-->
 

Pers dan Audiens: Tumbu Ketemu Tutup?

Mata saya tertumbuk pada foto seorang gadis yang tersenyum manis bak selebriti sebesar setengah halaman di sebuah media cetak. Siapa dia? Artis baru, atlit pemenang olimpiade, pemenang Miss Universe atau siapa?

Gadis itu ternyata adalah Maharani yang ikut terseret dalam kasus penangkapan Luthfi Hasan Ishaq (LHI), Presiden PKS saat itu. Kenyataan bahwa foto dan berita ini dimuat dengan porsi yang berlebihan adalah sebuah indikasi bahwa Pers belum bisa membuat medianya menjadi wadah edukasi publik.

Keputusan untuk mengangkat topik ‘juicy’ Maharani lebih terkesan untuk mencari sensasi dan menaikkan omset penjualan. Padahal, ada berita-berita lain seputar kasus LHI yang lebih substansial, seperti kasus korupsi dan dampaknya terhadap citra PKS, seluk beluk perdagangan daging impor, peranan Ahmad Fathonah dan hubungannya dengan LHI, pembahasan masa depan PKS, dll.

Jika ada sekelompok masyarakat yang cenderung senang dengan berita sensasi, tidak berarti bahwa media harus melayaninya. Salah satu fungsi media adalah edukasi publik, bukan memberikan berita-berita yang tidak bermutu yang jauh dari semangat mendidik.

Situasi ini saya beri label ‘Tumbu Ketemu Tutup’.

Tumbu ketemu Tutup adalah ungkapan dari bahasa Jawa yang menyatakan bahwa satu kepentingan bertemu dengan kepentingan lain yang ternyata klop dan cocok. Ada kelompok masyarakat yang haus sensasi, dan ada media yang bersedia melayaninya.

Ungkapan ini tidak lepas dari pemikiran saya setelah membahas materi “Positioning Media sebagai Sarana Edukasi Masyarakat” di acara workshop Literasi Media di Hari Pers Nasional 2013 minggu lalu di Manado.

Menurut Bagir Manan Ketua Dewan Pers yang juga ikut menjadi pembicara dalam workshop, banyak Pers yang kurang hati-hati dalam pemberitaan, kurang melakukan konfirmasi kepada pihak yang terkait. Menurut mantan Ketua Mahkamah Agung ini, banyak yang telah melanggar kode etik dan kode profesi jurnalistik.

Apa yang menjadi kekhawatiran dari Bagir Manan ini sejalan dengan hasil temuan ETNOMARK Consulting yang meneliti sejauh apa pandangan masyarakat umum di media sosial terhadap Pers saat ini. Dari hasil penelusuran pendapat masyarakat di media sosial, tergambar bahwa masyarakat merasa ‘gerah’ dengan pemberitaan Media.

Dalam era kebebasan Pers dalam Negara demokrasi ini ternyata Pers dianggap sudah ‘kebablasan’.  Fungsi media adalah membangun opini masyarakat dengan informasi yang benar, yang penting dan dapat dipertanggungjawabkan.

Kenyataannya, banyak jurnalis yang mengungkapkan data yang tidak sesuai dengan faktanya. Berita-beritanya dianggap berlebihan atau istilah anak-anak sekarang adalah ‘Lebay’.

Banyak berita tidak penting yang diturunkan, mengalahkan berita lainnya yang sebenarnya lebih utama. Contoh lain disamping Maharani tadi adalah berita tentang kasus Raffi Ahmad keluar dari konteks permasalahan – Raffi Ahmad diberitakan berjerawat setelah ditahan di BNN.

Selain itu, tabloid dan program infotainment TV secara massif menayangkan berita-berita yang tidak mempunyai narasumber yang jelas. Beberapa media dengan enteng mengatakan, bahwa sampai berita ini diturunkan beberapa nara sumber penting tidak bisa dihubungi.

Beberapa Media bahkan sudah memberikan pernyataan-pernyataan tegas walaupun tidak dilengkapi oleh klarifikasi pihak yang bersangkutan. Berita sepihak ini terkesan sangat sensasional dan sudah menimbulkan opini dan membentuk persepsi yang tidak semestinya di benak audiens.

Pertanyaan publik lainnya adalah Media yang sarat kepentingan. Media itu milik siapa? Beberapa berita diungkap dari sudut yang menguntungkan pihak pemilik media. Keberpihakan ini menjelaskan keluarnya Pers dari koridor etika yang digariskan.

Temuan lainnya, Pers mengumbar berita tentang hedonisme, kemewahan, kebohongan dan kepura-puraan. Selain itu juga cenderung provokatif, menghembuskan issue kekerasan dan kecemburuan sosial.

Yang lebih memprihatinkan adalah beberapa jurnalis yang mungkin belum mendapatkan pengajaran teknik wawancara yang baik, terkesan tengah melakukan ‘interogasi’ dan bukan lagi sesuai dengan perannya dalam wawancara. Interogasi seorang tersangka bukanlah konsumsi publik. Apalagi dengan kualitas interogasi yang seolah menghakimi dan bukan dalam kapasitas klarifikasi, ini sangat mengacaukan fakta yang benar.

Jadilah  Audience yang Cerdas

Pada saat membahas masyarakat yang mengkonsumsi media, sebenarnya kita harus membaginya menjadi dua kelompok besar.

Pertama adalah masyarakat yang membutuhkan informasi yang benar dan akurat dilengkapi dengan analisis yang tajam, sehingga mereka bukan hanya mengetahui issue secara permukaan, tetapi memahami situasi secara mendalam.

Kedua, masyarakat yang mengkonsumsi media sebagai hiburan. Dalam hal ini, mereka tidak ingin membaca analisis yang berat-berat, mereka hanya ingin mendapatkan berita ini sebagai bahan perbincangan, ‘talk about’ di antara teman dan komunitasnya. Dalam hal ini mereka tidak terlalu mempedulikan apakah berita ini benar atau setengah benar atau tidak benar.

Audiens di kelompok pertama harus berperan serta dalam Edukasi Media. Seperti yang saya sampaikan di hadapan peserta workshop Literasi Media, kita tidak bisa melepaskan fungsi edukasi publik hanya ke tangan Pers saja. Audience di segmen ini harus berperan menjadi audience yang cerdas.

Audience yang cerdas adalah audience yang mempunyai media sendiri di media sosial dan ikut membanjiri publik dengan informasi yang benar, lengkap dan terpercaya, sebagai usaha keseimbangan informasi.  Audience yang cerdas adalah audience yang berhenti membeli, menonton dan memperbincangkan isi berita-berita yang tidak penting. Audience yang cerdas adalah audience yang ikut mengajak kelompok audience tipe ‘hiburan’ untuk lebih selektif dalam memilih berita.

Ciptakan situasi baru sehingga ‘tumbu sudah tidak ketemu dengan tutup lagi’. Hanya Pers yang kembali ke jati dirinya yaitu yang  bermutu, sehat dan edukatif saja yang akan survive.

Selamat berbenah para jurnalis. Selamat Hari Pers Nasional.

One Comment on "Pers dan Audiens: Tumbu Ketemu Tutup?"