-->
 

Tersesat di Jalan yang Benar

Wawancara oleh Naomi Jayalaksana, di Femina Edisi Tahunan 2011.

Brand Consultant & Ethnographer. Begitulah penjelasan yang terpampang di business card Amalia E. Maulana. “Kata Nukman Lutfie, saya tersesat di jalan yang benar,” ujarnya tertawa, saat mengutip ucapan pakar online strategist itu. Melihat ijazah sarjananya, wanita lulusan Teknologi Pangan Institut Pertanian Bogor (IPB) ini memang harusnya menjadi ahli pangan. Nyatanya, nama dan buah pikirannya justru banyak beredar di ranah marketing dan menginspirasi para praktisi pemasaran.

MELIHAT SECARA HOLISTIK

“Di airport atau hotel, saya sering diajak bicara dalam bahasa Inggris hanya karena penampilan saya,” cerita Amalia. Hidungnya yang mancung dan profil wajah yang khas membuatnya disangka sebagai orang Timur Tengah. Terkadang, ia mengikuti ‘permainan’ ini sampai akhirnya kasihan sendiri melihat penjaga kasir airport tax kebingungan mencari kata-kata dalam bahasa Inggris saat kesulitan mencari uang pecahan untuk kembaliannya. “Sebenarnya kasihan juga. Padahal, kalau dia bicara dengan bahasa Jawa saja, saya bisa!” kenangnya.

Si petugas kasir sebenarnya bisa menguji asumsinya itu dengan mencoba teknik validasi lain, seperti menyapanya dengan bahasa Indonesia. Atau, bisa juga dengan memperhatikan raut wajah anak Amalia yang berdiri tepat di sisinya, ketika ia bepergian dengan keluarga. “Raut wajah anak saya lebih mendekati ayahnya yang orang Sunda,” lanjut alumnus program Master Manajemen dari Institut Pengembangan Manajemen Indonesia.

Menurutnya, dalam kehidupan sehari-hari, banyak peristiwa kegagalan, perselisihan, ketidakpuasan, atau kesalahpahaman terjadi karena orang gagal mempersepsikan sesuatu. Kebanyakan, mereka bermain-main dengan asumsi sendiri tanpa landasan bukti yang jelas. Padahal, miskinnya data dan informasi bisa menjerumuskan pada suatu kesimpulan yang salah. Bukannya mendapat solusi, orang malah terbelit dalam kompleksitas permasalahan yang bagai tak berujung.

Lulusan program doctoral dari School of Marketing, The University of New South Wales (2001) Australia ini hanya ingin menegaskan bahwa persoalan marketing tak lepas dari kompleksitas hidup para konsumennya. “Produk yang berhasil di pasaran adalah produk yang mampu memberikan solusi terhadap ‘pain’ atau kesulitan konsumen dalam kesehariannya,” ungkap wanita yang telah 12 tahun malang-melintang sebagai marketing practioner di beberapa perusahaan, seperti PT Frisian Flag Indonesia, PT Ricket & Coleman, dan PT Unilever Indonesia, ini.

Ketidakmampuan produsen dalam mengenali konsumen akan membuahkan produk gagal yang hanya membuat perusahaan merugi karena kehilangan waktu dan ongkos produksi. Fenomena inilah yang coba dieleminasi oleh Amalia melalui ilmu ethnography. Studi kualitatif ini adalah dengan mengenali perilaku masyarakat atau konsumen yang dipelajari langsung dari lingkungan alamiahnya. Konsumen dipelajari langsung di tempat ia tinggal, di kantor tempatnya bekerja, bagaimana perilakunya saat berbelanja, juga saat bergaul dengan teman-temannya. Semua ini untuk menggali dan mendalami sikap, persepsi, nilai-nilai dan pola budaya konsumen yang membentuk perilakunya terhadap sebuah produk atau service.

Ide segar ethnography yang tertuang lewat buah pikirannya, segera membuat namanya cukup dikenal di kalangan pemerhati dan praktisi marketing. “Pekerjaan sebagai ethnographer ini telah saya lakoni sejak 2006, tapi belum di bawah bendera Etnomark Consulting. Biro konsultasi saya ini baru berdiri September 2009, setelah buku saya, Consumer Insight via Ethnography, terbit,” jelas wanita yang ikut mengantar sukses Tupperware Indonesia, Aquaproof (perusahaan cat antibocor), Castrol Indonesia, dan perusahaan jeans Lee Cooper, ini.

Di masa awal berdirinya, Etnomark hanya terdiri dari tiga orang, termasuk dirinya, sebagai managing director. Sekarang ia telah memiliki enam pegawai tetap dan sekitar 20 tenaga lepas sesuai proyek. “Sebagai motor penggerak Etnomark, saya tidak boleh berhenti menyuntikkan semangat dan motivasi kepada tim agar mereka bisa terus maju dan berkembang,” ujar ibu tiga anak kelahiran 12 Oktober ini.

Dengan semangat yang sama, ia tak segan menyebut diri sebagai agent of change. “Mungkin kesannya terlalu berlebihan. Tapi, kalau tidak begini, saya tidak punya semangat yang mendorong saya untuk terus maju,” ungkapnya. Sebab, ia tahu benar sulitnya mengubah persepsi. Namun, setidaknya dengan filosofi ethnography orang bisa belajar untuk tidak gegabah dalam bertindak. Tetapi, terbiasa melakukan rekonfirmasi dan validasis sebelum mengambil keputusan atau kesimpulan.

MATEMATIKA TAK SEDERHANA

Soal matematika sederhana 1 + 1 yang biasa ditanyakan pada murid TK ini ternyata punya nilai lebih di mata seorang praktisi marketing seperti Amalia. Baginya, 1 + 1 = harus 10. Tetapi, untuk soal yang sama, salah satu rekannya yang berprofesi sebagi motivator malah balik bertanya, “Ibu maunya berapa?” Jawaban tak terduga ini menginspirasi Amalia. Sebab, soal pertambahan tadi ingin menggambarkan seberapa baik sebuah langkah co-branding memberikan hasil atau dampak positif.

Sebagai ethnographer, tugasnya adalah menguak jawaban di balik jawaban”

Pada 1 + 1 = 2 membuktikan tidak terjadinya sinergi dalam hubungan rekanan Anda. Anda berdua bisa jadi sama-sama memiliki kekuatan, tetapi tidak terjalin link atau hubungan saling memperkuat yang bisa menghasilkan efek berlipat, atau multiple effects. “Jadi, 1 + 1 = minimal 3!” tekan Amalia.

Prinsip ini memunculkan konsep I-Brand atau personal branding, yang bertujuan untuk membuat seseorang cemerlang di mata stakeholder-nya. Misalnya seorang Ibu rumah tangga ingin cemerlang di mata suami, anak, maupun teman-temannya atau seorang staf kantor ingin bersinar di depan kolega dan atasannya. “Tak perlu menjadi CEO untuk bisa memiliki I-Brand,” tegasnya.

Agar dapat cemerlang, seseorang perlu mengenal siapa dirinya, dan potensi apa yang tersimpan dalam dirinya. Hal ini sulit di lakukan seorang diri. Ia harus memiliki brand ambassador yang bertugas sebagai kaca yang membantu menunjukkan kelemahan dan kekuatannya sebagai seorang pribadi. Brand ambassador ini adalah orang – orang terdekat, seperti sahabat, maupun pihak keluarga. Mereka akan mengatakan jelek, jika itu memang jelek, bukan untuk menjatuhkan, tapi untuk membangun. Sebaliknya, mereka akan mendorong anda untuk meraih cita-cita dan ikut bahagia dalam keberhasilan anda.

I-Brand yang kuat membantu seseorang mencapai tujuannya dengan lebih cepat. “Saat ada kesempatan karier yang bagus, bukan Anda yang mengajukan diri, tapi teman-teman Andalah yang mengatakan bahwa Anda orang yang paling tepat untuk posisi tersebut. Dari sini Anda tahu bahwa Anda telah berhasil membangun I-Brand yang kuat, “ ungkap Amalia.

Namun, belum banyak perusahaan yang memandang I-Brand sebagai kebutuhan. “Mereka tahu bahwa personal branding bagus, tapi tak melihat keuntungannya bagi perusahaan. Bahkan, ada yang menganggapnya sebagai ancaman,” Amalia menyayangkan. Mereka takut setelah menemukan I-Brand-nya, sang pegawai yang di gadang-gadang itu akhirnya meninggalkan mereka dan mencari ladang baru. “Sama halnya dengan co-branding, penggabungan I-Brand dan company brand akan memberikan sebuah sinergi yang menguntungkan kedua belah pihak, yaitu karyawan dan perusahaannya,” tekannya.

“Saya tak segan menyebut diri sebagai agent of change. Mungkin terkesan berlebihan, tapi hal ini mendorong saya untuk maju”

Prinsip co-branding ini tidak hanya berlaku dalam lingkup bisnis atau usaha, tapi juga terjadi pada tingkatan rumah tangga. “pasangan suami-istri merupakan bentuk co-branding,” ungkap istri Cahya Maulana ini.

Contoh konkret dari perwujudan co-branding pasangan ini terjadi tahun 2000, ketika suaminya rela meninggalkan jabatan senior di salah satu perusahaan sekuritas demi mendukung program beasiswa Amalia dari AusAID. “Bisa di bilang, selama di Australia, ia bertugas untuk ‘menemani’ saya dan anak-anak. Tetapi, kami berangkat dengan mimpi yang ingin di kejar bersama. Jadi keputusan ini di jalani dengan hati senang,” cerita Amalia, bersemangat.

 

Comments are closed.