-->
 

Sidak dan Employer Branding: Setahun Jokowi

Jika setahun yang lalu, saat Jokowi-Ahok terpilih menjadi pasangan Gubernur-Wakil Gubernur, saya masih tahan ucapan selamat karena The Jokowi Ahok Show baru akan dimulai – maka sekarang, setahun berlalu, sudah layak diberikan evaluasi.

Terlepas dari ternyata ada lebih dari 1000 rumah yang terbakar selama setahun Jokowi-Ahok memimpin, saya 1000 persen setuju bahwa The Jokowi Ahok Show layak untuk digelar dan ditonton terus.

Pertunjukan yang hebat dan sudah saatnya Show yang lain menjadikan lakon ini sebuah Role Model.Selamat Pak Jokowi dan Pak Ahok. ‘The Show’ telah berhasil merebut hati banyak penontonnya. Sebagai sebuah pertunjukan, ini adalah pencapaian yang harus dilanjutkan.

Sayangnya, masih terjadi ketidakseimbangan antara kekuatan aktor utama yaitu Jokowi dan Ahok dengan para aktor pendamping, baik di tingkat Show Utama (di Kantor Pusat) maupun di tingkat Show Extension (di Kantor Kelurahan, Kantor Kecamatan, Kantor Walikota, dst). Kerja cepat Jokowi-Ahok belum diimbangi dengan kerja cepat jajarannya.

Ini Pekerjaan Rumah yang tidak bisa diabaikan. Harus ada Grand Strategy untuk membuat jajaran Pemprov DKI dari cabang sampai pusat bisa bekerja dengan irama yang sama dengan aktor utama dan paham Lakon!

Blusukan = Sidak?

Jokowi tidak bisa terus menerus mengandalkan sidak (inspeksi mendadak). Jika ada yang tidak disiplin kemudian diancam untuk di’copot’.

Sebagai seorang ethnographer, saya pengagum blusukan ala Jokowi. Blusukan yang saya kagumi adalah cara Jokowi memahami keinginan dan aspirasi masyarakat, dan blusukan untuk memastikan bahwa tidak ada hambatan dalam eksekusinya. Blusukan sebagai alat sidak untuk team The Jokowi Ahok Show rasanya tidak menyelesaikan masalah. Tidak efektif.

Jokowi marah-marah. Melempar map dokumen di kantor Walikota Jakarta Timur. Ini membuang energi, membuang waktu Jokowi. Bahkan, gaya marah-marah juga bukan publisitas yang baik karena keluar dari ‘kekuatan’ Brand Jokowi yang cool-tenang menyejukkan. Jokowi bukanlah Ahok, dan tidak perlu menjadi Ahok.

Jokowi menyatakan bahwa banyak pejabat Suku dinas yang tidak disiplin karena mereka jauh dari kontrol manajemen Pusat. Jika kita memiliki jajaran yang handal, harusnya tidak selalu tergantung pengawasan dari atas. Dikontrol atau tidak, tetap saja mereka mengerti tanggung jawabnya dengan baik.

Dalam sebuah Show sebesar Show “Jakarta Baru” ini, Jokowi-Ahok harus bisa membuat sebuah kultur baru dimana para jajarannya bersama-sama memahami dan mengerti mengapa harus berubah, kemana arah perubahan dan yang paling penting, apa gunanya untuk mereka apabila cita-cita besar Jakarta Baru ini tercapai.

Mereka, Para Sudin yang belum disiplin itu, mungkin belum bisa melihat ujung akhir dari cita-cita The Jokowi-Ahok Show. Dan, ketidakdisiplinan itu, sebenarnya adalah Gap dari Manajemen Jokowi-Ahok di bidang Manajemen sumber daya manusia.

Employer Branding

Bekerja sebagai part of The Jokowi Ahok Show seharusnya menimbulkan kebanggaan tersendiri. Bekerja sebagai bagian dari Pemprov DKI dalam project besar “Jakarta Baru” bukanlah sesuatu yang biasa-biasa saja, tetapi harusnya bisa dibanggakan. Seperti employee yang bekerja di sebuah perusahaan yang cemerlang dan ia merasa bangga menjadi bagiannya.

Dalam Talent Management, kita kenal konsep Employer Branding dimana yang dikedepankan adalah Employee Value Proposition (EVP) - “everything that people experience and receive while they are part of the company”. Benefit yang diberikan oleh Institusi pemberi kerja.

Dalam The Jokowi-Ahok Show, EVP dari Pemprov DKI adalah ‘kebanggaan dan benefit yang dirasakan, diterima dan dilakukan oleh personal yang bekerja untuk Jakarta Baru”. Disini termasuk para Walikota, para Sudin, para Camat, para Lurah, dan semua jajaran Pemprov DKI.

Google mengklaim dirinya sebagai tempat bekerja yang “Cool”.Ini ditandai dengan Employer Branding tagline yang berbunyi “Do Cool Things That Mater”.Slogan ini tidak sama dengan tagline yang ditujukan kepada Customernya. Slogan para employee merupakan cerminan arti Google bagi yang bekerja didalam perusahaan itu

Bagaimana dengan situasi personal yang bekerja untuk “Jakarta Baru’? Apakah mereka melihat betapa luar biasanya bekerja dibawah Jokowi-Ahok dan kemudian memberikan kontribusi berdasarkan peranan mereka masing-masing?

Manajemen The Jokowi-Ahok Show mungkin belum memikirkan Employer Branding ini dengan baik. Tidak cukup untuk meminta semua orang berdisiplin. Harus ada sebuah cerita besar dan didalamnya mengandung unsur “Employee Value Proposition’ yang jelas dan bisa dibaca oleh semua jajaran.

Banyak orang berlomba untuk bekerja dan berasosiasi dengan Google. Daya tariknya adalah label “Cool” yang akan ditempelkan padanya pada saat bekerja disana dan dikemudian hari, “coolness” ini akan membuat personal brand seseorang menjadi lebih cemerlang.

Pekerjaan Rumah bagi The Jokowi-Ahok Show adalah penerapan Employer Branding dikalangan Pemprov DKI? Apakah “what’s in it for me” (WIIFM) nya sudah jelas dan bisa dimengerti oleh semua jajaran?  Apakah baru hanya sebagian orang yang melihat dan merasakan betapa besar dan berharganya menjadi bagian dari The Jokowi Ahok Show di Jakarta Baru ini?

Stop blusukan sebagai alat sidak, Jokowi. Ganti gaya ‘Management by Wandering Around’ atau ‘Management by Walking Around’ (MBWA) dengan ‘Management by Objectives’ (MBO), yaitu manajemen dengan membawa jajaran paham tujuan Brand.

Alihkan energi dan waktu untuk membina Employer Branding, tanamkan kesadaran itu dari dalam dan ini akan melekat dan action nya bisa diharapkan. Employee yang mengerti cita-cita brand akan menjadi perpanjangan tangan, dengan atau tanpa diawasi dalam bekerja.

(Dimuat di Kolom Branding Solution, Koran Sindo, 23 Oktober 2013)

 

Comments are closed.