-->
 

UKM Perlu Internet dan Strategi Branding

INILAH.COM, Jakarta – Pakar pemasaran menilai pemerintah sudah saatnya mengarahkan pemanfaatan internet pada UKM dan membina mereka menyangkut strategi branding yang benar.

“Pemerintah memang sudah banyak melakukan pembinaan dan pementasan pengusaha. Tetapi hasilnya sampai saat ini masih belum tampak sebuah transformasi yang signifikan dari UKM,” kata Direktur Etnomark Consulting, Amalia E Maulana Ph.D di Jakarta, Senin (3/1).

Menurut dia, bukan banyaknya tindakan yang dilakukan oleh pemerintah untuk mereka, tetapi sudah seberapa efektif dan efisien kegiatan itu dengan hasil yang memuaskan.

Amalia merujuk data BPS yang menunjukkan jumlah unit usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) pada tahun 2008 mencapai 51,3 juta unit, dan ini berarti 99% dari total pelaku usaha nasional. Tetapi jika dilihat dari sisi sumbangan revenuenya secara kelompok, kontribusi UMKM ini sangat rendah dibanding potensinya.

Padahal dengan adanya Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN-China (ACFTA), perusahaan Indonesia terutama yang skalanya kecil dan menengah yang paling terkena dampak karena mereka belum siap menghadapi pertempuran itu, ujarnya.

Lebih jauh ia mengatakan kegiatan yang dipilih oleh Pemerintah selaku pembina merupakan kegiatan yang tidak mempunyai dampak luas sehingga tidak secara strategis dipikirkan apakah itu tepat mentransformasikan sebuah UKM menjadi kompetitif dan berhasil.

Selain itu, tambahnya, telah terjadi pemborosan karena kegiatan yang dipilih seharusnya dengan biaya yang lebih murah.

“Dua hal yang saya amati yaitu pemerintah tidak mengarahkan bagaimana pemanfaatan internet secara optimal, karena sebenarnya internet bisa dimanfaatkan secara baik bukan saja untuk transaksi, melainkan sebagai media komunikasi dan media riset netnographi. Selain itu pemerintah juga belum secara spesifik membina UKM pada pemahaman tentang strategi branding yang benar,” ujar Amalia, lulusan School of Marketing, the University of New South Wales, Australia.

Yang masuk dalam cakupan media Internet adalah media kontemporer di antaranya website, blog, e-forum, jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, YouTube, dan Komunitas.

Amalia juga berpendapat Pemerintah belum mendukung dan membina UKM untuk memanfaatkan media baru secara benar dan secara maksimal.

Dikatakannya, pemerintah salah mengerti jika berpandangan bahwa pemanfaatan internet berarti ujungnya adalah transaksi secara online.

“Ini menjadi sangat tidak efektif dan efisien, karena tingkat kesulitan transaksi online bisa jadi paling tinggi dibanding kegiatan via internet lainnya,” katanya.

Untuk sampai ke sana, menurut dia, beberapa tahap harus dilalui mulai dari yang mudah terlebih dahulu, yaitu manfaatkan internet untuk komunikasi (promosi), dan ini bukan hanya komunikasi satu arah, tetapi juga dua arah dan untuk riset atau studi tentang konsumen. Banyak pengusaha kecil dan menengah yang mulai melirik berbagai media baru ini, tetapi masih tergagap-gagap mengikuti perkembangan media komunikasi yang lebih canggih ini.

“Pemerintah bisa berperan lebih jauh dalam meningkatkan kemampuan UKM dalam promosi dan riset,” katanya.[*/ito]

Berita dimuat juga di :http://www.antara-sumbar.com/id/index.php?sumbar=berita&d=0&id=83877

Comments are closed.