-->
 

Tetap Soulmate di Putaran Berikutnya?

Jika ada sebuah perusahaan besar yang merayakan kesuksesannya berdasarkan jumlah pelanggan ke sekian juta, saya justru prihatin. Ini adalah pemborosan dana perusahaan. Baru jadi pelanggan saja jangan dirayakan dulu. Tahan perayaannya, belum waktunya untuk sesumbar sudah sukses.

Kalau semua pelanggan yang jumlahnya sekian juta itu sudah menjadi pelanggan setia, baru boleh kita merasa bangga. Karena tugas merekrut pelanggan itu jauh lebih mudah daripada menjadikannya pelanggan loyal.

Branding adalah proses yang tidak pernah selesai.  Tugas pertama dalam branding adalah mencari just friends atau teman biasa, lalu dalam proses berikutnya adalah mengkonversinya menjadi good friends. Terberat memang menjadikan good friends menjadi soulmate, teman sejati.

Apakah setelah menjadi soulmate, tugas kita selesai? Pelanggan setia adalah tipe pelanggan yang paling sensitif. Perhatian kepadanya tidak boleh putus, tidak boleh terhenti. Pelanggan setia yang sakit hati akan menjadi negatif word-of-mouth yang sangat sulit untuk diyakinkan kembali setelah pindah ke lain hati.

Dalam kehidupan kita, berapa sering kita kehilangan soulmate karena alpa dalam menjaga relationship? Menganggap ‘everything is okay’ tanpa check kembali apakah sudah mengikuti perkembangan terbaru tentang kebutuhan soulmate tersebut. Pada jaman hiperkompetitif seperti sekarang, tidak ada lagi relationship yang bisa ‘aman terjaga’ tanpa usaha ekstra.

Dalam kaitannya dengan Pilkada Gubernur DKI, Tantangan bagi Jokowi-Ahok adalah mempertahankan kesetiaan pemilihnya agar tetap memilihnya di putaran berikutnya. Ini bukan pekerjaan sederhana. Siapa yang bisa menjamin bahwa pemilih tidak berpindah ke lain hati pada putaran berikutnya? Banyak hal yang mungkin terjadi pada saat tenggang waktu jeda pemilihan. Walaupun kedudukannya sudah mencapai soulmate, yang menjanjikan kesetiaan, masih ada ruangan untuk bisa dipengaruhi pada saat muncul ‘pain atau negatif sentiment’ baru.

Saat ini yang harus dihitung bukan berapa banyak yang sudah memilih, tetapi bagaimana status pemilih tersebut, apakah termasuk pemilih sejati, ataukah pemilih yang hanya situasional, mungkin terpengaruh oleh baik opinion leader atau faktor lainnya. Peta kekuatan brand yang bertempur bisa diketahui apabila informasi tentang berapa banyak pemilih sejati yang sudah dimiliki oleh kandidat.

Dalam Branding Pilkada yang ditampilkan bukanlah satu brand saja, melainkan multiple brands. Sangat kompleks pekerjaan untuk mengontrol bahwa semua brand yang ada kaitannya dengan “BRAND INTI” tidak menyimpang dari koridor yang digariskan.

Branding Kepala Daerah hampir mirip dengan Branding Korporasi besar. Yang harus dipikirkan adalah bagaimana agar brand yang terdiri dari berbagai elemen brand yang ada di dalamnya selalu sinergi dan ‘aligned’.

Dalam branding korporasi, selain brand perusahaan, juga masih ada brand independent produk dan servicesnya. Juga brand CEO nya, lalu brand para eksekutifnya. Termasuk jajaran front linersnya. Setiap brand yang mewakili Korporasi harus bisa memberikan kontribusi positif. Menjadi faktor pendukung bukan faktor penghambat kecermelangan Brand Korporasi. Memastikan bahwa total benefit yang dijanjikan kepada stakeholdersnya bisa dipenuhi dengan baik. Promises delivered.

Kekuatan brand korporasi perlu proses pemetaan yang seksama – setinggi atau sekuat apa kedudukan brand di mata setiap tipe stakeholdersnya. Masih banyak yang terlena dan beranggapan bahwa brand nya sangat cemerlang di mata masyarakat. Padahal setelah dibedah lebih lanjut, ternyata masih ada ‘cacat’ atau ‘rapor merah’ di mata beberapa tipe stakeholder tanpa disadari. Ini adalah api dalam sekam, yang jika tidak diselesaikan akan berdampak jangka panjang bagi kekuatan brand korporasi.

Refleksi Branding Korporasi ini dengan misalnya saja saya ambil contoh, Branding Jokowi. Beliau tidak berdiri sendiri.  Dalam multiple brand layer, Jokowi posisinya berada pada core, berada paling sentral. Lalu di lapisan berikutanya ada nama brand lain yaitu Ahok. Kalau kedua brand ini dianggap sebagai tokoh pembaharu, tokoh yang punya track record baik di daerah dimana mereka mengabdi, berarti keduanya bila digabungkan mempunyai efek sinergi positif, yang bahkan menjadi kekuatan yang lebih solid dibandingkan tampil sendiri-sendiri.

Tetapi ada brand partai-partai pendukung di balik pasangan Jokowi-Ahok. Walaupun posisi partai-partai ini berada di lapisan luar dari multiple brand layer, tetap saja sedikit banyak akan membentuk sebuah persepsi hasil akhir dari kolaborasi multiple branding. Persoalannya belum tentu sebagian orang yang fall in love dengan pasangan Jokowi-Ahok menganggap partai ini adalah partai yang juga mengusung perubahan. Bisa jadi sebagian melihatnya adalah citra dari sebuah masa lalu yang justru ingin dirubah.

Finalis Pilkada DKI perlu melakukan review ulang bagaimana positioning brand ‘korporasi’nya di mata beragam voters masyarakat Jakarta yang sangat bervariasi, di mata para investors, di mata para akademisi, di mata pemerintah, di mata berbagai tipe voters lainnya.

Saat ini yang dimiliki oleh Tim Sukses Kandidat sepertinya masih terbatas pada potret keberhasilan BRAND secara generik dan tidak kontekstual. Karenanya, penanganan penanggulangan issues nya juga generik, hanya sporadis dan reaktif. Tidak terstruktur sehingga hasilnya pun tidak maksimal.

Seperti dalam sebuah pertunjukan, harus jelas siapa peran-peran utama dan siapa peran pendukung. Pada saat penonton melihat daya tarik pertunjukan ini lebih dominan karena pemain utamanya, maka peranan pemain figuran harus dikurangi. Harus ada usaha untuk menekan eksposure agar tidak menjadi sorotan. Tim sukses kampanye Pilkada perlu mendisain kampanyenya sekontekstual mungkin di setiap audience yang berbeda, agar tidak terjadi salah peran dan efeknya bukan didukung tetapi malah dihindari. Selamat bertanding.

(dimuat di Kolom Branding Solution, 17 Juli 2012)

 

 

5 Comments on "Tetap Soulmate di Putaran Berikutnya?"

  1. Silvia Thamrin says:

    Dengan putaran kedua yang jaraknya relatif singkat dari putaran pertama, maka PR besar utk kedua pihak baik Jokowi dan Foke utk memastikan pendukungnya di putaran pertama akan tetap mendukungnya kembali (soulmate). Kelemahannya untuk Foke adalah masyarakat sudah melihat bahwa “the promises didn’t deliver” dan ini bisa saja membuat pilihan ke Jokowi bukan melihat Brand dari Jokowi dengan background sebelumnya, tapi memilih Jokowi karena berpikir “asalkan tidak memilih Foke lagi”. Dari sisi ini Jokowi sangat diuntungkan, tapi esensi dari “branding Jokowi” itu sendiri tidak dapat dikatakan berhasil. Utk masyarakat dengan typical tersebut, membutuhkan waktu untuk menjadi soulmates, yaitu ketika promises tersebut delivered – itu yang harus dibutuhkan next leader.
    Saya jadi teringat perkataan tukang bajaj “Sekarang kita ini sdh pinter, bu, kita ga mau pemimpin yg hy janji2 palsu lagi”… ternyata utk menjadikan soulmates “butuh pembuktian dari brand tersebut”.

  2. Bravo Silvi setuju sekali dengan ulasannya. Tukang bajaj aja sudah melek politik ya, beraaaat deh kalau nggak bisa merangkulnya :)

  3. Ronald Sipahutar via Facebook:
    Ya bu, saat ini bagi masyarakat Jakarta adalah “kecewa” dengan “delivery Janji” Pak Foke dan “tergoda” atas “janji kesuksesan” Pak Jokowi. Saya pikir tahapannya baru “interaksi” nah the real soulmate akan hadir after interaksi. Karena baik Pak Jokowi maupun pemilih akan sama-sama bertemu. Always happy baca notes analisa dari bu Amalia Maulana selalu mencerahkan :)

  4. Rito Halim says:

    Bu Amalia;

    Menurut saya, yang menarik sekarang adalah mencermati apa yang akan terjadi di putaran ke-2 (kurang lebih 2 bulan dari sekarang) dan kegiatan marketing serta marcom personal brand yang dikerahkan untuk mengumpulkan sebanyak mungkin suara (soulmates).

    Jelas – sebagaimana diutarakan oleh teman2, team Pak Jokowi-Ahok mendapatkan keuntungan karena sebagian masyarakat Jakarta sudah bosan dan capek – oleh janji2 kepemimpinan Pak Foke yang belum terealisasikan. Padahal – menurut beberapa teman2 RW di Jakarta utara, Pak Foke sampai membagikan gratis buku ( tampilan menarik spt diary) yang berisi pencapaiannya selama memimpin Jakarta, namun sptnya masyarakat sudah tidak percaya lagi.

    Menurut saya, segala sesuatu masih bisa terjadi di putaran ke-2 (saya bukan pemilih Jakarta dan tidak ada intensi untuk memihak). Elemen2 peran pendukung dan politik sangat kentara, membuat sangat menarik untuk mencermati langkah2 yang akan dilakukan ke2 belah pihak dalam mengumpulkan sebanyak mungkin soulmate.

    Apapun hasil putaran ke-2 pemilihan gubernur ini – akan mempengaruhi kegiatan marketing dan IMC personal brand untuk pemilihan RI 1 nantinya.

    Hope the best team with understanding and fulfill the people needs – win the election.

  5. Julianto says:

    Ibu Amalia,
    Topik yang menarik mengenai ulasan yang ibu kemukakan, apalagi dikaitkan dengan Pilkada DKI Jakarta, bahwa apakah “Soulmate” akan terus ada mendampingi ataukah malah menjauh ? dan apa saja yang membuat itu bisa terjadi ?
    Hmm…. pertanyaan yang dapat membuat kita berpikir mendalam .
    Akan tetapi, menurut saya yang terpenting adalah apakah kita mau melakukan apapun yang harus kita lakukan agar kita tetap dekat dengan Soulmate kita.
    Tindakan / perhatian yang nyata baik untuk hal kecil dan apalagi terhadap hal yang besar adalah merupakan salah satu cara untuk kita tetap dapat menjaga kedekatan antara saya/anda/kita dengan Soulmate yang saya/anda/kita miliki.
    Salam Soulmate,