspektif yang berbeda, karena keahlian saya perspektifnya dari sisi marketingnya dan Gia dari segi disainnya sendiri.

Ini lho wajah asli yang namanya Gia Josie my creative partner – oke kan disainnya. Sudah duluan mejeng dengan buku.

Book Cover Designer

Walhasil, kembali soal proses pemilihan disain, setelah masuk lebih jauh dan berenang dalam komentar responden, kesimpulannya kita lebih nyaman dengan pilihan disain no.1 – tetapi tentu dengan touch up dan perbaikan disana-sini sesuai dengan saran-saran responden.

Misalnya: warna tidak pure black and white, tetapi ditambah maroon/merah; lalu nama penulis gak ada Ph.D nya, nggak penting, jadi didrop, lalu juga untuk subjudul yang awalnya “Jurus Jitu Pemasaran Mutakhir” sudah dirombak besar-besaran, karena banyak yang bilang klise – lah, nggak oke lah, dll – kemudian kita brainstorming lagi dengan beberapa responden dan terbitlah subjudul ” Mengungkap yang tidak pernah Terungkap” Khusus untuk ini, thanks juga untuk masukan dari Felix Ferdinand, moderator Branding zone, makanya ikutan menang buku ya Felix.

Kriteria respondent yang memenangkan hadiah buku dari riset tersebut adalah komen nya memberikan inspirasi tersendiri, membuat kami berpikir dari kacamata yang berbeda. Selebihnya tentu, tanpa terkecuali saya juga mengucapkan terimakasih kepada semua responden (165 teman saya di FB) yang sudah meluangkan waktunya untuk memberikan respons. Sangat berguna.

Rencananya mau memberikan buku untuk responden sebanyak 10 buah, tetapi dengan alasan bahwa bukunya ternyata lebih murah dari yang saya perkirakan, maka jumlahnya saya kalikan dua. Karena itu ada 20 orang pemenang. SELAMAT YA…

For your info, harga buku yang saya peroleh dari publisher katanya akan dijual di toko buku dengan harga Rp 55.000 – murah kan?

Ini adalah sebagian dari komentar- komentar responden yang menginsiprasi kami:

“Saya suka no.1. Lebih simple & bersih kesannya..cuman kalo bisa, sedikit di re-touch, misalnya tambah aksen 1 color aja.. Akan terlihat spt buku2 import dan menghilangkan kesan ‘fotocopy’..”

“Aku senang cover no 1. Clear n Clean, tapi Loopnya mubajir kalo ditaruh disitu..krn ga ada yg di “perbesar”..akan lbh sampai massage-nya kalo loop itu ada di atas kata “tno” dr etno…or di “mer” dari kata customer…. kalo background “jurus jitu…” di pake warna maroon mungkin lebih “Hidup” kali yach…..”

“No 1 bersih, clean line, lebih menjanjikan isi yg up to date”

“Desain saya pilih no 1, justru eksklusif dan lebih terlihat.
kalo boleh sy sarankan, di cover cukup ditulis Amalia Maulana saja (mudah utk brandingnya, apalagi namanya bagus). Sementara embel2 gelar Ph.D cukup di halaman dalam saja.”

“I go for no. 1, cuman gimana ya supaya nggak terkesan fotokopi. Jurus jitu pemasaran mutakhir? are you sure, sound a little bit cliche? Ethnography nya udah terkesan sangat elegan.”

“Paling bagus yang no 1. Clean, serius tapi berkesan enak dibaca..”

“Utk yang pertama, lebih cerah dan terbuka untuk siapa saja. “

Setelah dianalisis menggunakan Ethnomethodology juga Semiotik dan Tak Lupa Analisis Wacana…Pilihan jatuh No. 1, kenapa?? Karena Trend Cover Buku memang Simple seperti buku2nya Malcolm Gladwell Series.. Dari Font, Pemilihan Warna, Tata letak huruf jelas mencerminkan Si Penulisnya yg Memang Ahli di Bidangnya.. Yg terakhir, emg no.1 justru yg paling Eye-Catching dan bikin Penasaran pengen liat isinya seperti apa ;) ..”

“Saya vote no.1. tampak smart, simple, clean.. cuma biar tdk trkesan jadul, boleh salah satu tulisan (ethnography atw customer insights) atau block-nya diwarnai aja, tapi jgn jauh2 dr item, misalnya warna maroon atw coklat/biru tua.. ohya, gambar loop-nya juga agak mengganggu, kenapa ngga dikecilin aja? toh itu hanya pemanis.. kalo kegedean sperti buku kedokteran, atau bahkan terkesan cheap.. jadi melunturkan kesan smart dan elegan secara keseluruhan

“Saya rasa desain nomer 1 paling pas karena clean dan elegan serta tidak berkesan -maaf- buku murahan. Tapi nanti finishingnya minta material yang tebal, syukur2 tulisan di covernya bisa dicetak timbul.Kemudian bisa ndak gambar lup nya dihilangkan saja ? Karena lup menurut saya malah tidak mencerminkan isi bukunya dan mengurangi kesesuaian konsep clean designnya.”

“Nomor 1. Mungkin tambah 1 warna yg eye-catching seperti merah??? sebagai aksen, sedikit aja. Tapi black & white saja juga oke— I love it”


“numero uno Mba Amalia….but not using black, but another color….with vibrant and exciting one, just a color…. we look forward for the book”

“Saya kira nomor 1 tapi sebaiknya dipoles sedikit dengan aksen warna (mungkin merah atau jingga) — satu tarikan arsir saja — somewhere in between those letters.”

“Saya suka disain nomor 1. IMHO, secara keseluruhan disainnya terlihat clean & elegant…
Text “ethnography” nya lebih clear dibanding disain yg lain. Memang sengaja dibuat 2 baris ya, tanpa tanda hubung/dash?”

“Nomor 1, simple…tapi seharusnya kaca pembesarnya di kata “Ethnography.” terus mengenai tagline-nya “jurus pemasaran mutakhir” kayaknya klise banget…enggak banget deh…mendingan tentang metode ethnography itu, misalnya yang berkaitan dengan pengalaman dan pengamatan langsung ke target pasar…”

“Menurut saya, Mbak, untuk LAYOUT = nomor 1 yg paling keren, anggun, blocking-nya perfect, mungkin cuma ketebalan font utk kata ETHNOGRAPHY-nya lebih catchy kalo dipertebal 2-4 poin — utk mempertegas bahwa inti bahasannya adalah alat penelitiannya, dan bukan Customer Insights-nya.. utk WARNA, akan lebih menarik kalo warna maroon atau biru gelap (benhur/donker) yg dipakai sbg warna background.. ATAU background tetap putih, tapi tulisan ETNOGRAPHY-nya pake warna merah maron — supaya lebih “keliatan” ( warna huruf utk tulisan lainnya tetap hitam)..”


Sekali lagi thanks ya TEMANS (teman-teman). Sampai ketemu di acara launching buku “Consumer Insights via Ethnography” ini, di kampus London School of Public Relations” tanggal 28 Juli mendatang jam satu siang.

Analisa Branding Seputar Pemilu

Tulisan di kolom Bisnis minggu lalu tentang Prabowo: Brand Sukses Pemilu 2009 - sebenarnya adalah tulisan saya kedua seputar branding pemilu. Yang pertama adalah “Capres Alternatif: Distorsi Komunikasi Uncontrollable Media” dimuat di Warta Ekonomi. Waktu itu masih jamannya capres-capres alternatif, jadi bukan hanya Prabowo brand saja yang yang saya angkat, tetapi juga Sutrisno Bachir, Rizal Mallarangeng dan Yusril Mahendra.

Tulisan saya ini memang mengundang kontroversi, dari judulnya saja mungkin sudah banyak yang mengrenyitkan kening. Namanya juga judul, kalau nggak intriguing, kan nggak seru, nggak ada yang mau baca tulisanku. Tapi honestly apa yang saya angkat judul itu memang benar – bahwa dari segi branding, brand Prabowo perolehannya banyak banget dalam pemilu, banyak orang yang tadinya nggak tau jadi tau (awareness meningkat), kemudian banyak orang yang tidak mengerti proposisinya ekonomi kerakyatan, jadi mengerti, dan kemudian karena digabung dengan megawati, eh, pasangan Mega-Pro merebut 30% suara, ya itu jadi prestasinya brand Prabowo. Kalau sendirian (nggak pakai Mega), belum tentu kan bisa setinggi itu. Brand JK saja berat banget, tidak mencapai targetnya.

Catatan saya dalam tulisan ini sebenarnya cukup jelas mengungkapkan bahwa Brand Prabowo bukannya tanpa masalah. Seperti yang saya tulis di Warta Ekonomi sebelumnya, setelah saya lakukan riset pendalaman dalam media-media yang ditulis oleh konsumen (Consumer Generated Media), banyak sekali pihak-pihak yang masih mempunyai persepsi negatif terhadap brand Prabowo. Mungkin sampai saat inipun juga demikian. Makanya tidak heran, baru saja tulisan kolom saya dimuat, sudah ada 2 tanggapan keras dari pembaca kolom yang menyinggung tentang masa lalu brand Prabowo. Sudah saya ramalkan akan ada tanggapan seperti itu, tapi nggak apa-apa, karena itu juga sekaligus testing, bener nggak sih bahwa retained association yang saya katakan masih negatif dari brand ini memang masih seperti itulah adanya. Ya, ini kan alert atau masukan untuk brand team nya Pak Prabowo, dong, you have to do something — buktikan bahwa asosiasi itu tidak benar, kalau perlu Pak Prabowonya sendiri diminta klarifikasi (atau kalau sudah ya berarti masih kurang).

Anyway, mudah-mudahan tulisan di kolom itu tidak menggambarkan warna politik ku, lha memang tidak berpolitik kok.. cuma duduk di pager aja nih, sit in a fence, memperhatikan dan menganalisa brand-brand yang bertempur. Kalau pas pemilu sih jelas aku ikutan voting, tetapi tidak perlu dibahas dalam analisa branding, yang aku pilih brand mana, karena that is a personal preference, not academic point of view.

Selamat ikut berkomentar tentang brand Prabowo – brand JK dan brand SBY, so far kalau aku bilang ya cuman 3 brand ini yang menarik untuk didiskusikan strategi brandingnya.

Research Principles for Marketers – Input Please…

Setelah selesai dengan workshop lalu “Marketing Principles for Non Marketers” maka next workshop yang ingin digelar bareng Nielsen lagi adalah workshop “Research Principles for Marketers”. Jadi kalau kemarin non marketers yang belajar prinsip marketing, sekarang marketing people nya yang kita ingin perhatikan needsnya dalam soal belajar prinsip-prinsip research.

Hasil pengamatan saya dan teman2 di Nielsen, masih banyak pemasar, yang mungkin karena backgroundnya memang bukan sepenuhnya marketing, belum memahami secara utuh prinsip2 marketing research. Akibatnya, kerjasama antar divisi marketing dan research, apakah itu internal atau external seringkali nggak mulus. Bahasanya belum sama.

Ini berdasarkan pengalaman pribadi juga, jaman dulu udah jadi brand manager sebelum ambil S-2 dan S-3, ya itulah hasilnya menjadi tidak optimal. Banyak belajar sendiri, atau belajar dari teman2 or senior, tetapi kadang2 puzzlenya masih banyak yang bolong-bolong..

Untuk mengetahui dengan lebih baik needsnya spt apa, saya merasa perlu untuk melakukan assessment terlebih dulu terhadap kebutuhan para marketersnya sendiri, langsung dari yang bersangkutan. Masalahnya, research principles sendiri luas sekali topiknya, dan juga marketers sendiri juga sangat luas, dari junior ke senior, dari posisi brand hingga marcom dll.

Kalau teman-teman marketers berminat untuk ikut workshop saya nanti yang bertema “Research Principles for Marketers”.. tolong diisi ya survey di bawah ini, tinggal klik aja link surveynya. Ada 10 buku saya “Consumer Insights via Ethnograpny” untuk respondent yang beruntung.

Thanks a lot dear Marketers.. your input is so valuable, mudah2an bisa design kan workshop yang pas dengan your needs. Ditunggu ya responsenya. Salam.

Catatan Perjalanan Solo Best Brand Index 2009

Memenuhi undangan dari SoloPos tanggal 25 Juni yang lalu saya berangkat ke Solo, menjadi salah satu pembicara dalam acara penganugerahan Solo Best Brand Index (SBBI) 2009. Sejak di airport rasanya sudah ada cerita tersendiri.

Di ruang tunggu, ada seorang bapak yang ‘akhirnya’ duduk di sebelah saya setelah minta tas yang diletakkan di atas kursi diturunkan oleh si empunya. Bapak ini ngedumel. Masa mau duduk di ruang tunggu aja sulit banget sih.. katanya. Di ujung sana ada kursi kosong isinya tas semua, dan diminta menurunkan, gak ada yang mau.. kursi kan untuk tempat duduk orang, bukan tempat taruh tas.

Orang Indonesia ini memang kebangetan yah katanya. Hanya soal menghargai sesama penumpang aja sulit, ujarnya. Waktu beliau tinggal di Amrik dulu, terasa sekali bahwa yang namanya apresiasi sesama itu bukan cuma lip services. Katanya kita bangsa berbudaya tinggi, halus, sopan santun, lha ternyata kok banyak yang masih egosentris. Sharing tempat duduk aja sulit.

Dari keterangan Pak Ahmad Djauhar, pimred Bisnis Indonesia yang ketemu sepesawat pagi ini, saya tau bahwa ternyata Bapak tadi adalah mantan dirut salah satu bank pemerintah. I share his concern.. yah, sedih memang melihat hal-hal seperti ini masih ada di sekitar kita.

Catatan kedua, pada saat masuk ruang tunggu, penumpang diberi card dengan warna yang berbeda-beda sesuai dengan urutan tempat duduk. Saya kebagian warna kuning. Tapi, kenyataannya, waktu boarding masuk pesawat, gak ada instruksi apa-apa tentang card warna tertentu harap antri dulu.. jadilah, akhirnya penumpang campur aduk ada yang card nya kuning, merah jadi satu. Tetep aja semrawut.

Eh, Bapak lain nih yang duduk di sebelah saya di pesawat memanggil pramugari dan mulai complain soal card itu. Beliau bilang apa gunanya dikasih card kalau amburadul antriannya. Wah, hari ini saya ketemu sama orang-orang kritis banget. Seru.. seru… Pramugarinya cukup attentive, dengerin complainnya, dan kemudian beberapa waktu berlalu dia balik lagi, bilang, ya Pak, sudah saya sampaikan untuk perbaikan lain kali. Bapak ini juga kebetulan pernah lama di luar negeri karena istrinya ambil master disana.

Nggak usah dibilang ya saya naik pesawat apa, nggak penting kan..

Sampai di Solo…ikut rombongan Pak Ahmad Djauhar langsung meluncur ke SoloPos dan makan pagi di salah sebuah warung pecel, lupa namanya tapi pokoke asli warung kuliner deh. Foto2 artis berjejer dari ujung ke ujung. Kapan2 aku share fotonya.

Acara SBBI dimulai pagi itu juga jam 9.30. Baru kali ini ketemu Pak Adji Watono, bosnya Dwi Sapta Group. Ternyata beliau baiik banget.. apreciate kepada nobody likes me ini. Nggak sombong walaupun udah terkenal dan sukses. Banyak yang bisa dipelajari dari bapak dua orang putri tersebut. Seru banget dengerin Pak Adji cerita di panggung, gayanya sangat natural dan blak-blakan, practitioner dan applied oriented banget. Peserta bisa langsung digest easily.

Selamat ya untuk para pemenang Anugerah Solo Best Brand Index 2009. Keep up the good work!

Ulasan tentang acara SBBI dan isi materi seminar saya dan Pak Adji bisa dibaca dalam ulasan dari korannya langsung :

SOLO POS 25 Juni 2009

Anugerah Solo Best Brand Index 2009:
Menangkan hati konsumen dengan pahami keseharian mereka

Kita saat ini memasuki era hiperkompetisi. Cirinya, konsumen masa kini bersikap demanding, meminta. Mereka akan berkata ”I want it now! Saya ingin produk itu sekarang!” dan tidak mau menunggu.
”For me! Untuk saya, hanya untuk saya”, lebih berkuasa dan menuntut perusahaan untuk mendengarkan mereka.
Hal ini diungkapkan Director Etnomark Consulting, Amalia E Maulana dalam seminar dan talk show bertema Marketing Kontemporer di Era Hyper Competitive. Seminar ini menjadi satu rangkaian dalam acara penganugerahan Survey Best Brand Index (SBBI) 2009 yang digelar Harian Umum (HU) SOLOPOS di Lorin Business Resort & Spa Solo, Kamis (25/6).
Perubahan perilaku
Menurut Amalia, untuk menyikapi perubahan perilaku konsumen tersebut perusahaan masa kini seharusnya lebih berorientasi kepada konsumen, proaktif, responsif, fleksibel dan mampu bekerja dalam sebuah tim kerja yang solid.
”Perusahaan masa kini juga seharusnya mampu bersikap consumer insights, membentuk Customer Relationship Management (CRM) dan senantiasa mengakses berbagai informasi terbaru terkait perkembangan pasar mereka,” ujarnya.
Menurut Amalia, menjadi perusahaan yang berorientasi terhadap konsumen atau customer oriented, tidak sama dengan competitor benchmarking.
”Customer oriented dalam hal ini berarti perusahaan tersebut harus kembali ke dasar, yakni ke konsumen. Lakukan redefinisi ulang kombinasi value atau benefit yang ditawarkan ke konsumen. Selain itu, perusahaan juga perlu melakukan sustainable competitive advantage (SCA), yang membuat produk tersebut lekang, tidak mudah ditiru atau dikopi oleh produk perusahaan lain,” ujarnya.
Menurut Amalia, penting bagi perusahaan saat ini untuk mempelajari perilaku konsumen dalam keseharian di dalam habitat atau lingkungannya yang asli, misal di rumah, di tempat pekerjaan, di toko dan tempat-tempat lainnya.
Perusahaan bisa menerapkan ethnography in marketing, yang bertujuan untuk menangkap apa yang konsumen lakukan dengan produk, bukan apa yang mereka katakan mereka lakukan.
Pembicara lainnya, Presiden Direktur Dwi Sapta Group, A Adji Watono menilai dalam situasi krisis seberat apapun, bisnis periklanan tetap tumbuh.
”Artinya, adanya krisis justru melahirkan peluang bisnis baru. Saya mencontohkan dari bisnis periklanan yang digeluti Dwi Sapta Group. Dalam situasi persaingan bisnis yang sangat ketat, tidak hanya melawan sesama berbagai perusahaan periklanan nasional yang sudah besar, tapi juga harus menghadapi perusahaan periklanan multinasional, Dwi Sapta harus mempertajam strategi bisnisnya, terutama melakukan diferensiasi perusahaan yang kuat dan bisa diterima oleh pasar atau klien,” urai Adji yang menyampaikan materi seminarnya bertema Hyper-competition Market in Turbulent Times: Strategi & Kiat Bisnis Dwi Sapta Group di Era Pancaroba Globalisasi.
Pada acara itu pula, sebanyak 58 merk produk yang telah terpilih secara resmi menerima anugerah SBBI 2009. Vice President Marketing & Promotion Matahari Food Business PT Matahari Putra Prima Tbk, Joosje Tatipata mengaku bangga atas anugerah SBBI 2009 yang diterima Hypermart untuk kategori Service jenis hypermarket. ”Ini menunjukkan kami masih memperoleh kepercayaan dari konsumen,” ujar Joosje.
Sementara menurut Manager Branch Yogya-Solo PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel), Erik Rudianto yang produknya menerima penghargaan SBBI 2009 untuk kategori Service jenis simcard GSM pascabayar melalui Kartu Halo, menyatakan penghargaan itu merupakan kali kesembilan yang diterima perusahaan tersebut. – Oleh : Septhia Ryanthie