All posts in Blog

Pembicara 2.0 & Analogi Teman untuk Branding

Ada berapa teman kita yang bisa digolongkan sebagai ‘just friends’?, berapa yang digolongkan sebagai ‘good acquaintances’? dan berapa pula yang sudah bisa kita hitung sebagai our ‘soul mates’?  Yakin seyakin-yakinnya, pasti yang soul mates jumlahnya terhitung yang paling minimalis. Dalam keseharian kita, mungkin tidak ada waktu untuk memikirkan berapa jumlah teman kita, apalagi yang berpikir berapa yang sudah bisa kita konversi dari teman biasa ke teman baik, lalu dari teman baik ke teman karib/sohib.

Rasanya semua pertemanan mengalir begitu saja. Hasilnya: jumlah teman biasa bertambah terus, tetapi teman baik segitu-segitu saja, apalagi sobat, mungkin bisa dihitung dengan jari. Belum lagi, kadang kala saking sibuknya, secara tidak sadar kita sudah men-downgrade teman-teman kita dari yang sudah tinggi tingkatan pertemanannya, turun jadi teman biasa. Sudah jarang telpon, jarang silaturahmi.. maintenance sobat kadang terasa terabaikan karena kesibukan.

Padahal hidup kita baru berharga bila punya banyak sahabat, banyak teman baik, jauh di atas teman-teman biasa. Ini yang overlook… Semangat Valentine’s day ini sebaiknya tidak fokus pada perayaannya, tetapi pada semangatnya. Yaitu, semangat memperbanyak teman berkualitas.

Pelajaran branding – dari Analogi Pertemanan. Apakah cukup hanya melihat banyaknya konsumen brand? Ini tidak cukup untuk melihat cemerlang tidaknya sebuah brand. Itu kan refleksi kesuksesan transaksi, yaitu baru sampai merekrutnya menjadi teman biasa. Karena itu, pertanyaannya haruslah berapa banyak soul mates nya brand, nama lainnya brand loyalty? Sudah cukup banyakkah? Apakah kita sendiri punya informasi gambaran siapa-siapa sahabat baik brand ini? Jangan-jangan kita belum pernah cari tau. Oh, No!

Tiap hari kita sibuk merekrut konsumen, menjadikannya teman, tetapi tanpa disadari usaha kita belum maksimal untuk mengupgrade konsumen agar kedekatannya dengan brand bukan hanya sekedar transaksional saja.. tetapi bisa sampai pada kedekatan emosional ala sohib berattss..

Buat apa itu semua? Sahabat adalah orang pertama yang akan bilang kalau dia tidak puas. Dalam kaitannya dengan brand, jika dia tidak puas, maka our brand ambassador ini tentu akan lapor duluan ke kita langsung sebelum lapor ke milisnya, atau ke circle of friends nya. Dengan laporan sahabat, brand bisa berbenah secara cepat, alert terhadap hal-hal negatif yang mungkin tidak disadari oleh brand.

Pembicara 2.0 di Astra PR Forum

Cuplikan bahasan tentang analogi Pertemanan vs Branding tadi adalah bagian dari sharing saya di PR Forum Astra Jumat yang lalu. Terimakasih Pak Yulian Warman, Kapten Corporate Communication nya Astra yang sudah mengundang untuk berbagi cerita dan pengalaman.

Senang bisa bertemu dengan begitu banyak praktisi PR dan komunikasi secara langsung – yang hadir adalah wakil dari anak-anak perusahaan Astra yang bervariasi dari automobile hingga asuransi.

yang lebih senang lagi, saya jadi banyak istilah baru hari ini.

Perusahaan 0.0 :

Saya jelaskan bahwa perusahaan jaman sekarang harus bisa mengikuti gaya irama tariannya konsumen. Jadi kalau konsumennya saja sudah ‘modern’, masa perusahaannya masih ‘juaduull pangkat seratus’. Ya, pertemanan yang dibangun pasti akan berantakan, atau bahkan nggak terjadi. Karena “nggak nyambungss”. Salah satu ciri perusahaan ‘modern’ adalah sudah menerapkan web 2.0 yaitu memberikan ruangan bagi konsumen untuk ikut bicara, dalam berbagai bentuk, termasuk dalam website atau blog korporat. Bahkan, sekarang perusahaan juga sudah mulai meningkatkan lagi kelasnya masuk di era web 3.0 yang lebih otomasi dan kaya lagi features nya untuk mempererat “persahabatan” dengan konsumen.

Paling gampang contoh perusahaan ‘jadul’ ya Omni Internasional. Konsumen ‘modern’ kaya Prita kok dilawan dengan jurus ‘kuno kuadrat’. Kalau istilah Pak Yulian, ini perusahaan nya masih web 0.0, boro-boro web 1.0 aja belum kalee..

Berkaitan dengan isi bahasan, pada sesi tanya jawab yang seru ada salah satu peserta yang mengusulkan untuk mengganti istilah “modern customers” vs ‘modern company’ dalam slide saya, karena rancu dengan definisi Alvin Tovler yang membagi-bagi periode dan salah satunya pakai istilah ‘post-modern’.

Wow. Disini saya ditantang untuk tidak stay pada gaya “Guru” tetapi harus sudah bergaya “Web 2.0″ yaitu interaktif dan dengan semangat “wisdom of crowd”. Rasanya saya bisa terima masukan Mas…. siapa ya lupa lagi namanya (maap disc memori saya kepenuhan, gampang lupa).

Saya tanya jadi diganti apa istilahnya, ternyata beliaunya blocking, gak ngasih istilah. Teman2 yang lain pada geli juga sebab judulnya “yang protes tanggung jawab lho…”. Setelah saya tawarkan, gimana kalau saya ganti aja dengan istilah “cool customers” vs “cool company” – setuju nggak, sebab yang saya maksud modern itu ya pokoknya ‘keren, n masa kini’ lah. Tidak bermaksud membakukan istilah “modern company’ anyway, cuma pakai istilah itu untuk bilang bahwa “BERUBAH” atau “CHANGE” dong… company, jangan jadul terus gayanya.

Alhamdulillah, teman kita senang dengan istilah baru tadi “cool” – menggantikan “modern”. Kata dia, lebih gaul Bu! Hehe, boleh juga nih, jadi lain kali di acara lain, akan saya ganti slidenya dengan istilah baru ini. Thanks buat inspirasinya. Sudah dapat hadiah buku belum ya…? Kalau belum nanti saya titipkan Pak Yulian. Seingat saya, sudah saya acknowledge sebagai salah satu penerima buku “consumer insights via ethnography’ karangan saya.

Senang sudah naik kelas jadi Pembicara 2.0, horizontal communication dengan pesertanya. Bukan hanya media yang horizontal, bukan hanya marketing yang horizontal, sekarang pun Pembicara harus transformasi diri. Dari ‘guru-murid’ ke ‘teman sharing’.

Sekali lagi thanks Pak Yulian untuk kesempatan bertemu teman2 PR Astra. Juga untuk Mas Boy dan Mbak Ningsih yang sudah arrange. Untuk semua yang hadir sore itu, keep in touch ya. Semoga sukses di tahun 2010 ini.

Ikut berbela sungkawa atas kepergian sang Maestro Astra, Pak Michael Ruslim. Saya sudah dokumentasikan tentang beliau dalam tulisan saya di Bisnis Indonesia Minggu, silakan kalau ada yang mau komentar di tulisan tersebut, mau menambahkan dan menguatkan sebagai pihak yang kenal lebih dekat lagi. Tentu akan menambahkan deretan memori indah tentang beliau.

Perguruan Tinggi Harus Miliki “Branding” Hadapi Persaingan

Dimuat di Antara News, 13 Januari 2010.

Jakarta (ANTARA News) – Perguruan tinggi harus memiliki “branding” yang baik dan berusaha mempertahankannya untuk tetap eksis menghadapi persaingan antar-perguruan tinggi yang semakin ketat.

“Apalagi perguruan tinggi asing juga makin gencar melakukan promosi untuk menarik minat calon mahasiswa baru di Indonesia,” kata konsultan brand dan etnografer Amalia E Maulana, di Jakarta, Rabu malam.

Dikatakannya, “branding” adalah sebuah proses memperkenalkan “brand” sampai bagaimana lingkungan memberikan penilaian yang baik pada “brand” tersebut.

Dikatakannnya, perguruan tinggi yang tidak memiliki “branding” baik akan dilupakan oleh konsumennya yakni mahasiswa dan calon mahasiswa.

Ia mencontohkan ada beberapa perguruan tinggi swasta di Yogyakarta yang saat ini nyaris bangkrut lantaran kesulitan mendapatkan mahasiswa yang berminat kuliah di perguruan tinggi tersebut.

Menurut dia, untuk memiliki “branding” yang baik sebuah perguruan tinggi harus terus melakukan proses transformasi informasi dan lainnya kepada mahasiswa dan

“stake holder” dari sekadar diketahui menjadi selalu diingat dengan baik.

Doktor ilmu pemasaran lulusan Universitas New South Wales Australia ini mengusulkan untuk memiliki “branding” yang baik hendaknya perguruan tinggi merekrut tenaga “chief marketing officer” (CMO) profesional.

“Apalagi perguruan tinggi adalah bisnis yang kompleks dan unik, yang dalam pembentukan `branding`nya ada beberapa isu yang kontradiktif seperti lembaga profit sekaligus sosial,” katanya.

Keberadaan CMO di perguruan tinggi bertugas melakukan transformasi informasi kepada mahassiawa dan masyarakat dari sekadar tahu (“just friend”) menjadi sahabat karib (“soul mates”).

Perguruan tinggi yang yang mampu mentransormasikan informasinya dengan baik, katanya, akan memiliki “branding” yang baik di masyarakat.

Tugas CMO, katanya, terus melakukan proses sosialisasi “brand” hingga mahasiswa dan masyarakat memiliki penilaian yang baik dan selalu teringat pada pergutuan tinggi tersebut.

“CMO yang baik akan bekerja dengan perencaan dan pencapaian tahapan secara baik serta menjangkau akses yang seluas-luasnya,” katanya.

Diakuinya, untuk memperoleh “branding” baik tidak bisa hanya dalam waktu sekejap tapi dibutuhkan waktu lama, karena itu “branding” juga dinamis.(*)

Email address & personal brand image

Sudah sering saya advice student atau relasi yang nama email address nya suka aneh-aneh. Do you realize that all of what you wrote there express who you are?

Your personal brand image – tergambar dari email address yang dipilih. Kalo aneh-aneh, nyeleneh, ruwet penuh angka, dst.. perlu direview ulang. Apakah expression dalam email itu menggambarkan diri kita atau tidak? Apakah email itu membuat kita mudah dihubungi atau tidak? dst. Ada cerita pengalaman seperti di bawah ini. simak ya.

Saat saya berkunjung ke dokter langganan karena sebuah keluhan yang agak urgent, saya dihadapkan dengan situasi. Dokter saya yang sudah senior dan canggih dimata saya tersebut sedang keluar negeri, dan yang sekarang bertugas adalah dokter pengganti. Kalau tidak urgent, mungkin saya pulang lagi.

Kemudian secara spontan saya tanyakan siapa dokter pengganti tersebut? Staff di bagian penerimaan pasien menyebutkan sebuah nama yang buat saya tidak ‘bunyi’ apa-apa alias saya tidak pernah dengar apalagi kenal siapa beliau.

Karena itu, ‘customer rewel’ spt saya ini bertanya terus… Dokter yang ini sudah berapa lama bertugas di klinik situ dan sehari-harinya bertugas di rumah sakit mana dll.. apa saja yang saya bisa tanyakan sekedar untuk memberikan keyakinan bahwa saya lanjutkan saja berobatnya.

Staff merangkap receptionist merasa tidak terlalu tau 100% dengan latar belakang dokter pengganti, tetapi dengan Pe-De nya mengatakan Insya Allah beliau adalah lulusan terbaik! Wow, great.. lulusan terbaik? canggih dong mustinya ya.. mulai meningkat nih minat untuk stay. Cuma saya tanyakan lagi, ehm… Mbak, lulusan terbaik ini yang dimaksud lulusan terbaik pada saat lulus jadi dokter tahun berapa ya? Setahun lalu, lima tahun lalu atau 10 tahun lalu…?

Bukan bermaksud rese’ sih (padahal iya juga), tapi infonya general banget. Lulusan terbaik? Keponakan saya juga dokter lulusan terbaik, lho.. tapi lulusnya baru kurang lebih dua bulan yang lalu. Untuk bentuk services yang kompleks dan resiko tinggi ini, buat konsumen, semakin tinggi jam terbang, akan semakin oke lah expert tersebut.

Infonya jangan sepotong dong Mbak….. apa barangkali ada sedikit penjelasan ttg CVnya Dokter atau apa punya materi promosi klinik yang saya bisa baca sambil iseng nunggu giliran? atau ada di websitenya? sy bisa akses Internet kok disini. Saya disini masih dalam proses pengumpulan info.

Maaf Bu, kami nggak ada info yang se-spesifik itu. Saya taunya beliau itu lulusan terbaik, jadi dokter senior yang sedang cuti sudah mempercayakan kepadanya. tapi ini ada kartu nama beliau, silakan ibu boleh ambil satu.

OK, lumayan… paling tidak saya tidak tangan hampa kembali ke antrian duduk di ruang tunggu. Kepada teman yang hari itu menemani, saya mulai curhat.. gimana neh, terusin nggak ya berobat di sini, gw rada males nih, maunya ketemu dr yang senior yang sudah pasti paten.. ini nggak jelas profilnya dokter pengganti.

“Halaaah, udah sakit gitu, terusin aja, siapa tau ok, kan tempat ini lumayan representatif (maksudnya mahal huhu..), jadi gak lah pilih dokter sembarangan.’ begitu teman saya meyakinkan.

Sambil menunggu, mata saya tertumbuk pada email address beliau sang dokter ini yang menggunakan email yahoo (masih OK lah, tapi saya mulai menganalisa… pasti ini dokternya masih muda/yahoo generations). Di bawah email perama, ada satu email address lainnya. kedua email ini buat saya termasuk mengarahkan kepada gambaran senior atau junior seseorang. Email address yang kedua lebih mencengangkan. Menggunakan free mail sejenis yahoo juga, nama yang ditulis sangat informal dan menjelaskan karakter seseorang, yang kira-kira maknanya adalah ‘suka iseng’ dll.

“Oh No! dari judul2 email addressnya langsung tergambar profil beliau yang lulusan terbaik ini, saya berani tarohan, kata saya ke teman tadi, pasti dia muda, dan bukan cuma muda tapi muda banget. Student saya juga banyak yang emailnya aneh-aneh spt ini, belum memikirkan bahwa one day, as a professional, ini akan sedikit banyak mempengaruhi citra.

Kalau dipakai untuk account facebook, sih, yah masih oke lah, tapi excuse me.. jangan ditulis di name card kantor kaya gini, pliz dong ah.

Ah, udahlah, keputusan saya waktu itu, terusin aja rencana berobat. Pertama – udah males pindah tempat lain. Kedua – memang juga udah sakit pengen dapat obatnya, dan yang terakhir – jadi pengen tau, bener gak sih, dokternya muda? jangan2 saya kebanyakan analisa aja..

‘Emang loe nih dasar’ kata teman saya, ‘segala macam dianalisa, repot deh kalau ada 10 konsumen kaya gini tiap harinya, pasti resign tuh staff receptionistnya.’ Hehe.. nyengir aja saya. Jadi inget anak-anak yang suka ngumpet kalo Mamanya mulai tanya2 dan mulai menjadi ‘rewel customer’ di tempat2 umum…malu ‘kali mereka.

Singkat cerita, sampai juga giliran saya. Begitu bertemu, oooopps….Nah, ternyata benar kan, masih muda…Perasaan sakit yang biasanya kalau ketemu dokter langganan sudah hilang separo begitu masuk ruang kerjanya, ini masih tetap 100% sakit. Maklum, sakit kan 50% nya sugesti, kata orang.

Setelah diperiksa dan diberi obat, saya iseng aja sekalian confirm neh ceritanya. Dokter lulusan terbaik tahun berapa ya… gayanya sy kaya udah kenal n tahu CVnya aja. Ternyata belum sampai tiga tahun yang lalu…dan kemudian saya tunjukkan name cardnya, benarkah ini email address yang bisa saya hubungi? oh iya, jelasnya. Dari ekspresi bertanya saya yang mengandung minta penjelasan (ge-er..) beliau kemudian jelaskan bahwa belum sempat punya email address baru semenjak jaman mahasiswa yang mana beliau memang termasuk ‘orang gaul’ yang punya ‘email gaul’ juga.

Well, that’s enough to complete my puzzle. Saya nggak keberatan diperiksa oleh dokter lulusan terbaik tetapi di kasir saya agak merengut waktu harus bayar harga yang sama mahalnya spt dokter senior langganan. This is not right.. (dalam hati aja), bukannya gak mau berobat pada dokter muda, lho…. tapi kan harganya jangan disamain begitu. Too expensive for the value I got. Ini kesalahan pricing strategy. Untuk services atau jasa, People (dalam hal ini dokter senior) itu adalah bagian dari Value offering yang terpenting dari keseluruhan proses interaksi konsumen dengan brand (rumah sakit/klinik).

Sebenarnya simple saja solusinya, bikin dua rate dokter – senior lebih tinggi sekian persen dari yang junior dan itu diumumkan. Seperti di hairdresser, mereka cukup canggih menjelaskan di awal, kalo sama Jonnny itu favorit paling mahal, potong rambut 200rb, kalau sama Mike, harganya 125 rb, kalau sama Kirana dan yang lain sekelasnya, harganya 75 rb, dst..

Sambil build pengalaman jam terbang yang junior lama2 pasti akan jadi senior juga. Apalagi modalnya udah top, kan lulusan terbaik. Mungkin utk mencapai level skill yang dipunyai oleh senior nya bisa lebih cepat diperoleh.

Customer butuh reassurance bahwa menggantikan yang senior ke junior artinya sudah ‘under-deliver’ (vs expectation). Tetapi under deliver itu sebenarnya masih bisa diterima selama ada adjustment dari ‘cost’ yang harus dibayarkan oleh pasien.

Akhir cerita pendek ini, obatnya oke juga kok ternyata. Cukup manjur. Berarti sekolahnya pinter beneran deh dokternya. Cuma, untuk kapan2, kalo sakit lagi, saya mau telpon dulu, dokter langganan saya yang lebih senior apakah sedang cuti atau tidak, sebelum jauh-jauh kesana.

Surat Pembaca : sekali-sekali memuji dong

Malam itu, tanggal 15 Des, di hotel Mulia, Senayan Jakarta, saya duduk semeja dengan Pak Bambang Setiadi, sesama juri Anugerah Produk Asli Indonesia 2009, kepala Badan Standarisasi Nasional (BSN). Beliau mengungkapkan pengalaman menariknya – menemukan kembali laptopnya yang ketinggalan di Bandara, yang dimuat di surat pembaca Detik.

Setuju Pak, surat pembaca kan isinya nggak boleh complain mulu, ngeluh terus. Pas bagus dan cemerlang, ya harus kita angkat juga, dong. Apalagi ini suatu kejadian yang ‘too good to be true’. Apresiasi dalam bentuk surat pembaca seperti ini yang akan memotivasi crew Bandara dan Garuda untuk terus meningkatkan servicenya. Bravo untuk Pak Bambang yang sudah memuat ‘cerita positifnya’ dan juga nama2 yang disebut sebagai malaikat-malaikat penolong tersebut.

Coba deh, sekali-sekali hitung rasio surat yang berisi pujian dibandingkan keluhan, mungkin masih 20/80. Padahal, pentttiiiinggg sekali mencari konsumen2 seperti Pak Bambang ini, untuk menjadi brand ambassador pada saat brand memberikan pelayanan yang prima.

Suratnya saya tuliskan dibawa ini diambil langsung dari  linknya.

Apresiasi Kepada Pilot, Co Pilot, Pramugara, Pramugari Garuda GA 408

Bambang Setiadi – suaraPembaca

Jakarta – Saya menggunakan fasilitas Garuda/Mandiri Lounge. Tanggal 10 Desember 2009 sekitar jam 12.30 – 13.30 dalam persiapan menunggu perjalanan Jakarta – Denpasar. Di dalam lounge saya mengerjakan beberapa tugas kantor menggunakan laptop Sonny type Vaio. Penerbangan saya menggunakan GA 408 jam 13.55.

Di atas pesawat baru saya sadar bahwa laptop saya ketinggalan di lounge. Mengingat data pekerjaan dan naskah-naskah ilmiah yang disimpan di lap top itu sangat penting bagi tugas dan profesionalisme saya situasi itu membuat saya lumayan panik.

Saya melapor Pramugari Anita Yustisia. Kemudian mendiskusikan dengan Pramugara Sigit Wijaya minta izin apakah saya bisa melapor ke pilot untuk mengontak Garuda Lounge di Jakarta.

Mereka berdua melapor ke Captain Pilot dan Captain Pilot melakukan  tindakan yang menurut saya melebihi tugasnya. Dengan membantu sepanjang perjalanan membuat kontak-kontak dari udara dengan airport Juanda Surabaya dan airport Denpasar agar mengirim telefax ke Jakarta tentang kehilangan laptop dan spesifikasi dari laptop saya itu.

Atas rintisan usaha itu, ditunjang dengan dukungan teman-teman saya dan petugas keamanan di Bandara Cengkareng, alhamdulilah, saya bisa menulis surat pembaca ini menggunakan laptop saya yang tertinggal itu.

Saya ingin menyampaikan apresiasi yang sangat tinggi kepada pilot dan co pilot Garuda yang menerbangkan GA 408. Sekarang saya paham dan tidak terkejut, Dirut Garuda memperoleh beberapa penghargaan pada akhir tahun 2009, karena didukung oleh pekerja lapangan dengan sikap, dedikasi, dan pelayanan yang prima.

Saya ingin menyebut nama Pilot dan Co Pilot Garuda itu  dengan hormat dan penuh penghargaan  yaitu: Capt Pilot Laurentius dan Dedy Herman.

Bambang Setiadi

Kepala Badan Standardisasi Nasional (BSN)

Gedung Manggala Wanabakti,  Jakarta 10270

Member Garuda FF no. 222 695 723

Dalam Kasus Prita, Siapa yang Pantas Dihukum?

Mam, benarkah Prita Mulyasari mencemarkan nama baik Omni hospital? Tanya student saya semalam. My response : ‘I don’t think so…’ Yang benar adalah : Pengelola Omni hospital yang mencemarkan nama baik brandnya sendiri, berkali-kali pula (nggak cuma sekali) – kan sudah bolak-balik jadi headline negatif…. Read More →