-->
 

Dicari: Capres yang Go Green

Banyak diskusi membahas kriteria Calon Presiden yang ideal. Saya ingin menambahkan sebuah parameter lagi yaitu Capres yang ideal adalah yang sudah “Go Green”.

Aktifitas Go Green awalnya lebih ditiitikberatkan kepada aspek lingkungan, terdiri dari kegiatan 4R – Reduce, Reuse, Recycle dan Replace material yang digunakan sehari-hari.

Arti kata Go Green atau Green Movement saat ini sudah meluas kepada definisi – “a supporter of socially conscious, political and personal actions that support the environment, non-violence, elimination of poverty, equality, diversity and conservation.” Dari definisi tersebut Capres yang Go Green berarti yang mendukung aktifitas sosial, politik dan personal berkaitan dengan lingkungan hidup dan kesejahteraan komunitas. Juga anti kekerasan, memberantas korupsi, mengetengahkan persamaan hak dan menghargai perbedaan.

Persoalannya, jika kita sudah menemukan Capres yang cocok dengan kriteria Go Green, bagaimana dengan masyarakatnya sendiri? Apakah masyarakat sebagai pemilih (voters) sudah siap menjadi Green Voters? Ini yang menjadi tantangan kita berikutnya.

Di Negara maju, dimana konsep Go Green ini sudah lebih dahulu dimasyarakatkan, ternyata masih banyak mengalami hambatan dalam pelaksanaannya.

Consumer yang Go Green dikenal dengan istilah ‘ethical consumers’, karena dalam mengambil keputusan untuk membeli dan mengkonsumsi produk, mereka mempunyai pertimbangan yang beretika tinggi. Mempertimbangkan bukan saja faktor benefit untuk diri sendiri tetapi juga memperhitungkan dampak keputusannya dari aspek sosial komunitas dan lingkungan hidup. Go Green sudah lebih mengarah kepada perubahan gaya hidup yang lebih beretika, lebih bertanggung-jawab kepada sosial dan lingkungan.

Hari ini saya membaca dua studi yang cukup kontras tentang ethical consumption.

- Studi pertama membahas trend pemasaran ke depannya, di tingkat global,  bahwa konsumen akan semakin ‘beretika’.  Artinya, konsumen semakin peduli terhadap kelestarian, meminimalisir eksploitasi manusia, binatang, dan lingkungan.

Perusahaan yang dipilih oleh ‘ethical consumers’ adalah perusahaan yang juga ‘peduli’. Perusahaan Go Green adalah perusahaan yang bukan saja mempertimbangkan faktor profit dalam setiap produksinya, tetapi juga secara luas memperhatikan semua aspek yang dibutuhkan oleh konsumen, karyawannya, serta lingkungan hidup.

- Studi berikutnya yang saya baca menjelaskan kenyataan yang berbeda dari apa yang sering dibicarakan. Studi yang berjudul “Why don’t consumers consume ethically?” oleh Eckhardt, Belk dan Devinney ini mengangkat temuan mereka bahwa ternyata masih terdapat kesenjangan yang lebar antara apa yang dikatakan vs dikerjakan oleh konsumen seputar ‘menjadi konsumen beretika’. Konsumen yang mengaku ‘beretika’ ternyata masih saja memilih produk tanpa pertimbangan kepedulian tersebut. Studi ini diadakan di 8 negara, 4 diantaranya negara maju.

Walaupun buzz tentang konsep ethical consumption di Negara maju sudah kuat, tetapi ternyata perilaku konsumen belum mencerminkan ethical dalam arti yang mendasar. Devinney dalam studinya yang lain menyatakan bahwa penjualan produk “Green” ini jauh dibawah ‘proyeksi’ yang disimpulkan dari survey tentang keinginan membeli.

Konsumen mengaku bahwa pembelian produk “Green” masih sebatas pada “economic benefit”. Karena itu embel-embel produk natural dalam konsep green sangat digemari, karena masih seputar ‘benefit untukku’ bukan ‘benefit untuk komunitas, negara dan bumi’.

Konsumen tidak merasa perlu ikut terlibat menentukan perusahaan mana yang layak dan tidak layak dianggap sebagai perusahaan bertanggung jawab. Sebagai contoh, dalam studi itu dibahas tentang konsumen yang mengaku ‘ethical’ tetap membeli produk sepatu Nike yang jelas bermasalah tentang upah buruh di beberapa Negara.

Di bawah sadar, menurut studi ini, Green movement bagi sebagian besar konsumen, masih baru sebatas retorika belaka.

Green Voters

Bahwa konsumen di negara maju saja belum benar-benar menghayati prinsip ‘Go Green”, ini lah yang harus disikapi dengan baik di negara sendiri. Harus ada cara untuk menyadarkan konsumen kembali ke filosofi dan definisi Green movement tersebut.

Demikian pula jika kita hubungkan dengan situasi pemilihan presiden nanti. Apakah masyarakat sudah cukup ‘peduli’ secara holistik dan bukan hanya masih memikirkan benefit untuk diri sendiri saja?

Konsumen perlu diingatkan bahwa ada tanggung jawab yang besar dalam urusan voting pemilihan presiden. Menjadi Golput (golongan putih, tidak ikut memilih) itu seharusnya bukan menjadi sebuah kebanggaan. Ini bertentangan dengan Green movement. Tidak ikut memilih merupakan bentuk ketidakpedulian sosial.

Bagi para voters, yang perlu ditingkatkan adalah pengetahuan dan kesadaran untuk memilih para calon dengan seksama. Kepedulian sosial adalah memilih calon dengan menggunakan ukuran-ukuran yang benar, memilih calon yang ‘as green as possible’.

Membaca kolom Sarlito Wirawan tentang Rhoma Irama vs Gus Dur, saya simpulkan bahwa Rhoma Irama, kontras dengan Gus Dur, bukanlah Capres yang ‘Go Green”. Gus Dur merupakan seseorang yang lebih mengarah ke definisi Green, terutama pada aspek inklusif dan diversity. Sedangkan Rhoma Irama, menurut Sarlito, sangat kental pada aspek eksklusifitas ke satu golongan saja. Ini menyalahi kata kunci ‘equality’ dan ‘diversity’.

Bahwa masyarakat semakin “Go Green” yaitu semakin peduli, bisa dilihat dalam kurun waktu belakangan ini. Terpilihnya Jokowi-Ahok, memperlihatkan sebuah kesadaran sosial yang semakin kental. Demikian pula dengan kasus yang menimpa Bupati Garut. Aceng Fikri diminta mundur karena tidak lagi memenuhi kriteria sebagai “bupati peduli”.

Kampanye Capres tidak cukup hanya dengan kampanye kehebatan calon-calon nya saja. Pekerjaan rumah bagi setiap Capres saat ini adalah ikut serta dalam menggiatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat voters agar semakin ‘Green’, semakin peduli.

Bagaimana dengan Anda sendiri – How green are you?

(dimuat di Kolom Branding Solution, Koran Sindo, 12-12-12)

One Comment on "Dicari: Capres yang Go Green"

  1. Herman says:

    Di tahun kemarin Presiden SBY menandatangani Perpres no. 61 tahun 2011 yang isinya Indonesia secara sukarela menurunkan emisi Gas Rumah Kaca 26% dengan usaha sendiri atau mencapai 41% dengan bantuan internasional pada tahun 2020.

    Dengan Perpres tersebut, Go Green dalam arti sebenarnya merupakan tanggung jawab mutlak dari Pemimpin negara ini, siapapun beliau.