-->
 

Raffi-Wanda: Masalah Siapa?

Bad news is good news.

Media butuh berita-berita buruk untuk meningkatkan ratingnya. Karena itu tidak heran, begitu muncul berita penggerebekan sekian banyak artis karena pesta narkoba, media seperti memperoleh jackpot.

Musibah yang sedang diderita oleh Raffi Ahmad dan kawan-kawan artisnya seputar penangkapan oleh BNN, sebenarnya bukan hanya musibah untuk Raffi cs. Ini musibah dan masalah bagi semua artis.

Setelah merebak berita tentang Raffi, tiba-tiba muncul berbagai anjuran ke partai agar memikirkan ulang untuk merekrut artis menjadi calon legislatifnya. Bahwa resikonya tinggi untuk “menggunakan” mereka sebagai Icon partainya. Bahkan ada partai yang sigap, secara langsung merevisi daftarnya. Ini kan musibah namanya. Musibah bagi nama baik artis.

Dulu pada saat Ariel, Luna Maya dan Cut Tari terpublikasi secara tidak sengaja video mereka, sebagian dari masyarakat kemudian memberikan cap ‘asosiasi’ negatif. Dalam persepsi mereka, yang namanya anggota group band dan model itu langsung berkaitan dengan asosiasi pergaulan bebas. Ini tentu berat bagi para artis dan model yang sedang membesarkan nama baik mereka.

Musibah yang sedang diderita oleh Wanda Hamidah seputar penangkapan oleh BNN juga sebenarnya bukan hanya musibah untuk dirinya sendiri dan partainya saja. Ini musibah dan masalah bagi semua anggota dewan dan Partai lainya.

Dengan dikaitkannya Wanda dalam penangkapan BNN ini, terlepas dari apakah Wanda dinyatakan bersalah atau tidak – persepsi umum sudah terbentuk. Ini akan menambah daftar panjang persepsi negatif terhadap kelompok wakil rakyat.

Kategori Bermasalah

Dalam branding dikenal istilah Brand Association. Juga istilah Category Association. Brand Association adalah apapun yang melekat di benak audience tentang sebuah brand, baik itu positif maupun negatif. Asosiasi sebuah brand merupakan kumpulan dari segala aspek yang berhubungan dengannya, bisa dari aspek produk/jasanya sendiri (kualitas, fitur, dll), dari aspek penggunanya, bahkan hal-hal lain yang berkaitan dengannya (pemilik brand, country-of-origin, dll). Category Association, lebih luas dari Brand Association, yaitu apapun yang melekat di benak audience seputar industri atau kategori produk atau jasa tertentu.

Lebih mudah untuk mengembangkan sebuah brand di dalam kategori yang asosiasinya positif dibandingkan brand dalam kategori yang asosiasinya negatif. Sebagai ilustrasi, akan lebih sulit untuk memasarkan produk bersoda dengan kadar gula yang tinggi, karena kategori produk ini langsung diasosiasikan dengan kalori tinggi, tidak baik untuk kesehatan. Sebaliknya, produk jus buah-buahan saat ini sedang menjadi primadona karena meningkatnya gaya hidup sehat dan asosiasi di kategori produk jus buah-buahan lebih banyak yang positif dibandingkan dengan negatif.

Situasi ini juga berlaku untuk pembentukan dan pengembangan Personal Brand seseorang. Apabila personal brand ini termasuk dalam ‘kategori atau kelompok’ yang baik, maka asosiasi positif tersebut akan membantu perjalanan mencapai cita-cita brandnya lebih cepat.

Bagaimana dengan kategori Artis dan kategori Anggota Dewan? Kedua kategori ini – you want it or not – telah mempunyai kumpulan asosiasi negatif. Tanpa adanya penggerebekan di rumah Raffi pun, sebenarnya masalah kategori itu sudah lebih dahulu ada. Tidak mudah membangun personal brand untuk kedua kategori yang bermasalah ini.

Category Association artis yang negatif diantaranya adalah kehidupan yang hedonis, hura-hura, suka memamerkan harta, dekat dengan pergaulan bebas dan narkoba.

Sedangkan Category Association yang negatif untuk anggota Dewan sebenarnya tidak dominan dari apa yang sekarang dikaitkan dengan Wanda Hamidah, tetapi lebih banyak kearah aspek yang lebih kritikal (daripada narkoba), yaitu korupsi besar-besaran, kolusi, nepotisme, tidak kompeten dalam pekerjaannya, menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi, jalan-jalan ke luar negeri studi banding yang tidak ada hasilnya, dll.

Salah seorang anggota DPR dari kalangan artis ikut berkomentar seputar penangkapan Wanda – menyatakan dalam sebuah wawancara bahwa artis yang masuk ke politik itu harus kuat iman tahan godaan. Ini memperkuat dugaan publik tentang berbagai asosiasi negatif yang sudah terlebih dahulu ada. Isi wawancara ini tidak menyelesaikan masalah, justru mengkonfirmasi masalah.

Demikian pula salah satu anggota dari partai (di luar partai Wanda), dengan suara keras meminta agar Badan Kehormatan DPRD DKI memanggil Wanda terlepas dia menggunakan narkoba atau tidak. Tujuannya untuk meminta kejelasan dan mengklarifikasi agar citra anggota DPRD DKI tidak buruk. Beliau menyatakan jika itu dari partainya, pasti langsung dipecat.

Sudah bukan waktunya  bagi artis dan anggota dewan untuk saling mengecam dan mengatakan diri bersih dan cuci tangan dari permasalahan.  Permasalahan kategori harus ditangani secara kolektif. Jangan sampai persepsi kategori dibiarkan berkembang kearah yang semakin tidak menguntungkan. Harus ada strategi untuk menghadapi media yang cenderung senang dengan hal-hal negatif tentang artis dan anggota dewan.

Jika saat ini berkembang bahwa Partai politik enggan mengajak artis menjadi calon legislatifnya, buktikan bahwa itu tidak benar. Justru harus ada lagi artis yang terjun ke politik untuk menekankan bahwa ke politik ini murni komitmen individu, bukan karena ke-artisan-nya. Dan artis yang ikut ke politik haruslah memberikan kontribusi positif dan nyata kepada bangsa, bukan hanya sekedar icon Partai saja.

Sekali lagi, penggerebekan di rumah Raffi Ahmad bukan masalah Raffi dan Wanda saja. Ini masalah bersama. Asosiasi negatif itu mengganggu proses pembangunan personal brand para artis dan para anggota dewan. Jika media dipenuhi dengan berita asosiasi negatif saja tentang artis dan anggota dewan, lawanlah dengan menciptakan berita-berita baik dan mengagumkan.

Do Something! Pastikan bahwa ‘Good news is GREAT news’.

(dimuat di kolom Branding Solution Koran Sindo, 30 Jan 2013).

 

 

 

Comments are closed.