-->
 

The Jokowi-Ahok Show

Kemenangan Jokowi-Ahok dramatik. Kalau kata anak sekarang: “WOOUUUW!”

Saya belum ingin mengucapkan selamat, karena pertunjukan belum lagi dimulai.

Pada saat saya memasang foto bersama Ahok di facebook, ada teman yang bertanya mengapa tidak pakai baju kotak-kotak? Saya sampaikan bahwa posisi saya saat ini baru sebatas just friend, belum soulmate dengan pasangan Jokowi-Ahok. Belum ingin menggunakan elemen brand tersebut sebelum yakin bahwa keduanya berhasil dalam show nanti. Saya kan baru saja mendapatkan tiket untuk menonton The Jokowi-Ahok Show. Belum ada jaminan bahwa setelah menonton pertunjukan, saya akan happy dan kemudian terkonversi menjadi penggemarnya. So, wait and see.

Pak Jokowi. Pak Ahok. Ucapan selamat tetap saya berikan, tetapi adalah ucapan selamat bekerja. Selamat bekerja mempersiapkan diri. Karena pertunjukan akan segera dimulai! Waktunya sempit, tidak sempat lagi untuk latihan dan rehearsal. Sebentar lagi bapak-bapak harus memimpin show besar-besaran yang sifatnya maraton, kejar tayang.

Dari Personal Branding ke Services Marketing

Marketing itu ilmu yang sangat luas dan kontekstual. Pada saat pemilihan Cagub dulu, framework yang tepat untuk membahas proses pemasaran Cagub adalah dari sisi ilmu personal branding.

Walaupun sporadis, tetapi Jokowi-Ahok sudah cukup baik dalam proses personal branding tersebut. Mencari dan mengidentifikasi needs dari multiple stakeholders (audience), mempelajari dan kemudian mendisain program-program yang kiranya cocok untuk mendapatkan dukungan mereka.

Dalam marcom, mereka juga melakukan terobosan. Bukan lagi menggunakan pemasaran konvensional memajang umbul-umbul sepanjang jalan, tetapi melalui media kontemporer seperti media sosial. Berada di sana, dan berinteraksi langsung dengan Stakeholder intektual. Face-to-face meeting dengan stakeholder yang berada di lapisan bawah yang bukan pengguna Internet. Menggunakan multiple channel ini terbilang berhasil dalam penyampaian pesannya.

Dengan menggunakan baju kotak-kotak sebagai simbolis makna ‘persatuan berbagai kepentingan’, dan ‘perombakan terhadap birokrasi – yang biasanya diwakili oleh baju safari’, pasangan ini sangat cerdas menggunakan elemen baju kotak-kotak untuk ‘mengkomunikasikan makna dari tawaran mereka (brand offering).

Setelah identifikasi, kreasi dan komunikasi, kini saatnya Deliver. Semua yang tadinya berada di dalam kertas kerja dan pesan komunikasi harus dijalankan. Disinilah Jokowi-Ahok membutuhkan framework marketing lainnya, yaitu framework di bidang Services Marketing. Pemasaran jasa ini lebih kompleks dari pemasaran produk dan personal branding.

Karena proses deliver ini panjang yaitu 5 tahun, tidak ada salahnya Jokowi-Ahok membekali diri dulu dengan pemahaman ilmu services marketing ini hingga mendalam. Jangan sporadis lagi seperti sebelumnya. ‘Moment of truth’ sudah menunggu. Jakarta terlalu luas dan kompleks permasalahannya untuk bisa dijadikan sekedar trial and error. Doing right from the very beginning, Pak. You can do it!

Dari hasil pengamatan saya menjadi konsultan, banyak pelaku bisnis di bidang services yang merasa sudah mendarah daging di bisnisnya, tetapi belum memahami dengan baik big picture dari pemasaran jasa ini. Akibatnya, banyak hal kemudian overlook, lupa diperhatikan dan justru menjadikannya gagal dalam perjalanan menghadapi tantangan pasar hiper-kompetitif.

The Theatre Framework

Dalam pemasaran jasa dikenal model ‘The Theatre Framework’. Menggunakan konsep sebuah pertunjukan, kita diminta untuk mengenali berbagai aspek penting yang akan mempengaruhi kesuksesan pertunjukan.

Dalam sebuah show, ada 4 komponen penting. Pertama, adalah para aktor nya. Kedua, adalah Service Setting nya. Ketiga, Performance nya sendiri. Dan keempat adalah Audience nya. Keempat faktor ini harus secara bersama-sama saling mendukung untuk keberhasilan pertunjukan.

Aktor. Bagaimana kesiapan para aktor pertunjukan nanti, Pak Jokowi-Ahok? Siapa saja peran utama dan peran pendamping? Apakah mereka sudah memahami jalannya cerita? Jangan-jangan nanti banyak yang berada di panggung tetapi tidak bisa memainkan peranannnya dengan baik, karena tidak siap dan tidak paham cerita Show Bapak.

Service Setting. Settingnya adalah Jakarta. Ibu kota. Pihak lawan selalu katakan bahwa Jakarta bukan Solo, Pak Jokowi. Jakarta bukan Belitung, Pak Ahok. Ini waktunya membuktikan, bahwa Jakarta sebagai sebuah service setting yang baru untuk bapak-bapak, adalah setting yang dipahami betul karakteristiknya.

Performance. Performance seperti apa yang cocok dengan Audience. Apa tema performance kali ini? Tema performance di bulan depan? Tema performance di tahun depan? Tiga tahun lagi? Apakah bapak-bapak sudah siap dengan cerita-cerita menarik yang cocok untuk needs dari audience yang sangat bervariasi? Tidak mungkin hanya menyiapkan cerita atau program yang disukai oleh rakyat kecil saja. Program kesehatan dan pendidikan memang sangat penting. Tetapi jangan melupakan cerita yang ingin ditonton oleh kalangan menengah keatas. Misalnya saja, program krisis ruang terbuka hijau (RTH) di Jakarta akibat tergerus pembangunan mal dan apartemen juga perlu dimasukkan dalam script. Ketidakpedulian pengembang untuk mempertahankan lahan hijau sangat membuat kalangan ini sedih, karena tidak bisa berbuat apa-apa.

Audience. Yang tidak kalah penting adalah menyiapkan penonton. Bahkan dalam show modern, penonton selalu diikut sertakan (involved). Audience The Jokowi-Ahok show adalah warga Jakarta, jangan dibiarkan hanya jadi penonton saja. Ekspresi bahasa Jawanya adalah “Akeh tunggale” yaitu artinya kalau begitu aja sih ya semua orang juga bisa, yaitu cuma jadi penonton. Usul saya, berdayakan penonton, terutama penonton yang mempunyai kapasitas untuk lebih mensukseskan pertunjukan. Kasih mereka peran. Peran kecil, peran besar, tidak mengapa. Yang penting ini adalah show kita bersama. Jadi ini bukan show one-way saja.

Saya sudah simpan tiketnya baik-baik. Sudah siap untuk menyaksikan The Jokowi-Ahok Show. Semoga It’s worth it.

(dimuat di Kolom Branding Solution, Koran Sindo, 3 Oktober 2012)

 

One Comment on "The Jokowi-Ahok Show"

  1. Rito Halim says:

    Bu Amalia;

    Semoga pertunjukannya menjadi sesuatu terobosan yang lebih baik dari sebelumnya. Spt kata Ibu, so far, brandingnya sudah on track, sekarang tinggal bagian kerja kerasnya. Mudah2an promises are delivered dengan program kerja yang bisa dikomunikasikan dengan sederhana dan setransparan mungkin.

    Apapun hasilnya – ini adalah jawaban penduduk Jakarta yang memerlukan perubahan. Walapunpun belum ada jaminan, namun dirasakan pendekatan Pak Jokowi – Basuki lebih bisa mentrigger action dari votersnya. Perubahan bisa lebih baik ataupun sebaliknya lebih buruk. namun penduduk Jakarta sudah bosan dengan cara lama dan biasa – mereka butuh dobrakan. Dan pak Jokowi – Basuki memberikan jawaban ini.

    Selamat bekerja Pak Jokowi – Basuki.

    Salam