-->
 

SBY: Mengelola Great Last Impressions

Banyak ungkapan merujuk ke pentingnya “First Impressions”, tetapi masih jarang yang membahas “Last Impressions”. Padahal, apa yang diproyeksikan dalam First Impressions, menjadi sia-sia pada saat Last Impressions nya berantakan.

First Impressions adalah sebuah keyakinan atau pemahaman terhadap sesuatu di saat awal pertemuan atau eksposure. Pada saat seseorang sedang melamar pekerjaan, ia sibuk membuat riwayat hidup sebaik-baiknya dan berdandan sebaik mungkin di hari interview nya.

Masih banyak yang berpendapat bahwa First Impressions sajalah yang perlu dikelola dengan baik, karena ini menyangkut akan diterima atau tidaknya seseorang pada jabatan yang dilamar. Pada saat akan exit dari pekerjaan, tidak ada langkah-langkah khusus membuat “Great Last Impressions”.

Pada umumnya berpikir bahwa “sudah tidak ada gunanya lagi effort khusus untuk membangun impresi yang baik, karena sudah mau pindah”.  Masih sedikit yang bekerja lebih keras dari biasa, menjalin ramah tamah persahabatan dengan usaha lebih tinggi, serta menjaga agar tidak ada celah dalam proses transisi pergantian personal nantinya.

Situasi ini mengingatkan saya kepada Presiden SBY karena bulan-bulan ini bisa dikatakan merupakan saat-saat terakhir beliau sebagai kepala negara. Impresi terakhir seperti apa yang akan melekat di hati masyarakat?

Karena ‘Great Last Impressions’ ini sangat penting, maka sebaiknya SBY dan teamnya membuat perencanaan JOB DEPARTURE ini secara terperinci dan seksama, terutama yang menyangkut aspek personal brand nya. Semua gap yang mungkin terjadi dalam pengelolaan ‘Great Last Impressions’ di panggung terakhirnya, harus diantisipasi dan dihadapi.

Multiple Branding

Impresi adalah output yang harus dikelola dan diperhatikan oleh pengelola brand. Brand Impressions adalah akumulasi dari impresi yang dibentuk dari multiple contact dengan brand baik itu secara langsung maupun tidak langsung.

Diinginkan atau tidak, setiap brand mempunyai keterikatan dengan brand lain. Brand itu tidak pernah berdiri sendiri. Dalam setiap eksposure brand, ada beberapa brand yang ikut dibawanya.

Pada saat anak saya Fauzan Reza Maulana dan rekannya Vicario Reynaldo menjadi juara dalam World Universities Debate Championship (WUDC) di Chennai 2014, sangat terasa bahwa anak-anak ini membawa banyak sekali brand besertanya. Berita di halaman utama Koran Sindo (6 Januari 2014) membawa 5 brand sekaligus: Personal Brand pemenang, Personal Brand orangtuanya, Brand Indonesia, Brand kota Bandung dan Brand Institut Teknologi Bandung (tempat mereka kuliah).

Pada saat SBY mengucapkan selamat di account media sosial kepada para pemenang terkait keberhasilan di Lomba Debat Internasional tersebut, secara tidak langsung impresi saya terhadap SBY bergeser kearah positif. Ucapan beliau yang tulus di twitter dan facebook itu membuat saya ingin memberikan saran pengelolaan bagi beliau seputar Cemerlang  dan Berkesan di saat-saat akhir.

Sulitnya, bukan hanya Brand SBY saja yang harus dikelola. Brand yang berada di sekitar beliau juga tidak boleh luput dari perhatian. Semua yang berpotensi menjadi Co-brand SBY juga harus bersama-sama masuk dalam Gerakan Pengelolaan “Great Last Impressions”.

SBY punya konsekuensi Co-branding dengan keluarga terdekatnya yaitu Brand Ibu Ani Yudhoyono, Brand Ibas, Brand Annisa Pohan, Brand Hatta Rajasa, dst dst. Tantangan bagi pengelola brand SBY adalah memastikan agar Co-brand keluarga SBY ini lebih menambahkan nilai dan bukan justru mengurangi.

Keluarga SBY dengan account tersendiri dalam berkomunikasi di media sosial menjadi salah satu potensi untuk ‘make or break’ moment-moment penting Great Last Impressions ini.

Sebagai contoh, apapun yang dituliskan oleh ibu negara Ani Yudhoyono sangat potensial untuk dijadikan bahan perbincangan dan conversation di media sosial.  Feedback kurang menyenangkan seputar posting ibu Ani yang belakangan marak di media sosial harus segera diredam, dialihkan dan dicegah terjadi kembali. Tidak bisa berkelit dengan menyatakan bahwa media sosial adalah media bebas berbicara. Selama seseorang mempunyai keterikatan terhadap brand besar, ia tidak mempunyai luxurious situation yang disebut BEBAS.

Harus disarankan pada Ibu Ani untuk tidak memberikan bola lambung kepada masyarakat media sosial. Mereka mencari celah dalam setiap posting karena alam yang dibentuk adalah alam conversation. Setiap celah merupakan bahan pembicaraan. Sebisa mungkin, disain posting justru perlu memberikan celah untuk conversation positif, bukan sebaliknya.

Posting Ibu Ani yang terkesan berada di kubu yang berbeda dengan masyarakat media sosial sudah menempatkan beliau ke dalam posisi rawan celah negatif. Setiap posting akan dicari sisi negatifnya dan ini sangat tidak menguntungkannya.

Keberadaan di media sosial itu susah susah gampang. Menjadi diri sendiri tetapi sekaligus menjaga ekspektasi audience media sosial terhadap image pemilik account. Posting di media sosial diharapkan autentik dan genuine. Kedua karakter ini tidak berarti harus menjaga sikap baik dan formal karena akan terkesan ‘jaim’ – jaga image – yang plastis manipulatif.

Masyarakat media sosial tidak selalu kejam. Mereka juga sangat menyenangi conversation yang bersahabat, dan ini bisa dibina dengan memberikan umpan diskusi-diskusi yang juga bersahabat. Empati. Atensi. Mau menerima saran dan sudut pandang yang berbeda.

Di Panggung terakhir ini, buktikan bahwa SBY dan brand yang berada di sekitarnya luwes dalam conversation dan bersahabat dengan masyarakat media sosial. Buktikan bahwa SBY akan sama baiknya dengan siapapun nanti yang akan menggantikannya. Perkecil kemungkinan dipersepsikan sebagai pihak yang berseberangan dengan masyarakat media sosial.

Persempit jarak dan bersahabatlah. Langkah kongkrit harus segera disusun untuk memberikan Great Last Impressions dalam job departure ini.

(dimuat di Kolom Branding Solution, Koran SINDO, 24 Januari 2014)

 

6 Comments on "SBY: Mengelola Great Last Impressions"

  1. yuyun says:

    nice post bu!
    btw, congrats ya buat anak&ibunya yg sudah sukses mengharumkan nama Indonesia :)

  2. hendy hendharto says:

    Mencerahkan saya, terimakasih Bu.
    Salam

  3. Leo says:

    Memang kadang-kadang orang hanya menekankan pada first impressionnya
    tanpa disadari sebenarnya last impressions juga sangat penting. bukan tidak mungkin kita akan kembali ke komunitas yang sama lagi, jangan sampai last impression yang buruk akan membuat kita ditolak di komunitas yang ditinggalkan. Misalnya, apabila SBY bisa memberikan last impression yang dahsyat, walaupun beliau sudah 2 periode SBY, bukan tidak mungkin rakyat akan menginginkan beliau untuk kembali menjabat setelah 1 periode dijabat oleh orang lain. terlebih-lebih kalau kinerja presiden berikutnya ternyata tidak se ciamik SBY
    thanks for sharing this article, really inspiring bu

    • Setuju Mas leo, detik-detik, jam-jam dan hari-hari, bulan-bulan semakin berharga di very last minute of our interaction agar impressions nya bisa dahsyat tadi.

      Senang sudah menginspirasi…selamat berkarya, dan sukses selalu.