-->
 

Ucapan Selamat Lebaran: Refleksi Derajat Pertemanan

Sepuluh jari tersusun rapi…
Bunga melati pengharum hati…
SMS dikirim pengganti diri…
Memohon maaf setulus hati…
Mohon maaf lahir dan batin, met idul fitri…

Puisi ucapan selamat lebaran semacam ini mulai bertebaran di jagad maya  beberapa hari sebelum, saat lebaran dan sesudah lebaran. Sayangnya, puisi yang merupakan kumpulan kata indah dan bermakna dalam konteks yang tidak tepat, menjadi tidak efektif lagi dalam menyampaikan pesan.

“Lebih suka ucapan yang simple, singkat jelas padat gak perlu kata2 mutiara udah basi, bukan zamannya”.

Teknologi memudahkan komunikasi antar manusia dan kemajuan teknologi ini telah menggeser perilaku konsumen dalam bersilaturahmi dengan sesamanya. Saat ini sudah mulai banyak yang merasa bahwa ucapan selamat idul fitri ini kehilangan makna. Pesan dan perhatian personalized sudah diganti dengan ‘pesan massal’.

Posisi Soulmate

Bagaimana posisi pertemanan dengan kerabat, relasi kantor dan juga teman sejawat? Saat lebaran ini bisa digunakan sebagai evaluasi diri, seberapa pentingkah ‘pertemanan’ kita di mata mereka? Dan, demikian pula sebaliknya. Seberapa pentingkah mereka untuk kita? Ini merupakan ujian derajat pertemanan.

Apakah sebagian besar pesan lebaran yang diterima kali ini bersifat broadcast saja? Ini adalah alert tanda bahaya, mengindikasikan menurunnya tingkat eksistensi diri kita di mata mereka.

Jangan langsung marah dan menyalahkan pesan-pesan broadcast tersebut, terutama dari para ‘soulmates’. Karena, mungkin saja, ini adalah rangkaian dari sebuah proses yang selama ini kurang kita sadari, telah ‘take-it-for-granted’ untuk pertemanan yang dianggap sudah mencapai derajat soulmate.

Apakah database kita selalu terupdate? Jangan-jangan sudah banyak soulmate yang ganti nomer hp, yang sudah tidak menggunakan Blackberry lagi, tetapi kita tidak pernah tau? Lalu, saat lebaran kita masih menggunakan channel komunikasi yang sama?

Dalam ilmu komunikasi dikenal  beberapa tipe komunikasi yaitu One-to-One, One-to-Many dan Many-to-Many. Dan ini dikaitkan dengan penggunaan channelnya, yang bersifat direct channel maupun indirect channel.

One-to-One, Direct Channel.

Komunikasi gaya ini tentu yang sudah sangat lama kita kenal. Dengan mengunjungi rumah orang tua, rumah kerabat dekat atau hadir di acara silaturahmi, bertemu muka. Ini adalah tipe komunikasi yang bernilai sangat tinggi. Tidak efisien, karena menghabiskan waktu dan biaya, tetapi paling efektif untuk relationship building.

One-to-One, Indirect Channel

Komunikasi yang sangat personalized ini juga bisa dilakukan secara tidak langsung. Lewat telpon misalnya, atau video chatting via skype, lewat dari satu orang ke orang lainnya. Bersifat interaktif, komunikasi ini dikategorikan efektif. Karena menggunakan media perantara maka bisa memangkas biaya perjalanan dan waktu, maka komunikasi ini sangat efisien.

Seperti pagi ini, baru saja saya terima ucapan dari teman SMA yaitu Pariatmono, yang menyebutkan dalam pesan via BB personalnya : “Assalamualaikum Mbak Branding Amalia….dst dst”. Kalimat ini sudah menjelaskan bahwa pesannyapersonalized, karena ada embel-embel ‘branding’ disana.

Karena itu jawaban saya juga personalized, “terimakasih Ustad Mono….dst dst…” Pariatmono sudah identik dengan Pak Ustad yang memberikan tausiyahnya setiap pagi di grup BB kami.

One-to-One di Channel Massal

Tidak semua komunikasi One-to-one itu efektif, karena apabila disampaikan melalui channel yang tidak tepat, maka akan berubah fungsinya.

Beberapa pesan via email dikirimkan dari satu orang kepada orang tertentu, termasuk one-to-one, misalnya disebutkan dalam sebuah email “yth. Bapak Nashir… mengucapkan selamat idul fitri dst…dst… dari Tono Sutrisno. Tetapi sayangnya, karena komunikasi one-to-one ini dipublikasi di channel milik umum (yaitu sebuah milis), maka komunikasi ini dianggap sebagai ‘gangguan’ untuk anggota milis yang lain.

One-to-Many di Channel Private

Mengirimkan pesan via channel private tetapi berisikan pesan broadcast artinya dikirimkan kepada banyak orang, menimbulkan kesan bagi penerima ‘saya adalah salah satu dari sekian banyak orang tersebut – kurang penting bagi pengirim pesan’.

Dari sisi kepraktisan, ini adalah solusi teknologi, dengan satu kali kirim, maka terjangkaulah berpuluh hingga beratus audience. Tetapi dari sisi efektifitas penerimaan pesannya, jenis komunikasi ini tergolong paling rendah.

Terbukti, hampir semua orang yang saya tanya menjawab tidak mau membalas pesan tipe one-to-many ini. Alasannya, jika saya dianggap tidak penting, maka demikian pula sebaliknya. Tidak perlu membalas perhatian SEMU ini.

Dalam esensi relationship building, silaturahmi model one-to-many ini dalam banyak hal bisa menjadi bumerang, yaitu karena kontra produktif. Pengirim pesan bermaksud untuk meminta maaf lahir batin secara tulus, tetapi justru menghasilkan impresi yang kurang baik. Alih-alih dimaafkan, malah menjadikan ‘babak baru’ dalam pertemanan mereka.

“Sebaik-baiknya ucapan idulfitri dan ucapan maaf, ialah yang bukan broadcast-an, forward-an, dan copypaste-an.…”

Dalam pembinaan personal branding, sudah waktunya untuk mempunyai database yang baik, dan menyusun klasifikasi yang teratur. Kadangkala kita tidak punya waktu untuk merapikan database pribadi, dan hanya mengandalkan memori saja pada saat momentum lebaran. Akibatnya, soulmate yang derajatnya tinggi diberikan perhatian kurang, sedangkan para ‘just-friends’ justru yang diberikan perhatian khusus. Salah sasaran.

Pembinaan relationship tidak selalu harus mahal biayanya. Thanks to technology. Yang penting adalah, seberapa paham kita dengan dampak penggunaan tipe pesan dan tipe channel. Dengan menggunakan tipe komunikasi dan channel yang tepat, pesan kita akan sampai, dan bonusnya, ikatan emosional antar soulmate, antar teman dekat, antar teman biasa, juga terjaga dengan baik.

Tulisan saya tutup dengan copy paste Resep Lebaran. Bumbu: 1 ons ikhlas
, 1 gram tawakal
, 1 kg kebaikan
, 3 lembar daun salam, rasa hormat, tenggang rasa, saling menghargai.
 Tuangkan kasih sayang, hiasi dengan “perasaan” cinta sesama mukmin
, ketulusan hati
 dan yang terakhir, hidangkan dengan “kejujuran hati”

Minal a’idzin wal faidzin.

2 Comments on "Ucapan Selamat Lebaran: Refleksi Derajat Pertemanan"

  1. desywu says:

    Tulisan yang bagus bu. Saya adalah salah satu dari beberapa orang yang mungkin masih menyukai mengucapkan selamat apapun via one-to-one, direct channel dan one-to-one, indirect channel. Meskipun hanya tertulis, selamat hari raya idul fitri, mohon maaf lahir dan batin, saya selalu berusaha ‘menyisipkan’ sesuatu yang ‘berbau’ personal, misalnya nama panggilan, atau tambahan bertanya kabar. Terbukti hal itu lebih membuat hubungan saya dengan teman-teman yang saya kirimi ucapan menjadi lebih hangat, meski lama tidak bertemu. Sebisa mungkin saya memang menghindari mengcopy paste dan forward pesan broadcast. Seorang teman, bahkan menyempatkan membuat sendiri kartu lebaran dan mengirimkannya via pos alih-alih mengirim sms.