-->
 

#RidwanKamil dan Ujian Brand

Ingat pengalaman menangis saat sopir saya pamit akan pulang kampung dan berjualan sayur di sana menemani ibunya. Saya katakan padanya “Please Dont Go”. Anak saya sudah sangat cocok dengan Bapak sopir ini sehingga terbentuk connection dengan keluarga kami.

Bagaimana dengan pengalaman Anda? Ingatkah saat-saat Anda mengumumkan diri bahwa bulan ini adalah bulan terakhir di kantor? Seperti apa ekspresi ‘teman-teman’ di kantor tadi? Apakah ada ekspresi “Please Dont Go….” sambil tersedu (ini analoginya).. atau yang ada hanyalah ekspresi “oke selamat jalan dan sukses di tempat yang baru” atau bahkan ekspresi datar tidak peduli.

Kehadirannya selalu ditunggu dan Kepergiannya disesali dan ditangisi. Minimal dalam komunitas yang sangat kecil, kedekatan emosional ini merupakan ciri-ciri Brand Cemerlang.

Brand Cemerlang itu bukan brand yang terkenal. Brand Cemerlang itu brand yang dibutuhkan. Brand ini memberikan makna dalam kehidupan di komunitasnya.

“You’ve Made the Right Decision Sir!”

Spanduk yang dibentangkan di jalan utama kota Bandung, sebagai ungkapan hati masyarakat Bandung kepada pemimpinnya, Ridwan Kamil. Tepatnya, spanduk itu adalah ekspresi rasa syukur mereka saat Kang Emil mengumumkan bahwa ia akan tetap di Bandung sampai masa kepemimpinannya selesai.

Foto spanduk ini saya lihat di harian Pikiran Rakyat di rumah kakak saya di Bandung sewaktu mampir setelah selesai memberikan pelatihan Personal Branding di Universitas Parahyangan dalam National Seminar mereka.

Keinginan untuk mengangkat topik ini menjadi bahan kolom Branding Solution diperkuat dengan pembicaraan keponakan saya yang mengungkapkan kelegaannya dengan keputusan Ridwan Kamil tersebut. Ia adalah seorang dokter yang juga lulusan Magister Manajemen, ikut menandatangani petisi meminta Kang Emil tetap berada di Bandung.

Menandatangani petisi? Wah, ini adalah engagement dan involvement tingkat tinggi. Saya kenal keponakan yang dokter ini punya kepribadian kuat dan tidak mudah terpengaruh dan bukan tipe impulsif. Keputusan untuk ikut petisi tentu sudah dipikirkannya secara seksama.

Jika sebelumnya saya sudah kagum terhadap tokoh walikota Bandung ini. Maka sekarang menjadi #kagumbanget.  Situasi terbaru ini meneguhkan bahwa ia pantas diberikan predikat Brand Cemerlang.

Apa saja ‘Lesson Learnt’, pelajaran branding yang bisa diambil dari kasus ini:

1. Brand Cemerlang itu brand yang fokus (pada pekerjaannya)

Banyak dari kita yang memiliki lebih dari satu pekerjaan yang kurang bersinergi (kadang kala kartu namanya banyak dan bangga sekali dengan hal tersebut). Banyak yang seolah memiliki energi lebih dan punya banyak mimpi yang ingin dikerjakan tetapi akhirnya tidak fokus karena dalam hidup kita harus memilih.

Tidak bisa menjadi superman atau superwomen yang bisa super multi-tasking dan excellent di segala bidang. Harus kuat menghadapi temptation (godaan) yang selalu muncul dalam perjalanan mencapai cita-cita.

Kang Emil memilih untuk tetap fokus pada pekerjaannya. Disini saya merasa kagum.

2. Brand Cemerlang itu brand yang menepati janji

Brand adalah kumpulan janji yang dipilih sendiri untuk dikerjakan dan ditepati. Jika sejak awal janji Kang Emil akan membenahi kota Bandung, tentu saja itu bukan hal sederhana. Kompleksitas pekerjaan tidak memungkinkan pekerjaan diselesaikan secara short term.

Janji itu punya span waktu untuk realisasi. Pembenahan kota Bandung masih belum sampai pada tahap ‘selesai dalam scope janji Kang Emil karenanya tidak bisa ditinggalkan begitu saja.

Ia mengaku masih punya hutang kepada warga Kota Bandung. Dia merasa belum tuntas menghadirkan fasilitas, infrastruktur, dan sarana transportasi modern. Seseorang yang ingat akan hutang janjinya? Disini saya merasa kagum.

3. Brand Cemerlang itu brand yang tidak direlakan kepergiannya begitu saja

Kehadiran seseorang yang tidak ditunggu dan kepergiannya pun tidak disesali? Brand semacam ini belum memberikan makna bagi komunitas nya sehingga tidak mempunyai nilai tambah.  Tidak harus menjadi orang terkenal tetapi brand yang selalu ditunggu dan diharapkan kehadirannya.

Kang Emil seolah menjadi milik masyarakat Bandung. Ini bukti otentik adanya ‘connection’. Bukan hanya untuk anak muda tetapi juga anak-anak dan orang tua, lintas usia. Lintas pendidikan dan lintas pekerjaan. Permintaan “Please Dont Go” itu diperkuat dengan penandatanganan petisi. Disini saya merasa kagum.

4. Brand Cemerlang itu mengerti keinginan audience utamanya

Location-location-location, adalah tiga hal terpenting dalam pemilihan properti.  Bagi personal branding, tiga hal terpenting untuk bisa berhasil adalah (1) Audience Understanding, (2) Audience Understanding, dan (3) Audience Understanding.

Siapa audience utama Kang Emil? Tentu saja adalah para pemilihnya saat pemilihan walikota dulu, dan ia tidak bisa mengabaikan mereka begitu saja. Jika dikatakan bahwa Sang Ibu menasehati nya untuk menyelesaikan tugasnya, buat saya itu merupakan booster saja. Yang jelas adalah ia mendengarkan dan memahami needs masyarakatnya.

Mau mendengarkan aspirasi dan tidak mementingkan ambisi politik pribadi, at least masih bisa ditunda ambisinya. Disini saya merasa kagum.

You’ve made the right decision #KangEmil. Anda Lulus Ujian Branding kali ini. Selamat melanjutkan perjalanan.

(Kolom Branding Solution Koran Sindo, 10 Maret 2015)

Comments are closed.