Kolom Branding Solution, dimuat di Koran Sindo, 1 Februari 2012.
Suatu sore, seorang wartawan yang minta saya menandatangi buku yang dihadiahkan seusai wawancara, protes – mengapa saya menggunakan pulpen sendiri, sedangkan ia sudah menyodorkan pulpennya di atas meja?
Saya kaget kena protes dan bertanya kembali, “lho, pulpen Anda kan berwarna merah? Saya pakai pulpen sendiri karena warnanya hitam”. Dia tegaskan bahwa pulpennya juga berwarna hitam.
Ini menarik! Sejak kapan pulpen dengan warna tutup dan ujung yang merah, bertinta hitam? Kami kemudian tertawa karena sudah terjadi misinterpretasi dari sebuah hal yang sangat sederhana.
Ini yang disebut dengan ‘framing’. Proses judging yang terlalu cepat, dengan menggunakan ‘frame’ tertentu di benak, tentang ‘model umum sebuah bolpen’. Padahal, akan lain hasilnya, bila saya mengambil bolpen yang disodorkan, lalu mengecek sejenak warnanya di kertas lain, dan setelah itu baru memutuskan, akan menggunakannya atau tidak. Read More →




