-->
 

Semua Karyawan Agen Pemasaran

Membangun jaringan bukan tugas divisi pemasaran dan hubungan masyarakat semata. Semua karyawan adalah agen pemasaran.

Rapat dengan presiden Direktur salah satu perusahaan minyak dalam negeri tiga tahun lalu itu tak akan pernah dilupakan Yayan Rukmana, 28 tahun. Presentasi Yayan tentang program sosial membuat sang direktur puas.

Hasilnya, bos minyak itu memutuskan program corporate social responsibility perusahaannya dikelola oleh institusi Yayan.”Sampai sekarang masih kerja sama,” kata Yayan saat dihubungi pada Kamis lalu.

Yayan bekerja di Dompet Dhuafa Republika, sebuah institusi nirlaba yang bergerak di bidang filantropi.?Keberhasilan Yayan dalam presentasi itu tidak terduga. “Saya menggantikan bos,”ujarnya. Awalnya, sang presiden direktur berkunjung ke institusinya untuk bertemu dengan bos Yayan. Sayang, si bos tidak ada. Yayan pun memberanikan diri menggantikan bosnya. “Ini peluang yang jarang.” Meski itu bukan bidangnya, Yayan memiliki kemampuan memasarkan produk. Menurut kepala bagian pengembangan ekonomi ini, banyak rekannya yang memiliki kemampuan lobi dan negosiasi.“Semua karyawan menjadi agen pemasaran,”kata dia.

Yayan mengatakan, institusinya mendidik semua karyawan memiliki kemampuan membangun jaringan.

“Dari satpam hingga direktur,”ucapnya. Meski tak semuanya memiliki kemampuan teknis, seperti lobi, negosiasi, dan presentasi, para karyawan mengetahui dasar membangun jaringan. “Paling tidak terlihat pada sikap dan perilaku karyawan,” ujarnya. Sikap tersebut antara lain komunikatif, ramah, dan mudah bergaul.

Kemampuan membangun jaringan tak lahir sendiri.“Ada sistemnya,”ujar Yayan. Salah satunya adalah pihak manajemen mengadakan pelatihan setiap satu tahun sekali dan evaluasi besar bersama. Agar karyawan menjadi agen pemasar, mereka diberi informasi terbaru tentang program perusahaan setiap Senin saat apel pagi. Dari pola ini, Yayan yakin tak ada program yang luput oleh karyawan.”Siapa tahu karyawan bisa mendapatkan klien,”katanya.

Amalia E. Maulana, konsultan brand dan etnographer, membenarkan pendapatYayan. Menurut Amalia, membangun jaringan harus dilakukan oleh semua orang yang membangun kariernya. Tujuannya bukan hanya untuk kepentingan pribadi,”Juga untuk kepentingan perusahaan,”ujarnya melalui surat elektronik, Kamis lalu. Membangun jaringan bukan hanya kewajiban karyawan bagian pemasaran, penjualan, atau hubungan masyarakat, tapi juga semua divisi. Amalia membagi dua pembangunan jaringan, yaitu ke dalam dan luar perusahaan. Membangun jaringan internal bersifat informal. Ini dibutuhkan karena setiap karyawan memiliki pekerjaan yang berhubungan dengan divisi lain. Tanpa kerja sama antardivisi, pekerjaan bakal terbengkalai.

Dalam organisasi yang mulai besar, interaksi antarkaryawan bukan lagi sebatas bos dan anak buah, tetapi juga termasuk tim kerja yang berisi beragam orang dan divisi. Interaksi dalam tim inilah yang menjadi tantangan apakah seseorang bisa bekerja sama. Amalia menilai hubungan informal antar-rekan lebih cepat dan efektif ketimbang hubungan formal yang didasari oleh tugas atau kewajiban saja.

Tindakan yang sama diperlukan dalam membangun jaringan ke luar. Selain divisi pemasaran, penjualan, dan hubungan masyarakat, Amalia menyarankan divisi lain membutuhkan jaringan. Tujuannya untuk melancarkan pekerjaan. Amalia mencontohkan pada divisi keuangan.

Menurut doktor lulusan School of Marketing, University of New South Wales, Australia, ini, karyawan divisi keuangan perlu membina hubungan baik dengan orang-orang yang bekerja di bank dan kantor pajak.”Supaya pekerjaan selesai tepat waktu,” kata dia. Contoh lain pada divisi riset dan pengembangan. Hubungan yang baik dengan pemasok kemasan produk, misalnya, akan membuat karyawan tak ketinggalan informasi tentang teknologi baru.

Kesalahan yang umum serta tak mudah disadari dalam membangun jaringan adalah berkelompok dan mengeksklusifkan jaringan yang sudah terjalin. “Istilahnya nge-‘geng’,” ujar Amalia. Jika sudah demikian, jaringan yang terbentuk tidak menguntungkan karena menutup diri pada perkembangan di luar geng.

Menurut Amalia, karyawan harus menyadari teknologi berkembang cepat. Sehingga sangat mungkin kita bakal membutuhkan bantuan dari kelompok di luar geng tersebut di kemudian hari. Terlampau eksklusif membuat abai pada perkembangan teknologi. Akibatnya,”Menyesal saat menyadari teknologi tersebut kita butuhkan sekarang, kita tidak punya network dengan teman-teman yang ahli dibidang tersebut,”ucapnya.

Oleh: Akbar Tri Kurniawan

epaper – Koran Tempo 26 Sep 2010

Artikel terkait : Membangun Karyawan Bermerek  http://www.tempointeraktif.com/hg/hobi/2010/08/09/brk,20100809-269747,id.html

Comments are closed.